
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
Gimba si rajawali raksasa kini duduk alim di pelataran Istana Naga Langit. Sebagai aset pengting Prabu Dira, Gimba dipagari oleh pagar prajurit sebagai bentuk penjagaan keamanan, jangan sampai ada tangan-tangan nakal yang mengusik ketenangan burung itu.
Setelah sempat membawa Joko Tenang dan Putri Yuo Kai tur udara sebentar sebagai masa lepas rindu yang akut, Gimba harus menunggu, sebab Joko Tenang tidak tahu cara memanggilnya kembali jika ia pergi kembali ke Alam Kahyangan.
Sebelum bertemu dengan Kaisar dan Permaisuri serta Keluarga Istana yang lain, Joko Tenang harus membersihkan diri terlebih dahulu, hitung-hitung sekalian melakukan hubungan suami istri pertama yang sebenarnya di kamar mandi dan di ranjang pribadi sang putri.
Hubungan suami istri yang terjadi di hari pernikahan antara Joko Tenang dan Putri Yuo Kai sekitar lebih sebulan yang lalu, dianggap bukan hubungan suami istri yang sebenarnya, karena tidak ada adegan tahap bersatunya dua organ intim.
Baru kali inilah tahapan puncak itu bisa terlaksana, meski harus di siang hari. Rasa dan hasil dari hal itu jelas membuat Putri Yuo Kai semakin cinta kepada suaminya dan semakin tidak ingin berpisah.
Berbeda seperti dengan istri-istri yang lainnya, Joko Tenang melakukan hal itu di dalam selimut dan di dalam ruang kelambu yang tertutup.
Ketika pasangan tampan dan jelita itu pergi menemui Kaisar dan Permaisuri, keduanya tampil dengan penuh kesegaran. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah keduanya, terkhusus pada diri sang putri. Meski tetap tampil dengan kekhasannya yang dingin, tetap Putri Yuo Kai tidak bisa menyembunyikan goresan senyum yang menggambarkan suasana hatinya.
Kondisi majikannya tersebut, membuat Mai Cui dan Yi Liung yang lebih sering tersenyum-senyum di belakang. Namun tidak dengan Bo Fei yang memang memiliki karakter dingin seperti dinding pemisah. Saat menghadap kepada Kaisar kembali, Su Mai dan Chi Men juga ikut.
“Hormat hamba kepada Yang Mulia Kaisar dan Ibu Permaisuri! Semoga Kaisar dan Ibu Permaisuri dikaruniai umur yang panjang dan keharmonisan yang langgeng!” ucap Joko Tenang setelah ia benar-benar turut berlutut sebagai wujud hormat, meski kini ia adalah seorang raja. Namun, baik istri maupun kedua mertuanya belum tahu bahwa dirinya kini adalah seorang raja.
“Hormat hamba kepada Yang Mulia Kaisar dan Ibu Permaisuri! Semoga Kaisar dan Ibu Permaisuri dikaruniai umur yang panjang dan keharmonisan yang langgeng!” ucap Su Mai menerjemahkan ucapan Joko ke dalam bahasa ibu.
"Bangunlah, Joko! Hahaha!" perintah Kaisar Long Tsaw lalu tertawa senang.
Ia lalu melangkah mendekati menantunya sambil tertawa rendah, tetapi bernada bangga. Ia menepuk kedua bahu Joko Tenang.
"Negeri Jang sangat beruntung memiliki seorang sepertimu, Joko. Aku sudah mendengar bagaimana kisahmu mengalahkan pasukan Negeri Ci Cin. Hahaha!” kata Kaisar Long Tsaw yang diikuti tawa Permaisuri Fouwai dan kedua selir, yaitu Selir Ni dan Selir Yim.
Su Mai segera menerjemahkan perkataan Kaisar Long Tsaw tanpa perlu menirukan suara tawanya.
“Bagaimana bisa kau memiliki hewan siluman seperti itu, Joko?” tanya sang kaisar lagi yang segera diterjemahkan oleh Su Mai, juru bahasa.
