
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Seorang prajurit bertelanjang dada berjalan terburu-buru sepanjang koridor yang memiliki penjagaan prajurit bertombak dan bertameng. Ia akhirnya tiba di pinggir sebuah lapangan, tempat seorang pemuda dan wanita muda lagi cantik sedang bertarung adu tanding.
Di pinggir lapangan yang seperti panggung kecil tapi mewah, duduk santai seorang lelaki gagah berkumis tebal. Ia berpakaian mewah warna merah dengan sejumlah perhiasan emas dan perak menghiasi pakaian dan tubuhnya. Kepalanya pun dihiasi perhiasan sebagai seorang raja di kerajaan itu. Untuk ukuran lelaki berusia hampir separuh abad, ia termasuk lelaki yang tampan dengan model hidung mancung.
Di sisi kanan dan kiri kursi empuk berukir, yang diduduki oleh Prabu Cokro Ningrat itu, masing-masing berdiri tiga prajurit. Di belakang kepalanya ada dua kipas lebar berhias bulu-bulu burung yang naik turun, memberikan angin halus. Kipas bergagang panjang itu dikipasi oleh dua dayang perempuan.
Di depan Prabu Cokro Ningrat ada meja yang di atasnya tersasji sekeranjang buah dan sebuah gelas dari bahan perak.
“Hormat hamba, Yang Mulia Prabu!” ucap prajurit yang baru datang sambil berlutut menghormat dengan kepala tertunduk.
“Hmm, katakan!” perintah Prabu Cokro Ningrat tanpa mengalihkan pandangannya kepada kedua anaknya yang sedang latih tarung.
“Mahapatih Yudi Mandala sudah tiba, Yang Mulia!” lapor prajurit itu.
“Apa yang dia bawa?” tanya Prabu Cokro Ningrat cepat, ia beralih memandang kepada prajurit itu. Sepasang matanya tampak berbinar senang.
“Mahapatih datang bersama satu pasukan Kelompok Pedang Angin yang membawa sebuah tandu,” lapor prajurit tersebut.
“Pergilah, arahkan Mahapatih Yudi Mandala datang ke sini!” perintah Prabu Cokro Ningrat, wajahnya tersenyum senang.
“Baik, Yang Mulia.”
Prajurit itupun segera pergi setelah menghormat dan beringsut mundur.
Prabu Cokro Ningrat berdiri dari duduknya.
Plok plok plok!
Prabu Cokro Ningrat betepuk tangan tiga kali untuk menarik perhatian kedua anaknya. Pangeran Zulkar Nain dan Putri Alifa Homar berhenti bertarung. Keduanya memandang kepada ayahnya.
“Cukup, calon ibu baru kalian telah tiba! Hahaha!” seru Prabu Cokro Ningrat lalu tertawa.
Pangeran Zulkar Nain dan Putri Alifa Homar hanya saling pandang lalu saling menarik sudut bibirnya, tanda tidak senang. Meski Prabu Cokro Ningrat menangkap ekspresi itu, tetapi ia tetap tersenyum. Ada kegirangan di dalam hatinya.
Pangeran Zulkar Nain adalah seorang pemuda tampan berhidung mancung ala non pribumi. Sepasang alisnya tebal dengan sepasang mata yang lebar berbinar. Cambang dan jenggot tipisnya yang tebal justru memperjantan perawakannya. Ia mengenakan pakaian mewah serba hijau. Di belakang pinggangnya terselip sebuah keris bagus, tapi tidak digunakan selama pertarungan melawan adiknya.
Sedangkan Putri Alifa Homar adalah seorang gadis cantik bertubuh tinggi. Kemancungan hidungnya membuat kecantikannya sulit dicari duanya. Ia pun memiliki sepasang alis yang tebal dengan bulu mata yang lentik, serasi dengan model matanya yang lebar. Kulitnya putih bersih model warna susu. Ia mengenakan pinjung biru berlapis baju hitam bersulam perak. Sanggulan rambutnya berhias emas mutiara.
Kakak adik itu lahir dari seorang ibu keturunan Arab. Ibu mereka telah wafat tiga bulan yang lalu. Karenanya, Prabu Cokro Ningrat sedang ngidam istri baru.
__ADS_1
Dua orang pelayan segera datang menghampiri kedua putra raja itu untuk memberikan kain pengering keringat.
“Ayahanda, kami mohon diri!” ucap Pangeran Zulkar Nain.
“Eh, kalian tidak mau bertemu dengan calon ibu kalian?” tanya Prabu Cokro Ningrat.
“Maafkan kami, Ayahanda!” ucap Putri Alifa Homar lalu menjura hormat kepada ayahnya. Demikian pula dengan Pangeran Zulkar Nain.
Prabu Cokro Ningrat hanya menghembuskan napas berat. Ia tahu penyebab kedua anaknya tidak setuju jika dirinya menikah lagi.
Akhirnya Prabu Cokro Ningrat menunggu. Meski sedih dengan sikap penolakan kedua putranya, tapi hatinya riang gembira karena wanita yang sejak muda ia idam-idamkan sebentar lagi akan berada di dalam pelukannya.
Tidak berapa lama, dari ujung koridor telah terlihat satu rombongan lelaki sedang berjalan menuju ke tempat itu. Rombongan itu memang dipimpin oleh Mahapatih Yudi Mandala. Pasukan yang ikut bersamanya adalah Kelompok Pedang Angin. Empat orang di antaranya memikul sebuah tandu hitam.
“Hormat hamba, Yang Mulia Prabu!” ucap Mahapatih Yudi Mandala saat tiba di lapangan, di depan Prabu Cokro Ningrat.
