Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC25: Tantangan Terbesar Joko


__ADS_3

 *Pertarungan Atas Cinta (PAC)*


Joko Tenag memutuskan untuk berhenti sebentar di tempat pertemuanya dengan Hujabayat. Kuda-kuda ditambatkan, sedangkan mereka berkumpul di pinggir sungai, agak menjauh dari jalan.


“Saat aku meninggalkannya, kondisi Ginari baik-baik saja. Dia pula yang membebaskanku dari penjara Kelompok Pedang Angin, sampai gigi depanku tanggal satu,” kata Hujabayat.


“Tidak apa-apa, Kakang. Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena kau kehilangan satu gigi,” kata Kembang Buangi menggoda sambil tersenyum lebar, masih membayangkan kelucuan jika melihat kekasihnya itu tersenyum lebar.


Hujabayat hanya tersenyum mendengar perkataan Kembang Buangi.


“Ketua Raja Pedang tergila-gila kepada kecantikan Ginari, sehingga Ginari diikat dengan cara licik. Aku tidak tahu terikat seperti apa, tetapi ia tidak bisa pergi jauh dari lelaki itu. Meskipun kami tadi banyak membunuh orang Pedang Angin, tetapi Ginari sangat yakin bahwa lelaki itu tidak akan membunuhnya,” tutur Hujabayat.


“Jika melihat cara Ketua Raja Pedang memberi Ratu, Ginari dan Kembang racun tidur, mengkin dia juga memiliki racun yang bisa membuat seseorang tidak bisa jauh darinya,” duga Tirana.


“Ginari lebih mementingkan keselamatan Yang Mulia Ratu, karenanya aku dipaksa untuk pergi ke Tarumasaga,” tambah Hujabayat. “Aku terpaksa mencuri kuda untuk segera tiba di Tarumasaga.”


“Kerajaan Tarumasaga sudah ada di tangan kita,” kata Joko Tenang.


“Apa?” kejut Hujabayat.


“Raja dan Mahapatih Tarumasaga sudah kami bunuh. Ratu Getara sedang sibuk mengurus pemerintah lanjutan, sebab Puspa sekarang adalah Ratu Tabir Angin yang baru,” kata Tirana menjelaskan.


“Puspa jadi ratu? Apakah bisa?” tanya Hujabayat ragu, lebih terkejut.


“Entahlah. Namun menurut Ratu Getara, pewaris tahta yang sesungguhnya di Rimba Berbatu itu adalah Puspa. Jadi pada dasarnya, tahta itu miliknya,” kata Tirana.


“Jadi, tinggal menyelamatkan Ginari,” kata Hujabayat. “Kemungkinan kita akan tiba di kala malam.”


Bduar!


Tiba-tiba mereka berempat dikejutkan oleh suara ledakan peraduan dua tenaga sakti. Itu terjadi di seberang sungai, tepat berseberangan dengan tempat mereka berada. Mereka berempat memandang ke seberang.


Tampak seorang wanita berambut sebahu berpakaian hijau muda sedang bertarung dengan seorang anak kecil lelaki. Namun, jika diperhatikan, itu bukanlah anak kecil, tetapi seorang lelaki tua cebol yang brewok dengan cambang dan jenggot berwarna merah.


Kakek cebol berpakaian merah gelap itu berbekal senjata seperti tasbih yang menyala hijau. Meski brewok, tetapi sebagian besar kepalanya botak licin bercahaya.


Wanita yang menjadi lawannya masih muda dan cantik. Kecantikannya semakin menggiurkan karena memiliki ukuran dada yang cukup jumbo. Ia bersenjatakan sehelai pita panjang berwarna biru terang.


“Sudah aku katakan, aku tidak membunuh kakakmu, Bayang Kematian!” teriak si kakek cebol sambil menghindari lecutan ujung pita yang seperti cemeti.


Meski ada suara aliran air sungai, tetapi mereka berempat bisa mendengar teriakan kedua orang itu di dalam pertarungannya.

