
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Pedang Suci Sari bisa terbang berbelok dan berbalik lagi menyerang Kembang Buangi. Gadis itu dengan gerakan yang cepat dan lihai mampu menghindari serangan pedang terbang yang datang terus-terusan.
Sementara Suci Sari melakukan gerakan tangan yang terus-menerus mengendalikan dan mengarahkan arah terbang pedangnya.
“Jika terus seperti ini, lambat laut pedang itu akan menikamku,” pikir Kembang Buangi.
Akhirnya Kembang Buangi mau mencoba satu tindakan berbahaya.
Set! Tap!
Saat pedang itu datang untuk ke sekian kalinya, Kembang Buangi menghindar dengan cara miring tipis ke samping, sementara tangan kanannya bergerak cepat mengikuti lesatan pedang dan berhasil menangkap gagangnya.
Namun, kekuatan lesat pedang itu membuat Kembang Buangi agak terbawa, sehingga ia kehilangan kuda-kuda dan keseimbangan.
Kembang Buangi cepat memperkuat kuda-kudanya. Ia dan pedang itu jadi tarik-menarik.
Ses!
Di saat ia adu tarik dengan pedang terbang Suci Sari, Kembang Buangi melesatkan sinar kuning dari tangan kirinya.
Suci Sari terkejut. Ia memilih menghindar dari pada mempertahankan pedangnya.
Blar!
Sinar kuning dari ilmu Menapak Gerhana Bulan lolos meledakkan kumpulan pohon bambu.
Akhirnya, Kembang Buangi berhasil mengambil alih pedang Suci Sari. Ia langsung memainkan jurus pedangnya menyerang Suci Sari. Mengandalkan ujung pedang untuk melukai lawan, membuat Suci Sari kelabakan karena tidak memiliki ruang untuk maju mendekat kepada lawan.
Melihat Suci Sari terdesak, Horonggeng segera melompat untuk masuk campur ke dalam pertarungan.
Das!
Namun, baru berada di udara, sebutir batu kerikil menghantam dahi Horonggeng, membuatnya terhenti dan jatuh berdebam di tanah.
Horonggeng bangkit dengan kemarahan yang memuncak. Dahinya benjol besar. Tidak hanya memar, tetapi juga berdarah.
“Aku bunuh kalian!” teriak Horongge lalu berlari kencang ke arah Joko, orang yang telah menyerangnya dua kali.
Baks!
Satu Pukulan Tapak Kucing tapi ringan, dihantamkan Joko ke dada Horonggeng, membuat larinya berganti jengkangan keras ke tanah. Baju Horonggeng pada bagian dada bolong hangus dengan pola telapak kaki kucing. Kulit dadanya juga hangus. Horonggeng merasakan sakit yang luar biasa, sebab Pukulan Tapak Kucing bertenaga rendah itu meretakkan tulang dadanya.
“Akkh!” erang Horonggeng. Ketika ia mengerahkan tenaga sedikit saja, ia begitu merasakan sakit yang sangat pada bagian dadanya, ditambah sakit berdenyut pada kepalanya.
Sret!
“Aaa!” pekik Suci Sari saat ujung pedang di tangan Kembang Buangi berhasil merobek kain baju plus kulit pinggang kirinya. Luka itu tidak terlalu parah, tetapi banyak mengeluarkan darah.
Suci Sari melompat mundur. Ia segera melakukan gerakan tangan khusus. Pada bagian akhir gerakannya, ia menadahkan telapak tangan kirinya di depan dada. Lalu dua jari tangan kanannya menggesek cepat lagi berulang-ulang dari pergelangan tangan ke ujung jari.
__ADS_1
Seset seset!
Dari gesekan itu berlesatan sinar-sinar merah berbentuk pedang kecil yang melesat bersusulan menyerang Kembang Buangi.
Teng teng teng…!
Kembang Buangi bergerak cepat lagi lihai menangkis sejumlah sinar merah itu dengan pedang dan juga menghindarinya. Beberapa sinar merah yang lolos justru menyasar ke arah Joko Tenang berdiri.
Tirana segera berdiri di depan Joko menjadi tameng hidup. Beberapa sinar merah berwujud pedang itu musnah ketika sampai dua jengkal di depan tubuh Tirana.
Ses!
Pada satu kesempatan, Kembang Buangi kembali melesatkan sinar kuning dari ilmu Menapak Gerhana Bulan.
Beng! Blar!
“Akk!” pekik Horonggeng dengan tubuh yang terpental deras lalu jatuh ke pinggir jalan.
Apes bagi Horonggeng. Ketika sinar kuning dari Kembang Buangi menargetkan Suci Sari, gadis berpakaian merah itu menangkis sinar kuning dengan sebuah perisai sinar kuning pada kedua tangannya. Ternyata ilmu perisai bernama Pengalih Cinta itu sifatnya memantulkan tenaga sakti lawan. Akibatnya, sinar kuning Kembang Buangi terpantul liar jauh ke samping lalu meledakkan tanah di samping Horonggeng yang terduduk di tengah jalan.
