
Sejumlah suara langkah kaki lebih dari tiga orang terdengar datang mendekat. Tidak berapa lama, sekitar delapan wanita berpakaian putih-putih layaknya para prajurit tiba di depan penjara. Satu orang wanita cukup dewasa berpakaian warna biru terang tampak memimpin mereka.
Kedelapan wanita itu bersenjatakan masing-masing dua pedang pendek yang diselipkan di pinggang kanan dan kiri. Sementara wanita cantik berpakaian biru, pinggangnya dililiti tali merah berlapis yang mirip dengan tali pengikat kaki dan tangan Joko, Tirana dan Ginari.
Seorang prajurit wanita membuka gembok pintu.
Wanita berpakaian biru dan enam wanita lainnya bergerak masuk, sementara dua lainnya berjaga di depan sel.
“Lepaskan kami, Nisanak!” seru Tirana setibanya para wanita itu di dekatnya.
“Namaku Sawiri,” kata wanita berpakaian biru kepada Tirana, usianya lebih tua sepuluh tahun. Nada suaranya datar dan terkesan santai. “Kalian telah memasuki wilayah Hutan Kabut. Apapun alasan kalian, kalian dianggap sebagai mata-mata musuh.”
“Sawiri, kau tahu bahwa ketiga temanku terluka parah dan nyawanya di ambang kematian, tidak mungkin kami adalah mata-mata musuh. Kami datang ke mari hanya untuk mencari obat,” ujar Tirana.
“Siapa namamu?” tanya Sawiri kepada Tirana dengan tenang.
“Tirana.”
“Simpan saja alasanmu, Tirana. Aku datang hanya untuk membawa pemuda ini,” kata Sawiri. Ia lalu bertanya kepada Joko, “Siapa namamu, Pemuda?”
Joko Tenang tidak menjawab.
“Kondisinya terlalu lemah, bersuara pun ia tidak sanggup,” kata Tirana.
“Siapa namanya?” tanya Sawiri kepada Tirana, tampaknya ia percaya bahwa Joko kondisinya memang sangat lemah meski masih terlihat bernapas.
“Joko Tenang,” jawab Tirana.
“Ketampanannya akan aku persembahkan kepada Ratu Aswa Tara, tapi aku tidak tahu tanggapan Ratu jika kondisinya selemah ini,” kata Sawiri. Dalam hati ia berkata, “Ikatan Tali Pemupus tidak mungkin membuatnya selemah itu. Sepertinya pemuda itu memang terluka parah.”
Slet!
Tiba-tiba Sawiri menggerakkan lengan kanannya. Satu tali merah pendek serupa tali yang mengikat kaki dan tangan para tahanan, melesat dan membelit leher Joko.
“Hekh!” keluh Joko sambil tubuhnya tersentak sejenak.
“Apa yang kau lakukan, Sawiri?!” teriak Tirana sambil merontahkan tubuhnya di udara.
“Aku hanya akan membawanya,” jawab Sawiri.
__ADS_1
Dengan satu gerakan tangan saja, tali yang mengikat kedua kaki Joko lepas dengan sendirinya, seolah tali tunduk oleh titah wanita berpakaian biru itu.
Bluk!
Tubuh Joko jatuh berdebam ke lantai sel. Tubuh Joko tergeletak tidak bergerak meski ada tanda-tanda kehidupan. Satu gerakan tangan lagi, Sawiri melepas ikatan tali merah di pergelangan tangan Joko.
“Bawa Joko!” perintah Sawiri.
Maka tiga prajurit wanita berpakaian putih bergerak mengangkat dan memikul bersama tubuh Joko yang tidak berdaya.
“Bagaimana dengan kami?” tanya Tirana.
“Waktu akan menentukan nasib kalian,” jawab Sawiri lalu melangkah pergi ke luar lebih dulu.
Para prajurit kemudian mengikuti dan tidak lupa mengunci kembali pintu sel.
“Selama tali ini mengikat, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aneh, kenapa mereka perempuan semua? Apakah tidak ada lelaki di wilayah ini untuk bisa dijadikan prajurit?” membatin Tirana. “Ampuni aku, Gusti Mulia, aku tidak sanggup menjaga Pangeran saat ini.”
Joko terus digotong seperti menggotong sebuah balok kayu besar. Dalam perjalanannya di sepanjang lorong penjara yang cukup dalam, Joko sempat melihat sebuah sel yang diisi oleh tahanan wanita berpakaian putih yang diikat gantung seorang diri. Meski tidak bisa memastikan bahwa itu adalah Kembang Buangi, tapi Joko menduga itu adalah dia adanya.
“Lalu di mana Hujabayat?” tanya batin Joko.
