Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 24: Pertapa Gua Api


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


  


Di saat rombongan Permaisuri Sandaria, Permaisuri Kerling Sukma dan Senopati Batik Mida pergi menyantroni Hutan Malam Abadi, Permaisuri Nara pergi naik ke Gunung Prabu. Ia dikawal oleh Adipati Pangeran Kubur dan ketiga kepala desa, yaitu Setan Kesurupan, Tukang Tanam dan Bala Bala.


Ada dua puluh orang prajurit yang mengawal Permaisuri Nara. Mereka tidak memiliki fungsi bagi orang sakti seperti Permaisuri Nara, kecuali untuk formalitas.


Setan Kesurupan, Tukang Tanam dan Bala Bala berjalan beberapa tombak di depan sebagai penunjuk jalan. Adipati Pangeran Kubur berjalan di belakang Permaisuri Nara, tapi agak ke sisi kanan.


“Aku mengenalmu, Pangeran Kubur,” ujar Permaisuri Nara datar.


Mendelik sepasang mata tua Pangeran Kubur. Ada rasa terkejut di dalam hatinya meski ia tidak mengerti maksud Permaisuri Nara.


“Apa maksud, Yang Mulia? Aku tidak mengerti,” tanya Pangeran Kubur.


“Namamu yang sebenarnya adalah Banggarin,” kata Permaisuri Nara.


Terkejutlah Pangeran Kubur mendengar hal itu. Terlihat dari ekspresi wajahnya.


“Tepatnya Prabu Banggarin,” tambah Permaisuri Nara.


“Ba… bagaimana Yang Mulia Permaisuri bisa tahu?” tanya Adipati Pangeran Kubur.


“Aku adalah Dewi Mata Hati,” ungkap Permaisuri Nara.


“Apa?!” pekik Adipati Pangeran Kubur. Kali ini sangat jelas bahwa ia terkejut.


“Aku orang yang meminta Ki Ageng Kunsa Pari menolongmu di dalam kuburanmu. Aku rasa kau masih ingat peristiwa enam belas tahun yang lalu,” kata Permaisuri Nara. “Dan beruntungnya, kau masih bisa menemukan keturunanmu, Prabu Banggarin.”


“Keturunanku? Semua keluarga dan keturunanku telah dibunuh oleh orang-orangnya Menak Ujung,” kata Adipati Pangeran Kubur.


“Masih ada satu anak dari Raja Arta Pandewa yang tersisa,” kata Permaisuri Nara.


“Siapa?” tanya Adipati Pangeran Kubur cepat.


“Putri Wilasin. Dia kini ada di dalam perlindungan Prabu Dira,” kata Permaisuri Nara.

__ADS_1


“Aku berutang nyawa kepadamu, Yang Mulia Permaisuri,” ucap Adipati Pangeran Kubur yang pada masa lalunya dia adalah Prabu Banggarin, kakek dari Putri Wilasin alias Senandung Senja.


“Orang yang menyelamatkan nyawamu adalah Ki Ageng Kunsa Pari, aku hanya menyampaikan pesan kepadanya melalui seseorang. Dia tidak pernah tahu bahwa kabar tentang keadaanmu di dalam kubur berasal dari aku,” kata Permaisuri Nara. “Apakah kau masih memiliki niat untuk merebut tahta Baturaharja?”


“Awalnya aku sudah melupakannya. Kemudian aku melihat peluang jika aku bergabung dengan Sanggana Kecil. Dengan menjadi pejabat di Sanggana Kecil, aku bisa menyusun kekuatan lebih besar dalam beberapa tahun ke depan. Namun, kini Yang Mulia Permaisuri sudah tahu siapa aku sebenarnya. Maka, harapanku pun sirna saat ini,” kata Adipati Pangeran Kubur. “Apakah Gusti Prabu tahu tentang diriku sebenarnya?”


“Belum. Ada kemungkinan Gusti Prabu Dira akan menyerang Kerajaan Baturaharja. Namun, Gusti Prabu harus menyelesaikan dulu permasalahan cintanya. Setelah itu, ia akan mengurus hak Putri Wilasin sebagai pewaris tahta yang sah,” jelas Permaisuri Nara.


“Yang Mulia Permaisuri, kita sudah sampai!” kata Setan Kesurupan. Ia adalah seorang lelaki berkulit hitam berusia empat puluh tahun. Wajah hitamnya menjadi lebih hitam oleh cat warna hitam yang berpola seperti cap telapak tangan anak kecil. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Di sepasang betisnya ada melekat pisau besar yang bisa tinggal cabut.


Beberapa tombak di ketinggian, terlihat ada sebuah mulut gua berpola acak. Area depan mulut gua diterangi oleh cahaya matahari. Lebih dalam, terlihat agak gelap. Namun jauh lebih dalam, terlihat seperti ada cahaya penerangan api.


Clap!


Tiba-tiba Permaisuri Nara menghilang dari tempatnya begitu saja. Ia muncul tiba-tiba di depan seorang lelaki tua yang sedang duduk tenang bersila. Kedua matanya terpejam seperti orang yang tertidur. Rambut panjangnya yang putih terlihat awut-awutan, bahkan ada sarang laba-labanya. Pakaian putihnya lusuh berdebu. Bibir tuanya berwarna hitam.


Orang tua kurus itu duduk di lantai batu yang dikelilingi oleh lingkaran api setinggi betis, seolah-olah api itu memiliki bahan bakar yang tidak habis-habis.


Permaisuri Nara berdiri di luar lingkaran api.


Di dalam ruangan gua itu, ada juga kobaran api di beberapa sudut lantai gua, seolah api itu muncul sendiri dari dalam tanah.


“Iblis Takluk Arwah!” sebut Permaisuri Nara memanggil.


