
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
Prabu Dira Pratakarsa Diwana membuka sepasang matanya saat merasakan wajahnya ada yang menjilati.
“Aah!” pekik Prabu Dira terkejut saat ia membuka matanya, karena ada satu wajah kucing besar berwarna kekuningan sedang menjilati wajahnya.
Prabu Dira sontak mendorong tubuhnya beringsut ke belakang menjauhi kucing besar yang adalah singa betina itu.
“Hihihi!”
Tiba-tiba terdengar tawa suara wanita.
Prabu Dira cepat mencari sumber suara tawa itu. Maka dilihatnya sesosok wanita cantik berpakaian serba putih berkibar-kibar, sedang bermain ayunan di bawah sebuah pohon. Rambut pirangnya begitu panjang hingga menyentuh dan terseret-seret di tanah berumput saat ia berayun-ayun.
Wanita muda lagi cantik itu tertawa-tawa sambil memandang kepada Prabu Dira. Dia pasti menertawakan keterkejutan pemuda berbibir merah itu.
Ternyata di padang rumput itu tidak hanya ada satu singa betina, tetapi ada banyak singa betina yang wujudnya seperti macan botak berwarna cokelat keemasan. Di dekat pohon besar tempat wanita itu berayun saja ada sekitar delapan singa, sementara yang lainnya bertebaran di padang rumput yang sejuk oleh embusan angin.
“Siapa wanita cantik itu?” batin Prabu Dira sambil memandangi wanita asing yang terus menertawainya.
Tiba-tiba wanita yang sedang berayun tersebut melempar sesuatu kepada Prabu Dira.
Tap!
Prabu Dira menangkapnya dengan satu tangan. Ia menatap lekat benda yang ditangkapnya, ternyata sebuah apel merah.
Saat Prabu Dira kembali melemparkan pandangannya kepada si wanita, ternyata yang dilihatnya hanya hamparan dinding batu gua. Terkejutlah Prabu Dira dengan apa yang terjadi. Ia cepat melihat kembali kepada tangannya yang menangkap buah apel. Ternyata kosong. Di tangannya tidak ada buah apa-apa.
“Apa yang terjadi?” batin Prabu Dira. “Kenapa mimpiku terasa aneh dan terasa bukan mimpi?”
Dilihatnya wajah cantik jelita Permaisuri Yuo Kai masih terlelap di pangkuannya. Akhirnya Prabu Dira mengabaikan mimpinya tadi yang menurutnya hanya mimpi. Ia tersenyum menatap kebersihan wajah istrinya. Meski istrinya adalah orang yang sakti, tetapi ada rasa iba di hatinya karena istrinya yang indah itu harus menjalani hari-hari buruk bersamanya.
Cup!
Prabu Dira lalu menurunkan wajahnya dan mengecup bibir menggiurkan istrinya. Ingin rasanya dia menggigit semua kecantikan di wajah istrinya, tapi ia sadar bahwa istrinya masih manusia, belum menjadi makanan menutup.
Ternyata kecupan bergigit lembut itu membangunkan Permaisuri Yuo Kai. Ia mengerjap-ngerjapkan sepasang matanya. Dilihatnya wajah suaminya yang cantik seperti wanita. Ia tersenyum lebar, sebab ini adalah pertama kalinya ia dibangunkan dengan kecupan. Rasanya seperti dibangunkan dari mimpi indah kepada rasa yang indah. Mungkin ini tips yang bagus untuk memulai keharmonisan suami-istri di setiap pagi.
Permaisuri Yuo Kai cepat mengucek kedua matanya agar terlihat bersih di depan suami tercintanya.
“Apakah sudah pagi?” tanya Permaisuri Yuo Kai dengan suara yang agak serak.
__ADS_1
“Mungkin,” jawab Prabu Dira.
“Emm!” Permaisuri Yuo Kai menggeliat sambil memeluk erat badan suaminya.
“Sepertinya bahasa tubuhmu meminta sesuatu,” terka Prabu Dira.
“Tempatnya tidak nyaman,” kata Permaisuri Yuo Kai seraya tersenyum lebar. Ia lalu bangun berdiri dan berkata, “Waktunya menyelesaikan urusan.”
Beberapa waktu kemudian, tepat ketika matahari terbit di timur, mereka keluar meninggalkan gua untuk turun.
Barbara dan teman-temannya akhirnya dibebaskan dari totokan. Barbara bersama enam orang lelaki berambut kuning lainnya berjalan menuruni gunung. Dua dari lelaki itu mengangkat tubuh Albert yang kondisinya tidak baik setelah banyak kehabisan darah. Kedua lengannya sudah dibalut kain dan potongan tangannya ditinggalkan begitu saja.
Di belakang mereka, dalam jarak tertentu berjalan Prabu Dira, Permaisuri Yuo Kai dan keempat abdinya. Mai Cui tampak dalam kondisi sehat. Ia sudah tersadar ketika majikannya telah bangun.
Namun, belum lagi mereka sampai turun ke kaki gunung, ternyata rombongan Desa Stormeggland sudah naik pula ke gunung. Mereka bertemu di tengah jalan.
“Ayah! Tolong kami!” teriak Barbara sambil berkelebat cepat dan mendarat di dekat seorang lelaki tinggi besar berambut kuning.
Lelaki itu tidak lain adalah Ducken Pert, ayah Barbara. Ia datang bersama tokoh jagoan Kaum Naga, yaitu Kan Lwin dan jagoan Kaum Garam, Abhoy Danu. Masing-masing jagoan membawa serta kelompoknya, sehingga jumlah mereka sekita dua puluh lima orang. San San Htay putri Ketua Desa juga ikut. Ia berdiri di sisi Kan Lwin, membuat mereka seperti pasangan yang serasi.
