Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo24: Batas Kehebatan Ki Daraki


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


Api telah berkobar besar membakar sisa rumah Ki Daraki. Warga mulai berkumpul dalam jarak yang agak jauh, menonton ketegangan yang terjadi di depan rumah Ki Daraki yang telah hancur dan berkobar.


Di antara para warga itu hadir pula Palang Segi dan rekan-rekannya. Mereka sadar tidak akan mampu melawan Ki Daraki, meski mereka mengeroyoknya. Kepala Desa itu memiliki ilmu perisai yang begitu kuat. Karena itu, mereka hanya bisa mengandalkan Joko Tenang dan Tirana.


Ki Daraki menatap tajam kepada Sedap Malu yang berdiri dengan terbungkuk karena luka parahnya.


“Aku bisa melupakan pemberontakanmu, asalkan kau menyerah dan mau melayani Tetua Suku,” kata Ki Daraki.


“Di mana Mawar Embun?” tanya Sedap Malu dingin, tanpa peduli dengan tawaran pemuda itu.


Mendelik sepasang mata Ki Daraki mendengar pertanyaan itu.


“Apa hubunganmu dengan Mawar Embun?” tanya Ki Daraki.


“Aku adiknya. Kedatanganku ke desa ini semata-mata untuk mencari kakakku dan membalaskan dendamnya,” kata Sedap Malu penuh kebencian.


“Rupanya...” geram Ki Daraki.


Zurs! Bress!


Ki Daraki memutuskan melesatkan sinar kuningnya kepada Sedap Malu yang sudah pasti tidak bisa menghindar. Kekhawatiran seketika meliputi perasaan Palang Segi dan rekan-rekannya.


Namun, sinar merah jaring laba-laba lebih dulu menempel di seluruh tubuh Sedap Malu. Ki Daraki hanya bisa terkejut saat melihat sinar kuningnya masuk dan hilang ke dalam jaring sinar tanpa melukai Sedap Malu sedikit pun.


Blaar!


Sinar kuning itu justru muncul di satu tempat yang gelap dan meledakkan sebuah batang pohon.


Ki Daraki beralih menatap tajam kepada Tirana yang tersenyum manis. Di bahunya masih ada tubuh Kembang Buangi.


“Kalian tidak bisa diberi hati,” desis Ki Daraki kepada Joko dan Tirana.


“Kami masih beruntung karena memberontak malam ini, Ki. Kau tahu siapa gadis yang ada dibahuku ini? Dia adalah sahabatku. Sekarang aku berkata kepadamu, beraninya kau berbuat jahat kepada sahabatku!” tandas Tirana.


Wess!


Tiba-tiba dari tubuh Tirana berhembus angin ke segala arah. Seiring itu, sebola sinar biru telah bercokol di telapak tangan kanannya.


Nuansa mengerikan yang diberikan oleh Tirana membuat Ki Daraki segera siaga. Namun, alangkah terkejutnya Ki Daraki, ia tidak bisa mengangkat sepasang kakinya dari tanah.

__ADS_1


Sess! Zwerrs!


Blaar!


Tirana melesatkan sinar biru dari ilmu Bola Kulit Langit. Ki Daraki terpaksa mengandalkan ilmu perisainya. Tubuh Ki Daraki seperti dikurung kuncup bunga merah raksasa berbahan sinar tenaga sakti.


Bola Kulit Langit Tirana menghantam sinar merah perisai Ki Daraki yang bernama Kuncup Nyawa. Ledakan dahsyat terjadi di luar sinar merah berbentuk kuncup bunga itu. Namun, hasilnya adalah Ki Daraki tidak terluka sedikit pun.


Oaarss!


Dari tempatnya ia berdiri, Ki Daraki balas melepaskan ilmu Hantu Murka. Sinar hijau besar berbentuk wajah manusia yang meraung lebar melesat menyerang Tirana yang dengan santainya berjalan mendekat.


Lagi-lagi Ki Daraki terkesiap dan tidak habis pikir. Ilmu andalannya lenyap saat sampai dua jengkal dari kulit Tirana.


Para warga yang baru kali ini melihat kesaktian Tirana, terbelalak takjub.


Jika Bola Kulit Langit tidak sanggup menghancurkan ilmu perisai Kuncup Nyawa milik Ki Daraki, maka Tirana harus menggunakan ilmu Bola Dua Maut.


Tirana menurunkan tubuh Kembang Buangi dengan tangan kirinya dan dibiarkan tergeletak begitu saja di tanah. Sementara tangan kanannya telah berbekal bola sinar dua warna, yaitu hijau dan kuning.


Ki Daraki masih belum bisa meninggalkan tempat berpijaknya. Ia agak panik.


“Ilmu itu pasti lebih dahsyat dari yang tadi,” pikir Ki Daraki. “Aku yakin, ilmu perisaiku masih sanggup menahannya. Ilmu Kuncup Nyawa-ku adalah ilmu perisai terkuat di Tanah Jawi ini.”