“Sepertinya aku pernah mendengar suara wanita ini,” ucap lelaki tua itu dengan suara yang berat dan serak.


“Bagaimana kau tidak mengenalku, kau dan aku adalah teman lama,” kata Permaisuri Nara.


Perlahan kelopak mata orang tua itu bergerak membuka sayu. Terangnya nyala api di sekelilingnya membuat sepasang matanya yang abu-abu terlihat jelas, seperti ada lapisan tipis yang kusam.


“Oh, kau, Nara. Kenapa kau terlihat begitu cantik, seperti seorang wanita bangsawan?” tanya orang tua yang Permaisuri Nara kenal dengan julukan Iblis Takluk Arwah. “Aku kecewa karena ketika bertemu denganmu kau masih semuda ini.”


“Kau menghilang hanya untuk menjadi orang tidak berguna dan tidak merugi. Apa yang kau mau diusia setua ini?” tanya Permaisuri Nara.


“Menikmati ketenangan dalam tapaku,” jawab Iblis Takluk Arwah.


“Jika hanya itu tujuan hidupmu, lebih baik kau mati sehingga tidak akan ada lagi yang mengganggu tapamu seperti saat ini,” kata Permaisuri Nara santai, seolah tidak takut jika orang tua kusut berdebu itu marah.

__ADS_1


“Aku tidak habis pikir kau bisa muncul tiba-tiba di sini, seakan-akan kau memang sudah tahu bahwa aku ada di sini,” kata Iblis Takluk Arwah sambil bergerak kaku untuk berdiri.


“Seseorang yang pernah melawanmu di sini menceritakan tentangmu….”


“Pasti Pangeran Kubur!” terka Iblis Takluk Arwah.


“Benar. Ketika dia menyebut pertapa sakti yang tidak mau diganggu, tapi tidak keluar untuk mengusik, aku yakin itu adalah kau. Selama ini aku hanya tahu kau bertapa di sebuah gua, tapi entah di gua mana. Aku juga tinggal di dekat daerah gunung ini,” kata Permaisuri Nara.


“Yang aku tahu kau tinggal di Jurang Patah Hati, Nara. Bagaimana mungkin kau bisa tinggal di daerah jauh ini?” tanya Iblis Takluk Arwah.


“Aku tinggal di istana utara gunung ini. Aku sekarang seorang permaisuri.”


“Apa? Permaisuri? Huahahak!” kejut Iblis Takluk Arwah lalu tertawa terbahak-bahak, tetapi tiba-tiba terhenti.


“Jangan menertawakanku!” kata Permaisuri Nara yang baru saja menotok tenggorokan Iblis Takluk Arwah tanpa menyentuhnya. “Dari pada kau bertapa dekil seperti mayat hidup, lebih baik kau bertapa di dalam istana dengan suasana yang sejuk diterpa angin telaga.”


Permaisuri Nara lalu mencabut totokannya pada leher Iblis Takluk Arwah.


“Jika kau sekarang menjadi permaisuri, apakah rajanya adalah Ki Ageng Kunsa Pari?” tanya Iblis Takluk Arwah, seolah tidak tersinggung dengan perbuatan Permaisuri Nara terhadap tenggorokannya.


“Bukan, tapi muridnya,” jawab Permaisuri Nara.


“Hah!” kejut Iblis Takluk Arwah. “Kau mulai suka bercanda rupanya.”


“Sejak kapan aku mulai suka bercanda dengan urusan asmara. Tapi kau jangan tanya apa alasanku bisa menikah dengan murid Kunsa Pari. Aku tidak mau berlama-lama, Lubuk Parut. Kerajaan Sanggana Kecil sudah menguasai wilayah Gunung Prabu ini. Aku berencana menghancurkan gua ini agar tidak ada petapa tua sepertimu tinggal di sini. Kau harus pinda bertapa di istanaku!” tandas Permaisuri Nara dengan menyebut nama asli Iblis Takluk Arwah.


“Dua puluh tahun lamanya aku tinggal di sini, tiba-tiba kau datang untuk mengusirku!” kata Iblis Takluk Arwah.


“Kau sudah tahu, jika aku sudah menginginkan sesuatu, maka tidak akan ada orang yang bisa mencegahnya. Aku beri pilihan terakhir. Bertapa di Istana Sanggana Kecil atau bertapa di penjara lumpur cacing?”


“Apa kau tahu kenapa ada banyak api di lantai?” tanya Iblis Takluk Arwah sambil berjalan melewati api begitu saja, tanpa takut dibakar.


“Di dalam lantai gua ini ada sumur minyak. Dan di dalam gua yang paling dalam aku mencium bau batu emas,” jawab Permaisuri Nara.


“Apa kau memang menginginkan itu semua?” tanya Iblis Takluk Arwah lagi.


“Awalnya aku tidak tahu tentang minyak dan batu emas itu. Aku memang berniat mengusirmu dari gua ini dan mengajakmu bertapa di istana. Aku baru tahu bahwa di dalam gua ini ada potensi alam yang kaya. Daripada kau menungguinya sampai tidak jelas waktunya, lebih baik kau serahkan kepada Kerajaan agar bisa dimanfaatkan dan menghasilkan kekayaan untuk biaya Kerajaan. Dengan demikian, kau pun bisa mati dengan bahagia karena menjadi orang yang berguna di akhir hayatmu!” tutur Permaisuri Nara.

__ADS_1


“Baiklah, Nara. Aku percaya kepadamu. Tapi ingat, tempat pertapaku harus senyaman mungkin!” kata Iblis Takluk Arwah akhirnya. Ia dan Dewi Mata Hati memang memiliki hubungan persahabatan masa lalu. (RH)


__ADS_2