Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
64. Joko Tenang Kalah


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Dengan marah Ratu Aswa Tara berdiri dari duduknya. Ia lalu berteriak.


“Puspa!”


Terkejut Ratu Getara Cinta dan Panglima Besar Jagaraya mendengar Ratu Aswa Tara meneriakkan nama Puspa. Keterkejutan mereka semakin nyata ketika sesosok tubuh berwarna abu-abu berkelebat dari tribun selatan dan mendarat di arena berbatu.


“Hihihik!” sosok berpakaian compang-camping berlapis-lapis itu tertawa nyaring di tengah arena. Sosok kumal oleh kotoran tanah dan debu itu tidak lain adalah Puspa. Ia kemudian menatap tajam kepada Ratu Getara Cinta.


Joko Tenang justru tersenyum melihat kemunculan Puspa. Di benaknya seketika terlintas rencana.


“Tirana, kau harus menangkan pertarungan ketiga!” kata Joko Tenang kepada Tirana.


“Apa maksud Kakang?” tanya Tirana. “Apakah Kakang akan kalah?”


“Iya,” jawab Joko.


“Hei, Getara!” teriak Puspa sambil menunjuk Ratu Getara Cinta dengan telunjuk berkuku panjang dan hitamnya. “Turun sini, hadapi Puspa! Jangan main keroyokan!”


“Apa yang kau lakukan, Puspa?” tanya Jagaraya.


“Aku tidak bicara padamu, Kakek Bau!” hardik Puspa.


Sebelum ada tanggapan dari Ratu Getara Cinta, Joko Tenang mengangkat tangan kanannya dan melambai kepada Puspa.


Melihat gerakan Joko tersebut, Puspa jadi beralih memandangi Joko. Ia pusatkan pandangannya dan mencoba mengenali lelaki yang melambai kepadanya.


Melihat Puspa hanya memandanginya, Joko memutuskan untuk melompat turun dan mendarat halus tujuh langkah di hadapan Puspa.


“Aaah, Kucing Hutan! Hihihik!” pekik Puspa sambil menunjuk Joko, lalu tertawa.


“Apa yang kau lakukan, Puspa?” tanya Joko seraya tersenyum ramah.


“Puspa mau bertarung melawan Getara agar dia tidak bisa menangkap Puspa lagi,” jawab Puspa. “Puspa akan menangkapnya dan memberinya makan ular.”


“Kenapa kau mau disuruh bertarung di sini oleh Aswa Tara?” tanya Joko.


“Kalau Puspa menang, Puspa akan diberi mahkota ratu. Hihihik!” jawab Puspa.


Mendengar jawaban itu, Joko Tenang jadi yakin bahwa Puspa telah dikelabui oleh Ratu Aswa Tara.


“Aku juga mau menawarkan sesuatu yang pasti kau sukai. Mau?” tanya Joko seraya memajukan wajahnya seolah berbisik kepada Puspa yang tujuh langkah di depannya.


“Apa apa apa?” tanya Puspa antusias sambil segera maju empat langkah.


“Eit, sabar!” seru Joko seraya mundur dua tindak.


“Baik, baik,” kata Puspa seraya menahan langkahnya untuk mendekati Joko. “Tapi janji, harus yang buat Puspa senang.”


“Aku mau mengajakmu pergi jalan-jalan mencari permata,” kata Joko.


Melihat percakapan yang justru terjadi di medan tarung, membuat Ratu Aswa Tara kerutkan kening dan kesal. Ia tidak begitu bisa mendengar jelas percakapan Joko dan Puspa. Di sisi lain, Ratu Getara Cinta berharap banyak kepada Joko untuk bisa membujuk Puspa. Ia pun menduga bahwa Ratu Aswa Tara telah mendustai Puspa sehingga mau bertarung di Sumur Juara.


“Puspa tidak mau!” tandas Puspa seraya menunjukkan wajah merengut.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mau?" tanya Joko.


"Karena kau tidak mau kalah dari Puspa," jawab Puspa.


"Berarti kalau aku kalah olehmu, kau mau aku ajak mencari permata?" tanya Joko. "Apalagi aku mau melihat kehebatan ilmu Gerbang Tanpa Batas-mu."


"Aku mau! Hihihik!" teriak Puspa lalu tertawa senang.


"Tapi kita bertarung dulu, nanti aku yang kalah," bisik Joko.