Kedua puluh orang Kelompok Pedang Angin juga menghormat serentak. Tandu yang mereka bawa segera diletakkan tepat di depan kaki Prabu Cokro Ningrat di atas panggung.
“Bangunlah!” perintah Prabu Cokro Ningrat.
Ia segera membuka penutup tandu di depannya. Berbinarlah sepasang mata Prabu Cokro Ningrat melihat sosok indah di dalam tandu panjang itu.
“Getara Cinta,” ucapnya tersenyum. “Setelah hampir sembilan belas tahun, akhirnya aku kembali memandangmu. Kecantikanmu masih terpelihara indah.”
“Tapi, Mahapatih....”
“Oh, maafkan hamba, Yang Mulia Prabu. Ratu Getara sedang tertidur karena pengaruh Racun Tidur Panjang milik Ketua Raja Pedang untuk mempermudah membawanya,” jelas Mahapatih Yudi Mandala.
“Apakah memang wajahnya harus sepucat ini?” tanya Prabu Cokro Ningrat.
Wajah Ratu Getara Cinta memang sangat pucat, seperti wajah tanpa darah. Jika bukan karena gerakan napasnya pada dada, mungkin Ratu Getara Cinta akan disangka telah mati.
“Saat kami menyerang ke Tabir Angin, Ratu Getara dalam kondisi sakit, Yang Mulia Prabu. Jadi, Yang Mulia Prabu harus memanggil tabib terbaik untuk mengobatinya,” ujar Mahapatih Yudi Mandala.
“Berapa lama lagi dia akan terbangun?” tanya Prabu Cokro Ningrat.
“Mungkin malam ini, Yang Mulia Prabu.”
“Hmm,” gumam Prabu Cokro Ningrat. Ia memandang sejenak wanita yang dulu membuatnya tergila-gila, sebelum ia akhirnya dijodohkan oleh mendiang istrinya. Ia menutup tandu itu. Lalu tanyanya lagi kepada punggawanya itu, “Bagaimana dengan Pangeran Serak Bayat?”
“Eee...” dengung Mahapatih Yudi Mandala. Ia tampak agak bingung.
__ADS_1
“Ada apa? Apakah hal buruk terjadi pada Serak Bayat?” tanya Prabu Cokro Ningrat dengan nada agak tinggi.
“Saat kami hampir sampai ke Rimba Berbatu, pengawal Pangeran menemui hamba. Pengawal itu mengatakan bahwa Pangeran Serak Bayat telah tewas....”
“Apa?!” kejut Prabu Cokro Ningrat terdiam tegang. Matanya liar memandang ke sana ke mari tidak menentu.
“Putraku, putraku sudah mati?” tanya Prabu Cokro Ningrat lagi, berharap bahwa ia salah dengar.
“Benar, Yang Mulia Prabu,” tegas Mahapatih Yudi Mandala.
Goyah sepasang kaki Prabu Cokro Ningrat. Ia segera berpegangan di tangan kursi besarnya, lalu jatuh terduduk.
“Yang Mulia Prabu!” sebut Mahapati Yudi Mandala khawatir.
“Siapa yang membunuhnya?” tanya Prabu Cokro Ningrat dengan napas memburu. Muncul dendam di dalam dadanya.
“Pangeran Serak dibunuh oleh pendekar bayaran Ratu Getara yang bernama Ragatos. Karena kejadian itu, aku memutuskan menjadikan kematian Pangeran sebagai alasan untuk menyerang Kerajaan Tabir Angin,” ujar Mahapatih Yudi Mandala.
“Bagaimana bisa dia bertarung dengan orang bayaran Ratu Getara?” tanya Prabu Cokro Ningrat. Tangan kanannya menepuk-nepuk kayu tangan kursinya.
“Pangeran Serak jatuh hati dengan Ratu Aswa Tara, jadi dia mau menjadi jagoan dalam pertandingan Sumur Juara melawan jagoan-jagoan Ratu Getara,” jawab Mahapatih.
“Lalu apa yang kalian lakukan terhadap Tabir Angin sehingga dapat membawa Ratu Getara?” tanya Prabu Cokro Ningrat.
“Ampuni hamba, Yang Mulia Prabu. Tidak ada jalan lain, kami harus membunuh semua orang Tabir Angin agar bisa membawa Ratu Getara. Jika tidak, akan sulit,” kata Mahapatih Yudi Mandala.
“Jadi kalian membumihanguskan Kerajaan Tabir Angin?”
“Benar. Dengan demikian, Ratu Getara tidak punya alasan untuk kembali ke Rimba Berbatu,” kilah Mahapatih Yudi Mandala.
Prabu Cokro Ningrat menarik napas panjang.
“Apa boleh buat. Anggap saja kehancuran Tabir Angin sebagai bayaran atas kematian Serak Bayat,” ucap Prabu Cokro Ningrat.
“Ketua Raja Pedang sudah pergi ke Kadipaten Rebaklaga untuk menggantikan Adipati Rumak Gulai. Setelah mengatur pemerintahan di kadipaten, dia akan datang melapor, Yang Mulia Prabu,” kata Mahapatih Yudi Mandala.
“Baik. Mahapatih, aku izinkan kau untuk pulang beristirahat. Hadiah dariku akan segera diantar ke kediamanmu.”
“Seribu terima kasih, Yang Mulia Prabu.” (RH)
__ADS_1
Yuk, yang suka cerita perjuangan spiritual. Coba mampir di karya baru Om Rudi Hendrik.