
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
“Menurutku sikap itu salah, Adipati!” tukas Getara Cinta.
Mendelik Adipati Tambak Ruso. Ia menatap wanita cantik berusia matang itu. Namun, perasaannya jadi gemetar ketika beradu pandang agak lama dengan wanita yang memiliki aura kewibawaan yang tinggi itu. Sebelum ia bertanya untuk mencairkan sikapnya, Kerling Sukma lebih dulu bertanya.
“Salah di mananya, Ratu?”
Terkejut Adipati Tambak Ruso di dalam hati mendengar wanita yang baru ditatapnya itu disebut “Ratu”.
“Siapa sebenarnya pangeran ini? Ia bisa memiliki istri seorang ratu…” pikir Adipati Tambak Ruso ciut. Ia segera sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang memiliki status lebih tinggi darinya. Lalu tanyanya agak gugup, “I… iya, di… di mananya yang salah?”
“Jika Adipati sudah mendapat pesan ancaman, kemudian pasrah, mungkin itu masalah Adipati sendiri. Namun, Adipati diangkat sebagai pejabat yang memimpin semua orang yang tinggal di kadipaten ini. Apakah ada jaminan bahwa Gerombolan Kuda Biru tidak akan menyentuh para penduduk yang tidak bisa apa-apa, kecuali hanya ingin terus hidup?” ujar Getara Cinta.
“Benar, Adipati. Jika ada kemungkinan kuat Gerombolan Kuda Biru akan menyerang, warga kadipaten sangat perlu diungsikan ke tempat yang aman, hingga kondisi kembali aman. Setahuku, jiwa-jiwa perampok itu selalu tidak kenal iba dan tidak sungkan-sungkan membunuh warga tidak bersalah,” tambah Joko Tenang.
“Sebenarnya… aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk menyeru warga agar segera mengungsi ke tempat yang aman, tetapi anehnya mereka tidak mengindahkannya. Mereka lebih memilih melanjutkan kehidupan sehari-harinya. Bagi mereka, Gerombolan Kuda Biru hanya sekedar isapan jempol belaka,” kilah Adipati Tambak Ruso sambil tersenyum-senyum seperti orang yang merasa bersalah.
Joko Tenang dan ketiga istrinya jadi terdiam memandangi Adipati Tambak Ruso. Merasa dipandangi seperti orang yang dicurigai, Adipati Tambak Ruso cepat alihkan perhatian.
“Pitaloka! Ambilkan minum untuk para tamu besar kita!” teriak Adipati Tambak Ruso sambil memandang ke pintu kamar tempat Arya Permana dan Bukira sedang diobati oleh Turung Gali.
Karena tidak ada sahutan dari istrinya, Adipati Tambak Ruso lalu beralih tersenyum kepada Joko Tenang dan para istrinya.
“Sebentar, Pangeran!” ucapnya sambil tersenyum. Ia segera bangkit dan berjalan pergi ke ambang pintu kamar.
Di ambang pintu, Adipati Tambak Ruso melihat Turung Gali kini sedang mengobati Bukira. Turung Gali menempelkan kedua telapak tangannya pada luka sayatan senjata tajam di dada Bukira. Sementara Arya Permana sudah sadarkan diri. Saat ini dia sedang memandangi Bukira yang sedang diobati.
“Arya!” panggil Adipati Tambak Ruso sambil menghampiri putranya.
“Ayah!” sebut Arya Permana pula.
“Apa yang terjadi?” tanya Adipati Tambak Ruso.
“Gerombolan Kuda Biru berkumpul banyak di Gerbang Hati Putih. Aku dan pasukanku disergap oleh para pendekar. Hanya aku dan Bukira yang berhasil menyelamatkan diri,” jelas Arya.
Sementara di ruangan depan, Getara Cinta berkata pelan yang hanya didengar oleh antara mereka.
“Ada hal buruk yang disembunyikan oleh Adipati.”
“Aku juga menilai seperti itu,” kata Joko Tenang mendukung penilaian istrinya.
“Kakang, itu artinya warga kadipaten ini dalam bahaya,” kata Tirana pula.
“Kita simpan dulu pembahasan ini sampai kita pergi dari sini,” kata Joko Tenang.
__ADS_1
Sementara di kamar.
“Pitaloka, suguhkan minuman untuk tamu-tamu besar kita!” perintah Adipati Tambak Ruso kepada istrinya.
“Baik, Kakang,” ucap Pitaloka patuh lalu melangkah pergi keluar dari kamar.
“Ayah, apa yang harus kita lakukan menghadapi Gerombolan Kuda Biru?” tanya Arya Permana.
“Coba kau bujuklah Yang Mulia Pangeran untuk membantu kita menghadapi Gerombolan Kuda Biru,” kata Adipati Tambak Ruso. “Aku rasa kesaktian mereka tinggi-tinggi.”
“Benar, Ayah. Kita bisa berharap kepada Pangeran,” kata Arya Permana.
“Adipati, aku hanya bisa membantu sampai di sini. Dia sudah melewati masa mautnya, tinggal banyak istirahat. Nanti juga akan siuman,” kata Turung Gali yang sudah mengakhiri proses pengobatannya.
“Terima kasih, Turung Gali,” ucap Adipati Tambak Ruso.
“Terima kasih, Paman!” ucap Arya Permana pula.
