
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
“Hihihi...!”
Tawa Tirana meledak berkepanjangan.
Pembicaraan sekilas antara Joko Tenang dan Raja Kera yang tidak dipahami oleh Tirana, membuat gadis jelita itu penasaran.
Ketika ia dan calon suaminya tinggal berdua pergi menuju Kadipaten Rebaklaga, di dalam perjalanannya ia pun berhenti sejenak untuk bertanya kepada Joko.
Jika bercerita kepada Tirana atau calon istrinya yang lain, Joko akan jujur tanpa perlu malu. Karenanya, ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya ketika berbicara berhadapan dengan Dewi Bayang Kematian.
Mendengar cerita itu, Tirana pun tertawa keras dan panjang, membuat Joko terdiam merengut. Tirana semakin tertawa ketika melihat ekspresi kekasih tercintanya itu.
Sambit tertawa, tiba-tiba Tirana menghambur memeluk Joko dan mencium pipinya. Setelahnya, ia melanjutkan tawanya seiring melemahnya Joko Tenang. Meski Joko sudah tersurut jatuh duduk karena kehilangan tenaga, Tirana masih saja tertawa.
Joko Tenang hanya bisa pasrah ditertawakan dan disergap hingga lemas oleh gadis cantik itu. Ini pertama kalinya Tirana menyergapnya seperti itu dan mencium pipinya. Terasa sangat indah, meski berujung ketidakberdayaan.
Akhirnya tawa Tirana merendah. Ia lalu menjauh dari Joko Tenang untuk memberi ruang kepada calon suaminya memulihkan diri. Namun, tawa-tawa kecil masih tersisa.
“Aku kira kau akan cemburu,” kata Joko setelah tenaganya pulih. Ia tersenyum kecil kepada Tirana yang masih belum benar-benar berhenti.
Tirana sampai menyeka air matanya yang keluar. Ia memegangi perutnya yang lelah.
“Jika Kakang memang berminat kepada Dewi Bayang Kematian, aku bisa menawarkan kepadanya untuk menjadi calon istri Kakang berikutnya, agar Kakang tidak malu jika berhadapan dengannya,” kata Tirana sambil masih senyum-senyum.
“Tidak, terima kasih,” ucap Joko seraya tersenyum dengan wajah mengarah ke arah lain, tetapi matanya melirik kepada gadisnya.
“Tidak apa-apa, Kakang. Aku tidak masalah jika Dewi Bayang Kematian juga mau berbagi suami,” tandas Tirana. Senyumnya kali ini lebih memudar. Ia bicara serius kepada Joko, bukan sekedar menggoda.
“Sudah, tidak usah bicarakan dia lagi, nanti aku justru terus terbayang,” kata Joko Tenang yang membuat Tirana kembali tertawa, tapi tidak sekencang tadi. “Kita harus segera tiba di Kadipaten Rebaklaga. Meski kita kemalaman, jika bisa kita harus terus bergerak.”
“Baik, Kakang,” ucap Tirana patuh.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan berkuda. Namun, ketika malam tiba, mereka masih cukup jauh dari Kadipaten Rebaklaga.
Joko Tenang sudah bertanya kepada orang yang dijumpainya menjelang gelap tentang letak Kadipaten Rebaklaga. Dibutuhkan beberapa jam lagi untuk sampai ke sana.
“Perjalanan berkuda rasanya tidak mungkin. Kita lanjutkan dengan berlari,” kata Joko Tenang memutuskan.
Joko Tenang dan Tirana memutuskan memberikan kuda mereka kepada warga biasa yang mereka jumpai setelah matahari terbenam. Selanjutnya mereka mengandalkan ilmu peringan tubuh menuju Kadipaten Rebaklaga.
__ADS_1
Kegelapan tidak menjadi halangan bagi Joko dan Tirana, terlebih arah ke kadipaten sudah tidak begitu rumit.
“Meskipun kalian tiba di waktu malam, kalian tidak akan kesulitan menemukan kediaman Raja Pedang. Orang-orang Kelompok Pedang Angin banyak tersebar di kadipaten,” kata Hujabayat kepada Joko sebelum mereka berpisah di pinggir sungai tadi.
Apa yang diberitahukan Hujabayat ternyata benar. Ketika Joko dan Tirana baru memasuki Kadipaten Rebaklaga di waktu malam, mereka bertemu dengan dua lelaki berseragam cokelat putih yang membawa obor bambu. Kedua orang Kelompok Pedang Angin itu sedang melaksanakan patroli.
Ketika melihat orang-orang Kelompok Pedang Angin, amarah Joko Tenang dan Tirana tersulut karena mereka langsung teringat dengan pemandangan di Kerajaan Tabir Angin.
Mudah bagi Joko untuk membunuh mereka, tetapi hanya satu yang dibunuh, satu lagi disandera menjadi petunjuk jalan menuju kediaman adipati yang kini ditempati oleh Arjuna Tandang.
Dalam perjalanannya, setiap bertemu dengan orang-orang Kelompok Pedang Angin, Joko Tenang dan Tirana membunuh mereka karena memang ada perlawanan.
Hingga akhirnya, Joko Tenang dan Tirana telah memasuki halaman rumah adipati. Orang Pedang Angin yang menjadi petunjuk didorong agar pergi.
