Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
121. Kegundahan Putri Yuo Kai


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Putri Tutsi Yuo Kai kini berada di ruangan kamarnya di Istana Tua. Sudah beberapa kali wanita cantik jelita itu berjalan bolak dan balik.


Bo Fei, Mai Cui dan Yi Liun hanya bisa duduk diam memandangi tingkah putri mereka yang tidak biasa.


Bo Fei beralih memandang kepada Mai Cui dan Yi Liun. Ia menggerakkan alisnya sekali, tanda bertanya. Namun, kedua pelayan pribadi sang putri itu kompak angkat kedua bahunya.


“Yang Mulia!” panggil Bo Fei akhirnya.


Putri Yuo Kai berhenti melangkah. Ia berpaling memandang kepada pengawalnya dan kedua pelayannya.


“Jadi kalian sepakat dan sepemahaman bahwa Joko Tenang itu adalah bilangan kelima puluh enam yang dimaksud dari peramal itu?” tanya Putri Yuo Kai.


Ketiga wanita itu mengangguk kompak.


“Tapi itu tidak mungkin!” bantah Putri Yuo Kai.


“Tapi, Yang Mulia Putri...” kata Bo Fei, tapi ragu untuk mengeluarkan pendapatnya.


“Katakanlah!” perintah Putri Yuo Kai sambil duduk di kursi depan mereka.


“Setelah ramalan nenek Yu Rong Ro, tidak sampai satu jam, Pendekar Joko datang dari langit. Jika bukan Pendekar Joko, lalu benda apa yang akan Yang Mulia tunggu jatuh dari langit?” ujar Bo Fei.


“Benar, Yang Mulia. Jika Pendekar Joko Tenang bukan lelaki kelima puluh enam yang mencoba dekat atau didekatkan oleh Langit, mungkin Yang Mulia Putri bisa menyangkalnya,” ujar Yi Liun pula, yang kemudian diangguki oleh Mai Cui.


Keserupaan pikiran dari Bo Fei dan kedua pelayan itu membuat Putri Yuo Kai tersudut. Ia sebenarnya membenarkan apa yang para pembantunya itu simpulkan. Namun, ada hal yang sangat ia tolak.


“Memang, aku tidak bisa menyangkal kecocokan ramalan itu dengan diri Joko. Namun, bukankah kalian dengar sendiri saat makan tadi siang? Joko Tenang punya calon istri, bukan hanya satu, tetapi dia akan mencari delapan perempuan. Kalian pikir aku mau menjadi bagian dari kedelapan perempuan itu?”


Terdiamlah Bo Fei, Mai Cui dan Yi Liun.


Suasana hening sejenak.


“Tapi, mungkin takdir Pendekar Joko akan berakhir di sisi Yang Mulia,” kata Mai Cui.


“Maksudmu, Pendekar Joko tidak akan memenuhi cita-citanya dengan delapan istri, tetapi takdirnya adalah menikah dengan Yang Mulia?” tanya Yi Liun kepada Mai Cui.


“Iya,” jawab Mai Cui sambil mengangguk sekali.

__ADS_1


“Menurutku ini adalah peluang terbaik bagi Yang Mulia untuk memiliki calon suami,” kata Bo Fei pula. “Dari seluruh lelaki yang pernah mencoba melamar Yang Mulia, baru Pendekar Joko yang bisa sedekat ini dengan Yang Mulia Putri. Yang Mulia tidak pernah berbuat seperti ini terhadap seorang lelaki, apalagi lelaki asing.”


“Aku tidak pernah sebimbang ini, Bo Fei,” keluh Putri Yuo Kai.


“Tapi, jika Pendekar Joko Tenang adalah jodoh Yang Mulia Putri, lalu akan seperti apa jadinya? Hubungan suami dan istri bukankah harus saling bersentuhan. Di sisi lain, Pendekar Joko tidak mau didekati oleh wanita,” kata Mai Cui.


“Aku ingin tahu, apa yang akan terjadi jika Joko didekati sejarak tiga langkah,” kata Putri Yuo Kai.


“Pendekar Joko orang sakti seperti Yang Mulia. Tidak akan mudah untuk mendekatinya dalam jarak tidak langkah,” kata Bo Fei.


“Kita harus menjebaknya. Hanya untuk mengetahui kenapa dia tidak mau didekati oleh wanita,” kata Putri Yuo Kai.


“Yang Mulia, jika seandainya kondisi memang memungkinkan Pendekar Joko bisa tinggal di negeri ini, apakah Yang Mulia benar-benar akan menjalin hubungan cinta dengannya?” tanya Mai Cui.


“Statusku akan turun jika aku sebagai pihak yang meminta,” kata Putri Yuo Kai.


“Tapi, aku tidak melihat tanda-tanda bahwa Pendekar Joko suka dengan Yang Mulia,” kata Yi Liun.


“Beraninya kau berkesimpulan seperti itu, Liun!” hardik Bo Fei.


“Ampuni hamba, Yang Mulia Putri!” ucap Yi Liun cepat bernada penuh penyesalan, sambil tubuh cepat turun bersujud.


Yi Liun pun bergerak bangun dengan ekspresi masih merasa bersalah.


“Jangan sungkan untuk menyampaikan pikiran kalian kepadaku. Meski sesuatu itu seharusnya menyinggungku, tapi untuk saat ini, aku akan menerimanya dengan terbuka,” kata Putri Yuo Kai. “Lanjutkan penilaianmu tentang Joko, Liun.”


“Aku tidak akan memarahimu,” kata Bo Fei pula, berbalik sikap.


