
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Angin berhembus kencang menggoyang pepohonan yang ada di area itu. Seperti ada badai kecil yang sedang melanda. Suara keramaian dedaunan yang saling bergesek satu sama lain menciptakan irama yang membuat berdiri bulu roma, seperti lagu Hetty Koes Endang tahun 1987.
Anehnya, angin itu tidak melanda semua hutan kecil tersebut, tetapi hanya seradius beberapa ratus meter, seolah-olah hanya untuk keperluan syuting adegan film horor belaka. Suasana ganjil itu didukung oleh waktu alam yang baru saja ditinggal pergi oleh sang mentari di barat. Suasana mulai meremang di bawah langit yang terangnya sudah tidak menyilaukan.
Pada satu titik, di atas sebuah potongan pokok pohon besar berketinggian sepinggang, duduk seorang wanita cantik jelita berpakaian serba biru. Di bagian kepala juga ada lingkaran kain biru seperti hijab transparan. Wanita jelita itu tidak lain adalah Ginari, Pendekar Tikus Langit.
Pakaian biru terangnya terus bergelombang oleh tiupan angin yang kencang. Dedaunan kering yang telah tidak bernyawa hanya bisa mengikuti irama ekspresi angin maunya ke mana.
Dari semua dedaunan kering yang beterbangan dipermainkan angin, tidak ada sehelai pun yang menyentuh tubuh dan pakaian Ginari, seolah ada tameng tidak terlihat yang melindungi tubuh indah itu.
Sepasang mata Ginari terpejam. Namun kemudian, sepasang mata itu terbuka. Maka tampaklah sepasang mata yang indah dengan kebeningannya. Ia menatap ke depan. Sepuluh tombak di depan sana ada seseorang yang datang dan berjalan ke arahnya.
Sosok itu adalah seorang pemuda tampan berpakaian kuning emas layaknya seorang bangsawan. Rambutnya gondrong sebahu dan kepalanya diikat dengan kain kuning pula yang pada bagian depan ada kain lancip seperti pola gunung. Di balik pinggangnya terselip sebuah keris berwarna biru cerah dengan motif ukiran yang bagus.
Akhirnya pemuda gagah bertubuh cukup tinggi itu tiba satu tombak di hadapan Ginari. Ia turun berlutut lalu bersujud dengan kedua tangan lurus ke depan, rata dengan tanah.
“Hamba Laga Patra telah tiba, Ketua Tujuh Roh. Hamba siap mengabdi di bawah perintah Ketua!” ucap pemuda itu dengan wajah tetap menghadap ke bumi, seperti seorang penyembah.
“Bangunlah, Laga Patra!” perintah Ginari.
Laga Patra segera bangkit dan kembali berdiri tegak.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Ginari.
“Aku putra Senopati Duri Manggala dari Kerajaan Baturaharja,” jawab Laga Patra.
Di udara berkelebat dua sosok dari arah yang berbeda, tetapi keduanya mendarat tepat di sisi Laga Patra.
Orang pertama adalah seorang lelaki bertubuh tinggi besar perkasa dengan otot-otot kerasnya yang bertonjolan. Ia mengenakan baju biru muda dan celana hitam. Wajah tegasnya dihiasi oleh kumis tebal melintang. Kepala berambut pendeknya diikat dengan pita hitam yang memiliki gambar ilustrasi berwarna putih, seperti kapal perahu yang sedang menerjang ombak lautan. Lelaki berusia separuh abad itu menyandang sebilah golok besar. Ada gulungan tambang tali berwarna hitam yang diselempangkan di badannya. Sabuknya yang berbahan kulit digantungi hiasan dari cangkang-cangkang keong dan kerang-kerang kecil.
Orang kedua adalah seorang lelakit tua berambut putih lurus panjang. Kulitnya putih dengan model mata yang cekung. Ia mengenakan pakain hijau dengan jubah hitam. Usianya sekitar delapan puluh tahun. Ia tidak lain adalah Satria Gagah, sahabat Raja Kera.
Kedua orang yang baru datang segera turun berlutut, lalu bersujud seperti yang tadi dilakukan oleh Gala Patra.
“Hamba Biru Segara siap mengabdi dan setia di bawah perintah Ketua Tujuh Roh!” ucap lelaki besar dalam sembahnya.
“Hamba Satria Gagah mengabdi setia kepada Ketua Tujuh Roh!” ucap Satria Gagah pula.
“Bangunlah kalian berdua!” perintah Ginari.
Kedua orang yang tidak saling kenal itu segera bangkit.
__ADS_1
“Jelaskan, siapa kau Biru Segara!” perintah Ginari.
“Aku adalah Ketua Elang Biru, kelompok bajak laut di laut selatan. Aku memiliki delapan orang anak buah. Mereka dalam perjalanan mengikuti jejakku,” jelas Biru Segara.
“Aku adalah Satria Gagah, orang sakti yang sulit dikalahkan,” kata Satria Gagah jumawa.
“Aku tidak meragukan kesaktianmu, Satria Gagah,” kata Ginari.
“Minggir, kalian!” bentak satu suara perempuan dengan keras. Bentakan itu mengandung tenaga dalam tinggi yang membuat jantung ketiga lelaki di depan Ginari tergetar.
Seketika ketiganya menengok ke belakang.
Mereka melihat seorang wanita separuh baya dengan penampilan yang cantik untuk ukuran seumurannya. Wanita berpakaian kebaya hijau bersarung batik kuning itu mengenakan banyak perhiasan emas pada dirinya, mirip toko emas Cemerlang Jaya yang sedang berjalan. Rambutnya disanggul dengan hiasan tiga tusuk konde. Teriakannya yang bisa menggetarkan jantung ketiga lelaki itu jelas menunjukkan tingkat kesaktiannya.
