Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 17: Racun Dalam Bubur


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


 


Rombongan Permaisuri Sandaria pun bergerak memasuki lingkungan permukiman di bawah tebing batu gunung yang tinggi. Para pendekar yang jumlahnya lebih dua puluh orang, pendekar lelaki dan wanita, memberi jalan bagi rombongan tersebut.


Permaisuri Sandaria berjalan paling depan dengan sepasang kelopak mata terpejam dan ujung tongkat diposisikan di depan langkah kakinya yang lambat. Namun demikian, senyum manisnya yang menggelitik hati kaum lelaki itu terus mengembang sesuai porsinya.


Ketika mereka masuk ke tengah lingkungan yang cukup lapang, pasukan pengawal Permaisuri Sandaria baru dapat melihat bahwa di dinding ada sebuah mulut gua besar. Posisinya setinggi dua tombak di atas. Keberadaannya ditutupi oleh sebatang pohon jati.


Tepat di tengah-tengah bibir mulut gua berdiri seseorang berpakaian biru terang. Ia adalah seorang lelaki yang berpenampilan rapi. Rambut gondrongnya di sisir rapi ke belakang, warnanya sudah hitam dan putih. Leher bajunya yang tebal mencekik rapat di leher. Tangan kirinya memiliki kuku-kuku yang panjang dan tajam berwarna kebiruan. Sementara kelima jari di tangan kanan tidak.


Lelaki yang berusia sekitar enam puluh tahun itu lalu melesat melayang seperti burung. Ia mendarat dua tombak di hadapan Permaisuri Sandaria.


“Apakah Nisanak seorang permaisuri?” tanya lelaki tua itu. Suaranya sama dengan suara yang tadi memerintahkan agar rombongan tamu itu dibiarkan masuk ke dalam lingkungan.


“Benar,” jawab Sandaria seraya tersenyum.


“Selamat datang di Kampung Kubur, Yang Mulia Permaisuri...” sambut lelaki tersebut dengan nada mengambang.


“Permaisuri Sandaria yang cantik. Hihihi!” sahut Permaisuri Sandaria lalu tertawa karena memuji dirinya sendiri.


“Hahaha!” Meledak tawa lelaki senior itu mendengar dan melihat gaya Permaisuri Sandaria. Ia merasa terhibur dengan wanita jelita nan mungil itu. Lalu katanya, “Aku adalah Pangeran Kubur, pemimpin dan penguasa di Gunung Prabu ini. Mungkin akulah yang kau cari, Yang Mulia Permaisuri Sandaria.”


“Benar sekali. Ternyata Pangeran adalah seorang yang berwibawa dan dipatuhi oleh para pengikut,” ucap Sandaria memuji.


“Sebelum Yang Mulia Sandaria menyampaikan maksud, alangkah baiknya jika kita duduk santai menikmati makanan dan minuman khas Kampung Kubur,” kata Pangeran Kubur seraya tersenyum ramah. “Mari!”


Beberapa lelaki segera bekerja cepat mengambil sebuah meja kayu dan dua buah kursi bambu. Pangeran Kubur lalu duduk di salah satu kursi. Dengan langkah yang pelan dan ujung tongkat juga bekerja menyentuh obyek di sekitar kaki, Permaisuri Sandaria juga duduk di kursi bambu.


“Bawakan sajian khas Kampung Kubur!” teriak Pangeran Kubur.


“Waaah! Jadi merepotkan Pangeran!” ucap Permaisuri Sandaria dengan senyumnya yang selalu menggoda iman, bahkan iman Pangeran Kubur.


Meski sudah tua, Pangeran Kubur tetaplah seorang lelaki. Apalagi dia sudah lama menduda.


“Memuliakan tamu adalah tradisi kuat di Kampung Kubur,” kata Pangeran Kubur.


Seorang wanita gemuk tapi berperawakan pendekar, datang membawa nampan berisi dua mangkuk batok kelapa. Setiap mangkuk berisi bubur kacang tanah. Lengkap dengan sendok kayunya.


