
Kalian! Serang orang mengjengkelkan ini!” teriak Sujibak Lugang kepada anak buahnya seraya menunjuk Joko Tenang.
“Heaaat!” pekik ramai anak buah Sujibak Lugang maju menyerang Joko Tenang, kecuali Jagur, ia tidak ikut menyerang Joko.
Buk! Buk! Buk!
Lima kali Joko melakukan gerakan, lima tinjunya pun menghajar kelima anak buah Sujibak Lugang. Satu tinju Joko berbobot satu serudukan banteng, karenanya kelima anak buah Sujibak sudah terkapar kesakitan.
“Jagur! Kenapa kau tidak menyerang?!” bentak Sujibak Lugang.
“Iya, Kang,” ucap Jagur hanya manggut sekali seraya tersenyum kecut.
“Ayo serang!” teriak Sujibak Lugang kian marah.
“Lima saja cuma sekali hantam, apalagi saya satu orang, Kang. Kakang saja yang ilmunya lebih sakti dari dia,” kata Jagur lalu memilih duduk jongkok tanda menyerah.
“Anak buah tidak berguna!” teriak Sujibak Lugang sambil bergerak hendak menebas tubuh Jagur.
“Aaa...!” jerit Jagur panjang sambil pegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
Bdugk!
Namun, sebelum pedang Sujibak Lugang menebas leher Jagur, tubuh Joko telah melesat dan menabrak tubuh Sujibak dari samping. Pria separuh baya itu seperti mendapat serudukan lima banteng, tubuhnya terlempar kencang menghantam kumpulan pohon bambu yang tumbuh di dekat pembatas desa. Tubuh Pendekar Kucing Demang itu bahkan terjepit antara batang bambu. Kerasnya tabrakan tubuh Joko, membuat Sujibak Lugang terluka, terbukti darah kental termuntah dari dalam tenggorokannya.
“Siapa yang mau mencoba lagi?” tanya Joko kepada keenam anak buah Sujibak.
Tidak ada yang menjawab, mereka hanya geleng-geleng.
“Aku yang akan menangkapmu, Joko!” seru seseorang seiring munculnya kelebatan tubuh dan mendarat beberapa langkah di hadapan Joko. Orang itu tidak lain adalah Hujabayat.
Melihat kemunculan Hujabayat, Joko bersikap biasa saja, meski ia tahu, pertarungan yang sempat terjadi antara dirinya dan pemuda itu akan dilanjutkan sebentar lagi.
“Kalian boleh pergi!” kata Joko kepada para anak buah Sujibak Lugang.
Maka keenam anak buah Sujibak Lugang itu segera bangun dan beranjak pergi.
“Jagur!” panggil Joko, membuat Jagur yang tidak jadi mati, terkejut dan berhenti di tempat.
“Kau jangan pergi, kau harus mengantarku ke rumah Demang Rubagaya!” kata Joko.
“Baik,” jawab Jagur patuh.
Joko lalu beralih kepada Hujabayat.
“Kenapa kau mengejarku? Aku tidak pernah berbuat apa-apa terhadap kekasihmu,” kata Joko kepada Hujabayat.
“Jangan berdusta kau, Joko. Sebelumnya kau sudah berdusta dengan menyebut namamu Gimba kepada aku dan Kembang Buangi,” tandas Hujabayat.
__ADS_1
“Tapi aku tidak pernah berbuat kurang ajar kepada temanmu yang bernama Kembang Buangi itu, justru dia yang suka mendekat-dekatiku!” kilah Joko.
“Bukan Kembang Buangi yang kau perkosa, tapi Pendekar Tikus Langit, murid Setan Genggam Jiwa!” tegas Hujabayat dengan nada marah dan tatapan garang.
“Teman, jika kau memang kekasih Pendekar Tikus Langit, kenapa kau tidak mengejar orang yang menculiknya? Kau justru menghalangiku yang sedang mengejar penculik itu, itu sama saja kau membiarkannya mati lebih cepat,” kata Joko.
“Kau....” Hujabayat putus kata-kata. Dalam hati ia membenarkan perkataan Joko. Pendekar Tikus Langit kini dalam bahaya, tapi ia justru mencoba mencegah orang yang juga mau menolongnya. Namun, sakit hati Hujabayat lebih besar dari rasa kekhawatirannya.
