
*Arak Kahyangan*
Ada rasa senang dalam diri Nintari ketika melihat Joko Tenang datang dari dalam kegelapan. Joko datang membawa seikat kayu-kayu yang cukup banyak dalam panggulannya. Ternyata di tangan kirinya tertenteng dua ekor burung yang sudah mati, lengkap pula empat butir kelapa yang masih bertangkai.
“Hadiah untuk orang yang mau menemaniku malam ini,” kata Joko sambil mengangkat burung yang dibawanya.
“Aku pikir kau tidak akan kembali ke mari,” kata Nintari seraya tersenyum.
Joko tertawa rendah tapi enak didengar.
“Aku khawatir menjadi orang jahat jika tidak berterima kasih kepada kebaikan orang lain,” kata Joko. Ia lalu berhenti di atas batu lebar yang cukup luas sebagai dipan untuk dua orang.
“Kau menganggapku orang baik? Padahal dulu aku membela kelompok Perampok Raja Gagah,” kata Nintari. Ia membiarkan Joko bekerja sendiri untuk menyiapkan api. Kondisi gelap membuat Nintari hanya bisa melihat Joko samar-samar.
“Dulu aku berpikir seperti itu. Orang jahat pasti semua perbuatannya jahat. Tapi tidak ketika aku semakin dewasa. Orang jahat juga pasti memiliki karakter kebaikan di sisi hatinya yang lain,” kata Joko sambil bekerja menyusun kayu-kayu kering yang dibawanya.
“Kau tidak takut jika aku nanti diam-diam membunuhmu?” tanya Nintari lagi. Ia hanya ingin lebih mengetahui karakter pemuda itu.
Blep!
Menggunakan tenaga dalam panasnya, Joko Tenang menyalakan api pada kayu-kayu tersebut. Maka tampak jelaslah kini wajah tampan Joko dan wajah cantik Nintari yang menggemaskan.
“Aku meyakini bahwa maut seseorang itu bukan ditentukan oleh dirinya sendiri atau orang lain,” kata Joko.
“Lalu siapa yang menentukan?” tanya Nintari seraya mengejutkan Joko, sebab ia tahu-tahu telah berada dua langkah di sisi Joko.
Joko terkejut dan segera bergeser mengitari nyala api, sehingga ia dan Nintari berseberangan api. Nintari hanya tertawa kecil.
“Lalu siapa yang menentukan, Joko?” tanya Nintari lagi karena Joko tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Yang memberimu kehidupan sejak kau di dalam rahim ibumu. Maka Dia pula yang akan mencabut hidupmu kelak,” jawab Joko.
“Oh ya?” ucap Nintari sambil manggut-manggut. Ia lalu duduk bersila.
“Ya,” jawab Joko.
“Apa sebenarnya tujuanmu datang ke Rimba Berbatu ini?” tanya Nintari.
“Aku mencari Arak Kahyangan untuk mengobati calon istriku,” jawab Joko apa adanya.
“Wanita yang bertarung dengan Kakek Ular Emas?” tanya Nintari.
“Bukan dia. Calon istriku yang satunya, namanya Ginari. Menurut perhitungan, nyawanya tinggal tiga hari lagi. Waktu kau melihat Tirana, apakah kau melihatnya membawa wanita lain yang sedang sakit?”
“Calon istrimu itu bersama wanita lain berpakaian prajurit Hutan Kabut membawa dua tubuh wanita. Aku kira mereka membawa mayat,” jawab Nintari.
__ADS_1
“Syukurlah, berarti Tirana berhasil membawa mereka kabur dari penjara Hutan Kabut,” ucap Joko.
“Jika kau datang dari jauh ke Rimba Berbatu, itu berarti kedua wanita itu hanya bisa disembuhkan oleh Arak Kahyangan. Yang aku tahu, Ratu Getara Cinta memang memiliki obat untuk semua racun yang bernama Arak Kahyangan, tetapi aku belum pernah melihat wujudnya seperti apa. Joko, sudah berapa banyak istrimu?”
“Belum ada, baru calon,” jawab Joko sambil menusuk ***** burung dengan ujung kayu.
“Berapa?” tanya Nintari lagi seraya tak luput pandangannya menikmati wajah tampan Joko.
“Dua,” jawab Joko seraya memandang kepada Nintari sehingga pandangan mata mereka saling beradu. Joko hanya tersenyum, memberi panah gaib yang menyuntikkan rasa berdesir indah di hati Nintari.
Nintari sebagai wanita yang berusia matang, ia tidak terbuai meski perasaan indah sedang menari-nari di dalam hatinya.
“Berapa banyak wanita yang ingin kau jadikan istri?” tanya Nintari lagi. Ia kian tertarik menggali cerita unik Joko, terlebih pemuda itu bercerita tanpa beban, padahal ia termasuk orang asing di mata Joko.
“Delapan. Hahaha!” jawab Joko lalu tertawa, membuat Nintari turut tertawa.
“Kau yakin bisa membuat mereka rukun jika sudah menjadi istrimu?” tanya Nintari.
“Tidak,” jawab Joko masih disertai tertawa. “Tentunya aku mencari wanita yang bisa tidak bertengkar dengan sesama istri.”
“Jika aku menjadi istrimu, akan aku bunuh wanita lain yang berani menyentuh suamiku,” kata Nintari.