Sekali hentak, kedua tangan Ki Daraki melesatkan dua kiblatan sinar kuning tipis yang saling menyilang. Namun, Tirana sudah melejit tinggi ke angkasa malam sebelum sinar kuning itu mengenainya.


Bross!


Dari sisi atas, Tirana membanting bola sinar dua warnanya. Ki Daraki hanya pasrah dengan tetap yakin terhadap kehebatan ilmu perisainya.


Bumi berguncang sejenak ketika bola sinar dua warna menghantam tubuh Ki Daraki yang terlindungi oleh perisai sinar merah. Tanah berhamburan tinggi ke angkasa. Sejenak pandangan para penonton terhalang oleh ledakan tanah yang dahsyat.


Kini, di dalam kawah besar yang tercipta, berdiri Ki Daraki tanpa pakaian lagi. Kondisinya mengenaskan dengan luka kulit pecah-pecah dan mengeluarkan darah segar. Tangan kirinya sudah tidak ada, putus entah ke mana. Rambutnya telah habis. Sepasang bola matanya hilang dan hanya mengeluarkan darah panas. Ki Daraki benar-benar bermandi darah.


Orang-orang yang masih bisa menyaksikan kondisi Ki Daraki karena penerangan rumah yang terbakar, mengerenyit ngeri.


Jika dibandingkan dengan Biksu Hitam yang mati hancur oleh ilmu Bola Dua Maut, menunjukkan bahwa Ki Daraki memiliki ilmu perisai yang lebih tinggi daripada Biksu Hitam.


Tirana yang mendarat dengan ringan di pinggir kawah, melangkah menghampiri Sedap Malu.


“Selesaikan!” kata Tirana kepada Sedap Malu seraya tersenyum.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang dan menimbang bahwa ia sedang terluka, Sedap Malu langsung berkelebat di udara dan melesatkan sinar biru dari ilmu Sentuhan Maut.


Sweet! Broack!


Sina biru Sedap Malu menghantam telak tubuh Ki Daraki yang berdiri sudah tidak berdaya. Tubuh Ki Daraki hancur dalam bentuk serpihan daging dan tulang yang mengerikan dan menjijikkan. Untung serpihan daging itu hanya berpencar dalam radius yang pendek.


“Hukr!” Sedap Malam yang baru mendarat di tanah kawah, menyemburkan darah segar melalui mulutnya. Ia jatuh berlutut.


“Sedap Malu!” seru Palang Segi terkejut. Ia segera berlari dan melompat mendapatkan Sedap Malu.


“Bawa kemari biar aku ringankan lukanya!” perintah Tirana yang sedang memperbaiki letak tubuh Kembang Buangi.


Palang Segi segera mengangkat tubuh Sedap Malam untuk membawanya kepada Tirana.


Di antara kerumunan warga Desa Wongawet, Bangirayu dan Asih Marang baru tiba di tempat itu. Keduanya segera berlari ke tempat Tirana berada.


Sementara Joko Tenang masih berdiri diam menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Ada yang Joko Tenang tunggu.


“Akhirnya keluar juga,” ucap Joko lirih.


Wess!


Di saat Tirana memberikan ilmu pengobatan Kecupan Malaikat kepada Sedap Malu, tiba-tiba satu bola api melesat begitu cepat menyerang Tirana dari belakang.


Slep!


Joko Tenang berkelebat cepat menghadang bola api itu di udara dengan punggungnya. Tidak ada apa-apa yang terjadi selain bola api itu lenyap masuk ke punggung rompi yang dikenakan oleh Joko.


Bumm!


Sesosok tubuh melambung tinggi di udara lalu mendarat keras di bumi, hingga-hingga tanah itu terguncang. Sosok itu tidak lain adalah Tetua Desa yang bernama Bajik Lungo. Cara datangnya seolah ingin menunjukkan bahwa betapa saktinya ia.


Joko Tenang maju ke hadapan Bajik Lungo yang kini menjadi orang tua sendirian di desa itu.


“Nafsu birahi ternyata membuatmu menjadi orang yang sangat keji, Tetua,” kata Joko Tenang.


“Hebat, ilmu perisai Daraki yang begitu kuat bisa dikalahkan,” puji Bajik Lungo.


“Sehebat apa pun kejahatan dan kekejian, akan ada waktunya musnah dari muka bumi ini,” kata Joko Tenang.


“Sepertinya ini akan menjadi pertarungan penentuan bagiku. Jika aku kalah, maka tidak akan ada nyawa tambahan bagiku. Jika aku menang, maka aku memang tidak terkalahkan,” kata Bajik Lungo.

__ADS_1


“Kau sudah tua, tetapi kau masih menebar bencana bagi manusia. Maka sepantasnya kau dihentikan dengan kematian!” tandas Joko Tenang.


Tiba-tiba Joko Tenang melesat maju kepada Bajik Lungo. Tinju kanannya telah ia bekali tenaga dalam tinggi. Bajik Lungo tersenyum sinis meremehkan. (RH)


__ADS_2