“Apakah ini peternakan wanita?” pikir Joko dalam hati.
Joko Tenang dibawa ke sebuah area berupa taman dan berudara dingin. Ada suara air terjun yang tidak terlihat. Taman itu memiliki lorong pohon, barisan pohon yang dahannya menjuntai membentuk lubang panjang yang indah, terlebih pohon-pohon itu memiliki bunga berwarna kuning yang sedang bermekaran.
Setelah melalui lorong pohon, mereka dapat melihat sebuah air terjun yang sebelumnya tertutupi oleh tebing batu yang diselimuti tanaman rambat berkembang-kembang warna merah dan putih. Air terjun jatuh ke sebuah sungai yang mengalir masuk ke dalam gua batu yang gelap. Agak jauh dari tepi sungai yang terletak di tanah yang rendah, terdapat sebuah pendopo bambu terbuka yang dihias dengan tirai-tirai tipis berwarna kuning.
Sejumlah prajurit wanita berpakaian putih berjaga di tangga menuju sungai dan di sekitar pendopo. Dari jauh bisa terlihat adanya sebuah kursi besar berwarna kuning emas yang diduduki oleh seorang wanita berpakaian mewah berwarna kuning keemasan.
Setibanya di pendopo berhawa dingin itu, Sawiri masuk lebih dulu menghadap kepada wanita yang duduk anggun di kursi megahnya. Wanita berpakaian kuning indah itu tampak sebaya dengan Sawiri, tetapi ia jauh terlihat lebih jelita dengan rambut terurai berhias untaian manik-manik kecil berwarna putih berkilau. Emas bertahta permata menghiasi jemarinya dan pergelangan kedua tangannya. Merah gincunya membuat bibirnya terlihat begitu memikat. Ia adalah Ratu Aswa Tara, penguasa wilayah yang bernama Hutan Kabut.
Di kanan dan kirinya berdiri dua wanita berbadan besar berpakaian putih, tapi agak berbeda dengan model pakaian prajurit biasa lainnya. Keduanya berbekal tali merah di pinggangnya serupa milik Sawiri.
“Hamba membawa pemuda tampan yang kami tangkap, Ratu,” lapor Sawiri usai menjura hormat.
“Bawa ke mari!” perintah Ratu Aswa Tara datar.
“Bawa tawanan itu masuk!” seru Sawiri kepada prajurit di luar pendopo.
__ADS_1
Tiga prajurit wanita datang masuk dengan menggotong tubuh Joko. Tubuh pemuda itu lalu diturunkan berbaring di lantai.
Melihat ketampanan paras Joko Tenang, Ratu Aswa Tara diam terpukau. Ketampanan itu membuatnya seketika ingin memiliki pria itu. Namun, kemudian ia kerutkan kening.
“Dia tampak begitu lemah?” tanya Sang Ratu.
“Namanya Joko Tenang. Ia dalam kondisi sakit,” jawab Sawiri.
“Sakit apa?” tanya Ratu Aswa Tara.
“Maafkan Hamba, Hamba tidak mengetahuinya, Ratu,” jawab Sawiri sambil turun berlutut menghormat sebagai pengakuan ia salah.
“Lalu bagaimana kau tahu bahwa dia sedang sakit?” tanya Ratu Aswa Tara lagi.
“Kondisinya yang begitu lemah bukan karena Tali Pemupus yang mengikatnya dan temannya mengatakan Joko sedang sakit. Mereka datang ke wilayah kita untuk mencari obat,” jawab Sawiri.
“Obat apa yang dicarinya?” tanya Ratu.
“Hamba tidak tahu, Ratu.”
“Apakah dia tidak bisa bicara?” tanya Ratu Aswa Tara lagi.
“Kondisinya begitu lemah, Ratu,” jawab Sawiri sambil memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Joko.
“Meskipun dia sangat tampan, tapi jika tidak berfungsi, bagaimana aku gunakan, Sawiri?!” kata Ratu Aswa Tara agak membentak.
“Ampuni Hamba, Ratu! Ampuni Hamba!” ucap Sawiri buru-buru berlutut hormat merasa bersalah.
“Lalu bagaimana dengan kedua teman wanitanya?” tanya Ratu Aswa Tara.
“Satu wanita kondisinya sekarat dan yang satu tampak berbahaya, Ratu,” jawab Sawiri.
“Bukankah sudah kau lumpuhkan dengan Tali Pemupus?”
“Benar, Ratu.”
“Jika pemuda ini lemah bukan karena Tali Pemupus, coba lepaskan talimu dari lehernya!” perintah Ratu Aswa Tara.
“Baik.” (RH)
__ADS_1