Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 13: Cincin Sakti untuk Pengantin


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Seorang lelaki berkumis bertubuh gagah, berpakaian warna biru gelap, datang bersama pengawalan dua orang murid Perguruan Tiga Tapak. Lelaki itu datang dengan membawa sebuah buntalan kain berwarna hitam pada bahu kanannya. Ia adalah Turung Gali, salah satu prajurit dari Pasukan Seratus Siluman Kerajaan Sanggana.


Melihat kedatangan Turung Gali yang memang adalah ayahnya, Tirana segera turun dari balairung dan berlari kecil menyambut peluk kedatangan sang ayah.


“Ayah!” sebut Tirana sambil memeluk erat Turung Gali.


Turung Gali hanya tertawa dan balas memeluk putri sematawayangnya itu.


Ternyata di belakang Tirana telah berdiri Joko Tenang. Melihat keberadaan Joko Tenang, Turung Gali segera melepaskan pelukan pada putrinya.


“Hormatku, Paman!” ucap Joko Tenang seraya menghormat dengan sedikit membungkuk.


“Hamba Turung Gali, menjura hormat kepada, Yang Mulia Pangeran Dira!” ucap Turung Gali lantang sambil turun berlutut dengan satu kaki dan menunduk dalam.


Terkejutlah semuanya mendengar Turung Gali menyebut Joko Tenang dengan sebutan “Yang Mulia Pangeran”. Hanya Getara Cinta yang tidak terkejut.


“Apa yang kau lakukan, Paman? Bangunlah!” kata Joko Tenang cepat sambil meraih kedua lengan kekar lelaki itu.


Turung Gali pun segera bangkit.


“Mari, Ayah!” ajak Tirana untuk pergi ke balairung.


Semua orang yang ada di tempat itu tidak ada yang pernah bertemu dengan Turung Gali, apalagi mengenalnya, kecuali Tirana. Dengan Joko Tenang pun baru kali ini bertemu.


“Perkenalkan, namaku Turung Gali. Aku adalah ayahnya Tirana. Datang ke mari karena diutus oleh Gusti Mulia Raja Anjas Perjana Langit untuk bertemu dengan Yang Mulia Pangeran Dira Pratakarsa Diwana,” ujar Turung Gali di hadapan forum musyawarah.


“Jadi, Kakang Joko adalah seorang pangeran?” tanya Kerling Sukma.


“Benar,” jawab Tirana.


“Kenapa Yang Mulia tidak memberi tahu aku dari dulu, agar aku tidak kurang ajar kepada Yang Mulia Pangeran,” ucap Kerling Sukma lirih, tetapi terdengar jelas oleh semuanya. Ia merengut, merasa bersalah jika mengingat sikap “kurang ajarnya” kepada Joko remaja.


“Ini bukan kesalahan Kakang Joko. Ia pun tidak tahu dan tidak percaya bahwa dirinya adalah seorang pangeran dari Kerajaan Sanggana,” kata Tirana menjelaskan.

__ADS_1


“Aku tidak terbiasa dengan sebutan penghormatan itu, panggil saja aku sebagaimana awalnya,” kata Joko Tenang.


Sebagian dari mereka hanya manggut-manggut. Namun, Gatri Yandana jelas diliputi kesenangan karena ia akan punya menantu seorang pangeran, satu hal yang tidak disangkanya.


“Ayah, bagaimana bisa menemukan kami di sini?” tanya Tirana.


“Kalungmu, putriku,” jawab Turung Gali sambil memperlihatkan kalung pada lehernya yang sama dengan kalung perak pada leher Tirana. “Selama kau memakai kalung pemberian ibumu, maka aku akan bisa menemukanmu. Gusti Mulia Raja Anjas sebenarnya mengutusku untuk menemui calon menantuku untuk menyampaikan pemberiannya. Aku yakin bahwa kau pasti bersama dengan Yang Mulia Pangeran.”


“Kedatangan Ayah tepat sekali. Aku dan Kakang Joko akan menikah empat hari lagi,” kata Tirana.


“Oh, justru aku mengira kalian berdua sudah menikah,” kata Turung Gali.


“Hahaha!” tertawa rendahlah mereka.


“Mohon maaf, aku harus bicara hanya berdua dengan Yang Mulia Pangeran,” ujar Turung Gali.


“Silakan,” kata Jaga Manta.


“Kita bisa bicara di kamarku, Paman,” kata Joko Tenang.


“Gusti Mulia Raja Anjas, ayah dari Yang Mulia Pangeran Dira, menitipkan sesuatu kepada hamba untuk hamba serahkan kepada Yang Mulia,” kata Turung Gali sambil membuka buntalan kainnya.