“Berarti kau tidak bisa menjadi istriku,” kata Joko.
“Kenapa kau harus memiliki delapan orang istri?” tanya Nintari lagi. Ia terus berusaha menggali.
“Untuk mengobati penyakitku.”
“Penyakit apa?” kejar Nintari.
“Tidak bisa aku ungkapkan, terlalu rahasia,” jawab Joko.
“Baik. Jika aku bersedia menjadi istrimu, apakah kau akan beri tahu apa penyakitmu?”
“Tidak, karena kau tidak mungkin mau menjadi istriku yang lain. Hahaha!”
Kali ini Nintari tidak ikut tertawa. Ia hanya tersenyum pahit.
“Mengapa kau memilih jalan hidup sebagai pendekar bayaran, Bidadari?” Kali ini Joko yang bertanya.
“Aku ingin hidup dengan memakan makanan dengan cara yang baik. Aku tidak mau memakan makanan hasil mencuri atau mengambil. Dan aku suka mengalahkan pendekar lain. Dengan dibayar, aku punya alasan untuk berurusan dengan pendekar lain.”
“Setiap tawaran kau ambil?”
“Tidak. Aku orangnya pemilih. Aku tidak mau dibayar hanya untuk membunuh orang yang lemah atau tidak bersalah,” jawab Nintari. “Seharusnya Tabir Angin sudah memenangkan pertarungan Sumur Juara jika kau dan calon istrimu tidak membela Ratu Aswa Tara.”
__ADS_1
“Ratu Aswa Tara memanfaatkan kami dengan menyandera dua wanitaku yang sedang sekarat. Dia mengaku memiliki Arak Kahyangan, karenanya aku mau bertarung. Setelah aku pastikan bahwa Arak Kahyangan ada pada Ratu Getara Cinta, aku pun mencari alasan untuk kabur dari Hutan Kabut.”
“Karena kau aku hanya mendapat separuh dari bayaranku,” kata Nintari.
“Bukankah itu risiko pekerjaanmu?”
“Ya, kau benar. Mati pun adalah risiko pekerjaanku,” kata Nintari. “Dan aku berterima kasih kau tidak berniat membunuhku di Sumur Juara.”
“Yang aku butuhkan saat itu hanya kemenangan, bukan kematian,” kata Joko bijak. “Cobalah kau mengabdi kepada kebenaran, agar hidup kita lebih mulia.”
“Hmm....” Nintari bergumam seraya menaikkan alisnya dan tersenyum kecil. “Aku akui hidupku berlumuran darah selama ini, tetapi aku pun tidak sepenuhnya berjalan di jalan yang gelap gulita. Aku akan pertimbangkan saranmu.”
“Wanita baik,” puji Joko yang membuat Nintari tertawa lepas, menggema di dalam kegelapan malam.
“Kau sendiri, apa tujuanmu dalam hidup ini sebagai seorang pendekar berkesaktian tinggi?” tanya Nintari.
“Berbuat baik untuk diri sendiri dan orang lain,” jawab Joko dengan lugas.
“Aku pikir untuk memuaskan nafsu birahimu dengan menikahi banyak wanita,” kata Nintari.
“Hmmm, aku pikir itu salah satu bagian dari berbuat baik,” kata Joko.
“Pandai kau membungkus mata keranjangmu dengan dalih seperti itu,” tukas Nintari.
“Aku sedikit pun tidak pernah punya keinginan untuk mengumpulkan wanita dalam perjalananku. Namun tiba-tiba, Tirana datang kepadaku membawa cerita dan permasalahan tentang istri delapan itu. Aku tidak bisa mengelak, karena ternyata hal itu adalah kondisi yang harus aku miliki demi keselamatanku di usia muda ini,” jelas Joko.
“Tapi aku menilai, Tirana datang membawa cerita itu dan sejatinya kau sangat senang. Begitu?” terka Nintari.
Joko tertawa pendek.
“Tawamu itu membenarkan dugaanku,” kata Nintari.
“Aku tertawa karena sudah aku jelaskan apa adanya, tetapi kau tetap menudingku lain,” tandas Joko.
Nintari hanya tertawa pelan. Ia menikmati menatap ketampanan Joko Tenang dalam terangnya api unggun di malam itu.
“Entah kenapa, aku merasa nyaman berbincang dengan Joko? Tapi, tidak mungkin aku menerjunkan cintaku di antara wanita-wanita yang lain,” membatin Nintari di balik senyum samarnya. “Lalu tanyanya, “Tirana adalah gadis yang sakti. Apakah kau yakin dia akan memperlakukan wanitamu yang lain dengan baik?”
“Aku yakin, karena itu tugasnya. Dia yang bertugas mencari dan memilihkanku wanita yang memang bisa dijadikan istri yang tidak memiliki rasa cemburu,” jawab Joko.
“Wah, ada wanita seperti itu?” tanya Nintari seakan tidak percaya.
“Mungkin karena rasa pengabdiannya lebih tinggi dibandingkan rasa untuk mementingkan dirinya sendiri,” jawab Joko sambil membolak-balik dua panggangan yang dibakarnya.
Kedua pendekar itu pun terus berbincang, makan malam bersama, minum air kelapa bersama dan tidur bersama. Maksudnya tidur bersama dengan jarak terpisah. (RH)
__ADS_1