Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
97. Joko Tenang Siuman


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


 


Su Rai dibawa ke Istana Tua untuk menghadap Putri Yuo Kai.


Bo Fei pergi menghadap junjungannya yang sedang duduk di sisi ranjang tempat Joko masih belum sadarkan diri. Sang putri hanya duduk terdiam menatap wajah Joko yang oleh Bo Fei telah dibersihkan dengan lap air hangat sebelum pergi menjemput Su Rai di ruang mayat. Bo Fei tidak bisa menerka apa yang ada di dalam pikiran Putri Yuo Kai, sebab sudah beberapa kali putrinya itu duduk terdiam di sisi ranjang menatapi wajah Joko.


“Hormat hamba, Yang Mulia,” ucap Bo Fei seraya menghormat membungkuk secukupnya.


Putri Yuo Kai tidak merespon, tetapi Bo Fei tahu bahwa putrinya mendengarnya.


“Su Rai, orang kepercayaan Ular Buta sudah datang,” lapor Bo Fei.


Putri Yuo Kai berdiri dari duduknya. Lalu ia menghadap kepada Bo Fei.


“Duduk dan jaga orang ini!” perintah Bo Fei.


“Baik, Yang Mulia,” ucap Bo Fei patuh.


Putri Yuo Kai melangkah pergi. Dua pelayannya, Mai Cui dan Yi Liun, segera mengikuti di belakang.


“Hormat hamba, Yang Mulia!” ucap Su Rai ketika melihat kedatangan sosok wanita cantik yang baru pertama kali ia temui itu. Ia menghormat dengan turun berlutut. Namun, ia sudah yakin bahwa wanita berpakaian mewah itu adalah Putri Tsun Yuo Kai.


“Bangunlah!” perintah Putri Yuo Kai.


Su Rai pun bergerak bangun berdiri.


“Kau tangan kanan Ular Buta?” tanya Putri Yuo Kai.


“Benar, Yang Mulia Putri.”


“Ular Buta menjanjikan ada informasi pagi ini. Apakah kau membawanya?”


“Iya.”


“Katakan!”


“Ada kelompok yang mengatasnamakan Jaringan Ular Tanah untuk menyerang rombongan, Yang Mulia Putri. Orang-orangku sedang mencari tahu pembelian drum minyak yang digunakan oleh para penyerang, termasuk melacak asal tato ular yang mereka miliki,” ujar Su Rai.


“Identitas orang-orang itu sama sekali tidak jelas. Aku curiga mereka berasal dari luar Ibu Kota. Aku meragukan jika mereka masuk ke Ibu Kota dengan identitas kelas atas. Tidak mungkin pula mereka masuk ke Ibu Kota dalam rombongan besar. Jika mereka masuk secara bergelombang, pasti semuanya memiliki tempat tujuan yang sama untuk berkumpul. Aku minta orang-orang Ular Tanah mencari tahu tentang kehadiran orang asing dalam jumlah besar di suatu tempat di dalam ibu kota ini.”


“Baik, Yang Mulia Putri.”


“Jaringan Ular Tanah tidak diketahui secara umum. Jika sengaja menggunakan nama itu untuk menargetkan Ular Tanah, artinya hanya kalian yang tahu banyak siapa kelompok yang bermaksud menghancurkan kelompok kalian.”


“Benar. Kami sedang mencoba meninjau kelompok-kelompok yang pernah berurusan darah dengan Jaringan Ular Tanah.”


“Aku selalu memantau perkembangan bisnis Ular Buta. Namun, serangan terhadapku jelas-jelas dari kelompok rahasia yang sangat yakin bahwa mereka tidak akan terungkap. Orang-orangku mungkin terbatas untuk mengumpulkan informasi. Aku tidak mau mengandalkan orang-orang kerajaan. Namun, permintaanku adalah, usahakan kerja orang-orangmu tidak diketahui oleh orang-orangnya Jenderal Mok Jueng.”

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia Putri.”


“Yi Liun!” panggil Putri Yuo Kai.


“Hamba, Yang Mulia,” jawab Yi Liun seraya mendekat ke hadapan Putri dan menghormat.