“Baiklah, kau mau terus melanjutkan urusan kita yang tidak jelas ini, atau kita sama-sama mencari Pendekar Tikus Langit?” tanya Joko menawarkan pilihan.
Sebenarnya Hujabayat ada keraguan bisa mengatasi pemuda bercaping di hadapannya itu. Dia tahu, Joko memiliki kesaktian yang tidak rendah. Namun, sebagai pendekar yang masih muda dan terlanjur memaksakan maksudnya untuk menangkap Joko, Hujabayat enggan menarik lagi kata-katanya.
“Aku tetap akan menangkapmu untuk aku serahkan kepada Pengemis Maling!” tandas Hujabayat.
“Silakan. Tapi perlu kau ingat, aku sedikit pun tidak pernah berbuat kurang ajar terhadap wanita berpakaian hitam itu!” kata Joko.
Mendengar itu, Hujabayat termenung sejenak. Namun kemudian, dia sudah maju memutuskan untuk menyerang.
Keras dan menggebu-gebu, itulah sifat serangan awal Hujabayat. Joko hanya bergerak kecil bergeser ke sana dan ke sini, hanya tangan kiri saja yang membantunya menangkis. Sementara tangan kanan diam tidak turut bertarung.
Cara Joko yang bertarung dengan santai, membuat Hujabayat yang bertarung laksana singa terluka, merasa diremehkan.
“Jangan remehkan aku, Joko!” teriak Hujabayat sambil mencabut pedang pendeknya lalu kembali menyerang dengan kecepatan tinggi.
Ternyata Joko tidak mau membuat Hujabayat kian berbahaya, karenanya ia berinisiatif menyerang balik dengan satu gebrakan. Hujabayat cukup terkejut dan harus terpental mundur, karena gebrakan Joko datang dengan kecepatan dua kali lipat. Hujabayat terpaksa hanya bisa membentengi tubuhnya dengan tangan menyilang di depan. Dua tinju Joko yang masuk bersamaan mengincar dada, tertahan oleh benteng tangan Hujabayat, membuat pemuda berpedang pendek itu terpental mundur.
Hujabayat menyarungkan kembali pedang pendeknya. Lalu ia berlari maju dan melompat melewati atas kepala Joko dengan bersalto. Semendaratnya, ia kembali melompati posisi Joko. Anehnya, sosok Hujabayat yang melompat meninggalkan satu sosok yang sama tapi tidak ikut melompat. Sehingga ada dua sosok Hujabayat. Pemuda itu tidak berhenti, dia kembali melompat ke titik lain dengan meninggalkan sosok duplikat lain. Hujabayat terus melompat dengan meninggalkan sosok-sosok serupa dirinya. Sehingga, ketika ia berhenti melompat, ada dua belas sosok Hujabayat yang mengurung posisi Joko. Itulah ilmu Lingkar Hantu.
Setiap sosok Hujabayat melakukan gerakan yang berbeda-beda. Semuanya mengeluarkan sinar hijau pada kedua telapak tangannya.
Sess!
Dari samping, satu sosok Hujabayat melesatkan sinar hijau berbentuk jaring laba-laba. Joko cepat melompat naik bersalto di udara, membuat ia terhindar dari jeratan jaring sinar.
Sess! Srepss!
Namun, saat di udara itulah, melesat lagi dua jala sinar hijau yang tidak bisa dihindari oleh Joko. Tubuh Joko terjaring dan dibawa jatuh ke tanah.
Werss!
Joko cepat bangkit dan mencelat tinggi ke udara dengan tubuh berputar cepat laksana putaran bor.
Wusss! Clap!
Saat tubuh Joko berputar deras di udara, ia melepaskan satu angin dahsyat ke salah satu sisi. Angin itu, selain melenyapkan jala sinar yang melekat di tubuhnya, juga menghempaskan dan menghapus sebagian sosok duplikat Hujabayat.
Melihat Joko bisa melenyapkan sebagian kurungan, Hujabayat cepat menggerakkan semua duplikatnya yang tersisa untuk kembali melepaskan jala sinar. Namun, Joko pun cepat kembali melepaskan angin dahsyat serupa ke sisi yang berlawanan dari arah sebelumnya.
