
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Ternyata, Dewa Yuda sebagai putra Mahapatih Yudi Mandala berhasil ditangkap oleh Kembang Buangi. Ia pun tidak mampu mengalahkan gadis berwajah cantik itu.
“Ayo jalan!” perintah Kembang Buangi sambil menodongkan mata anak panah di tangannya ke tengkuk Dewa Yuda, padahal pemuda gagah itu sudah berjalan.
Entah bagaimana ceritanya, tetapi Dewa Yuda telah takluk dalam pertarungan. Kembang Buangi justru menggunakan senjata Dewa Yuda untuk mengancam pemiliknya.
Saat itu, Puspa baru saja selesai membunuh Mahapatih Yudi Mandala.
“Ayahanda!” teriak Dewa Yuda saat mengenali mayat yang tergeletak cukup jauh dari posisinya.
Dak!
Kembang Buangi menendang belakang lutut Dewa Yuda di depan Ratu Getara Cinta. Dewa Yuda terlutut dengan wajah menangis, karena kematian ayahnya.
“Kangmas Dewa!” sebut Putri Alifa Homar.
“Yang Mulia Putri, tolong jangan bunuh aku!” ucap Dewa Yuda kepada Putri Alifa Homar.
Putri Alifa Homar tiba-tiba turun berlutut di depan kaki Ratu Getara Cinta. Ia menghormat dengan dalam.
“Yang Mulia Ratu, aku sangat mengenal Dewa Yuda. Dia orang baik, tolong jangan bunuh dia!” ucap Putri Alifa Homar memohon.
Belum lagi Ratu Getara Cinta berkata sesuatu, Puspa sudah datang sambil tertawa-tawa.
“Eh, Ayam Ganteng, datang lagi! Hihihi!” kata Puspa sambil menunjuk wajah Dewa Yuda. “Eh eh eh, kok ketawa?”
Ratu Getara Cinta memandang kepada calon suaminya, seolah meminta masukan.
“Siapa kau?” tanya Joko kepada Dewa Yuda.
“Aku putra Mahapatih,” jawab Dewa Yuda.
“Dengarkan, Dewa. Sebelumnya, kami sedikit pun tidak memiliki permusuhan terhadap Tarumasaga dan orang-orangnya. Namun, raja kalian dan ayahmu telah membantai orang-orang Kerajaan Tabir Angin, maka kami melakukan hal yang semestinya. Raja Tarumasaga dan ayahmu telah membayar itu semua. Kami anggap ini selesai. Jadi pulanglah, bawa mayat ayahmu. Jika kau memang ingin menuntut balas, kami sebagai pendekar tidak akan lari,” ujar Joko Tenang agak panjang.
“Benar, kau bebas, bawa mayat ayahmu pulang!” kata Ratu Getara Cinta pula.
“Terima kasih, Yang Mulia Ratu! Terima kasih, Joko!” ucap Putri Alifa Homar lega sambil menghormat berkali-kali.
Dewa Yuda yang melihat Putri Alifa Homar sedemikian membelanya, jadi terpaku memandangi gadis cantik itu. Ia baru tersadar ketika ujung panah di tangan Kembang Buangi menyodok kepalanya.
“Terima kasih, Yang Mulia Ratu! Terima kasih, Pendekar!” ucap Dewa Yuda buru-buru sambil menjura hormat beberapa kali.
“Prajurit!” panggil Ratu Getara Cinta.
__ADS_1
Seorang prajurit datang mendekat dan menjura hormat.
“Hamba, Yang Mulia,” sahut prajurit itu seraya menjura hormat.
“Sediakan kereta kuda untuk mayat Mahapatih Yudi Mandala!” perintah Ratu Getara Cinta.
“Baik, Yang Mulia Ratu,” ucap prajurit itu, lalu beringsut mundur dan berbalik pergi.
“Joko, kita harus segera ke Kadipaten Rebaklaga,” kata Kembang Buangi. Ia masih menyimpan rasa khawatir karena kekasihnya belum juga jelas nasibnya.
“Yang Mulia Ratu, Tirana dan Kembang Buangi akan pergi bersamaku ke Kadipaten Rebaklaga,” kata Joko kepada calon istrinya.
“Baik, Pangeran. Aku akan selalu menunggumu kembali,” kata Ratu Getara Cinta seraya tersenyum.
Joko Tenang tersenyum pula.
“Puspa, malangnya nasibmu. Kau ditinggal oleh Ayam Pingit!” kata Puspa kepada dirinya sendiri, seperti orang yang sedang bersedih.
Joko, Tirana dan Kembang Buangi tertawa pelan melihat tingkah Puspa.
“Yang Mulia Ratu harus dijaga, jika bukan Ratu Puspa yang menjaga, siapa lagi,” kata Joko lembut.
“Kau harus bersamaku, Ratu Puspa. Aku ingin membicarakan banyak hal tentang Rimba Berbatu dan Tabir Angin denganmu, karena kau adalah penguasanya sekarang,” kata Ratu Getara Cinta.
“Ah, kau benar Getara, ini pembicaraan yang lebih bagus daripada mengikuti Ayam Pingit yang pikirannya selalu kawin!” kata Puspa mendadak senang sambil mendelik kepada Joko Tenang.