Puspa manggut-manggut seperti anak kecil.


"Awas!" seru Joko sambil berkelebat melintasi tubuh Puspa sambil melancarkan satu pukulan.


Puspa dengan mudah mengelak dan membiarkan Joko lewat.


Selanjutnya, Puspa berkelebat cepat di udara. Hebatnya, tubuhnya berputar cepat di udara seperti putaran silinder.


Dak!


Tahu-tahu kaki kanan Puspa sudah meluncur deras seperti ayunan kapak hendak membelah kepala Joko. Pemuda itu terpaksa menangkisnya dengan silangan tangan di atas kepala. Kuatnya tenaga dalam yang terkandung dalam tendangan membuat Joko jatuh berlutut satu kaki. Setelah itu Joko memilih melesat mundur menjauhi Puspa.


Joko menjauh, Puspa melesat mengejar. Dia melesat seperti anak panah. Namun, Joko pun berpindah tempat dengan kecepatan serupa. Maka kejar-kejaran pun terjadi.


“Hei Kucing Hutan! Kenapa kau lari terus? Takut kepada Puspa, ya? Hihihik!” teriak Puspa. Ia suka jika harus mengejar-ngejar Joko.


“Karena Puspa mau membunuhku!” sahut Joko sambil kembali melesat ke batu yang lain.


“Tidak, Puspa tidak akan membunuhmu, tapi hanya akan membuatmu tidak berkutik seperti kecoa kebalik. Hihihik!” seru Puspa.


“Lawan! Lawan! Lawan!” para prajurit berteriak kompak mendesak Joko agar tidak sekedar lari terus.


Teriakan ramai para prajurit itu membuat Joko memandang ke tribun utara sambil melesat cepat di udara menghindari kejaran Puspa.


“Kena kau, Kucing Hutan!” teriak Puspa.


Bdar!


Ternyata Puspa mampu memanfaatkan kelengahan Joko yang muncul sesaat belaka. Dari belakang Puspa melesatkan satu sinar merah seperti komet, tetapi tidak menyasar Joko, melainkan ke bongkahan batu besar yang akan dihinggapi oleh Joko. Sinar itu sangat cepat mendahului laju tubuh Joko dan menghancurleburkan batu besar itu tepat di depan si pemuda.


Daya ledaknya membuat Joko terlempar mundur tidak terkendali. Saat itulah Puspa menghajar Joko di udara.


Dak! Bgugk!


“Uhk!”


Karena sebelumnya Joko dapat menahan tendangannya di kepala, Puspa tetap menyalurkan tenaga dalam tinggi dalam tendangannya kali ini. Tendangan kepada Joko yang hilang kendali menghajar perut Joko di udara. Tubuh Joko meluncur deras ke bawah dan menghantam batu besar.


Joko Tenang mengeluh. Belum lagi fokus Joko kembali, ternyata Puspa telah berlutut di atas perutnya. Joko merasakan tekanan kaki dan lutut perempuan kumal itu pada badannya. Sementara jari-jari tangan kanan berkuku panjang Puspa mengunci leher Joko dengan cekikan.


Melihat dengan mudahnya Joko takluk, Ratu Getara Cinta dan orang-orangnya hanya bisa mendelik tidak percaya. Jelas pertarungan Joko kali ini jauh dari kehebatan seperti yang pernah ia tunjukkan tiga hari lalu saat menghadapi Bidadari Seruling Kubur.


Kepanikan melanda perasaan Tirana melihat ketersudutan Joko. Posisi Joko jelas tidak bagus dan aman. Memang yang terjadi adalah Joko seketika kehilangan tenaga dan lemas.


Namun, Puspa jadi melepaskan cengkeramannya di leher Joko. Ia mengerutkan kening berlumpur keringnya. Ia heran, kenapa Joko tiba-tiba seperti orang kehilangan tenaga sama sekali. Tatapan mata Joko juga melemah.

__ADS_1


Bress!


Tirana melemparkan sinar merah berbentuk jaring laba-laba besar ke dinding tribun. Namun, ia tidak langsung masuk ke dalam Lorong Laba-Laba itu. Ia masih mengamati kondisi Joko di bawah sana. Ia sudah tahu bahwa Joko telah melemah.


“Hei! Kenapa kau, Kucing Hutan?” tanya Puspa.


