
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
Ketegangan meliputi Adi Manukbumi, Mumu Kedalang, Luring, dan Asih Marang yang dikurung oleh pagar tali-tali berwarna kuning terang.
“Kita dikepungmu!” seru Mumu Kedalang sambil memandang terbelalak ke sekitar atas.
Mereka semua melihat ke atas pohon-pohon.
Di sejumlah pohon, telah bertengger orang-orang berpakaian serba merah dengan ikat kepala kain merah. Mereka berjongkok dan berdiri di dahan-dahan pohon. Jika dihitung-hitung, jumlah mereka sebanyak lima belas orang. Setiap orang memiliki alat cakar dari besi yang dipasang di kedua telapak tangan mereka.
Namun, Adi Manukbumi harus kembali terkejut, sebab dari balik batang pohon muncul empat orang lelaki berseragam sama, tetapi mereka menyandang beberapa gulungan tali berwarna kuning. Sepertinya, merekalah yang memasang kurungan tali itu.
“Apa mau kalian?!” tanya Adi Manukbumi lantang.
“Kalian memasuki wilayah kami. Seharusnya kami yang bertanya, mau apa kalian memasuki hutan ini?” kata satu orang di atas pohon. Ia berdiri bersedekap. Meski penampilannya sama dengan rekan-rekannya, tapi dari gestur tubuhnya menunjukkan bahwa dialah pemimpin dari orang-orang berseragam merah itu. Ia bernama Gebang Batra, pemimpin Kawanan Cakar Hutan.
“Kami hanya ingin melewati hutan ini menuju ke seberang Telaga Fatara,” jawab Asih Marang lantang. Panahnya tetap siap dilepas.
“Kalian akan kami biarkan lewat, tetapi harus membayar upeti perjalanan di hutan ini,” kata Gebang Batra.
“Upeti apa?” tanya Adi Manukbumi.
“Sekantung kepeng perak,” jawab Gebang Batra enteng.
“Kami tidak punya,” kata Adi Manukbumi.
“Jika demikian, tinggalkan gadis cantik itu menjadi milik penguasa hutan ini!” tandas Gebang Batra.
“Kurang ajar!” maki Asih Marang lalu melepaskan anak panahnya.
Set! Ting!
Anak panah Asih Marang melesat cepat menyerang Gebang Batra, tetapi pemimpin Kawanan Cakar Hutan itu cepat memiringkan tubuhnya dan menangkis serangan itu dengan cakar besinya.
Seiring itu, Mumu Kedalang dan Luring bergerak cepat menebas pagar tali yang terdiri dari tiga susun.
Teng!
Namun, Mumu Kedalang dan Luring harus terkejut karena tali-tali itu tidak putus oleh tebasan golok panjang mereka yang tajam.
“Serang!” perintah Gebang Batra kepada para kawanannya. “Bunuh ketiga lelaki itu dan tangkap wanita itu!”
Empat belas lelaki anak buah Gebang Batra segera berlompatan masuk ke dalam kurungan pagar tali kuning.
Set! Tseb!
“Akh…!”
Ketika orang-orang berbaju merah itu berlompatan dari atas pepohonan, Asih Marang kembali melepaskan anak panahnya yang menancap di paha satu orang penyerang, membuat orang itu mendarat dengan langsung terjatuh kesakitan.
Setelahnya, Asih Marang gesit melompat menjauhi cakaran besi yang menyerangnya sambil memanah lawan yang lain.
“Aaakh!” jerit satu anak buah Gebang Batra yang dipanah punggungnya saat hendak menyerang Mumu Kedalang.
Tang! Tang! Ting!
Mumu Kedalang dan Luring menggunakan goloknya untuk menangkis cakaran-cakaran besi yang mengeroyok mereka. Sementara Adi Manukbumi mengandalkan kegesitannya meski ia bertubuh gemuk dan berat. Ia bahkan bisa lebih lincah dari kedua sahabatnya.
Buk! Buk!
