Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 15: Bakar Ikan, Cinta dan Pertemuan


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


 


Asih Marang, Adi Manukbumi dan Luring pergi meninggalkan tempat istirahatnya. Mereka baru saja mendapat undangan untuk bergabung bersama para prajurit nonmiliter lainnya yang sedang berpesta di malam itu.


Pada satu sisi di pelataran Istana, sekelompok orang sedang berkumpul mengelilingi api unggun yang besar. Di atas api unggung ada seekor ikan sangat besar, lebih besar dari tubuh Senopati Badik Mida. Terdengar jelas kegembiraan mereka yang diwakilkan oleh suara tawa yang selalu terlepas susul-menyusul.


“Luring, kau lihat ikan besar itu?” tanya Adi Manukbumi kepada sahabatnya.


“Iya, besar sekali,” jawab Luring sambil berjalan. “Apakah itu ikan yang menyerang kita di pinggir telaga?”


“Mungkin. Mereka hebat jika ikan itu memang dedemit penunggu telaga,” kata Adi Manukbumi.


“Jika itu dedemitnya, berarti yang menyerang kalian kemarin malam bukan dedemit, tetapi ikan,” timpal Asih Marang, membuat kedua pemuda itu terdiam.


Sementara di sekitar api unggun.


“Sapi mata keranjang menarik pedati, mati sehari karena makan nasi basi. Sedih mata karena kekasihku pergi mati, maafkan diriku jika aku jatuh cinta lagi!” teriak Surya Kasyara yang berdiri berpantun di tengah tekan-rekannya.


“Hahaha! Pendekar Gila Mabuk jatuh cinta lagiii!” teriak Kurna Sagepa yang didahului oleh tawa ramai mereka.


“Surya Kasyara sekarang jadi sapi mata keranjang!” teriak Gembulayu.


“Hahaha…!” Mereka tertawa ramai.


“Surya! Kau masih masa berkabung selama seratus hari!” teriak Kurna Sagepa.


Mereka semua kembali tertawa tergelak.


“Surya! Sebutkan, kau jatuh cinta dengan siapa! Jika kau jatuh cinta dengan wanita yang masuk akal, masa berkabungmu bisa kami pertimbangkan!” seru Amangkubumi Turung Gali.


“Ikan raksasa dipanggang api tanpa racikan bumbu, nyanyian ikan terdengar indah dan merdu. Ingin rasanya aku umumkan siapa permata baru di hatiku, apalah daya aku adalah pemuda yang terlalu pemalu!” pantun Surya Kasyara lagi.


“Hahaha…!” tawa mereka beramai-ramai.


“Surya Kasyara!” sebut Permaisuri Kerling Sukma. “Beraninya kau tidak menjawab pertanyaan junjunganmu!”


“Sebutkan apa hukumannya, Senopati Batik Mida!” seru Kusuma Dewi.


“Dikebiri!” jawab Senopati Batik Mida lantang.


“Hahaha!” tawa Putri Sagiya, Garis Merak, Kurna Sagepa, Senandung Senja, dan Nyai Kisut.


Surya Kasyara justru menganga karena bingung. Sementara Gowo Tungga dan Gembulayu hanya senyum kuda, karena ia pun tidak mengerti arti kata “dikebiri”.


“Apa itu dikebiri?” tanya Surya Kasyara.


“Dipotong anumu untuk selamanya! Hahahak…!” sahut Kurna Sagepa sambil tertawa terbahak-bahak dan memegangi perutnya.

__ADS_1


“Hahaha…!” Mereka yang mengerti dengan perkataan Kurna Sagepa, semakin tertawa terbahak.


Permaisuri Kerling Sukma dan Amangkubumi Turung Gali hanya tersenyum-senyum.


“Anu mana yang dipotong?” tanya Surya Kasyara.


“Jiahahahak…!” Semakin terbahaklah mereka yang mengerti arti “dikebiri”, hingga mereka mengeluarkan air mata dan kedua pipinya terasa pegal.


