
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Clap!
Baru saja Joko Tenang dan yang lainnya berdiri dari duduknya, tiba-tiba di antara mereka telah berdiri seseorang yang sebelumnya tidak ada. Dia adalah kakek tua bertongkat kayu bercabang. Semuanya terkejut, kecuali Resi Tambak Boyo.
“Tabib Teguk Getir!” sapa Resi Tambak Boyo.
“Lama tidak bertemu, Tambak Boyo!” balas orang tua yang baru datang. Ia memang adalah Tabib Rakitanjamu yang berjuluk Tabib Teguk Getir.
“Apakah kau dari Kadipaten?” tanya Resi Tambak Boyo.
“Kadipaten telah diserang,” jawab Tabib Rakitanjamu.
“Kami baru mau berangkat menyerang,” ujar Joko Tenang.
“Tunda sejenak. Mereka sudah menguasai Kadipaten. Orang-orang sudah mereka bunuhi dan rumah-rumah sudah mereka bakari,” kata Tabib Takitanjamu. “Aku tidak sendiri.”
Dari arah Gerbang Tiga Kain berlari seekor kuda yang ditunggangi oleh Arya Permana bersama adiknya, Kayuni Larasati.
“Kakek! Kadipaten diserang!” teriak Arya Permana, padahal ia masih di atas kudanya.
Setibanya di sisi pendapa, kuda berhenti. Arya Permana turun dari kuda lebih dulu, barulah ia membantu adiknya turun. Kayuni Larasati masih menahan rasa sakit pada tangan kanannya yang terluka parah akibat ledakan.
Resi Tambak Boyo segera menyambut kedatangan kedua cucunya. Ia segera melihat luka pada tangan Kayuni Larasati.
“Tidak apa-apa. Ini bisa disembuhkan segera,” kata Resi Tambak Boyo menenangkan.
“Apa yang harus kita lakukan, Kek? Ayah dan Ibu dalam bahaya!” kata Arya Permana.
“Tenangkan dirimu, Arya. Serangan balik akan dipimpin oleh Pangeran Dira,” kata Resi Tambak Boyo.
“Baik,” ucap Arya Permana patuh sambil memandang kepada Joko Tenang yang hanya tersenyum kecil kepadanya. Dia agak terkejut ketika melihat keberadaan Tabib Rakitanjamu.
“Kau jangan heran dengan Tabib Rakitanjamu,” kata Resi Tambak Boyo.
“Izinkan aku bergabung, Resi Tambak Boyo!” seru satu suara perempuan, seiring munculnya satu sosok yang berlari cepat di udara dan mendarat ringan masuk ke dalam pendapa. Sosok wanita cantik berkulit putih bersih, berpakaian biru gelap itu, tidak lain adalah Rara Sutri, Putri Cemeti Bulan.
“Perkenalkan, dia adalah Rara Sutri yang berjuluk Putri Cemeti Bulan, murid dari Pangeran Mabuk,” kata Tabib Rakitanjamu.
“Hormatku, Resi dan para pendekar sekalian!” ucap Rara Sutri sambil menjura hormat dengan sedikit membungkuk, kedua telapak tangan bertemu di depan dada.
__ADS_1
“Oh, rupanya Pangeran Mabuk memiliki murid perempuan secantik ini,” ucap Resi Tambak Boyo yang baru tahu jika Pangeran Mabuk memiliki murid.
“Resi begitu memuji,” ucap Rara Sutri seraya tersenyum malu.
“Kayuni! Kayuni!” teriak seseorang tiba-tiba dari arah jalan.
Mereka semua melihat ke arah sumber panggilan. Mereka melihat Surya Kasyara berlari datang dengan sempoyongan. Ia sempoyongan bukan karena mabuk, tetapi karena masih terluka. Lukanya memang sudah teringankan oleh khasiat tuaknya, tetapi lukanya masih cukup berat.
Di belakang Surya Kasyara berjalan Turung Gali, ayah Tirana. Dialah yang membawa kabur Surya Kasyara dari Tiga Cebol Aneh.
“Surya!” sebut Kayuni Larasati, wajahnya sumringah melihat kedatangan pemuda yang telah mengait hatinya itu.
Surya Kasyara segera berkelebat naik ke pendapa dan langsung menghampiri Kayuni Larasati, tanpa tata krama kepada yang lainnya.
Plak!
Rara Sutri memukul kepala adik seperguruannya dengan telapak tangannya.
“Kau benar-benar harus diajari adab jatuh cinta, Surya! Hanya karena kau melihat gadis yang kau cintai lalu kau anggap semuanya orang-orangan sawah, hah?!” bentak Rara Sutri marah.
Terkejut dan tersadar Surya Kasyara dimarahi seperti itu. Ia segera memandang orang-orang di sekelilingnya. Ia jadi bingung harus bersikap apa, sebab yang dia kenal hanya Kayuni Larasati dan kakak seperguruannya.
“Maafkan, maafkan, para Kisanak!” ucap Surya Kasyara sambil menghormat-hormat kepada Resi Tambak Boyo, Tabib Rakitanjamu, lalu kepada Joko Tenang dan yang lainnya.
“Bukankah kau pendekar mabuk itu, Kisanak?” tanya Joko Tenang sekedar basa basi.
“Benar,” jawab Surya Kasyara.