Bahkan Adi Manukbumi bisa menonjok dua pengeroyoknya sekaligus sambil tubuh gendutnya mengelaki cakaran besi yang datang mengincar lehernya.
Bret! Sets!
__ADS_1
“Aakh!”
Satu cakaran besi berhasil merobek dada Luring, tetapi bersamaan dengan itu, goloknya juga berkelebat cepat merobek perut penyerangnya.
Luring terjajar dengan dada bajunya robek dan kulit dada kanannya juga robek, tetapi tidak dalam. Namun, dua penyerang lain cepat datang menyerang bersamaan lagi.
Serangan bersamaan itu membuat Luring kewalahan.
“Rasakan Tendangan Layang Hebat!” teriak Luring sambil tiba-tiba melakukan gerakan kilat di udara dengan kedua kaki berputar deras.
Dak! Dak!
Jurus Tendangan Layang Hebat Luring mendarat keras pada kepala kedua pengeroyoknya, membuat keduanya terbanting dengan pandangan yang menggelap.
Trang!
Kibasan golok panjang Mumu Kedalang membuat dua orang pengeroyoknya menangkis dengan cakaran besi mereka. Baru saja Mumu Kedalang hendak merangsek maju dengan tebasan yang lebih kuat, satu penyerang lain datang hendak mencakar lehernya. Mumu Kedalang terpaksa mengurungkan serangannya dan beralih menangkis dengan goloknya.
Ting!
Posisi itu membuka jalan bagi dua lawannya yang lain untuk masuk menyerang. Mumu Kedalang harus melempar tubuhnya ke belakang. Namun, lawan ketiga cepat menyusulkan serangannya, seolah tidak mau memberi Mumu Kedalang ruang untuk melawan.
Ting! Ting!
Mumu Kedalang menangkis dua cakarang dengan pedang lalu balas menendang, tetapi lawannya menghindar.
Satu lawan yang lain datang melompat menerkam dengan dua cakaran. Mumu Kedalang melihat celah bagus.
“Mampusmu!” teriak Mumu Kedalang.
Tseb!
Golok Mumu Kedalang yang lebih panjang dari cakaran besi penyerangnya, membuat golok itu lebih dulu masuk menusuk perut lawannya di udara.
“Akkk…!” pekik Mumu Kedalang ketika pada saat yang sama, dua cakaran lawan merobek paha dan pinggang kirinya dari samping. Itu harga mahal yang harus dibayar oleh Mumu Kedalang demi membunuh satu lawannya.
Mumu Kedalang terhuyung sambil tangan kirinya membekap luka robek parah pada pinggangnya, meski bekapan itu tidak menutup semua luka.
Dua lawan datang dengan cepat hendak menghabisi nyawa Mumu Kedalang.
Wuss!
Satu angin pukulan datang menghantam kedua penyerang Mumu Kedalang sebelum serangannya sampai. Mereka terhempas ke samping.
“Mumu!” sebut Adi Manukbumi sambil datang menghampiri Mumu Kedalang yang terluka parah. Dialah yang baru saja melepaskan angin pukulan menyelamatkan sahabatnya.
Lima orang langsung mengurung mereka.
Sementara itu, Asih Marang begitu lihai dengan busur dan panahnya. Sudah empat musuh yang dibuatnya terkapar oleh anak panahnya, dua tewas dan dua luka berat.
Mendapati keunggulan Asih Marang, empat lelaki bersenjata tali kuning di luar kurungan tali itu segera bertindak.
Seeet seeet!
Dua ujung tali kuning melesat cepat dari luar pagar tali, menyerang ke arah Asih Marang. Lincah Asih Marang melompat mengelaki dua ujung tali yang bermaksud menjerat tubuhnya.
Set! Set!
Setelah menghindari kedua serangan ujung tali itu, Asih Marang cepat mengibaskan tangan kirinya, melesatkan lengkungan sinar biru muda yang memutuskan pagar tali yang mengurung. Pagar tali itu seketika rusak. Selanjutnya Asih Marang melesatkan ilmu yang sama ke atas, menyerang Gebang Batra yang masih mengamati dari atas.
