Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 23: Tiga Cebol Aneh


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)* 


Para prajurit yang berjaga di kediaman Adipati Tambak Ruso, jelas lari tunggang langgang melihat serangan pasukan berkuda Gerombolan Kuda Biru. Sementara senja mulai merayap menuju gelap.


Namun, meski mereka melarikan diri, tetap saja mereka tidak selamat. Untuk membunuh, para pendekar itu tidak perlu dari jarak dekat. Ada yang membunuh dengan cara melesatkan ilmu kesaktian, ada yang dengan melesatkan senjata terbangnya, hingga dengan pukulan jarak jauh.


“Cepat pergi ke kakek kalian!” perintah Adipati Tambak Ruso kepada kedua anaknya, Arya Permana dan Kayuni Larasati. Kakak beradik itu sudah duduk di punggung kuda di pekarangan belakang.


“Bagaimana dengan Ayah?” tanya Arya Permana cemas.


“Mereka tidak akan membunuh Ayah. Mereka membutuhkan sesuatu dari Ayah, jadi mereka tidak akan membunuh Ayah!” kata Adipati Tambak Ruso. “Cepat pergi!”


“Heah! Heah!” gebah Arya Permana kepada kudanya yang langsung berlari ke luar lewat pintu pekarangan belakang.


“Heah! Heah!” gebah Kayuni Larasati pula menyusul kakaknya.


Mereka berdua pergi dengan berbekal pedang.


Adipati Tambak Ruso segera masuk ke bagian dapur di dalam rumahnya. Ia sudah mendengar suara para prajuritnya dibunuhi di halaman depan.


Adipati Tambak Ruso berjongkok di sudut dapur. Di sana ia membuka sebuah pintu papan yang ada di lantai dapur. Pintu itu tidak ia angkat penuh, hanya sedikit.


“Nyai, pokoknya tunggu sampai aku membuka pintu ini lagi!” kata Adipati Tambak Ruso kepada seseorang yang ada di dalam ruangan bawah tanah yang gelap tanpa cahaya.


“Iya, Kakang! Hati-hati, Kakang!” sahut satu suara perempuan dari ruangan bawah tanah itu.


“Iya.”


Adipati Tambak Ruso lalu menutup rapat pintu lantai itu. Ia lalu menggeser sejumlah barang hingga menumpuk menutupi pintu.


Selanjutnya, Adipati Tambak Ruso melangkah ke ruangan depan.


Brak!


Pintu utama rumah didobrak hingga lepas dari engsel kayunya. Ternyata yang mendobrak adalah seekor kuda. Kuda itu ditunggangi oleh Renggong Walu yang berjuluk Celurit Kembar.


Melihat rumahnya didobrak, Adipati Tambak Ruso berdiri tenang dengan keris sudah terpegang di tangan kirinya.


Daripada membawa kudanya masuk ke rumah, Renggong Walu memilih turun dan membiarkan hewan itu.


“Adipati Tambak Ruso!” sebut Renggong Walu sambil melangkah masuk.


Renggong Walu mengabaikan sang adipati. Ia memilih membuka pintu kamar yang ada dan melongok untuk melihat apakah ada orang di dalamnya.


Lima orang anak buah Renggong Walu datang masuk pula ke dalam rumah. Mereka memeriksa setiap ruangan tanpa mengganggu Adipati Tambak Ruso sedikit pun.


Sementara itu, agak jauh dari rumah Adipati, Arya Permana dan Kayuni Larasati melaju kencang untuk meninggalkan kadipaten. Mereka harus pergi ke Padepokan Hati Putih untuk menemui kakek mereka, yaitu Resi Tambak Boyo.


Sest! Bluar!


Tiba-tiba saja, dari satu arah melesat sebuah benda yang menghantam sebatang pohon di pinggir jalan. Batang pohon itu hancur, membuat batang atasnya tumbang melintang ke tengah jalan.


Apesnya bagi kakak beradik itu, batang pohon itu jatuh tepat di depan laju kuda mereka. Kedua kuda seketika mengerem mendadak dan menjadi liar karena ketakutan. Arya Permana dan Kayuni Larasati terlempar jatuh dari punggung kuda.


Sest sets sets…!

__ADS_1


Ctar ctar ctar…!


Seiring berkelebatnya sesosok tubuh anak kecil berpakaian merah menyala, batu-batu kecil berlesatan beruntun menimpuki Arya Permana dan Kayuni Larasati. Keduanya yang belum tegak berdiri dari jatuhnya, cepat bergerak melompat ke sana dan ke mari menghindari batu-batu yang bersusulan itu.


