
*Cincin Darah Suci*
Setelah pertarungan dahsyat di pelataran Istana Naga Langit yang menimbulkan kehancuran parah dan memakan banyak korban, terutama dua jenderal tinggi Negeri Jang, Putri Yuo Kai dan Joko serta rombongan menghadap Kaisar Long Tsaw yang didampingi oleh Permaisuri Fouwai dan kedua selir. Hadir pula Pangeran Han Tsun dan Perdana Menteri La Gonho.
Su Ntai dan Su Mai juga hadir sebagai penerjemah Joko Tenang, Tirana dan Puspa.
Keluarga Istana sempat merasa terganggu dengan tingkah Puspa yang tidak mau mengikuti tata norma dalam Istana dan bersikap sembarangan. Terpaksa Joko Tenang minta maaf dan menjelaskan tentang karakter Puspa apa adanya.
Akhirnya Joko meminta Tirana untuk membawa Puspa keluar dengan membujuknya. Puspa diajak pergi ke dapur Istana dengan mengikuti kasim. Tirana dan Su Ntai mendampingi.
Putri Yuo Kai melaporkan bahwa kedua orang sakti yang menyerang Istana itu adalah bayaran Tu Xie Yua, berdasarkan pengakuan Biksu Hitam saat hendak membunuh sang putri.
Perintah penangkapan terhadap Xie Yua segera diumumkan. Namun, hingga hari itu, keberadaan Xie Yua tidak diketahui. Keluarga Tu segera ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara.
“Yang Mulia, kita tidak memiliki jenderal yang pantas untuk memimpin pasukan ke perbatasan timur,” kata Perdana Menteri La Gonho.
Kaisar Long Tsaw tidak langsung menjawab. Dia berpikir sejenak.
“Aku yang akan memimpin pasukan ke timur,” kata Putri Yuo Kai.
“Kai’er!” sebut Permaisuri Fouwai, menunjukkan keberatannya atas pengajuan putrinya.
“Tidak mungkin kita memanggil jenderal yang bertugas di perbatasan lain. Itu justru akan melemahkan perbatasan yang lain. Jika bukan karena kehadiran Tirana, aku sudah mati, Yang Mulia. Jadi biarkan aku menantang maut itu sekali lagi demi keberlangsungan Negeri Jang,” ujar Putri Yuo Kai.
Su Mai dengan setia menerjemahkan dialog itu kepada Joko, agar pendekar itu mengerti pembicaraan apa yang sedang dibahas.
“Tapi, apakah serangan pemberontak di Ibu Kota ini sudah selesai? Kemarin kita yakin semua pemberontak telah dilumpuhkan, tetapi pagi ini justru datang serangan yang langsung ke Istana,” kata Kaisar Long Tsaw.
“Ayahanda tidak perlu khawatir. Meski dua jenderal kita gugur pagi ini, tetapi kini ada orang-orang sakti yang bertamu di istana ini. Jika masih ada, mereka akan berpikir ulang untuk menjemput kematian mereka sendiri,” kata Putri Yuo Kai. “Aku ingin bicara tentang pernikahanku, Yang Mulia.”
Mendengar kata terakhir putrinya, Kaisar Long Tsaw lalu berkata kepada Perdana Menteri La Gonho.
__ADS_1
“Perdana Menteri, persiapkan upacara penghormatan untuk Jenderal Mok Jueng dan Jenderal Wai Yie, dan para prajurit yang gugur!” perintah Kaisar Long Tsaw. “Kau boleh pergi.”
“Baik, Yang Mulia,” ucap Perdana Menteri La Gonho. “Hamba mohon undur diri.”
Kaisar Long Tsaw mengangguk. Perdana Menteri menjura hormat lalu berjalan mundur, kemudian berbalik pergi.
Kini tinggallah Joko Tenang dan Su Mai orang asing yang ada di ruangan itu.
“Aku akan berangkat memimpin pasukan ke perbatasan setelah menikah dengan dengan Joko,” ujar Putri Yuo Kai.
“Kita tidak bisa menunda-nunda pengiriman pasukan ke perbatasan,” kata sang kaisar.
“Berarti pernikahanku dengan Joko harus disegerakan juga,” kata Putri Yuo Kai.
Cukup terkejut Kaisar Long Tsaw, Permaisuri, dan kedua selir mendengar permintaan Putri Yuo Kai.
“Bagaimana mungkin pernikahan seorang putri Negeri Jang diadakan mendadak dan terbatas, Kai’er?” tanya Permaisuri Fouwai.
