
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Setelah susah payah Suci Sari memakamkan wanita yang dibunuhnya, ia dipaksa untuk menunjukkan arah ke markas Kelompok Pedang Angin di Hambur Angin, sebuah daerah yang mutlak dikuasai oleh Ketua Raja Pedang.
“Jika benar Ketua Raja Pedang bisa membuat kami menyesal, maka bawa kami ke tempat persembunyiannya!” tandas Tirana kepada Suci Sari.
“Kakakku tidak pernah bersembunyi!” sentak Suci Sari marah.
“Ayo, tunjukkan di mana tempatnya!” kata Tirana, lalu tiba-tiba ia melesat dalam kondisi sudah memanggul tubuh Suci Sari yang ditotok.
Joko Tenang dan Kembang Buangi segera mengikuti.
Dalam hitungan setengah jam melesat ke arah barat, Suci Sari berkata.
“Kita sudah masuk di Hambur Angin. Sarang Pedang Angin ada di dalam hutan ini.”
“Ayo tunjukkan!” kata Tirana.
“Lurus saja sampai ketemu tanah lapang,” kata Suci Sari.
Mereka memang sudah memasuki sebuah hutan. Tirana menuruti petunjuk Suci Sari.
Tidak sampai sepuluh menit, mereka tiba di tanah lapang sebuah lingkungan kecil. Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi kini berdiri menghadap kepada lima rumah panggung tinggi, setinggi dua kali tinggi tubuh mereka. Tangga tingginya pun nyaris tegak lurus. Rumah-rumah tinggi itu terbuat dari bambu.
Di bawah salah satu rumah ada sekelompok orang yang sedang berkumpul dan ramai dengan nada saling ngotot. Namun, tidak satu pun dari mereka mengenakan seragam cokelat dan putih. Beberapa orang yang sedang duduk santai di atas rumah atau di atas pohon, memandangi kedatangan Joko dengan ketiga gadisnya.
Tanah lapang itu dikelilingi oleh pohon-pohon besar dan sekelompok pohon bambu. Tirana menurunkan Suci Sari dari panggulannya.
“Ki Banderek! Ada yang mencarimu!” teriak Suci Sari dengan keras.
Semua penghuni tempat itu seketika terkejut, termasuk sekelompok orang bersenjata yang sibuk bermain judi dadu di bawah rumah. Dari dalam kelima rumah panggung tinggi bermunculan kepala-kepala lelaki, tiga di antaranya adalah kepala perempuan, mungkin statusnya sebagai istri pimpinan di tempat itu.
Lebih dua puluh orang lelaki memperlihatkan wajahnya di berbagai tempat setelah Suci Sari berteriak memanggil Ki Banderek.
__ADS_1
“Siapa yang mencariku?!” tanya seorang lelaki dengan berteriak. Suaranya terdengar serak kering. Namun, tidak terlihat sosok orang yang bertanya itu.
Setelah beberapa detik kemudian, barulah seorang lelaki bertubuh kekar tapi berperut gendut, keluar dalam rumah yang paling kanan. Tubuhnya tampak berkeringat atas dan bawah. Lelaki berwajah separuh abad dan brewok itu keluar sambil mengikat tali celana hitamnya yang baru saja ia pakai.
Melihat pimpinan mereka sudah keluar, seluruh lelaki yang ada di tempat itu bergerak mengepung dengan senjata masing-masing, dengan gaya santai masing-masing. Ada yang di atas rumah, di tangga, di bawah rumah, di atas pohon, dan di bawah pohon.
Pak! Bdak!
Melihat situasi itu, tiba-tiba Tirana menampar kepala Suci Sari dengan keras. Wanita cantik berbaju merah itu langsung terbanting keras ke tanah keras, seolah bukan manusia yang menamparnya.
“Masih juga kau mencoba membodohi kami,” kata Tirana kepada Suci Sari. Ia yakin, tempat itu bukanlah tempat Kelompok Pedang Angin.
“Ki Banderek, tolong aku!” teriak Suci Sari seraya meringis kesakitan.
“Justru kau yang telah mengganggu kesenanganku, tahu!” bentak orang yang disebut Ki Banderek. “Aku belum keluar, tetapi kau kagetkan dengan teriakanmu!”
“Hahaha!” tertawa riuhlah para lelaki yang ada di tempat itu mendengar kata “keluar”.
Serempak mereka semua diam. Suasana tiba-tiba hening.
“Ini aku bawakan dua gadis, akk!”
Teriakan Suci Sari terputus ketika belakang kepalanya ditendang begitu saja oleh Tirana.