“Tidak perlu sungkan,” ucap Turung Gali seraya tersenyum.
“Jika aku tahu sejak awal Turung Gali bisa mengobati sehebat itu, tidak perlu aku memanggil Tabib Rakitanjamu…” kata Adipati Tambak Ruso di dalam hati.
Turung Gali lalu melangkah keluar meninggalkan ayah dan anak itu.
“Sudah, Yang Mulia,” jawab Turung Gali.
“Jika demikian, kita kembali lanjutkan perjalanan menuju Padepokan Hati Putih,” tandas Joko Tenang.
“Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran!” seru Arya Permana yang muncul berjalan pelan dengan dipegangi ayahnya.
Joko Tenang dan rombongannya jadi memandang kepada pemuda tampan itu.
“Kami sangat memerlukan bantuan Pangeran. Sudilah kiranya Pangeran bermurah hati untuk membantu kami melawan Gerombolan Kuda Biru,” kata Arya Permana.
“Maafkan kami, kami harus segera menemui Resi Tambak Boyo,” tandas Joko Tenang.
“Tapi, jalan ke arah Padepokan dikuasai oleh Gerombolan Kuda Biru,” kata Arya Permana.
“Kami akan menghadapi, karena urusan bertemu dengan Resi Tambak Boyo lebih penting,” kata Joko Tenang lagi.
“Jika demikian, jika kalian berhasil bertemu dengan ayahku, ceritakanlah kondisi kami yang terancam,” kata Adipati Tambak Ruso.
“Baiklah,” kata Joko Tenang.
Pitaloka datang membawakan nampan yang mewadahi lima gelas minuman.
__ADS_1
“Silakan, Yang Mulia Pangeran!” kata Pitaloka sambil meletakkan jamuannya.
Joko Tenang bersama ketiga istrinya dan Turung Gali meminum sajian tersebut. Setelah itu Joko Tenang berpamit diri.
Bertepatan ketika mereka keluar ke teras rumah, dari arah halaman berjalan prajurit yang bernama Tungkal bersama seorang tua bertubuh kurus ringkih. Kakek berambut serba putih itu membawa sebuah tongkat kayu yang atasnya bercabang, seperti tongkat untuk mengatasi ular. Ia mengenakan jubah berwarna putih lusuh. Ialah Tabib Rakitanjamu yang diperintahkan untuk dipanggil oleh sang adipati.
Kakek bermata sayu itu menatap kepada Joko Tenang dan rombongannya.
Duk!
Ketika hendak menaiki teras, tiba-tiba Tabib Rakitanjamu tersandung hingga jatuh terlutut. Refleks Tirana bergerak maju menahan lengan si kakek.
Blest!
“Hati-hati, Adipati orang yang licik. Tolong selamatkan rakyat kadipaten ini!”
Terkejut Tirana dalam hati, sebab tiba-tiba di dalam kepalanya ada penglihatan bayangan Tabib Rakitanjamu yang berbicara kepadanya, meski pada nyatanya saat itu si kakek tidak berbicara apa-apa.
“Hati-hati, Kek!” kata Tirana kepada si kakek.
“Terima kasih, Nisanak Cantik!” ucap Tabib Rakitanjamu.
“Tabib Rakitanjamu, periksa kondisi putraku dan Bukira!” peritah Adipati Tambak Ruso.
“Baik,” ucap Tabib Rakitanjamu. Ia lalu berjalan masuk, tidak lupa ia sedikit menundukkan kepalanya kepada Joko Tenang sebagai wujud hormat.
Ketiga istri Joko Tenang segera naik ke dalam bilik kereta. Menyusul Joko Tenang. Turung Gali bertindak sebagai kusir.
Adipati Tambak Suro dan istrinya hanya memandangi kepergian kereta kuda meninggalkan kediaman mereka.
“Tabib Rakitanjamu itu orang sakti, Kakang,” ujar Tirana, setelah kereta kuda meninggalkan kediaman Adipati Tambak Ruso. “Saat aku membantunya ketika ia terjatuh, dia memberikan pesan ke dalam kepalaku yang berbunyi ‘Hati-hati, Adipati orang yang licik. Tolong selamatkan rakyat kadipaten ini’.”
“Bagaimana menurut kalian?” tanya Joko Tenang kepada istri-istrinya.
“Menurutku, alasan Adipati tadi sangat mencurigakan. Sebagai penguasa, bagaimana mungkin dia tidak bisa membuat warganya pergi mengungsi? Aku curiga bahwa dia melakukan pembiaran. Dia membiarkan warga kadipaten tidak menyadari ancaman yang sedang mengintai,” kata Tirana.
“Lebih baik Kakang menempatkan salah satu dari kami di kadipaten ini untuk mengumpulkan keterangan dan mengawasi,” usul Getara Cinta.
“Tidak, aku tidak akan berpisah dengan salah satu dari kalian. Aku belum terbiasa untuk itu,” kata Joko Tenang.
Perkataan sang suami membuat mereka bertiga jadi tersenyum malu-malu.
“Tapi aku akan menugaskan Ayah menetap di penginapan untuk memantau apa yang terjadi di kadipaten ini,” kata Joko Tenang.
“Hamba akan patuh, Yang Mulia Pangeran!” sahut Turung Gali dari balik dinding bilik. (RH)
__ADS_1