“Ini makanan istimewa Kampung Kubur. Namanya bubur kacang kehidupan. Setiap pagi kami memakan ini, seolah-olah dengan memakan bubur ini kami akan hidup sehari lagi. Jika tidak memakannya, seolah-olah kami akan mati pada hari itu juga. Meski itu tidak akan terjadi,” cerita Pangeran Kubur antusias.

__ADS_1


“Hihihi!” tawa Permaisuri Sandaria dengan lepas, seolah ia sedang berada di lingkungannya sendiri.


Pasukan Permaisuri Sandaria dan para pendekar pengikut Pangeran Kubur jadi keheranan. Suasana awal yang tegang bisa berubah menjadi akrab di antara dua orang yang usianya jauh terpaut tersebut.


“Aku baru kali ini mendengar cerita menarik tentang sebuah makanan. Lalu, apakah minumannya juga punya cerita?” tanya Permaisuri Sandaria antusias.


“Tentu. Nah, ini minuman khas Kampung Kubur datang,” kata Pangeran Kubur saat wanita gemuk yang sama datang membawa nampan kecil mewadahi dua gelas bambu.


Wanita yang menyandang senjata golok gendut di pinggang belakangnya itu bernama Lemak Ngarai. Ia meletakkan satu per satu gelas bambunya.


“Minuman ini namanya kencur dimadu. Kisahnya sederhana, hanya kencur yang dicampur madu,” kata Pangeran Kubur.


“Berarti, jika kencurnya diberi racun, namanya pasti kencur diracun. Jika kencurnya dicampur susu, namanya pasti kencur disusui. Hihihi!” kata Permaisuri Sandaria pula lalu tertawa.


“Huahaha…!” Pangeran Kubur tertawa terbahak-bahak mendengarn nama terakhir.


“Hahaha!” para pendekar pengikut Pangeran Kubur juga tertawa mendengar guyonan permaisuri lucu itu.


“Baik… baik. Sebelum Yang Mulia Permaisuri mengutarakan maksud, lebih baik kita nikmati dulu kebersamaan ini. Sebab, bisa saja nanti kita berseteru setelah Yang Mulia menyampaikan maksud. Jadi, aku tidak ingin suasana kenyamanan berhidang ini rusak oleh itu,” ujar Pengeran Kubur. Ia lalu mendorong maju mangkuk dan gelas agar lebih dekat kepada sang permaisuri.


“Terima kasih, Pangeran,” ucap Permaisuri Sandaria seraya tersenyum. Ia meraih mangkuk dan sendok di mangkuknya.


Sambil tersenyum tipis, Permaisuri Sandaria mulai mengaduk bubur kacang tanah yang panas itu. Bisa terlihat dari kebulan asap tipisnya. Sejenak Permaisuri Sandaria mendekatkan penciumannya pada atas mangkuk, menunjukkan bahwa ia menghirup aroma makanannya. Ia lalu menyendok dan meniupnya sejenak, tetapi tidak langsung ia suapkan ke mulut mungilnya.


Pangeran Kubur sudah membuka mulutnya untuk menyuap.


“Maafkan aku, Pangeran!” sergah Permaisuri Sandaria tiba-tiba, membuat Pangeran Kubur membatalkan suapannya. Ia pun meletakkan kembali sendokannya ke dalam mangkuk.


“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Pangeran Kubur kerutkan kening.


“Jika racun dimasukkan ke dalam bubur atau minumanku mungkin aku tidak mempermasalahkannya, karena aku adalah pihak kerajaan yang sudah menahan lima orang kalian. Namun, agak mengherankan jika racun dimasukkan ke dalam bubur milik Pangeran. Kecuali jika Pangeran bermaksud mengujiku,” ujar Permaisuri Sandaria.


Penuturan wanita jelita itu benar-benar mengejutkan Pangeran Kubur dan sebagian besar pengikutnya yang mengerti maksud perkataan sang permaisuri.


Slet!


Tiba-tiba kelima jari tangan kiri Pangeran Kubur menghentak. Lima tali sinar biru melesat tanpa putus dari kelima kuku panjang Pangeran Kubur. Tali sinar itu langsung menjerat leher Lemak Ngarai, wanita gemuk pengantar bubur dan minuman kencur dimadu.


“Hekk!” jerit Lemak Ngarai dengan wajah mendelik, mulut terbuka dan lidah menjulur.