“Siapkan kereta kuda untuk mengantar Nona Su pulang!” perintah Putri Yuo Kai.


“Baik, Yang Mulia,” ucap Yi Liun patuh.


Yi Liun melangkah mundur beberapa tindak sambil membungkuk hormat, lalu berbalik pergi.


“Hamba undur diri, Yang Mulia Putri,” ucap Su Rai pula seraya menghormat.


Putri Yuo Kai mengangguk mengiyakan. Su Rai pun mundur beberapa langkah dalam posisi menghormat, lalu berbalik pergi mengikuti Yi Liun.


“Lapor, Yang Mulia Putri!” teriak Bo Fei seraya berlari lalu langsung menghormat di depan Putri Yuo Kai.


“Apakah orang itu sudah bangun?” terka Putri Yuo Kai.


“Benar, Yang Mulia!” jawab Bo Fei dengan nada agak tinggi.


Putri Yuo Kai segera berbalik pergi. Langkahnya cepat. Bo Fei dan Mai Cui juga bergegas mengikuti.


Namun, ketika mereka masuk ke kamar tempat Joko Tenang berada, mereka berhenti. Mereka melihat pemuda yang tidak sadarkan diri semalaman itu sedang duduk dengan kaki masih lurus berselonjor. Yang membuat mereka terkejut adalah borgol di kedua tangan dan kaki Joko sudah terpatahkan. Melihat hal itu, Putri Yuo Kai dan kedua hambanya langsung menerka bahwa Joko bisa berbahaya.


Kemunculan ketiga wanita cantik itu membuat Joko Tenang agak terkejut karena mereka datang dengan bergegas. Kemudian, Joko memandangi mereka dengan sedikit kerutkan kening.


Tersadarlah Putri Yuo Kai, Bo Fei dan Mai Cui bahwa orang yang jatuh dari langit itu ternyata berbahasa asing yang tidak pernah mereka dengar. Karenanya, Putri Yuo Kai tidak langsung menjawab. Ia sejenak berpikir. Lalu memutuskan untuk melangkah mendekat.


“Jangan mendekat!” kata Joko.


Namun, Putri Yuo Kai yang tidak paham arti perkataan Joko memilih tetap mendekat dengan tenang, tetapi waspada.


“Jangan mendekat!” seru Joko lebih keras sambil mengulurkan tangan kanannya dengan telapak terbuka lurus ke atas, memberi tanda agar Puri Yuo Kai berhenti mendekat.


Tanda itu membuat Putri Yuo Kai berhenti mendekat dalam jarak enam langkah dari ranjang.


“Apakah Tuan mengerti kata-kataku?” tanya Putri Yuo Kai akhirnya.


“Oh,” desah Joko saat mendengar bahasa yang asing di telinganya. Joko pun akhirnya menggeleng.


Putri Yuo Kai kembali maju dua langkah.


“Jangan mendekat!” seru Joko sambil melompat turun dari ranjang, menjaga jarak lebih dari tiga langkah dengan Putri Yuo Kai.


Tindakan menghindar Joko itu membuat Putri Yuo Kai agak heran.


“Aku tidak akan menyakitimu, tidak perlu takut,” kata Putri Yuo Kai sambil meletakkan kedua tangannya di belakang punggung.

__ADS_1


Ternyata gerakan Joko tadi membuat Bo Fei sudah tarik pedang, sehingga bilah tajamnya keluar dari sarang sepanjang sejengkal. Putri Yuo Kai memberi isyarat agar Bo Fei menutup kembali pedangnya.


Namun, Joko tidak menunjukkan wajah yang tampak bahwa ia waspada terhadap kemungkinan adanya serangan dari prajurit wanita itu. Joko justru tersenyum manis, terlalu manis untuk seorang wanita. Senyum itu tanpa diketahui oleh Joko, menyentuh hati-hati mereka.


“Senyumnya begitu memikat, apakah seperti itu orang penghuni langit?” membatin Putri Yuo Kai.


“Kalian...” kata Joko sambil menunjuk ketiga wanita itu satu per satu. Lalu kembali berkata sambil mengacungkan tiga jari tangannya, “Jangan mendekatiku kurang dari tiga langkah!”