Setiap batu itu menghantam sesuatu, apakah tanah atau benda apa pun, pasti menimbulkan ledakan. Padahal batu-batu itu adalah bebatuan biasa yang besarnya bisa digenggam.


Ada satu batu yang tidak bisa dihindari oleh Kayuni, kecuali ia tangkis dengan warangka pedangnya. Ledakan pun terjadi di depan tubuh Kayuni.


“Kayuniii!” teriak Arya Permana terkejut bukan main melihat adiknya terpental akibat ledakan itu. Ia cepat berlari mendapati adiknya.


“Aakk!” jerit Kayuni menggeliat di tanah dengan tangan kanan terluka parah. Pedangnya telah hancur dalam ledakan tadi.


Di seberang batang pohon yang melintang di tengah jalan, tampak anak kecil berbaju merah sedang memunguti batu. Ketika ia mendapatkan beberapa batu jalanan, ia segera memandang ke arah Arya Permana dan Kayuni Larasati.


Ternyata orang berbaju merah menyala itu bukanlah seorang anak kecil, tetapi seorang lelaki cebol berjenggot.


Sets!


Ctar!


Lelaki pendek berjenggot itu kembali menimpuk ke arah Kayuni dan Arya Permana. Namun, tiba-tiba berkelebat melintas seorang lelaki sambil menghantamkan bumbung bambunya ke batu yang melesat. Ledakan terjadi yang membuat lelaki berpakaian biru lusuh itu terpental, tetapi masih bisa mendarat.


“Cepat selamatkan Kayuni, Kisanak!” teriak lelaki yang baru datang itu.


“Surya!” sebut Kayuni yang segera mengenali orang itu.


Pemuda berbumbung tuak itu adalah Surya Kasyara. Terlihat kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya, saat dia meninggalkan kakak seperguruannya seorang diri.


Arya Permana cepat mengangkat tubuh adiknya, lalu membawanya berkelebat kepada kuda yang posisinya cukup jauh.


Surya Kasyara ikut memungut beberapa bebatuan. Batu-batu itu lalu ia lempar dengan tenaga dalam kepada si lelaki cebol. Sambil melompat-lompat menghindari batu-batu lemparan Surya Kasyara, lelaki cebol balas melesatkan batu-batunya.


Dengan gaya mabuknya, Surya Kasyara cukup meliuk-liukkan tubuh atasnya mengelaki setiap batu. Ketiga batu yang menyerang Surya Kasyara berledakan jauh di belakang ketika menghantam tanah.


Sementara itu, Arya Permana pergi berlalu meninggalkan tempat itu dan Surya Kasyara seorang diri menghadapi si cebol.


Surya Kasyara lalu berkelebat melewati batang pohon yang tumbang.


Wuss!


Tiba-tiba dari arah lain menderu satu angin tenaga dalam yang menggulung tubuh Surya Kasyara dan melemparkannya ke samping, bahkan menghantam batang pohon lain.


“Hahahak!” Lelaki cebol itu tertawa keras melihat Surya Kasyara terhempas.


“Buntet! Kenapa itu tadi dibiarkan lolos?!” bentak satu suara perempuan cempreng, seiring berkelebatnya sesosok orang cebol lain, tetapi kali ini adalah seorang wanita. Ia mengenakan pakaian warna kuning.


“Aaah! Tidak apa-apa, toh mereka pasti mau pergi ke Padepokan Hati Putih. Di sana ada Setan Empat Penjuru dan lainnya,” jawab lelaki cebol yang disebut Buntet. Lalu tanyanya kepada pasangannya itu, “Bintit, orang mabuk ini perlu dikeroyok atau cukup kau saja yang membunuhnya?”


“Serahkan kepada Buntut,” jawab perempuan cebol yang bernama Bintit.


“Ada apa?” tanya satu suara sumbang lelaki jenis bass, tidak pakai kom.


Dari balik batang pohon besar, keluar seorang lelaki tinggi besar berperut gendut. Besarnya lebih dari pada tubuh Tiga Algojo Besi. Lelaki seperti anak raksasa itu berjalan sambil membenarkan ikat pinggangnya. Sepertinya dia baru selesai pipis di balik pohon, sebab ada bagian celananya yang basah dan ada sedikit bau-bau pesing. Lelaki besar itu berbaju putih lusuh dan bercelana hijau gombrong. Dialah yang bernama Buntut. Meski Buntut bertubuh anak raksasa, tetapi dia adalah bagian dari Tiga Cebol Aneh.


“Buntut, urus bocah mabuk itu!” perintah Buntet.