“Kecantikan Yang Mulia Putri tiada duanya. Setiap lelaki pasti mendambakan bertemu dengan Yang Mulia, apalagi bermimpi untuk bersama Yang Mulia. Lihatlah ketika Putra Mahkota Kerajaan Ci Cin datang meminang Yang Mulia. Ia sangat bernafsu. Namun, lihatlah Pendekar Joko. Pertama melihat kecantikan Yang Mulia, biasa-biasa saja. Ia hanya panik ketika didekati,” tutur Yi Liun.


“Sejelita itukah aku, Yi Liun?” tanya Putri Yuo Kai seraya tersenyum tipis.


“Tentu. Aku belum pernah mendengar ada wanita yang kecantikannya bisa memikat seluruh putra mahkota negeri-negeri yang ada,” tandas Yi Liun.


“Aku merasa ada yang aneh dengan diri Pendekar Joko,” kata Mai Cui.


“Jelas keanehannya adalah dia tidak tertarik dengan yang namanya wanita,” timpal Bo Fei.


“Tapi, dengan adanya dua calon istri dan akan adanya calon ketiga, jelas membantah bahwa Pendekar Joko tidak tertarik dengan yang namanya wanita,” kata Yi Liun.

__ADS_1


“Membingunkan,” ucap Mai Cui.


“Dan satu hal yang membuatku berpikir bahwa tidak mungkin Joko adalah jodohku, yaitu dia dituntut harus pulang kembali ke negerinya, hidup atau tinggal mayat,” kata Putri Yuo Kai.


“Tapi hal itu menunjukkan bahwa Pendekar Joko adalah orang yang memegang kuat janji dan berpendirian teguh, Yang Mulia. Ia model lelaki yang setia. Tentu Yang Mulia suka dengan lelaki yang seperti ini,” kata Bo Fei.


“Justru itu. Jika aku memaksanya harus menetap di negeri ini, itu artinya aku akan merusak dirinya dengan menjadikannya lelaki yang tidak setia di mata wanita yang begitu menunggu-nunggunya,” kata Putri Yuo Kai.


Mendengar perkataan Putri Yuo Kai, terdiamlah Bo Fei, Mai Cui dan Yi Liun. Pikiran mereka juga jadi buntu.


“Atau, Yang Mulia Putri ingin ikut dengan Pendekar Joko pulang ke negerinya demi menjadi istrinya?” tanya Mai Cui akhirnya, memecah keheningan yang tercipta.


“Saat ini, Negeri Jang sedang diserang. Situasi tidak menentu. Mungkin saja, ketika Joko menemukan apa yang dicarinya, dia memilih langsung kembali ke negerinya tanpa mempedulikan lagi apa yang terjadi di negeri ini,” kata Putri Yuo Kai.


Percakapan mereka kemudian dibuyarkan oleh masuknya seorang wanita berpakaian lelaki biru gelap.


“Lapor, Yang Mulia Putri. Ada surat rahasia,” ucapnya seraya berlutut menghormat dan mengangkat kedua tangannya yang memegang sebuah tabung kayu berwarna merah.


Bo Fei lalu mengambil tabung itu kemudian menyerahkannya kepada Putri Yuo Kai.


Sang Putri membuka penutup tabung itu dan mengeluarkan gulungan kertas putih di dalamnya. Saat kertas dibuka, maka terlihatlah keberadaan serangkai tulisan yang berbunyi “Jenderal Mok Jueng mendapat bukti baru tentang kelompok penyerang di Jalang Liong Sue, yaitu nama Hutan Timur.”


Blep!


Setelah itu, kertas di tangan Putri Yuo Kai terbakar begitu saja oleh kesaktian sang putri.


Putri Yuo Kai memiliki pasukan intelijen khusus yang disebar di dalam istana dan sekitar para pejabat. Para intel ini berfungsi untuk mengumpulkan informasi rahasia di kalangan para pejabat. Mereka pun memiliki keahlian khusus agar bisa berada di dekat para pejabat tanpa diketahui.


Ketika Komandan Bu Ruong melaporkan temuannya kepada Kepala Pasukan Naga Merah Jenderal Mok Jueng, percakapan itu disadap oleh intel khusus Putri Yuo Kai yang bersembunyi di balik dinding. Informasi penting yang didapat selalu ditulis yang kemudian dikirim melalui tabung kayu warna merah. Bahkan pengawal selevel Bo Fei tidak pernah bertemu dengan seorang pun intel milik Putri Yuo Kai, meskipun terkadang informasi yang dilaporkan ia boleh mengetahuinya.


“Kau boleh pergi,” kata Putri Yuo Kai.


Prajurit wanita itupun segera menghormat lalu mundur teratur kemudian berbalik pergi.


“Pantas mereka mengambinghitamkan Jaringan Ular Tanah. Setelah sepuluh tahun, ternyata mereka bisa membangun kekuatan lagi,” kata Putri Yuo Kai. Dialah orang yang berada di balik pemusnahan Kelompok Hutan Timur sepuluh tahun yang lalu, bahkan diduga pasti bahwa kelompok ini sudah tidak tersisa.


“Siapa, Yang Mulia?” tanya Bo Fei.


“Kelompok Hutan Timur bangkit kembali untuk membalas dendam. Namun, aku tidak meyakini jika mereka bekerja sendiri. Orang-orang persilatan yang muncul di parit selatan tidak mungkin mau mati konyol jika mereka dibayar murah,” kata Putri Yuo Kai. (RH)

__ADS_1


__ADS_2