“Itu bukan hewan siluman, itu hewan asli, Ayahanda Kaisar,” jawab Joko Tenang tanpa mau menjelaskan rincian bagaimana hewan itu bisa menjadi raksasa.
“Oooh! Jadi hewan di Tanah Jawi sebesar-besar itu!” desah Kaisar Long Tsaw panjang, menyimpulkan, setelah mendengar terjemahan Su Mai yang kemudian diterjemahkan lagi.
Joko Tenang hanya tertawa, membiarkan mertuanya memahami seperti itu. Dia hanya berharap mertuanya tidak pergi ke Tanah Jawi untuk berburu hewan raksasa yang faktanya hanya ada di Alam Kahyangan.
“Ayahanda Kaisar, aku ingin membawa Putri You Kai ke Tanah Jawi hari ini juga,” ucap Joko Tenang.
__ADS_1
Su Mai lalu menerjemahkan apa adanya.
“Apa?!” kejut Kaisar Long Tsaw, Permaisuri Fouwai, kedua selir, Putri Tutsi Ling Mei adik Putri Yuo Kai, dan para pelayan ketika mendengar terjemahan tersebut.
“Tidak tidak tidak!” seru Permaisuri Fouwai cepat sambil bangkit dan maju memegang tangan putrinya. Wajah cerianya seketika berubah. “Kenapa tiba-tiba seperti ini?”
Su Mai pun menerjemahkan.
“Maafkan aku, Ayahanda dan Ibunda Permaisuri. Sudah beberapa hari ini aku menjadi seorang raja dan sedang meninggalkan kerajaanku yang sedang aku bangun….”
“Apa?!” Kali ini yang terkejut adalah Putri Yuo Kai dan Su Mai yang langsung mengerti dengan perkataan Joko Tenang. Sang putri lalu bertanya dengan bahasa Jawi, “Suamiku, kau sudah menjadi seoran raja?”
“Ya,” jawab Joko Tenang sambil mengangguk sekali.
Melihat keterkejutan putrinya tanpa memahami dialog pasangan muda itu, Kaisar Long Tsaw dan Permaisuri jadi semakin khawatir, takut jika ada sesuatu yang buruk telah terjadi atau sedang mengancam.
“Su Mai, terjemahkan!” perintah Kaisar Long Tsaw agak keras.
Su Mai yang jadi terkejut, buru-buru menerjemahkan perkataan Joko Tenang dan Putri Yuo Kai.
“Apa?!” kejut Kaisar dan para istrinya lagi.
“Kau sudah menjadi seorang raja, Joko?” tanya Kaisar Long Tsaw.
“Benar, Ayahanda Kaisar. Aku sekarang Raja Kerajaan Sanggana Kecil,” tandas Joko Tenang.
“Lalu kenapa kau tadi menghormat dengan berlutut?” tanya sang kaisar.
“Itu karena Ayahanda dan Ibunda Permaisuri belum tahu. Setelah ini aku tidak akan berlutut lagi,” kilah Joko Tenang.
“Tapi, Joko…” ucap Permaisuri Fouwai dengan mimik wajah yang sedih.
“Maafkan aku, Ibunda Permaisuri. Kerajaan aku tinggalkan dalam keadaan yang sangat lemah. Aku sangat membutuhkan Yuo Kai untuk membantuku agar bisa membangun sebuah kerajaan seperti Negeri Jang ini,” ujar Joko Tenang.
“Istriku, kepentingan sebuah negeri atau kerajaan adalah kepentingan untuk rakyat banyak. Aku bisa mengerti jika Kaisar Joko begitu terburu-buru. Perjalanan menuju ke mari dan kembali pulang itu sudah memakan waktu. Akan lebih lama lagi jika kita memaksanya untuk bermalam,” kata Kaisar Long Tsaw kepada permaisurinya.
Putri Yuo Kai lalu meletakkan tangannya dengan lembut di atas punggung tangan ibunya. Ia tersenyum untuk menghibur ibunya tersebut.