“Dan kau, Putri. Aku akan menyerahkan kekuasaan Tarumasaga kepadamu, jadi aku perlu bicara banyak pula denganmu,” kata Ratu Getara Cinta kepada Alifa Homar.
Putri Alifah Homar terkejut mendengar hal itu.
“Tapi, tapi, jika Yang Mulia Ratu ingin menyerahkan kembali kerajaan ini, Pangeran Zulkar Nain adalah pewaris sahnya,” kata Putri Alifa Homar.
“Karena itu kita harus bicara banyak,” tandas Ratu Getara Cinta.
Akhirnya, Joko Tenang bersama Tirana dan Kembang Buangi pergi ke Kadipaten Rabaklaga dengan menunggangi kuda. Ratu Getara Cinta tetap menunggu di istana untuk membicarakan masalah mengalihan kekuasaan kepada Puspa dan Putri Alifa Homar.
Sementara Dewa Yuda membawa pulang mayat ayahnya menggunakan kereta kuda. Fasilitasi yang diberikan Ratu Getara Cinta sebagai bentuk penghormatannya kepada seorang perwira tinggi Kerajaan Tarumasaga kendati ia adalah musuh.
Ketika mereka baru keluar dari Kuthanegara, di perjalanan mereka berpapasan dengan kereta kuda milik Putri Sri Rahayu yang baru mau sampai. Mau tidak mau, Joko Tenang dan kedua gadisnya berhenti untuk menyapa.
“Oh bibibi... bidadariku! Kita bebebe... bertemu lagi!” seru Gulung Lidah senang, lebih dulu menyapa.
Tirana hanya tersenyum. Ia yang mendekat ke pintu bilik kereta untuk menyapa Putri Sri Rahayu.
“Putri, kami terburu-buru untuk pergi ke Kadipaten Rebaklaga, jadi kami tidak bisa menemani kalian,” kata Tirana.
“Tidak mengapa, Tirana. Aku senang melihat kalian baik-baik saja,” kata Putri Sri Rahayu seraya tersenyum dari dalam bilik.
__ADS_1
“Kami mohon diri, Putri!” izin Tirana.
“Baik,” ucap Putri Sri Rahayu seraya mencuri pandang kepada Joko Tenang yang posisinya agak jauh di belakang.
“Ayo, Kakang!” seru Tirana kepada Joko Tenang.
Rombongan berkuda itupun melanjutkan menggebah kudanya, meninggalkan kereta kuda itu.
“Hahaha... hati-hati, Bibibi...! Yaaa sudah jauh!” teriak Gulung Lidah, lalu lemas sendiri.
“Jika kau tidak mau ketinggalan, obati sakit gagapmu itu, Gulung,” kata Putri Sri Rahayu.
“Jijiji... jika aku sesese... sembuh dari gagap, bebebe... berarti aku harus gagaga... ganti nama jadi Sisisi... Siluman Bekas Gagap. Hahaha!” kata Gulung Lidah yang duduk di sebelah Sabdo Bumi, lalu tertawa sendiri.
Putri Sri Rahayu hanya tersenyum mendengar perkataan bawahannya yang sudah gagap, tetapi banyak bicara.
Gulung Lidah menepuk pelan bahu Sabdo Bumi, membuat lelaki besar berjuluk Siluman Kuping Buntu itu menghentakkan tali kendali kuda. Kereta kuda kembali berjalan.
Tiga kuda terus berlari secepat mungkin membawa Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi. Ketiganya seperti orang yang sedang balapan.
Pada satu jalan yang diapit oleh sungai dan tebing bukit, satu penunggang kuda muncul dari arah yang berlawanan. Kuda itu juga berlari kencang, seolah sama-sama sedang berburu waktu.
“Kakang Hujabayat!” teriak Kembang Buangi yang lebih dulu mengenali sosok penunggang kuda di depan sana.
Terkejut si penunggang kuda tunggal yang memang tidak lain adalah Hujabayat.
“Joko, Kembang!” sebutnya sumringah dan begitu senang.
Buru-buru ia menarik kencang tali kekang kudanya. Demikian pula dengan Joko, Tirana dan Kembang Buangi. Melihat keadaan Hujabayat baik-baik saja, ada harapan besar di dalam hati Joko Tenang.
“Kakang!” sebut Kembang Buangi sambil buru-buru melompat turun dari punggung kuda.
“Kembang Buangi!” sebut Hujabayat begitu gembira dan tersenyum lebar. Ia juga buru-buru melompat turun dari kuda dan berlari hendak memeluk kekasihnya.
“Hahaha!” Kembang Buangi yang awalnya hendak memeluk Hujabayat untuk melepas rindu dan meluapkan kegembiraannya, mendadak berhenti berlari dan tertawa kencang.
Hal itu seketika membuat Hujabayat heran dan berhenti pula. Kegembiraannya berubah dengan wajah keheranan.
Sementara Joko Tenang dan Tirana hanya tersenyum di atas punggung kudanya.
“Ada apa?” tanya Hujabayat heran.
“Maafkan aku, Kakang. Tapi gigimu. Hahaha!” jawab Kembang Buangi sambil masih tertawa. Ia lalu memeluk kekasihnya.
Hujabayat pun memeluk erat Kembang Buangi.
Joko Tenang dan Tirana hanya bisa saling pandang. Tirana akhirnya tertawa kecil memandang calon suaminya itu. (RH)
__ADS_1