“Hormat hamba, Yang Mulia Pangeran!” ucap Turung Gali yang baru tiba di antara mereka. Ia turun berlutut dengan satu kaki dan kedua tangan bertemu di depan dahi.
Cukup terkejut Tabib Rakitanjamu, Rara Sutri, Surya Kasyara, dan Kayuni Larasati mendengar status Joko Tenang.
“Bangunlah, Ayah!” perintah Joko Tenang kepada ayah mertuanya.
“Biar aku mengobatimu, Kayuni,” kata Surya Kasyara kepada Kayuni Larasati. Ia tidak tega melihat gadis yang dicintainya itu menderita menahan sakit pada tangannya.
“Hebat, dalam kondisi terluka dalam kau masih bisa mengobati orang lain,” puji Tabib Rakitanjamu. “Tuak Pangeran Mabuk memang sangat manjur untuk mengobati luka dalam dan luar.”
Surya Kasyara lalu meneguk tuaknya untuk disemburkan kepada tangan Kayuni Larasati. Tampak Rara Sutri melirik malas kepada apa yang dilakukan oleh adik seperguruannya itu. Arya Permana dan beberapa orang di antara mereka bisa melihat reaksi wajah Rara Sutri yang seolah cemburu.
Kedatangan para tamu di malam itu, membuat tiga orang guru padepokan yang tingkatannya masih di bawah Resi Tambak Boyo datang.
__ADS_1
“Apakah kau tidak akan turun tangan untuk menyelamatkan keturunanmu, Tambak Boyo?” tanya Tabib Rakitanjamu.
“Tidak. Aku sudah berhenti dengan urusan darah seperti ini. Kesaktian Pangeran Dira dan ketiga istrinya aku rasa cukup untuk memimpin perlawanan. Cukup muridku Lanang Jagad mewakili padepokan ini,” kata Resi Tambak Boyo.
“Baiklah, aku juga punya keyakinan tinggi kepada anak muda beristri banyak ini,” kata Tabib Rakitanjamu.
“Ranggasula, pergi panggil Lanang Jagad dan Kusuma Dewi ke mari!” perintah Resi Tambak Boyo kepada salah satu guru padepokan.
Tergerak wajah Reksa Dipa dan Kayuni Larasati mendengar nama Kusuma Dewi disebut.
“Baik, Guru!” ucap lelaki berjubah putih. Ia berusia separuh baya dengan ikat kepala dari kain putih yang lebar. Ia yang bernama Ranggasula.
“Tunggu, Kek!” seru Kayuni Larasati yang kondisi tangannya sudah membaik, meski menyisakan bekas-bekas luka pada kulit yang telah mengering.
Ranggasula jadi mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh Kayuni Larasati.
“Apakah Kusuma Dewi yang Kakek maksud adalah anggota Gerombolan Kuda Biru?” tanya Kayuni Larasati. Ia adalah musuh bertahun dari Kusuma Dewi.
Mendeliklah Resi Tambak Boyo mendengar hal itu. Di sisi lain, Joko Tenang dan Kerling Sukma jadi kerutkan kening.
Tanda tanya seketika menyelam di dalam pikiran Joko Tenang. Apakah nama Kusuma Dewi yang disebutkan tadi adalah Kusuma Dewi cinta pertamanya? Ataukah itu Kusuma Dewi yang lain?
“Kakang, mungkinkah itu Kusuma Dewi kekasih Kakang yang jatuh ke jurang?” tanya Kerling Sukma kepada suaminya. Kisah tentang Kusuma Dewi pernah Joko ceritakan kepada Kerling Sukam tujuh tahun yang lalu. Kerling Sukma bisa ingat sampai sekarang, karena nama itu adalah nama cinta pertama orang yang dia sangat cintai.
Mendengar pertanyaan Kerling Sukma, melebarlah lingkar mata Tirana dan Getara Cinta. Sepertinya suami mereka tidak pernah menyinggung cerita tentang cinta pertama. Tirana awalnya hanya tahu Ginari sebagai calon istri pertama sebelum ia datang kepada Joko Tenang.
“Apakah Kusuma Dewi yang Resi maksud adalah gadis cantik bersenjata pedang melengkung?” tanya Reksa Dipa.
“Benar,” jawab Resi Tambak Boyo.
“Dia adalah Ketua Kecil di Gerombolan Kuda Biru,” ungkap Reksa Dipa.
“Bagaimana kau bisa tahu kedudukan Kusuma Dewi di dalam Gerombolan?” tanya Rara Sutri curiga kepada Reksa Dipa.
Suasana di pendapa itu agak menegang sejak nama Kusuma Dewi mengemuka.
“Reksa Dipa adalah bekas anggota Gerombolan Kuda Biru yang kini mengabdi kepadaku. Dia kini anggota pasukan pengawal istri-istriku.” Joko Tenang yang menjawab pertanyaan Rara Sutri.
Terdiamlah Rara Sutri mendengar jawaban Joko Tenang. Ia hanya memandangi Reksa Dipa yang juga menatapnya dengan dingin.
“Ranggasula, bawa Lanang Jagad dan Kusuma Dewi ke sini!” perintah Resi Tambak Boyo lagi.
__ADS_1
“Baik, Guru!” ucap Ranggasula patuh. (RH)