
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Kuda yang ditunggangi oleh Joko Tenang dan Gurung Tali tumbang tewas dengan kepala terpisah dari lehernya. Darah mengalir deras menggenang di tanah jalanan.
Sebenarnya, ada rasa kemarahan di dalam dada dan pikiran Joko Tenang dan pengikutnya terhadap pemuda tampan berpakaian warna emas itu. Namun, Joko Tenang masih menahan diri, sementara yang lainnya menunggu perintah. Mereka sekarang memiliki seorang pemimpin, jadi tindakan harus berdasarkan perintah dan izin dari pemimpin.
Joko Tenang maju untuk lebih dekat ke hadapan pemuda penghadang yang tidak lain adalah Laga Patra alias Roh Langit Satu.
Laga Patra tersenyum meremehkan memandang Joko Tenang. Sikapnya santai.
“Apakah kau yang bernama Joko Tenang?” tanya Laga Patra.
“Benar,” jawab Joko Tenang. Di belakangnya agak ke sisi kanan, berdiri mengawal Turung Gali.
“Tampan sekali. Pantas Ratu Ginari sangat menginginkanmu menjadi rajanya,” ucap Laga Patra.
Terkejutlah Joko Tenang dan Turung Gali, termasuk para wanita yang masih duduk di atas punggung serigalanya ketika nama Ginari disebut.
“Di mana Ginari berada?” tanya Joko Tenang cepat.
“Ratu Ginari akan datang sendiri untuk merebutmu dari para wanita mesum itu!” kata Laga Patra, lalu di akhir kalimatnya ia menunjuk para wanita Joko Tenang di belakang sana.
Para wanita di belakang Joko Tenang yang bisa mendengar dialog itu seketika tersinggung disebut dengan nama “wanita mesum”.
Paks!
Tahu-tahu sudah terjadi peraduan dua pukulan telapak tangan di depan Joko Tenang dan Turung Gali. Kerling Sukma tahu-tahu sudah melesat sangat cepat meninggalkan serigalanya kepada Laga Patra, dengan satu pukulan bertenaga dalam tinggi. Namun, pemuda berpakaian kuning emas itu mampu menyambut pukulan Kerling Sukma dengan pukulan semodel.
Peraduan dua tenaga dalam tinggi pun terjadi.
Laga Patra terpental mundur sejauh dua tombak, tetapi sanggup mempertahankan pijakannya di tanah. Hal yang sama dialami oleh Kerling Sukma, ia juga terpental mundur, tetapi Joko Tenang cepat menangkap peluk punggung gadis bermata hijau itu hingga tidak lebih jauh terpental.
Kerling Sukma harus terkejut mendapati tenaga dalam lawannya seimbang dengan yang ia kerahkan.
“Tanaganya setingkat denganku, Kakang,” bisik Kerling Sukma kepada suaminya.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa pendek Laga Patra, tanpa terlihat terluka sedikit pun.
Padahal, Kerling Sukma menyerangnya dengan target membuat Laga Patra terluka dalam. Namun, target itu jauh dari harapan.
Melihat hasil itu, Joko Tenang dan para istrinya yang tahu tingkat kesaktian atau tenaga dalam Kerling Sukma, turut terkejut.
“Joko Tenang!” seru Laga Patra. “Ikutlah denganku dan menjadi Raja Kerajaan Balilitan, menjadi pendamping setia Ratu Ginari dan menjadi junjungan kami. Tinggalkan wanita-wanita itu, maka tidak akan ada darah yang tertumpah seperti kedua kuda itu.”
“Lalu siapa kau sebenarnya?” tanya Joko Tenang. Ia ingin mengorek keterangan yang cukup terlebih dahulu, terutama tentang Ginari. Meski ia sudah memegang dugaan berdasarkan ramalan Malaikat Serba Tahu.
“Aku Laga Patra. Aku adalah Roh Langit Satu. Melawanku saja kalian belum tentu bisa menang, terlebih kalian mau melawan Roh Langit Dua hingga Ratu Ginari, Roh Langit Tujuh. Ikutlah padaku dan tinggalkan mereka, maka urusan ini selesai!”
“Aku tidak akan ikut denganmu. Sampaikan kepada junjunganmu Ratu Ginari, aku menunggunya!” tandas Joko Tenang.
“Hahaha! Baik… baik. Namun, perlu aku tegaskan, menyuruh Ratu Ginari datang berarti memanggil kematian kalian sendiri!” kata Laga Patra. Lalu ia menghentakkan kaki kanannya maju menghentak bumi sambil tangan kanan meninju ke depan.
Zruzz! Booam!
Dari kepalan tangan kanan Laga Patra melesat luncuran sinar ungu panjang sebesar batang bambu besar. Cepat Kerling Sukma mengedepankan telapak tangannya. Dinding sinar merah tipis dan bening langsung tercipta satu tombak di depan mereka.
Meski sinar ungu itu tidak berhasil menembus dinding perisai Payung Kebajikan, tetapi Kerling Sukma, Joko Tenang dan Turung Gali terjajar beberapa tindak. Hal itu membuat mereka kembali terkejut, itu menunjukkan bahwa lawan yang mereka hadapi jauh lebih berat dari sebelum-sebelumnya.
Di depan sana, sosok Laga Patra telah menghilang.
“Ayah, perintahkah rombongan untuk beristirahat!” perintah Joko Tenang, nadanya terdengar agak tegang.
Singkat waktu.
Kini Joko Tenang telah mengumpulkan semua orang yang dipimpinnya pada satu tanah berumput rendah yang lapang.