Kemunculan Joko dan Tirana membuat orang-orang berpedang bermunculan dan langsung mengepung pasangan itu. Ada seratus orang lebih yang mengepung Joko dan Tirana.
Ketenangan yang ditunjukkan oleh kedua tamu asing itu justru membuat para lelaki berpedang tegang sendiri. Sebab, belum lama mereka harus kehilangan banyak teman saat dibunuhi oleh Ginari dan Hujabayat.
“Serang!” teriak seorang komandan pasukan keras.
Namun, segelombang tenaga halus menerpa mereka semua yang dikirim oleh Tirana. Ilmu Pemutus Waktu Tirana membuat para lelaki berpedang itu mematung di tempat. Akhirnya mereka ramai sendiri karena memang ilmu itu tidak memblokir kemampuan berbicara.
Wuss!
“Aaa...!”
Satu pemandangan yang mengerikan terjadi.
Joko Tenang melepaskan angin pukulan Langit Membakar Bumi. Tidak ayal lagi, angin panas itu menerbangkan puluhan orang dan berjatuhan di teras rumah besar. Pandangan mengerikannya terlihat ketika api-api menyala dan berkobar di tubuh mereka semua.
Jeritan panjang yang saling menimpali terdengar begitu ramai karena tubuhnya terbakar. Seolah itu adalah arena neraka kecil. Tempat itu berubah menjadi terang.
Kemarahan membuat Joko Tenang dan Tirana tidak menyimpan rasa iba dalam hatinya.
Sementara puluhan orang Kelompok Pedang Angin lainnya masih mematung karena dijerat oleh ilmu Tirana. Mereka hanya bisa mendelik ketakutan dan panik ditempat. Mereka jelas tidak mau bernasib dibakar hidup-hidup seperti puluhan rekan mereka.
Alangkah terkejutnya Arjuna Tandang yang muncul dari dalam. Ia melihat anak buahnya bergerak seperti ulat gentong karena menahan panas yang pada akhirnya membunuhi mereka satu demi satu.
“Siapa kalian?!” teriak Arjuna Tandang marah.
Joko Tenang langsung bisa menduga bahwa orang itulah yang bernama Ketua Raja Pedang, terlihat dari cara berpakaiannya.
Press!
__ADS_1
Dendam dan amarah membuat Joko Tenang tidak tanggung-tanggung. Ia langsung mengeluarkan ilmu Surya Langit Jagat. Sinar hijau menyilaukan telah bercokol di telapak tangannya.
Joko Tenang melompat cepat ke arah Arjuna Tandang yang sudah bersiaga.
“Tahan, Kakang!” teriak Ginari yang muncul di ambang pintu.
Joko Tenang yang sudah terlanjut mengayunkan tangannya, terpaksa membelokkan arah ayunannya.
Bluarr!
Sinar Surya Langit Jagat jadi menghancurkan sebagian rumah besar itu. Arjuna Tandang dan Ginari, termasuk puluhan orang Kelompok Pedang Angin, terdorong kencang terkena daya ledaknya.
Kehancuran yang diderita rumah itu benar-benar parah.
Arjuna Tandang buru-buru bangkit berdiri.
Sreeet!
Arjuna Tandang telah mengeluarkan sepuluh sinar biru berwujud pedang yang masih mengambang.
“Kakang Joko, hentikan!” seru Ginari lagi.
Dengan senyum yang mekar bahagia, Ginari cepat berlari ke hadapan Joko. Ingin rasanya ia langsung memeluk calon suaminya itu karena begitu senangnya, tetapi ia harus tahan. Ia tidak mau membuat Joko terlihat lemah di hadapan musuhnya.
“Ginari, apakah kau baik-baik saja?” tanya Joko cepat, menunjukkan ekspresi cemas.
“Aku baik-baik saja, Kakang. Kau lihat, aku masih cantik dan tidak cacat,” jawab Ginari seraya tersenyum lebar, bahkan ingin tertawa.
“Kemarilah, aku ingin memelukmu. Aku begitu takut kehilanganmu, Ginari. Sejak mengetahui kau hilang di Tabir Angin, aku begitu mengkhawatirkanmu, Sayang,” kata Joko.
“Tapi....”
“Tidak apa-apa. Aku hanya akan lemah, tidak akan mati,” ucap Joko lembut seraya tersenyum manis. Ia paham kenapa Ginari merasa ragu.
“Kakang!” ucap Ginari sambil menghamburkan dirinya dan memeluk Joko. Bukannya tersenyum atau tertawa, tetapi Ginari justru menangis. Ia terharu melihat betapa besar dan tingginya rasa cinta Joko kepadanya.
Joko pun langsung memeluk hangat tubuh Ginari. Namun, hanya sesaat karena Joko seketika lemah.
Ginari berusaha menahan tubuh calon suaminya yang terkulai lemah.
Tampak warna muka Arjuna Tandang mendidih cemburu melihat kemesraan Joko dengan gadis yang sangat ia inginkan. Meski dalam hati ia heran melihat pemuda asing itu tiba-tiba jatuh lemah.
Tirana membiarkan Joko dan Ginari melepas rindu. Ia lebih mewaspadai Arjuna Tandang yang menatap dengan kecemburuan ingin membunuh. (RH)
__ADS_1