“Beraninya kau mau meracuniku, Lemak!” teriak Pangeran Kubur dengan wajah yang menegang merah karena marah.

__ADS_1


“Buk… bukan….!” Lemak Ngarai dengan susah payah berusaha bicara.


“Bukan dia penaruh racun itu, Pangeran,” ucap Permaisuri Sandaria tetap tenang dan datar.


Pangeran Kubur jadi beralih menatap tajam kepada Permaisuri Sandaria yang hanya tersenyum kecil saat dipandang.


“Apakah Yang Mulia tahu?” tanya Pangeran Kubur, kegembiraannya telah hilang tiada tersisa.


“Tidak, tetapi bukan dia pelakunya. Dia hanya bagian pengantar,” jawab Permaisuri Sandaria.


Jawaban Permaisuri Sandaria membuat Pangeran Kubur melenyapkan lima tali sinarnya. Leher Lemak Ngarai pun bebas, membuatnya jatuh terlutut.


“Uhhuk uhuk!” batuk Lemak Ngarai sambil pegangi lehernya yang membiru oleh jeratan tadi.


“Jika benar ini adalah murni serangan kepada Pangeran, berarti ada pengkhianat di kelompok kalian,” kata Permaisuri Sandaria. “Sepertinya aku datang pada waktu yang salah. Atau, penaruh racun itu berniat menyalahkanku dengan menuduhku sebagai pelaku penaruh racun.”


“Jinai Selayang yang menuang makanan itu ke mangkuk!” teriak Lemak Ngarai demi membersihkan dirinya dari tuduhan.


Tiba-tiba….


“Jangan lari kau, Jinai!” teriak seorang pendekar pengikut Pangeran Kubur yang ada agak jauh dari acara makan itu.


Beberapa orang pendekar cepat berlari pergi mengejar seseorang yang berlari pergi terlebih dahulu meninggalkan lingkungan tersebut.


Adanya seseorang yang melarikan diri setelah terungkapnya dugaan adanya racun di dalam bubur, menunjukkan bahwa memang ada upaya peracunan.


“Luar biasa kesaktian permaisuri kecil ini. Aku saja tidak bisa mengetahui ada racun di dalam mangkukku. Namun dia, dia bisa mengetahui ada racun di mangkuk orang lain…” puji Pangeran Kubur dalam hati.


“Berarti benar, bukan kakak gemuk ini yang menaruh racun,” kata Permaisuri Sandaria seraya tersenyum kepada Lemak Ngarai yang masih terlutut tidak jauh di sisi meja perjamuan.


“Terima kasih, Yang Mulia Permaisuri,” ucap Lemak Ngarai. Pikirnya, jika Permaisuri Sandaria membiarkan Pangeran Kubur menghakiminya, pasti lehernya sudah terputus oleh ilmu Lima Benang Pedang tadi.


“Bagaimana Yang Mulia Permaisuri tahu bahwa di dalam buburku ada racun?” tanya Pangeran Kubur dengan tatapan tajam.


“Aku memang selalu mengejutkan, hihihi!” ucap Permaisuri Sandaria bangga sambil tersenyum dan mengerutkan batang hidung mungil mancungnya.  Lalu katanya kepada Pangeran Kubur, “Aku sejak bayi dibesarkan bersama para serigala peliharaanku. Dan aku buta. Jadi aku memiliki indera perasa dan poenciuman yang sangat tajam. Aku bisa mencium keberadaan racun di dalam bubur itu karena aku tidak menemukan bau yang sama di dalam buburku. Meski racun itu tidak berbau, tetapi tetap saja berbau bagiku.”


“Lalu bagaimana kau bisa yakin bahwa Lemak Ngarai bukan pelakunya?” tanya Pangeran Kubur lagi.


“Tangannya tidak sedikit pun berbau racun tersebut. Artinya jelas bahwa dia tidak pernah menyentuh racun itu,” jelas Ratu Sandaria. “Jadi ini bukan rekayasa darimu, Pangeran?”


“Aku sedikit pun tidak merencanakan siasat apa-apa!” tandas Pengeran Kubur cepat. Lalu katanya, “Terima kasih atas pertolonganmu, Yang Mulia Permaisuri.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2