“Anu di atas lutut yang dipotong sampai tidak bertunas!” jawab Senopati Batik Mida lantang.


“Hah!” pekik Surya Kasyara histeris untuk ukuran lelaki.


“Hahahak…!” Kali ini yang tertawa ngakak adalah Gowo Tungga dan Gembulayu.


“Aku cinta Garis Mer…!” teriak tertahan Surya Kasyara. Ia berteriak menjawab pertanyaan Amangkubumi Turung Gali karena takut dikebiri, tetapi ia tahan kalimatnya ketika ia melihat kedatangan Adi Manukbumi dan Luring. Namun, yang membuatnya berhenti adalah karena melihat wanita cantik yang bernama Asih Marang.


Suasana tiba-tiba hening. Namun, gadis hitam manis yang bernama Garis Merak sudah terlanjur terkesiap. Kurna Sagepa pun merasa terkejut.


Melihat Surya Kasyara terdiam karena melihat kepada seseorang, mereka yang ada di sekeliling api unggun itu jadi memandang kepada Asih Marang dan kedua rekannya.


“Selamat datang, calon prajurit andalanku!” seru Permaisuri Kerling Sukma, memecah keheningan.


“Terima kasih, Yang Mulia Gusti,” ucap Asih Marang, meski yang dimaksud calon prajurit itu adalah Adi Manukbumi dan Luring.


“Dengarlah, kalian semua!” seru Permaisuri Kerling Sukma. “Kedua pemuda ini adalah pendekar dari desa seberang Telaga Fatara. Yang gemuk bernama Adi Manukbumi dan yang gundul bernama Luring. Yang cantik bernama Asih Marang.”


“Hehehe!” kekeh Surya Kasyara jadi malu-malu.


Pertanyaan itu juga membuat Garis Merak jadi menunduk malu. Ada senyum di bibirnya, menunjukkan bahwa terungkapnya hal itu membuat hatinya berbunga-bunga.


“Tapi kenapa ketika kau melihat Asih Marang kau terdiam?” tanya Amangkubumi Turung Gali lagi.


Surya Kasyara mendelik dan menelan ludahnya, seolah sedang menelan biji kedondong. Asih Marang hanya melebarkan sepasang matanya lalu beralih melirik kepada Surya Kasyara.


“Hehehe! Itu hanya keterkejutan saja,” ucap Surya Kasyara cengengesan.


“Hati-hati jika kau menjadi kekasih pendekar mabuk itu, matanya kelilipan kalau lihat wajah mulus,” bisik Kurna Sagepa kepada Garis Merak.


“Apakah kau patah hati?” tanya Garis Merak berbisik pula seraya melirik sahabat tampannya itu.


“Ah, mana mungkin aku patah hati. Hahaha, memangnya aku jatuh hati kepadamu, wanita laut yang hitam. Hahaha!” jawab Kurna Sagepa jadi salah tingkah dan tertawa dibuat-buat.


“Baguslah. Berarti aku bisa tenang. Aku pikir kau akan berjuang demi aku,” kata Garis Merak yang membuat Kurna Sagepa hanya bisa mendelik.


“Siapkan bumbu ikan bakarnya!” teriak Kusuma Dewi, mengakhiri penghakiman bagi Surya Kasyara.


Kusuma Dewi lalu berkelebat ke atas api.


Set set set!

__ADS_1


Pedang samurainya menebas berulang kali dan sangat cepat dalam sekali kelebatan. Dalam waktu singkat sejumlah sayatan yang dalam tercipta pada badan ikan besar yang dipasang di atas jilatan api.


Reksa Dipa lalu mengambil sebuah guci yang berisi air bumbu dari nampan yang dipegang oleh seorang dayang.