__ADS_1
Semua sinar berbentuk jala lenyap di udara oleh angin pukulan Joko, lalu terus menghempas semua tubuh Hujabayat. Sosok-sosok Hujabayat lenyap dengan sendirinya, kecuali satu tubuh yang asli.
Bukk!
“Hukr!”
Hujabayat asli terhempas dan dengan keras punggungnya menghantam batang pohon. Akibatnya, Hujabayat memuntahkan darah kental. Ia jatuh dengan tubuh terasa remuk luar dalam.
“Bagaimana?” tanya Joko yang sudah berdiri dua jangkauan dari Hujabayat yang meringis sakit.
“Aku tidak akan memaafkanmu!” desis Hujabayat lalu dengan gerakan yang masih cepat, tinjunya melesat ke arah dada Joko.
Tap!
“Aaakh ...!” pekik Hujabayat yang sebelum tinjunya tiba di sasaran, pergelangan tangannya lebih dulu ditangkap dan dicengkeram oleh Joko. Ia merasakan seluruh kulit dan dagingnya seperti disengat ribuan lebah tapi rasanya panas.
Hujabayat yang terkena Sentuh Lebah Neraka dari Joko, hanya bisa jatuh berlutut seraya terus menjerit kesakitan. Selain laksana disengat ribuan lebah dari neraka, Hujabayat juga merasa menjadi sangat lemah tanpa tenaga.
“Kau mengaku kalah?” tanya Joko tanpa mau melepaskan cengkeramannya.
“Baik, baik, aku kalah!” teriak Hujabayat yang merasa sangat menderita terkena Sentuh Lebah Neraka.
Joko lalu melepaskan cengkeramannya terhadap pergelangan tangan Hujabayat.
“Jagur!” panggil Joko kepada anak buah Sujibak Lugang yang bersembunyi mengamankan diri di balik pohon.
“Siap, Pendekar!” sahut Jagur sambil berlari kecil datang menghadap.
“Jangan ke mana-mana!” perintah Joko.
“Siap, Pendekar!” jawab Jagur.
Joko lalu beralih kepada Hujabayat yang duduk lemah tidak berdaya di tanah.
“Aku tidak mungkin membunuhmu, karena aku dan kau tidak jelas memiliki urusan apa. Kau tiba-tiba sangat ingin menangkapku. Jelaskan kembali secara rinci agar aku bisa mengerti dengan jelas, apa sebenarnya salahku kepadamu,” ujar Joko seraya tetap berdiri di depan Hujabayat.
“Aku tadi bertemu dengan Pengemis Maling yang marah dan sedang mencarimu. Pengemis Maling adalah kakek dari Pendekar Tikus Langit. Ia mengabarkan bahwa kau telah memperkosa cucunya. Dia meminta bantuanku untuk menangkapmu. Yang membuat aku sangat marah dan dendam kepadamu, karena aku sangat jatuh hati kepada Pendekar Tikus Langit,” jelas Hujabayat dengan suara yang datar karena pengaruh hilangnya tenaganya untuk saat itu.
“Aku memang tidak bisa memaksamu percaya kepadaku, tapi dengarkan baik-baik pelurusanku ini. Pada malam yang lalu aku menolong Pendekar Tikus Langit dalam keadaan tidak sadarkan diri, tapi aku tidak pernah menyentuh tubuhnya, terlebih-lebih sampai melakukan perbuatan terkutuk seperti yang kau tuduhkan itu. Seharusnya aku membunuhmu karena telah memfitnahku begitu keji. Saat Pendekar Tikus Langit terluka parah, aku membawanya kabur dari pertarungan dengan orang-orangnya Demang Rubagaya. Namun, Nenek Kerdil Raga berhasil mengecohku dan menculik Pendekar Tikus Langit,” jelas Joko. “Aku sudah menjelaskan.”
Joko lalu melangkah pergi meninggalkan Hujabayat yang masih berkondisi lemah.
“Jagur!” panggil Joko sambil berjalan.
“Siap, Pendekar!” sahut Jagur cepat sambil berlari mengikuti di belakang Joko.
“Bawa aku ke kediaman Demang Rubagaya!”
__ADS_1
“Siap, Pendekar!” (RH)