“Dengarkan baik-baik!” seru Joko Tenang, tidak ada senyum yang tergurat di wajahnya sejak bentrok dengan Laga Patra.
Semua diam dalam kebisuan menatap pemuda berbibir merah itu. Mereka siap mendengarkan dengan dua rius apa yang akan disampaikan oleh Pangeran Dira Pratakarsa Diwana.
“Lelaki yang baru saja menghadang dan menguji kita dengan kesaktiannya, adalah satu dari pendekar yang pernah dibangkitkan oleh Kalung Tujuh Roh. Kalian bisa menyaksikan dan merasakan setinggi apa kesaktiannya. Itu artinya ada tujuh orang yang seperti lelaki tadi. Namun, dia mengatakan bahwa dirinya adalah Roh Langit Satu. Masih ada Roh Langit Dua, Langit Tiga hingga Roh Langit Tujuh. Aku menduga bahwa ketujuh orang itu adalah semua orang yang pernah dibangkitkan oleh Kalung Tujuh Roh. Dan roh ketujuh yang menjadi pemimpin mereka adalah Ginari. Kini dia disebut Ratu Ginari, sepertinya keenam pengikutnya mengangkatnya menjadi ratu,” ujar Joko Tenang.
__ADS_1
“Apa yang harus kita lakukan, Kakang?” tanya Kerling Sukma yang telah mengukur langsung tingkat kesaktian Laga Patra.
“Jika hanya melawan satu orang sesakti itu, mungkin akan dengan mudah kita atasi dengan kesaktian kalian, tetapi akan berbeda jadinya jika mereka datang bertujuh. Terlebih kita belum tahu sejauh mana ketinggian ilmu Ginari sekarang. Jadi, ketika nanti mereka datang, aku perintahkan Kusuma Dewi, Reksa Dipa dan Surya Kasyara untuk membawa Gowo, Gembulayu, Senandung dan Nyai Kisut ke tempat aman….”
“Maaf, Pangeran!” sahut Reksa Dipa cepat. “Aku tidak akan bersembunyi, aku harus ikut bertarung!”
“Benar, Pangeran. Kami berdua adalah pengawal para putri, jadi kami harus bertarung melindungi mereka!” timpal Surya Kasyara bersemangat.
“Jika kalian ikut turun bertarung, lalu siapa yang melindungi mereka berempat?” tanya Kerling Sukma bernada menyudutkan kedua pemuda itu. Ia agak kesal dengan bantahan keduanya.
Reksa Dipa dan Surya Kasyara tidak bisa menjawab.
“Orang tadi adalah yang terendah dari Tujuh Roh. Orang itu bukan tandingan kalian berdua. Jika enam orang lagi muncul dengan kesaktian lebih tinggi, bukannya kalian yang menjaga kami, tetapi kamilah yang harus menjaga kalian agar tidak mati!” tandas Kerling Sukma lagi. Emosinya sejak awal tersulut karena usai bentrok dengan orang yang sepadan.
“Reksa, Surya, kini kalian memiliki seorang pemimpin yang harus kalian patuhi. Kataatan seorang pengikut sangat penting dalam menguatkan kesatuan kelompok. Apa artinya janji kesetiaan kalian jika belum apa-apa selalu membantah perintah Pangeran?” kata Getara Cinta lebih lembut dan bijak.
“Baik, Ratu. Aku akan patuh!” ucap Reksa Dipa patuh.
“Aku… aku juga demikian, akan patuh!” ucap Surya Kasyara juga.
“Tapi aku berbeda dengan mereka berdua,” kata Kusuma Dewi.
“Maafkan aku, Sayang. Aku mengerti keinginanmu. Tanpa bermaksud meremehkanmu, aku tidak menginginkan kau turun tarung kali ini. Aku takut kehilangan kau lagi,” bantah Joko Tenang.
Kusuma Dewi terdiam dengan menarik kedua sudut bibirnya. Dalam hati ia sangat menolak kemauan calon suaminya itu, tetapi ia sadar bahwa Joko Tenang kini adalah pemimpin mereka yang harus dipatuhi perintahnya.
“Baiklah. Jika Ginari muncul dengan keenam anak buahnya, maka kita akan bertarung sekuat tenaga. Tapi ingat, aku tidak mau ada di antara kalian yang gugur hanya karena melawan wanita yang sama-sama kita sayangi. Jangan paksakan. Jika memang Ginari dan kelompoknya tidak bisa kita hadapi, aku minta kalian menyelamatkan diri dan biarkan aku dibawa oleh Ginari.”
“Tidak!” seru Tirana, Getara Cinta, Kerling Sukma, Sandaria, dan Kusuma Dewi bersamaan.
“Kami akan bertarung sampai mati!” tegas Tirana dengan nada yang tinggi.
“Aku adalah Kakang, dan Kakang adalah aku. Lebih baik aku mati mempertahankan cintaku daripada mundur dari Ginari!” tandas Kerling Sukma pula.
“Kita harus tetap yakin bahwa kita bisa mengatasi ini. Namun, kita harus memperkirakan situasi terburuk mungkin saja terjadi. Ginari tidak akan membunuhku, dia menginginkan aku menjadi rajanya. Saat ini, dia hanya tidak ingin ada wanita lain yang memilikiku, itu artinya dia menganggap kalian adalah musuh. Jika Ginari memang berniat membunuhku, aku tidak akan melarang kalian untuk membelaku sampai mati. Tapi ini tidak,” jelas Joko Tenang. Lalu dia berkata pelan bernada memohon, “Aku minta tolong kepada kalian, jangan ada yang mati. Aku sangat mencintai kalian.” (RH)
__ADS_1