Kini Reksa Dipa yang berkelebat ke atas api unggun. Ia lalu melempar sebagian air bumbu ke udara, lalu air itu dikibas dengan tenaga dalam sehingga menyebar menyiram satu sisi badan ikan. Reksa Dipa melompat untuk kedua kalinya menyiram sisi lain dari badan ikan.


“Yang Mulia Gusti Permaisuri Tirana tibaaa!” teriak seorang prajurit yang berjaga di dekat kerumunan itu.


Mendengar pemberitahuan itu, sepasang mata Asih Marang bergerak sebagai tanda ia berpikir.


“Hormat hamba, Yang Mulia Gusti Permaisuri Kedua!” sebut para pendekar itu serentak sambil turun berlutut menghormat.


Sementara Permaisuri Kerling Sukma, Putri Sagiya, dan Amangkubumi Turung Gali hanya sedikit membungkuk menghormat.


Asih Marang, Adi Manukbumi dan Luring yang belum pernah bertemu dengan Permaisuri Kedua, juga turun berlutut menghormat.


“Bangunlah kalian semua!” perintah Permaisuri Tirana yang kini bersikap lebih anggun dengan senyum selalu mengembang. Ia datang dengan dikawal enam orang dayang, tapi kali ini ia tidak membawa serta Ginari.


Maka semuanya segera berdiri kembali. Sosok Permaisuri Tirana memang sangat dihormati. Meski ia bukanlah orang tersakti dalam keluarga besar Kerajaan Sanggana Kecil, tetapi bisa dikatakan ia adalah orang yang kedudukannya nomor dua setelah Prabu Dira.


“Sepertinya gembira sekali kalian mendapat tangkapan besar tadi sore,” kata Permaisuri Tirana lalu berhenti dalam lingkaran.


“Waw, cantiknya…” desah Adi Manukbumi dan Luring ketika melihat kecantikan Permaisuri Tirana, tetapi hanya di dalam hati.


Sementara Asih Marang terkejut melihat paras permaisuri yang baru datang itu.


“Aku dengar ada calon prajurit unggulan dari seberang telaga,” kata Permaisuri Tirana sambil mengedarkan pandangannya. Sepasang mata Permaisuri Tirana agak melebar ketika melihat wajah Asih Marang. Lalu katanya, “Bukankah kau Asiiih….”


“Aku Asih Marang dari Desa Wongawet, Tirana. Ups! Maafkan hamba, Yang Mulia Gusti!” ucap Asih Marang sumringah, tetapi cepat berlutut karena sadar bahwa ia salah sebut.


“Hihihi…!” tawa Permaisuri Tirana sambil menghampiri Asih Marang. “Bangunlah sahabatku, Asih Marang!”


Permaisuri memegang kedua lengan Asih Marang dan menuntunnya untuk berdiri. Permaisuri Tirana lalu memeluk Asih Marang, membuat gadis itu jadi kikuk dalam membalas pelukan Tirana yang kini adalah salah seorang permaisuri.


Sementara yang lainnya hanya diam memandang, bahkan sebagian tersenyum melihat pertemuan saling kenal yang tidak terduga tersebut.


Permaisuri Tirana lalu melepaskan pelukannya dengan tawa kecil yang masih terdengar.


“Bagaimana bisa….” Ucapan Asih Marang menggantung.


“Apakah kau tahu siapa raja di Kerajaan Sanggana Kecil ini?” tanya Permaisuri Tirana kepada Asih Marang.


“Yang Mulia Gusti Prabu Dira,” jawab Asih Marang.


“Dia adalah suamiku yang semua warga Desa Wongawet kenal dengan nama Pendekar Joko Tenang,” jelas Permaisuri Tirana.


“Hah!” kejut Asih Marang.


“Tapi, sungguh aku sangat terkejut bertemu denganmu di sini, Asih. Bagaimana kisahnya sehingga warga Desa Wongawet bisa sampai di sini?” tanya Permaisuri Tirana. (RH)

__ADS_1


__ADS_2