“Tidak, Ibunda Permaisuri,” tandas Putri Yuo Kai. “Joko adalah pilihanku. Aku khawatir hati dan pikiranku akan berubah jika hari pernikahanku tidak segera Ayahanda tetapkan.”
Lama sudah Kaisar Long Tsaw dan Permaisuri Fouwai menunggu putri mereka untuk memilih jodoh, tetapi hingga hampir beberapa hari lalu itu belum terwujud. Kini Putri Yuo Kai sudah memutuskan siapa pilihannya, jelas permintaannya tidak boleh dipersulit lagi. Jika sampai sang putri berubah pilihan lagi, tidak menutup kemungkinan Putri Yuo Kai akan menjadi perawan hingga tua.
Kaisar Long Tsaw menarik napas panjang. Lalu katanya, “Baiklah. Aku memutuskan, pernikahanmu dengan Joko akan dilaksanakan tiga hari lagi. Keesokannya, aku akan melepas keberangkatanmu ke perbatasan.”
Terkejut Permaisuri Fouwai dan kedua selir mendengar keputusan sang kaisar.
Deg!
Terhentak jantung Joko Tenang saat mendengar terjemahan Su Mai tentang keputusan Kaisar. Sebab, tiga hari lagi ia akan melalui satu peristiwa penting dalam hidupnya, yaitu menikah. Ia tidak takut menghadapi pernikahan itu, tetapi hanya berdebar.
Setelah pertemuan itu, Putri Yuo Kai mengajak Joko Tenang kembali ke Taman Selatan untuk minum teh yang tertunda, sekaligus membicarakan masalah yang serius terkait hubungan cinta mereka. Su Mai tetap setia menjadi penerjemah otomatis antara keduanya.
__ADS_1
Teh yang ada di gazebo sudah diganti dengan yang baru.
“Aku sudah merasakannya,” ucap Putri Yuo Kai.
“Apa, Yang Mulia?” tanya Joko.
“Rasa cemburu itu. Rasanya sakit,” ujar sang putri. “Aku merasakan iri ketika Tirana begitu mesra kepadamu, bahkan dia memelukmu, Joko. Aku merasa sakit di dalam hati melihat kemesraan kalian.”
Joko Tenang tersenyum manis kepada Putri Yuo Kai. Namun kemudian, pertanyaan Joko justru mengejutkan Putri Yuo Kai.
“Apakah kau yakin ingin membatalkan ikatan lidah kita yang sudah terucap?”
“Tidak,” tandas Putri Yuo Kai. “Karenanya aku mendesak Ayahanda untuk mempercepat pernikahan kita. Aku ingin segera mengikatmu dengan janji suci. Aku mulai merasakan ada pemberontakan di dalam hatiku. Aku takut, jika penolakan itu semakin besar dan kuat, aku tidak bisa mencintaimu lagi.”
“Itu akan berisiko, Yang Mulia,” ucap Joko lembut. Ia serius menatap gadis yang lebih tua darinya itu.
Tiba-tiba Joko melihat sepasang mata Putri Yuo Kai berkaca-kaca. Selanjutnya sebulir air bening jatuh meluncur berselancar di pipi halus wanita cantik itu.
Air mata itu mengejutkan Joko Tenang. Ia menjadi bingung.
“Sedemikian sakitkah rasa cemburu itu?” tanya Joko lirih. Ingin rasanya ia menyeka air mata itu dengan jari kekarnya, tetapi ia tidak bisa.
“Aku menangis bukan karena rasa cemburu itu, tapi karena aku begitu mencintaimu, Joko. Aku tidak mau rasa cemburuku membuatku tidak memilikimu. Aku lebih baik sakit menahan rasa cemburu daripada harus kehilangan cintamu.”
Putri Yuo Kai menyeka sendiri air matanya. Ia berusaha menahan gejolak perasaan di dalam dadanya.
“Apakah kau mencintaiku dan akan menyayangiku seperti kau begitu sayang kepada Tirana?” tanya Putri Yuo Kai.
Joko Tenang tersenyum manis dan menatap lembut Putri Yuo Kai.
“Jika kau juga mencintaiku dan menyayangiku,” jawab Joko. “Aku tidak ingin mementingkan diri sendiri dengan harus mencintai wanita yang tidak mencintaiku.”
__ADS_1
Putri Yuo Kai tersenyum. Ia lalu menuangkan teh panas ke dalam cawan. Gerakan lembut dalam menuangkan teh selalu membuat Joko Tenang tersenyum. (RH)