__ADS_1


“Hahaha! Gampang, begitu saja kok susah!” kata Buntut yang didahului dengan tawa sumbangnya.


Sementara itu, Surya Kasyara yang tidak menyangka akan berhadapan lagi dengan tiga orang, sudah siap sedia.


“Minggir!” kata Buntut sambil maju, sementara dua tangannya dengan seenaknya menarik kepala kedua orang cebol itu ke belakang.


Buntut lalu mengangkat tangan kanannya dengan tiga jari tengah berdiri bebas, jari kelingking dan jempol menekuk.


Untuk menenangkan dirinya, Surya Kasyara meneguk tuak dari bumbungnya.


Setelah meninggalkan pertarungan dengan Tiga Algojo Besi, Surya Kasyara pergi menerobos sebuah kedai yang sedang terbakar untuk mencari tuak yang bisa ia selamatkan. Ternyata dapat. Tuak-tuak itu lalu dituang ke dalam bumbung. Maka otomatis tuak itu akan berubah menjadi berkhasiat. Karenanya, meski tidak sembuh total dari luka dalamnya, Surya Kasyara kini bisa bertarung kembali.


Surya Kasyara merasa senang karena niatnya untuk menolong Kayuni Larasati terwujud. Namun, ia tidak menyangka situasi yang kini dihadapainya.


Buntut tersenyum menyeringai kepada Surya Kasyara.


Sets! Das!


“Hukr!”


Buntut kemudian mencakar udara di depannya dengan tiga jarinya, dari atas miring ke bawah. Saat itu juga, di udara muncul tiga kiblatan sinar biru dengan sasaran tiga garis.


Surya Kasyara tidak menyangka serangan lawan akan serumit itu. Kiblatan sinar biru itu mengincar bawah, tengah, dan atas. Sulit bagi Surya Kasyara menghindari ilmu yang bernama Sayatan Tiga Kuku itu. Terpaksa ia memposisikan lompatan tubuhnya agar hanya terkena satu sinar. Ia jadikan bumbung saktinya sebagai tameng.


Akibatnya, Surya Kasyara terpental jauh ke belakang dengan mulut menyemburkan darah kental.


“Giliran aku yang membunuhnya!” teriak Buntet sambil berkelebat maju mengejar posisi Surya Kasyara.


Sets sets! Wess!


Ctar ctar!


Dua batu Buntet lesatkan untuk menghabisi nyawa Surya Kasyara yang kondisinya tergeletak terluka parah.


Namun, tiba-tiba satu lintasan bayangan biru gelap lewat begitu saja menyambar tubuh Surya Kasyara. Bersamaan dengan itu, sosok Surya Kasyara hilang dari tempatnya yang kemudian diledakkan oleh dua batu lemparan Buntet.


Buntet hanya bisa terkejut, ia tidak begitu jelas melihat sosok yang membawa pergi Surya Kasyara. Terlalu cepat.


Sementara itu di tempat lain.


Rara Sutri baru saja membunuh Sakare, orang terakhir dari Tiga Algojo Besi. Sakare tewas oleh tusukan cemeti Rara Sutri yang bisa berubah tegang sekuat besi. Cemeti yang berubah seperti tongkat itu menusuk dada Sakare, tetap di posisi jantung.


Namun, Rara Sutri harus terkejut. Kini ia dikepung oleh dua belas orang pendekar anggota Gerombolan Kuda Biru.


“Mati aku!” rutuk Rara Sutri. Ketika ia dikeroyok oleh Kusuma Dewi dan kesepuluh anak buahnya, ia nyaris mati, apalagi kini.


“Lompat sekarang!”


Rara Sutri terkejut ketika di dalam benaknya ia mendengar suara perintah seorang lelaki tua. Perintah itupun seolah mengandung kekuatan yang mendorongnya untuk melompat.


Akhirnya Rara Sutri melompat ke udara.


Buumm!


Bersamaan dengan melompatnya Rara Sutri lurus ke udara, dari atas langit tiba-tiba melesat turun menukik sesosok tubuh.

__ADS_1


Entah dari mana datangnya, sosok lelaki tua tahu-tahu turun cepat ke tanah di tengah-tengah kepungan para pendekar. Mendaratnya kedua kaki si kakek menciptakan gelombang dahsyat ke segala arah.


Kedua belas pendekar yang mengepung itu berpentalan ke belakang. Selanjutnya, kakek yang adalah Tabib Rakitanjamu itu, menghilang begitu saja. Pada saat yang sama, tubuh Rara Sutri yang masih ada di udara juga hilang. (RH)


__ADS_2