Horonggeng tidak bergerak lagi. Daya ledak ilmu Menapak Gerhana Bulan memperparah luka yang sudah ia terima dari Joko. Tulang dadanya yang sudah retak justru menjadi berpatahan, menuntut tercabutnya nyawa.
“Horonggeng!” teriak Suci Sari terkejut.
Kembang Buangi segera memanfaatkan keterkejutan Suci Sari. Ia langsung melesat sangat cepat kepada Suci Sari dengan pedang menusuk.
Suci Sari yang lengah jadi terkejut. Buru-buru ia menghindari tusukan dan sabetan pedang di tangan Kembang Buangi.
Seb!
Pada serangan pedang yang keempat, Suci Sari harus merelakan paha kirinya ditusuk tembus oleh pedangnya sendiri.
“Jangan dibunuh!” seru Joko Tenang cepat, mencegah Kembang Buangi untuk melakukan eksekusi akhir.
Seeet!
“Aaak!” pekik Suci Sari ketika Kembang Buangi menarik pedang dari paha kirinya.
Suci Sari seketika terjatuh terduduk. Darah segar segera mengalir deras keluar dari lapisan daging dan kulit pahanya.
“Ini untuk kematian nisanak itu!” desis Kembang Buangi lalu mengibaskan kaki kirinya.
Dak!
Suci Sari terbanting menghantam tanah saat kaki kiri Kembang Buangi menghantam kepalanya dari samping.
“Kalian kelak akan menyesal! Akhr!” teriak Suci Sari di sela kesakitannya. Ia meringkuk di tengah jalan sambil memegangi paha kirinya yang bersimbah darah.
“Cukup, Kembang!” kata Tirana yang datang mendekati kedua gadis itu. “Giliran aku yang mengurusnya.”
“Selamat kau!” kata Kembang Buangi kepada Suci Sari.
__ADS_1
Teb!
Kembang Buangi melesatkan pedang di tangannya dan menancap di sisi mayat wanita pemegang kalung permata. Ia lalu pergi menghampiri Joko Tenang.
Tirana menotok beberapa titik pada tubuh Suci Sari, termasuk di sekitar paha kirinya untuk mengurangi arus darah yang keluar. Ia lalu merobek ujung pakaian Suci Sari guna membalut luka tusukan pedang.
Cup!
Tirana memberikan pengobatan Kecupan Malaikat guna mengurangi keparahan luka Suci Sari dan meredakan separuh rasa sakit.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Suci Sari, menatap tajam paras wanita yang lebih cantik darinya itu.
“Membantumu lebih baik, karena kami memerlukanmu,” jawab Tirana seraya tersenyum tulus kepada Suci Sari. “Bukankah kau adik dari Ketua Raja Pedang?”
“Benar. Kalian akan menyesal memperlakukanku seperti ini!” desis Suci Sari.
Tirana hanya tersenyum mendengar ancaman itu.
“Kenapa kita tidak membunuhnya saja?” tanya Kembang Buangi kepada Joko Tenang.
“Dia adik pemimpin Kelompok Pedang Angin. Dia akan menjadi sandera kita dan menunjukkan jalan ke sarang Pedang Angin,” jawab Joko.
“Tapi dia tidak bisa berjalan cepat,” kata Kembang Buangi lagi.
“Tirana yang akan membawanya.”
“Tapi suruh dia menguburkan mayat wanita itu dulu.”
“Iya.”
Tirana membantu Suci Sari berdiri. Ketika ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya di tangan, ia harus terkejut, hal itu tidak bisa ia lakukan.
“Aku menotokmu agar kau tidak bisa menggunakan kesaktianmu,” kata Tirana. “Sekarang kau gali kubur untuk memakamkan wanita yang kau bunuh tadi.”
“Tidak akan!” bantah Suci Sari.
“Kau hanya mempersulit diri,” kata Tirana lalu ia berbalik dan meninggalkan Suci Sari. Lalu katanya kepada Kembang Buangi, “Dia tidak mau megnuburkannya.”
Mendengar itu, Kembang Buangi segera pergi mendatangi Suci Sari. Ia mendorong Suci Sari ke arah mayat wanita di pinggir jalan.
“Kubur!” perintah Kembang Buangi.
“Tidak akan aku lakukan!” teriak Suci Sari gusar, tetapi ia tidak bisa melawan.
“Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau tidak mau mengubur orang yang kau bunuh itu!” bentak Kembang Buangi lalu ia mendorong tubuh Suci Sari dengan tendangan yang keras.
Bluk!
Suci Sari tersungkur di dekat mayat wanita. Ia cepat bergerak bangkit dengan marah. Dicabut pedangnya yang tertancap di dekatnya. Lalu dengan terpincang, ia menyerang Kembang Buangi.
Dak!
__ADS_1
Tusukan yang lemah dengan mudah dihindari oleh Kembang Buangi lalu langsung membalas dengan satu tendangan keras ke perut Suci Sari.
Suci Sari terbungkuk kesakitan. Wajahnya memerah. Luka di paha dan pinggang kirinya kembali berdarah setelah kering oleh pengobatan Tirana. (RH)