Turung Gali lalu memberikan sebuah kotak kayu berlapis kain beludru warna biru terang. Kotak itu sebesar sejengkal kali setengah, dengan tinggi hanya empat jari.


“Apa isinya, Paman?” tanya Joko Tenang setelah memegang kotak bagus itu.


“Hamba tidak tahu, Yang Mulia. Mungkin ini berkaitan dengan pernikahan Yang Mulia,” jawab Turung Gali.


Joko Tenang lalu mencoba membukanya. Setelah dicoba-coba, ternyata cara membukanya adalah digeser. Saat kotak itu terbuka, maka terlihatlah isinya.


Ada sembilan buah cincin indah pada kotak tersebut. Semua cincin terbuat dari emas dan memiliki permata berbentuk lingkar mata yang sipit. Permata cincin itu memiliki delapan warna berbeda dengan warna merah ada dua buah. Hanya saja, satu cincin bermata merah memiliki model yang berbeda sendiri. Jika dibandingkan, maka cincin yang satu itu lebih terkesan untuk jari lelaki karena memiliki ukiran berbentuk kepala macan.


Pada bagian dasar kotak ada tulisan berbunyi “Cincin Macan Penakluk” dan “Cincin Mata Langit”.


“Aku tahu untuk siapa cincin-cincin ini. Dari jumlah dan bentuknya jelas ini cincin untukku dan kedelapan istriku,” kata Joko Tenang.

__ADS_1


Joko Tenang lalu mengambil cincin bermata merah berukir kepala macan. Ia yakin, cincin itulah yang bernama Cincin Macan Penakluk. Cincin itu ia sematkan pada jari tengah kanannya. Jari itulah yang cocok dengan lingkar cincinnya.


Graurr!


Ketika Joko Tenang menyalurkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya, Cincin Macan Penakluk tiba-tiba bersinar merah terang cukup menyilaukan, tetapi tidak lebih menyilaukan dari sinar ilmu Surya Langit Jagat. Dan saat itu pula terdengar suara auman seekor macan.


“Kekuatan cincin ini sangat besar,” kata Joko Tenang. Ia lalu melenyapkan tenaga dalamnya dan membuat sinar merah kembali redup seperti semula.


“Selain itu, Gusti Mulia Raja Anjas telah memberikan sebuah tanah dan kediaman khusus untuk Yang Mulia Pangeran. Kediaman itu sudah dibangun oleh para prajurit Kerajaan Sanggana dan tinggal ditempati. Letaknya di pinggir Telaga Fatara di sisi utara Gunung Prabu. Setelah pernikahan ini, hamba akan mengantar Yang Mulia ke sana,” ujar Turung Gali.


“Ayahku sudah menyiapkan semua?” tanya Joko Tenang.


“Benar, Yang Mulia Pangeran. Namun, Gusti Mulia Raja Anjas menyebut kediaman itu dengan sebutan Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Turung Gali.


“Apakah ayahku memberikanku sebuah kerajaan kecil?” tanya Joko lagi guna memastikan.


“Aku rasa demikian, Yang Mulia Pangeran. Menurut hamba, sebagai seorang pangeran yang nantinya memiliki beberapa orang istri, tentunya Yang Mulia Pangeran sudah seharusnya memiliki kediaman tetap,” kata Turung Gali.


“Aku benar-benar ingin membuat perhitungan kepada ayahku. Kenapa dia melakukan ini semua kepadaku?” desis Joko Tenang.


Terkesiap Turung Gali mendengar perkataan sang pangeran.


“Apa Yang Mulia Pangeran katakan?” ucap Turung Gali.


“Paman mungkin tidak mengerti apa yang ayahku lakukan terhadapku. Sebenarnya, semua yang ia berikan kepadaku tidak memiliki nilai lebih dibandingkan apa yang telah dia lakukan kepadaku. Namun, aku anggap itu semua adalah hadiah untuk istri-istriku. Oh iya, Paman. Aku sangat berterima kasih telah diberikan seorang Tirana yang begitu istimewa dan luar biasa,” ujar Joko Tenang.


“Sudah menjadi tugas keluarga kami untuk mengabdi setia kepada keluarga Kerajaan Sanggana,” ucap Turung Gali.


“Kau hanya memiliki satu putri, Paman?” tanya Joko.


“Hanya Tirana seorang, Yang Mulia Pangeran,” jawab Turung Gali.


“Jika ada dua atau tiga, mungkin aku akan memintanya semua. Hahaha!” kata Joko berseloroh.


Turung Gali hanya tertawa rendah.

__ADS_1


Joko lalu membungkus kedelapan cincin di dalam kotak dengan sehelai kain sehingga terkumpul menjadi satu. Setelah mengikatnya dengan erat, kain itu lalu ia selipkan di balik sabuknya. Sementara kotak kayunya ditinggalkan. (RH)


__ADS_2