__ADS_1


“Aku punya saksi, Raja Kera, kau tidak bisa mengelak!” balas si wanita yang disebut bernama Bayang Kematian, lengkapnya Dewi Bayang Kematian. Dia kembali meluruk, meliuk-liukkan pitanya yang menimbulkan suara lecutan seperti petasan.


“Siapa saksimu? Dia pasti orang yang mau memfitnahku!” balas kakek cebol yang disebut sebagai Raja Kera.


Bduar!


Raja Kera terpaksa menangkis dengan tasbih hijaunya katika merasa sulit menghindari ujung pita Dewi Bayang Kematian. Satu ledakan terjadi, tetapi hanya membuat mereka saling terdorong setindak.


“Si Cantik Pemukau!” jawab Dewi Bayang Kematian.


“Kau percaya dengan kata-kata adik Raja Pedang itu? Wanita liar!” kata Raja Kera.


“Aku melihat sendiri makam tempat kakakku dikubur!” tandas Dewi Bayang Kematian.


“Kau pasti ditunjukkan kuburan orang tidak dikenal!” tukas Raja Kera tidak mau kalah. “Jika kau memaksa menuduhku membunuh Kariya, aku pun tidak akan sungkan demi membela diri!”


“Kakek pendek tidak ksatria!” maki Dewi Bayang Kematian. Ia lalu memutar-mutar gerakan tangannya yang memegang pita, membuat pita itu membentuk spiral yang indah.


Melihat Dewi Bayang Kematian akan mengerahkan ilmu berbahayanya yang bernama Tarian Dewi Kematian, Raja Kera bersiap. Ia sudah pernah melihat kehebatan ilmu itu.


Sessz!


Raja Kera tidak mau memasang ilmu perisainya, karena ia tahu akan kalah kekuatan. Karenanya, ia memilih berkelebat cepat mencoba menghindari kelima sinar Tarian Dewi Kematian.


Namun, rupanya Dewi Bayang Kematian sudah memperkirakan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan dilakukan oleh Raja Kera.


Blar blar! Seep!


Dua sinar meledakkan tempat kosong, tempat yang ditinggalkan Raja Kera dan tempat kosong lainnya yang diserang secara acak. Sementara tiga sinar lainnya tepat menyerang tubuh Raja Kera di udara.


Namun, Dewi Bayang Kematian yang senang tiga sinar ilmunya tepat sasaran, mendadak terkejut. Ketiga sinar ilmunya tidak menghancurkan tubuh Raja Kera, tetapi justru tahu-tahu masuk ke punggung merah seseorang.


Orang itu tahu-tahu muncul tepat di depan tubuh Raja Kera. Orang itu tidak lain adalah Joko Tenang. Raja Kera dan Joko mendarat sempurna di tanah dan langsung memandang kepada Dewi Bayang Kematian.


Deg!


Dewi Bayang Kematian merasakan jantungnya tersentak ketika bertemu pandang dengan Joko Tenang. Tiga kejutan telah membuatnya merasa terganggu. Kejutan pertama adalah munculnya Joko yang mencampuri urusannya. Kejutan kedua adalah punggung Joko yang tidak apa-apa dihantam tiga sinar Tarian Dewi Kematian. Kejutan yang ketiga adalah ketampanan pemuda berbibir merah seperti perempuan itu.


“Hei! Siapa kau, Kisanak?!” hardik Dewi Bayang Kematian. Meski pemuda itu tampannya seawan, tetapi ia merasa berhak marah karena telah diusik pertarungannya.


Deg!

__ADS_1


Satu sentakan rasa aneh juga menghantam jantung Joko Tenang ketika melihat area depan tubuh wanita cantik itu. Sejak ia menikah dengan Putri Yuo Kai dan menjadi seorang suami, pikirannya mulai gampang terkoneksi jika melihat bentuk keindahan tubuh seorang perempuan. Namun, bukan termasuk kategori mesum, dan pikiran itu tidak pernah ia wujudkan dalan bentuk ekspresi.