Dengan tatapan yang tajam dan tidak ramah, ketiga lelaki itu segera bergeser, memberi jalan kepada wanita kaya itu.
Wanita itu pun turun bersujud.
“Hamba Nyai Kilau Maut menyatakan mengabdi setia kepada Ketua Tujuh Roh!” ucap wanita itu.
“Bangunlah!” perintah Ginari.
Wanita yang mengaku sebagai Nyai Kilau Maut itu segera bangkit berdiri.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Ginari.
Gong…!
Tiba-tiba mereka diterdiamkan oleh suara gong dipukul.
Mereka semua memandang ke satu arah. Tidak berapa lama, dari arah selatan berkelebat empat lelaki bertubuh besar berseragam putih-putih. Mereka berempat memanggul sebuah tandu bersama. Keempat dinding bilik tandu berwarna kuning itu terbuat dari tirai yang berkibar-kibar ditiup angin kencang. Angin membuat tirai tersingkap dan terlihat bahwa ada seorang lelaki di dalamnya.
Di belakang para pengusung tandu yang berlari di udara, berkelebat pula sesosok lelaki besar berpakaian putih-putih. Dia membawa sebuah gong dan pemukulnya.
Tidak lama kemudian, rombongan itu mendarat lembut dua tombak di hadapan Ginari. Keempat lelaki berseragam putih itu menurunkan tandu yang dipikulnya. Lelaki yang duduk di dalam tandu bergerak keluar.
Lelaki itu berusia di atas enam puluh tahun. Ia mengenakan pakaian bagus dan rapi berwarna merah hijau. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat pendek yang salah satu ujungnya melengkung seperti gagang payung. Rambut hitam gondrongnya di sisir rapi ke belakang dan berkilau oleh minyak. Harum tubuhnya adalah aroma melati. Jika melihat warna kumis dan alisnya yang putih, patut dicurigai bahwa rambutnya yang hitam adalah hasil semiran minyak campur tinta cumi. Ada tiga cincin bermata biru tersemat di tiga jari tangan kanannya.
“Hamba Suginowo menyatakan bersumpah setia mengabdi kepada Ketua Tujuh Roh!” ucap lelaki tua itu seraya bersujud kepada Ginari.
Kelima lelaki yang mengawal Suginowo turut turun bersujud dengan gaya yang sama.
“Bangunlah, Suginowo!” perintah Ginari.
Lelaki tua itu segera bangkit dengan bertopang ringan pada tongkatnya, diikuti oleh bangkitnya juga kelima pengikutnya.
__ADS_1
“Siapa kau?” tanya Ginari.
“Aku Ketua Kelompok Kaki Awan. Aku datang bersama seluruh murid-muridku. Hanya saja aku mempercepat tiba mematuhi panggilan Ketua Tujuh Roh. Aku meninggalkan sebanyak dua puluh lima muridku di belakang. Mereka akan segera tiba,” jawab Suginowo.
“Dengarkan kalian semua!” seru Ginari sambil bangkit berdiri.
Tiba-tiba angin senja itu mereda dan terus menghilang. Rupanya, angin itu adalah permainan kesaktian Ginari.
“Ingat, namaku adalah Ginari. Kalian memang wajib patuh dan setia kepadaku karena aku adalah Ketua Tujuh Roh. Roh ketujuh sedang dalam perjalanan, dia agak lambat. Setelah roh ketujuh tiba, barulah kita bisa menyatukan kekuatan dan meningkatkan kesaktian kita! Mengerti?” seru Ginari.
“Mengerti, Ketua!” sahut mereka bersamaan.
“Calon suamiku telah diambil oleh beberapa wanita, kalian harus membantuku untuk mendapatkan kembali calon suamiku!” seru Ginari.
“Baik, Ketua!” sahut mereka lagi.
Ginari lalu menutupi wajahnya dengan cadar birunya, sehingga yang tampak hanyalah matanya yang indah.
“Ikuti aku mengejar para penculik itu!” seru Ginari lalu melesat terbang seperti burung.
Kelima orang yang awalnya tidak saling kenal itu, segera berkelebatan mengikuti junjungannya.
Ginari dan kelima tokoh yang menemuinya itu adalah orang yang sama-sama pernah mati, kemudian mereka dihidupkan oleh Kalung Tujuh Roh, kalung sakti yang bisa menghidupkan orang yang baru mati.
“Setiap orang yang pernah dihidupkan oleh Kalung Tujuh Roh akan memiliki emosi yang serupa dan batin mereka saling terikat secara gaib. Hantu Awan Hitam sudah mengatur bahwa orang terakhir yang dihidupkan akan menjadi pemimpin dari keenam orang lainnya. Ketika orang ketujuh dihidupkan, dengan sendirinya ikatan gaib itu bereaksi. Enam orang sebelumnya akan tergerak sendiri mendatangi pimpinan mereka untuk berkumpul satu, meski jarak mereka berjauhan. Ketika mereka berkumpul, maka mereka akan membentuk satu kekuatan jahat yang sangat kuat.”
Itulah yang pernah diungkapkan oleh Malaikat Serba Tahu tentang Kalung Tujuh Roh ketika ia berada di Perguruan Tiga Tapak beberapa hari yang lalu. (RH)
******************
HASIL AKHIR POLLING
Berikut hasil polling para Readers yang begitu ketat:
1) Perang Para Pendekar (Perpen) \= 22 suara
2) Perang Sepasang Kekasih (Rangsangsih) \= 20 suara
3) Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi) \= 23 suara
Dengan demikian, mulai chapter ini adalah season "Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)"
Terima kasih atas partisipasi para Readers.
Tok tok tok! (Palu diketok)
__ADS_1