“Lancang!” teriak Bo Fei marah sambil loloskan pedangnya. Ia marah karena Joko dengan tidak sopannya menunjuk wajah Putri Yuo Kai.


“Heit! Tunggu tunggu tunggu!” seru Joko merespon gerakan Bo Fei. Ia tersenyum kecil kepada Bo Fei karena ia yakin bahwa prajurit wanita itu salah paham sebab ia telah menunjuk mereka satu per satu.


“Tunggu, Bo Fei!” kata Putri Yuo Kai menirukan kata “tunggu” seperti yang diucapkan oleh Joko, meski terdengar kaku di telinga si pemuda berbibir merah.


“Aaah!” seru Joko seraya tersenyum lebar dan menunjuk Putri Yuo Kai, tapi tidak selancang yang pertama. Joko lalu menyebut kata “tunggu” dengan perlahan, “Tung... gu! Ja... ngan ma... rah!”


Joko mengipas-ngipaskan jari-jari kedua tangannya di depan perut dari atas ke bawah secara berulang dengan maksud berkata “pelan-pelan”. Lalu menggeleng berulang telapak tangan kanannya di depan dada memberi pesan “jangan”. Joko kemudian memberikan ekspresi wajah marah. Ujung-ujungnya ia kemudian tertawa rendah.


Tingkah Joko yang berujung tertawa itu membuat Putri Yuo Kai yang berkarakter dingin jadi tersenyum tipis. Cara Joko berusaha berkomunikasi ternilai lucu bagi sang putri.


“Masukkan pedangmu, Bo Fei! Jangan keluarkan lagi!” perintah Putri Yuo Kai agak keras. “Biarkan aku berbicara dengannya.”


“Baik, Yang Mulia Putri,” ucap Bo Fei patuh seraya menghormat. Ia lalu menyarungkan kembali pedangnya.


“Oh, ratu?” tanya Joko menerka. Penghormatan yang ditunjukkan Bo Fei dan penampilan Putri Yuo Kai yang mewah, membuat Joko menyangka bahwa wanita itu adalah seorang ratu. Kesimpulan itupun didorong karena sebelumnya Joko berurusan dengan dua orang ratu.


“Ratu,” Putri Yuo Kai meniru penyebutan Joko seraya menempelkan telapak tangannya di dada sejenak.


“Maafkan aku, Yang Mulia Ratu,” ucap Joko seraya turun berlutut satu kaki, sementara kedua tangan bertemu tegak di depan dahi.


Agak terkejut Putri Yuo Kai melihat cara menghormat Joko.


“Jika dia dewa, lalu kenapa menghormat kepadaku?” membatin Putri Yuo Kai. Lalu katanya kepada Joko sambil memberi isyarat gerakan jari, “Bangunlah!”


Joko pun bangkit berdiri tegak seraya tersenyum lagi, membuat jantung Putri Yuo Kai seperti meluncur jatuh dari ketinggian. Rasanya indah, tetapi membuat Putri Yuo Kai mengerenyit samar.


“Kenapa Ratu membelenggu tangan dan kakiku?” tanya Joko seraya menunjukkan kedua pergelangan tangannya dan menunjuk kedua kakinya, lalu menunjuk ke atas ranjang. Rongsokan borgol besi itu masih ada di atas ranjang.


“Kau jatuh dari langit yang menghancurkan Istana Haram milikku,” jawab Putri Yuo Kai yang memahami maksud bahasa isyarat Joko. Ia pun mencoba memberi isyarat gerak yang menerjemahkan kata-kata lisannya.


Joko Tenang terdiam, dia agak bingung memahami maksud penggambaran Putri Yuo Kai.


“Maksudnya, aku seperti hujan dari langit dan kau seperti bunga yang bermekaran?” tebak Joko yang justru membuat Putri Yuo Kai bingung menafsirkannya.


“Bo Fei!” panggil Putri Yuo Kai.


“Hamba, Yang Mulia Putri,” sahut Bo Fei.


“Panggil Sun Ming ke mari!”

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia.” (RH)


__ADS_2