Gebang Batra cepat melompat meninggalkan dahan pohon besar yang kemudian ditebas potong oleh lengkungan sinar biru muda.
“Cepat lari!” teriak Asih Marang kepada ketiga rekannya.
__ADS_1
Luring cepat berlari meninggalkan lawannya.
Set! Blet! Sreet!
Namun, satu ujung tali melesat cepat membelit kaki kiri Luring, memaksa pemuda botak itu jatuh tersungkur. Tali itu lalu menarik seret tubuh Luring.
Set! Tseb!
“Akk!”
Asih Marang cepat memanah orang yang menjerat Luring. Tepat mengenai lehernya, membuat tarikan talinya terhenti. Buru-buru Luring melepaskan kakinya dari jeratan.
Adi Manukbumi juga cepat membantu Mumu Kedalang untuk menyelamatkan diri. Namun, kondisi Mumu Kedalang yang terluka membuat gerakan mereka lambat.
Seeet! Seeet! Blet!
Dua ujung tali melesat menyerang Adi Manukbumi dan Mumu Kedalang. Adi Manukbumi gesit mengelak, tetapi tidak bagi Mumu Kedalang. Kaki dan tangan kanan Mumu Kedalang terjerat belitan ujung tali kuning, membuat gerakannya tertahan.
Pada saat itu, Gebang Batra masuk dalam pertarungan dan menyerang Mumu Kedalang. Ketika Adi Manukbumi hendak membantu sahabatnya, dua lawan datang menyerang dengan cakaran besi.
Crek!
“Aakk!”
Cakaran besi Gebang Batra menancap di bahu kiri Mumu Kedalang. Membuat pemuda tampan berkulit hitam itu menjerit kencang.
“Mumuuu!” teriak Adi Manukbumi terkejut melihat kondisi Mumu Kedalang. Namun, ia terhalang oleh dua orang lawannya.
Crass!
“Mumuuu!” teriak histeris Adi Manukbumi, Luring dan Asih Marang bersamaan.
Mereka melihat jelas ketika Gebang Batra merobek leher Mumu Kedalang dengan cakaran besinya.
“Hiaat!” teriak Adi Manukbumi gusar sambil menghentakkan kedua lengan besarnya.
Wuss! Wuss!
Segulung angin pukulan menyerang kepada Gebang Batra, tetapi orang yang diserang juga melepaskan angin pukulan. Dua angin tenaga dalam tinggi beradu.
Gebang Batra terjajar nyaris jatuh, sementara Adi Manukbumi terjengkang keras.
“Kakang Manuk, cepat pergi! Tinggalkan Mumu!” teriak Asih Marang.
“Tidak! Aku harus membalas kematian Mumu!” teriak Adi Manukbumi.
“Selamat dulu, baru balas dendam!” teriak Luring pula.
Satu orang melompat menyerang Adi Manukbumi.
Set! Tseb!
“Akk!”
Namun, satu anak panah Asih Marang melesat cepat membunuh orang yang melompat itu.
Ketika beberapa orang bergerak hendak menyerang Adi Manukbumi, pemuda gemuk itu cepat berpikir dan mengambil keputusan. Ia buru-buru berkelebat mundur.
Set! Set!
Pada saat yang sama, Asih Marang melesatkan dua lengkungan sinar biru muda untuk mengamankan pergerakan mundur Adi Manukbumi.
Gebang Batra dan para anak buahnya harus menahan langkah karena adanya serangan dari Asih Marang. Hal itu membuat Adi Manukbumi dan Luring bisa melesat pergi, kemudian disusul oleh Asih Marang yang memiliki kesaktian di atas para lelaki itu. Mereka terpaksa harus meninggalkan mayat Mumu Kedalang.
__ADS_1
“Kejaaar!” teriak Gebang Batra. (RH)