Tampak wajah tampan Joko Tenang berubah ekspresi dan menatap tajam kepada Ki Banderek.
Ketika melihat tatapan Joko, diam-diam jantung Ki Banderek tersentak. Namun, pemimpin itu berusaha bersikap tenang. Pikirnya, apa yang perlu ditakutkan. Ia adalah pemimpin perampok yang berkesaktian dan banyak anak buah. Apalah yang perlu ditakutkan dari pemuda yang datang hanya dengan tiga orang wanita?
“Karena kalian sudah memasuki sarang Rampok Ki Banderek, kalian tidak boleh pergi tanpa meninggalkan sesuatu. Setidaknya kalian harus meninggalkan satu wanita, baru boleh pergi!” seru Ki Banderek.
Mendengar itu, Joko Tenang yang marah karena waktunya telah diulur-ulur oleh Suci Sari, semakin marah.
“Aku jamin utangmu kepada kakakku akan lunas jika kau membebaskanku dari orang-orang ini!” teriak Suci Sari lagi, kali ini kalimatnya terucap sempurna, tanpa dipotong oleh tendangan Tirana yang juga kesal dengan ulahnya.
__ADS_1
“Kepung mereka!” perintah Ki Banderek kepada seluruh anak buahnya yang ada di bawah.
Dengan gaya jagoannya masing-masing, anak buah Ki Banderek berlompatan dari atas pohon, tangga, dan maju mendekat lebih merapatkan kepungan mereka. Mereka menutup jalan mundur bagi Joko. Rata-rata mereka bersenjata golok dan pedang.
“Aku mau gadis cantik yang galak itu! Hahak!”
Tawa Ki Banderek mendadak tersumbat ketika tiba-tiba Joko Tenang muncul di dekatnya. Joko Tenang mencengkeram tengkuk besar Ki Banderek dan mengajaknya melompat bersama ke udara. Ki Banderek yang tidak siap, hanya bisa ternganga seperti orang kehilangan jiwa.
Blumm!
Ketika berada bersama di udara, Joko Tenang membanting tubuh besar Ki Banderek sehingga meluncur deras ke bumi. Ki Banderek menghantam keras tanah di depan Suci Sari, seperti katak dibanting keras. Bantingan yang menggunakan tenaga dalam tinggi itu, membuat Ki Banderek tidak bergerak dengan mata melotot berdarah dan lidah menjulur berdarah pula.
“Hah!” kejut seluruh anak buah Ki Banderek. Mereka kompak mundur selangkah dan kompak gemetaran kakinya. Beberapa orang bahkan memegangi lututnya agar berhenti gemetar.
Suci Sari juga tidak alang kepalang terkejutnya. Ia melihat jelas wajah Ki Banderek yang jatuh di depannya. Meski tubuh Ki Banderek diam, terlihat debu di depan lubang hidungnya masih bergerak tertiup oleh napasnya, menunjukkan bahwa pemimpin perampok itu belum mati, mungkin sekarat.
Joko Tenang mendarat ringan di depan Suci Sari yang masih terkapar di tanah di depan kaki Tirana. Sementara itu, tidak ada seorang pun anak buah Ki Banderek yang berani maju menyerang Joko Tenang setelah melihat keganasannya.
“Aku beri satu kesempatan. Bawa kami ke tempat Kelompok Pedang Angin. Jika masih mengulur waktu, aku tidak akan segan!” tandas Joko Tenang dengan nada serius kepada Suci Sari.
“Ba... baik!” ucap Suci Sari terbata, menunjukkan kegentarannya.
“Ayo!” kata Joko sambil melangkah pergi, ke arah semula mereka datang.
Sejumlah anak buah Ki Banderek yang menutup jalan, buru-buru bergerak menyingkir membuka jalan. Wajah mereka menunjukkan ketakutan, bahkan senjata mereka disembunyikan di belakang tubuh, sebagai tanda damai.
Tirana dan Kembang Buangi berjalan mengikuti Joko di belakang. Tirana tetap menjadi tukang panggul. Namun, itu bukan masalah ataupun beban baginya.
“Angkat Ketua!” teriak seorang anak buah Ki Banderek memberi aba-aba.
Maka sontak para anak buah Ki Banderek beramai-ramai berebut mendapatkan tubuh pemimpin mereka yang tercinta.
“Aaak!” jerit Ki Banderek saat tubuhnya diperebutkan untuk diangkat. Gerakan sedikit saja pada anggota tubuhnya langsung menimbulkan sakit yang sangat. (RH)
__ADS_1