
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Di sebuah lembah di pinggiran hutan, ramai orang sedang beristirahat. Jumlah mereka ratusan orang dan berseragam, baju warna cokelat dan celana warna putih. Hampir semuanya menyandang pedang sejenis.
Di tempat mereka beristirahat, dibangun sebuah tenda sederhana, tetapi cukup nyaman untuk bernaungnya beberapa orang dari sengatan matahari di tengah siang itu.
Di bawah tenda digelar selembar karpet tebal di atas rerumputan. Ada pula sebuah meja kayu kecil yang di atasnya ada dua gelas bambu dan sekendi minuman.
Saling berhadapan dua orang lelaki beda usia di sisi meja yang berseberangan. Mereka duduk bersila.
Orang yang lebih tua memiliki tubuh yang besar dan berotot. Ia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana hitam yang pada bagian pinggulnya dibalut kain berwarna kuning. Kepala sabuknya terbuat dari lempengan besi berukir. Di lehernya ada terkalung perhiasan dari emas. Sepasang lengan berototnya dilingkari gelang perak yang mencekik. Sepasang pergelangan tangannya pun dilingkari gelang perak tebal. Kepalanya dilingkari ring perak yang besar. Pada bagian tengah dahi ring tersemat sebutir batu bening berwarna biru. Rambut lelaki berkumis itu digelung di atas kepala. Pria berusia lima puluh satu tahun itu adalah Mahapatih Kerajaan Tarumasaga, Yudi Mandala.
Di hadapannya duduk seorang pemuda tampan berkulit putih, beralis agak tebal dan panjang. Hidungnya mancung, lurus, hampir tidak memiliki cuping yang mengembang. Ia mengenakan pakaian putih-putih, hanya sabuknya yang berwarna kuning. Kepalanya diikat pita warna putih. Rambutnya yang gondrong sebahu dibiarkan terurai di luar ikatan. Pemuda tampan berusia tiga puluh tahun itu bernama Arjuna Tandang, berjuluk Ketua Raja Pedang. Dialah pemimpin Kelompok Pedang Angin.
Namun, Arjuna Tandang tidak berbekal pedang pada tangan atau tubuhnya.
Setengah depa di sisi kanan Arjuna duduk bersila pula seorang pemuda, tetapi lima tahun lebih tua usianya. Ia mengenakan pakaian serba biru gelap dengan sabuk kain berwarna hitam. Ia bercambang tipis tapi lebat. Jenggot dan kumisnya juga lebat tapi tipis. Ada tahi lalat agak besar di atas alis kirinya. Ia berbekal pedang bergagang bagus pada punggungnya. Dia bernama Rajimin, Wakil Ketua Pedang Angin.
Ketiga orang inilah pemimpin pasukan Kelompok Pedang Angin saat menyerang Kerajaan Tabir Angin di Rimba Berbatu.
Tampak pula, di dekat tenda, ada tiga tandu panjang tertutup berwarna hitam. Tanda itu semodel keranda mayat, yang memiliki dua batang besi bulat pada setiap ujung tandu, berfungsi untuk dipikul pengangkat tandu. Bagian atasnya ditutupi oleh kain hitam tebal, sehingga isi tandu tidak terlihat. Panjang tandu pun seukuran seorang dewasa yang berpostur tinggi.
Tidak jauh lagi, ada seorang pemuda yang berdiri dalam kondisi kedua tangan dan kaki diikat oleh rantai. Pemuda tampan berambut gondrong itu mengenakan pakaian warna putih bercelana biru gelap. Yang unik, pemuda itu mengenakan sabuk transparan. Ialah pendekar yang bernama Hujabayat, sahabat Joko Tenang dan kekasih Kembang Buangi. Keberadaannya dijaga oleh sejumlah orang berseragam cokelat.
“Sesuai kesepakatan kita,” kata Mahapatih Yudi Mandala sambil menyodorkan sebuah gulungan kain bagus berwarna merah bertepi putih.
Arjuna Tandang mengambil gulungan itu dan membukanya. Ia membaca tulisan yang ada pada kain tebal itu. Dilihatnya, di bawah rangkaian kalimat itu tertera sebuah cap gambar berwarna hitam. Itu adalah cap resmi Kerajaan Tarumasaga.
__ADS_1
“Jadi aku akan langsung membawa pasukanku ke Kadipaten Rebaklaga, tidak perlu pulang ke Hambur Angin,” kata Arjuna Tandang sambil menggulung kembali kain bagus itu. Ia menyerahkannya kepada Rajimin.