“Nisanak, aku yakin ada salah paham di antara kalian berdua!” kata Joko Tenang yang bersikap tetap tenang, meski ia dalam hati tidak betah menatap wanita itu. Joko tidak betah bukan karena muak, tetapi karena merasa malu sendiri.


“Kau orang asing jangan sok tahu. Ini urusan pribadi antara aku dan Raja Kera!” teriak Dewi Bayang Kematian lagi.


“Justru aku perlu turut cmpur. Pertama, aku punya urusan rahasia dengan Raja Kera,” kata Joko.


Terkejut Raja Kera mendengar perkataan Joko, karena ia tidak sedikit pun mengenal pemuda berompi merah itu.


“Kedua, mungkin wanita asing yang kemarin kami kubur adalah wanita yang Nisanak maksud,” tambah Joko.


Melebarlah lingkar mata cantik Dewi Bayang Kematian mendengar perkataan Joko.


“Apakah yang kau kubur itu adalah kakakku Kariya?” tanya Dewi Bayang Kematian. Nada suaranya agak melunak. Sebab jika benar yang dikatakan oleh pemuda tampan di samping Raja Kera itu, maka ia pasti bersalah kepada si kakek cebol.


“Aku tidak tahu apakah itu kakakmu yang bernama Kariya atau bukan, yang pasti dia jauh lebih tua darimu, mungkin lebih pantasnya dia adalah ibumu. Dia berpakaian kuning,” kata Joko.


“Ya, itu adalah kakakku Kariya. Dia adalah kakak angkatku, usianya sekitar lima puluh tahun!” seru Dewi Bayang Kematian membenarkan. Ia berinisiatif melangkah maju lebih mendekati posisi Joko Tenang, hingga jarak mereka tinggal lima langkah.


Semakin jelaslah Dewi Bayang Kematian melihat ketampanan Joko Tenang. Ia pun jadi tahu bahwa merahnya bibir Joko bukanlah karena gincu, tetapi natural.


Berbeda dengan Joko Tenang. Karena ia sudah memiliki satu istri dan tiga calon istri yang begitu cantik, ia tidak begitu menikmati kecantikan wanita berekspresi galak itu. Namun, tetap saja jantungnya berdebar karena mau tidak mau ia harus memandangi bawah leher Dewi Bayang Kematian saat berbicara dengannya. Ini tantangan terbesar bagi Joko saat berbicara kepada seorang wanita cantik.


Di sisi Joko, Raja Kera tersenyum-senyum saja. Ia kuat menduga apa yang sedang dirasakan oleh Joko Tenang sebagai seorang lelaki berdarah muda.


“Kenapa kau tersenyum-senyum, Raja Kera?!” bentak Dewi Bayang Kematian.


“Aku hanya tersenyum karena lega, bisa lolos dari masalah yang kau buat sendiri,” jawab Raja Kera seraya tersenyum sinis. “Urusanku selesai. Aku pergi!”


“Aku kata aku punya urusan denganmu, Orang Tua!” kata Joko Tenang sambil cepat mencengkeram leher baju Raja Kera yang berbalik hendak pergi. Joko lalu menunjuk ke seberang, tempat Tirana, Kembang Buangi dan Hujabayat menunggu. “Pergilah ke seberang, benda yang kami miliki mungkin adalah milikmu!”


Agak terkesiap Raja Kera mendengar hal itu. Ia memandang ke seberang dan mencoba mengenali ketiga orang di sana. Namun, ia tidak mengenal satu pun dari mereka.


“Aku akan ke sana. Pintar juga kau, Bocah. Menyuruhku ke sana hanya untuk berdua dengan wanita itu,” dumel Raja Kera sambil berjalan menuju pinggir sungai.


“Apa maksudmu bicara seperti itu, Pendek?!” hardik Dewi Bayang Kematian sambil melecutkan pita birunya.


“Aak!” jerit Raja Kera terkejut, lalu buru-buru berkelebat ke tengah sungai.


Ujung pita Dewi Bayang Kematian melecut ruang kosong. Sementara Raja Kera menjadikan pelepah pisang yang hanyut sebagai tolakan untuk melompat lagi sampai ke seberang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2