“Apa yang terjadi?” tanya Ducken Pert yang tidak bisa menyembunyikan wajah keterkejutannya melihat kondisi Barbara dan yang lainnya. Beberapa lelaki berambut pirang terlihat tadi berjalan pincang. Terlebih jika melihat kondisi Albert.
“Orang-orang asing itu telah membongkar apa yang kita lakukan di gua, Ayah!” ujar Barbara.
“Lelaki itu juga telah mengambil Pedang Singa Suci.”
“Appa?!” teriak Ducken Pert lebih keras. Wajah kulit merahnya seketika berubah semakin merah menunjukkan kemarahannya. Tangan kirinya terlihat telah menggenggam gagang pedangnya dengan kuat, sepertinya berniat mencabutnya sekarang juga.
Meski Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai tidak mengerti perkataan Barbara, tetapi mereka bisa menerka apa yang dilaporkan gadis pirang itu kepada ayahnya.
“Siapa mereka, Barbara?!” tanya Abhoy Danu berteriak dengan mata bulat terkesan selalu mendelik marah.
“Mereka adalah orang-orang sakti yang tiba-tiba muncul di gunung dan menyerang kami di gua!” jawab Barbara.
“Apakah mereka yang menciptakan keributan di tengah malam itu?” tanya Kan Lwin yang mewakili Ketua Desa Kodawgyi Arkar Dempo.
“Benar,” jawab Barbara sambil menatap tajam kepada rombongan Prabu Dira yang posisinya lebih tinggi.
“Kepung!” perintah Kan Lwin kepada seluruhnya.
Maka semua orang yang ketiga jagoan kaum itu bawa bergerak mendaki untuk mengepung Prabu Dira dan istrinya. Bo Fei dan Chi Men segera bersiap.
“Kai’er, katakan kepada mereka bahwa kita tidak menginginkan pertumpahan darah,” kata Prabu Dira kepada Permaisuri Yuo Kai.
__ADS_1
Sang permaisuri mengangguk, lalu serunya kepada orang-orang Desa Stormeggland, “Kami tidak mau ada orang yang kami bunuh lagi. Kami hanya ingin melanjutkan perjalanan!”
“Tapi kalian telah membunuh orang-orang kami. Kalian harus membayarnya!” seru Kan Lwin dengan bahasa Mandarin yang fasih.
“Serahkan Pedang Singa Suci yang kalian ambil, baru kami akan membiarkan kalian pergi!” seru Ducken Pert, juga menggunakan bahasa Mandarin yang fasih.
Tinggallah Abhoy Danu yang kebingungan karena ia tidak memahami bahasa itu.
“Suamiku, ayah wanita itu meminta Pedang Singa Suci sebagai syarat membiarkan kita pergi,” kata Permaisuri Yuo Kai kepada Prabu Dira.
“Katakan, pedangnya ada di dalam tubuhku, aku tidak tahu cara mengeluarkannya,” kata Prabu Dira dengan tenang.
“Pedang Singa Suci ada di dalam tubuh suamiku. Dia tidak tahu cara mengeluarkannya, jadi dia tidak bisa memberikannya padamu,” kata Permaisuri Yuo Kai kepada Ducken Pert.
“Jika dia tidak bisa mengeluarkan pedang itu dari dalam tubuhnya, maka aku yang akan mengeluarkannya!” teriak Ducken Pert begitu marah sambil cabut pedang besarnya yang bermata dua.
“Tunggu!” teriak Kan Lwin cepat, menghentikan gerakan Ducken Pert.
Ducken Pert memandang tajam kepada Kan Lwin, demikian pula kubu Prabu Dira.
“Pedang apa yang kalian ributkan? Apa itu Pedang Singa Suci?” tanya Kan Lwin.
“Siapa kau?” tanya Permaisuri Yuo Kai.
“Aku Kan Lwin, orang kepercayaan Ketua Desa Stormeggland!” sahut Kan Lwin.
“Kau tidak tahu apa itu Pedang Singa Suci? Berarti kau juga tidak tahu tentang puluhan wanita muda yang dibunuh untuk persembahan pedang itu?” tanya Permaisuri Yuo Kai kepada Kan Lwin.
Pertanyaan itu membuat Kan Lwin dan San San Htay terkejut. Sementara Ducken Pert semakin gusar karena rahasia di dalam gua jadi terbongkar.
“Tidak akan aku biarkan kalian mengambil pedang itu! Hiaaat!” teriak Ducken Pert sebelum Permaisuri Yuo Kai menjelaskan kepada Kan Lwin. Ia berlari naik lalu melompat berkelebat dengan pedang besar yang dikibaskan.
“Chi Men!” sebut Permaisuri Yuo Kai.
Wess! Blet!
Maka Chi Men langsung melesatkan selendang hitam dari dalam lengan bajunya yang gombrong. Selendang hitam itu menangkap dan melilit pedang besar Ducken Pert. Hal itu memaksa Ducken Pert mendarat lebih awal dengan sedikit sempoyongan. Ia cepat memasang kuda-kuda yang kuat untuk adegan tarik-tarikan dengan selendang Chi Men.
“Abhoy, bawa orangmu periksa gua di atas!” perintah Kan Lwin dengan bahasa lokal.
“Baik!” sahut Abhoy Danu.
Lelaki hitam dan gendut itu segera berlari naik meninggalkan lokasi. Sejumlah pengikutnya segera mengikuti. (RH)
__ADS_1