“Ibunda, jangan pikirkan tentang keselamatanku. Aku bersama seorang suami yang sangat sakti. Aku akan baik-baik saja. Aku akan meninggalkan Pengawal Angsa Merah untuk melindungi Ibunda. Jika di Istana ini terjadi sesuatu, kirimlah pesan lewat Su Mai,” ujar Putri Yuo Kai.
__ADS_1
“Tapi…” ucap Permaisuri Fouwai masih berat.
“Aku mengerti keberatan Ibunda. Siapa pun yang nanti menjadi penerus Ayahanda sebagai pemimpin Negeri Jang, semuanya akan baik,” kata Putri Yuo Kai. Ia memahami pikiran ibunya. Dengan perginya ia ke negerinya Joko Tenang, itu berarti peluang untuk meneruskan tahta sang kaisar akan jatuh kepada Pangeran Tutsi Han Tsun, putra dari Selir Ni atau adik Putri Yuo Kai.
“Baiklah,” ucap Permaisuri Fouwai dengan nada dan hempasan napas yang berat. Terlihat ekspresi wajahnya sedikit kecewa.
Hal itu sangat membuat senang Selir Ni, tetapi hanya dalam hati ia ekspresikan.
“Namun, sebelum kalian pergi ke Negeri Tanah Jawi, kita sambut kadatangan Kaisar Joko dengan makan dan hiburan,” kata Kaisar Long Tsaw.
“Baik, Ayahanda Kaisar,” ucap Joko Tenang. Lalu katanya tiba-tiba karena teringat sesuatu, “Oh iya, aku ingin memberikan cincin pernikahan kepada istriku!”
Berbinarlah sepasang mata Putri Yuo Kai. Meski ia adalah seorang putri yang bisa mendapatkan perhiasan semahal dan semewah apa pun, tetapi akan berbeda artinya jika yang memberikannya adalah sang suami tercinta.
“Berikanlah!” kata Kaisar Long Tsaw.
Joko Tenang lalu mengeluarkan sebuah cincin emas bermata batu permata warna jingga.
“Aku harap kalian tidak terkejut dengan apa yang keluar dari Cincin Mata Langit ini,” kata Joko Tenang.
Pemberitahuan itu membuat Putri Yuo Kai, Kaisar Long Tsaw dan semua yang ada di ruangan itu, jadi bertanya-tanya tentang keistimewaan apa yang tekandung di dalam cincin.
Dengan perlahan, Joko Tenang memasukkan jari manis istrinya ke dalam lingkaran cincin. Joko Tenang tersenyum manis menatap kejelitaan istrinya itu. Putri Yuo Kai pun turut tersenyum malu. Hingga akhirnya….
Zersss!
“Hah!” kejut semua yang ada di dalam ruangan itu serentak, kecuali Joko Tenang.
Putri Yuo Kai sempat memekik terkejut. Kaisar Long Tsaw terjajar dua tindak dan nyaris jatuh jika pinggangnya tidak ditahan oleh meja. Permaisuri Fouwai menjerit ketakutan dan nyaris jatuh.
Selir Ni, Selir Yim dan Kepala Kasim sampai terjatuh karena begitu terkejutnya dan takut.
Sinar jingga besar berwujud belalang raksasa, tetapi memiliki tiga ekor panjang seperti ekor ular, melesat keluar dari mata cincin di jari manis Putri Yuo Kai. Makhluk sinar itu melesat cepat menembus atap bangunan tanpa merusaknya dan terus melejit tinggi seolah hendak mencapai langit.
Peristiwa itu seketika menggegerkan semua mata yang melihatnya, baik di dalam Istana maupun di luar Istana.
Di saat mereka semua masih dalam kondisi syok, makhluk sinar jingga itu telah melesat cepat lurus turun ke bawah. Makhluk itu tidak masuk pulang ke dalam cincin, tetapi masuk ke dalam tubuh Putri Yuo Kai.
Tubuh sang putri sempat terhentak ketika sinar itu masuk. Kemudian, hanya keheningan yang tercipta dan tidak terjadi apa-apa lagi.
__ADS_1
“Kesaktian Cincin Mata Langit akan menjaga Yuo Kai,” jelas Joko Tenang.
Kembali legalah semua orang. (RH)