“Aku kalah,” ucap Joko lemah.


“Hihihik! Puspa menang!” kata Puspa senang. Ia lalu bangun berdiri, tapi kedua kakinya yang telanjang masih menginjak perut dan dada Joko. Ia lalu berteriak, ”Puspa menang!”


“Ingat janjimu, Puspa. Kau harus datang ke istana Tabir Angin lalu kita pergi jalan-jalan mencari permata,” kata Joko.


“Puspa tidak ingkar janji,” tandas Puspa kepada Joko.


“Puspa!” teriak Ratu Aswa Tara tiba-tiba.


Puspa segera berpaling memandang ke arah posisi Ratu Aswa Tara.


“Bunuh Joko!” perintah Ratu Aswa Tara.


Perintah itu membuat Tirana bersiap untuk masuk ke Lorong Laba-Laba untuk menyelamatkan Joko, tapi ia masih menunggu gerakan apa yang akan dibuat oleh Puspa karena tampaknya perempuan kotor itu tidak berniat membunuh Joko.


“Apakah Puspa harus membunuh Kucing Hutan?” tanya Puspa kepada Ratu Aswa Tara.


“Jika kau tidak membunuhnya, kau tidak bisa disebut menang!” seru Ratu Aswa Tara.


Puspa jadi garuk-garuk kepala, seolah berpikir. Ia manggut-manggut seolah pertanda bahwa ia membenarkan perkataan Ratu Aswa Tara. Ia lalu beralih memandang wajah Joko di dekat kakinya.


“Puspa, bukankah kau pernah berkata bahwa Aswa Tara mau membunuhmu,” kata Joko. Ia masih teringat perkataan Puspa ketika pertama mereka bertemu.


Puspa jadi mendelik. Ia jadi teringat hal yang sangat penting baginya. Ia mendadak beralih memandang kepada Ratu Aswa Tara dengan wajah marah.


“Arrr!” Puspa menggeram seperti binatang sedang marah kepada Ratu Aswa Tara. Lalu teriaknya kepada sang ratu, “Aswa Tara anak kurang ajar! Berani-beraninya kau membohongi Puspa!”


Terkesiap Ratu Aswa Tara mendapat cacian seperti itu. Seketika ia tahu bahwa Puspa telah tersadar bahwa ia dimanfaatkan. Meski begitu, ia sudah cukup puas karena memperoleh satu kemenangan, yang artinya ia dan Ratu Getara Cinta imbang dengan meraih kemenangan 1-1.


Puspa melangkah meninggalkan Joko. Ia tetap memandang kepada Ratu Aswa Tara di atas sana. Di sisi lain Tirana merasa lega. Joko Tenang sendiri tinggal memulihkan diri dari kelemasan.


“Kau harus Puspa hajar karena membohongi Puspa!” teriak Jalang lalu ia berkelebat tinggi.


Swerrss! Blarblar...!


Terkejut Ratu Aswa Tara dan para prajuritnya ketika Puspa melesatkan puluhan sinar-sinar hijau berpola daun dari kedua lengannya yang menghentak. Hujan sinar hijau itu menerpa tribun selatan, tepatnya di posisi Ratu Aswa Tara dan para punggawanya.


Tidak mau celaka terkena hujan dari ilmu Gerimis Hijau itu, Ratu Aswa Tara bersama sejumlah punggawanya cepat melompat tinggi-tinggi, meninggalkan puluhan ledakan di bawah mereka. Belasan prajurit yang tidak selamat harus melepas nyawa dan lebih banyak lagi yang terluka.


Ratu Aswa Tara dan sejumlah punggawanya, termasuk Pina Pima dan Sawiri, mendarat dengan kemarahan menatap Puspa yang berdiri di tengah-tengah arena.


“Puspa! Kau harus bertanggung jawab!” teriak Ratu Aswa Tara.


“Aswa Tara! Sekali lagi kau berani membohongi Puspa, mati kau!” balas Puspa mengancam. Ia lalu menggeram seperti binatang buas, “Arrgg!”


Bluss!


Puspa lalu menghentakkan kedua lengannya ke arah bawah. Asap tebal putih tiba-tiba meledak di sekitarnya dan langsung menutupi seluruh keberadaannya. Ketika angin membuyarkan asap itu, sosok Puspa telah menghilang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2