“Ya. Aku sudah mengutus orang kepada Adipati Rumak Gulai untuk memberitahukan tentang hal ini,” kata Mahapatih Yudi.
“Dua puluh orangku akan membawa Ratu Getara Cinta dan mengawal Mahapatih sampai ke kerajaan. Pengaruh Racun Tidur Panjang akan hilang satu hari lagi. Setelah itu dia akan terbangun. Aku sarankan, carikan tabib terbaik untuk mencari tahu apa penyakit ratu itu,” kata Arjuna Tandang.
“Setelah mengatur pemerintahan kadipaten, kau harus segera datang melapor ke istana,” kata Mahapatih Yudi Mandala.
“Demi seorang wanita, rajamu rela melepas sebuah kadipaten. Sungguh rasa cinta yang begitu tinggi,” puji Arjuna Tandang.
Mahapatih Yudi Mandala meneguk habis minumannya.
“Baiklah, sudah waktunya kita berpisah,” kata sang mahapatih. Ia lalu bangkit berdiri.
Arjuna Tandang dan Rajimin menyusul berdiri.
“Baik,” jawab Rajimin patuh, lalu segera pergi untuk memanggil pasukannya.
Mahapatih Yudi Mandala dan Arjuna Tandang melangkah mendekati ketiga tandu.
Mahapatih lalu membuka tutup tandu paling pinggir. Maka tersingkaplah apa yang ada di dalam tandu. Seorang wanita muda cantik jelita sedang tertidur dengan damai. Kecantikan itulah yang membuat Arjuna Tandang sangat bernafsu ingin memiliki gadis itu, terlebih ketika melihat bibirnya yang sensual dan hidung bangirnya. Gadis berpakaian hitam itu tidak lain adalah Ginari yang berjuluk Pendekar Tikus Langit. Ia adalah calon istri Joko Tenang.
Arjuna Tandang sebenarnya tidak mengenal siapa adanya Ginari, tetapi kecantikan jelita murid Ki Ranggasewa itu telah membuat Ketua Raja Pedang tergila-gila.
Mahapatih kembali menutup tandu tersebut. Selanjutnya ia buka tandu kedua agar tidak salah bawa.
Terlihat di dalam tandu tertidur lelap wanita lain yang juga cantik jelita. Dari kematangan wajahnya menunjukkan usianya cukup jauh lebih tua dibandingkan Ginari. Ia mengenakan pakaian biru yang indah lagi bagus. Lengkap dengan sejumlah perhiasan emas permata. Wanita berkulit putih bersih itu tidak lain adalah Getara Cinta, Ratu Kerajaan Tabir Angin. Joko Tenang telah berencana untuk meminangnya sebagai calon istri.
__ADS_1
Mahapatih kembali menutup tandu. Sebanyak dua puluh pria berseragam cokelat dan putih datang. Mereka semua menyandang pedang di punggungnya.
“Bawa ini!” perintah Mahapatih Yudi Mandala sambil menunjuk tandu yang berisikan raga Ratu Getara Cinta.
Empat orang segera bergerak meraih pegangan tandu dan mengangkatnya.
Mahapatih Yudi Mandala pergi naik ke kudanya. Ia menggebah kudanya agar berjalan santai. Pengusung tandu dan enam belas orang Kelompok Pedang Angin segera mengikuti.
Arjuna Tandang kembali membuka tutup tandu. Ia terpaku menatap kecantikan Ginari yang matanya terpejam.
“Tidak peduli kau milik siapa, tapi kau harus menjadi milikku,” ucap Arjuna Tandang lirih. Ia merasa begitu betah memandangi kecantikan wanita itu.
Rajimin hanya berdiri memandangi pemimpinnya.
Hingga akhirnya, Arjuna Tandang menutup kembali tandu itu. Ia beralih memandang kepada Rajimin.
“Perintahkan semuanya untuk berbenah, kita langsung pergi ke Rebaklaga!” perintah Arjuna Tandang.
Rajimin segera beranjak. Ia memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiap melanjutkan perjalanan.
Ratusan anggota Kelompok Pedang Angin segera berkumpul dan mengatur barisan. Tenda dibongkar dan kedua tandu dipanggul kembali. Satu tandu tampak ringan saat diangkat.
Arjuna Tandang dan Rajimin segera menaiki kudanya setelah pasukan siap semua.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan yang cukup memakan waktu lebih dari sepekan. (RH)
********
__ADS_1