Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
79. Penyusupan Puspa


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


 


Sosok berpakaian abu-abu yang kotor dan robek-robek itu adalah wanita. Meski robek-robek, tetapi tidak memperlihatkan kulit tubuhnya karena pakaiannya berlapis-lapis. Rambutnya yang panjang semrawutan juga kotor oleh tanah dan debu. Wajahnya terlihat menyeramkan karena tertutupi lapisan lumpur kering dan ada lumuran darah di bibirnya. Di tangan kanannya tergenggam potongan badan ular mati sebesar genggaman. Terlihat jelas kuku-kuku jari tangannya panjang-panjang dan berwarna hitam pekat oleh kotoran. Wanita kotor ini bernama Puspa.


Ia berjalan sambil pandangannya liar memandang ke kanan dan ke kiri, seolah takut jika ada orang lain yang melihatnya berada di dekat tembok tinggi itu. Mulutnya terus mengunyah daging ular mentah di mulutnya.


Tembok yang ia datangi berdiri panjang dan tinggi. Jalang kembali menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang melihatnya.


Selanjutnya, ia melompat memanjati pohon seperti seekor monyet. Begitu lincah dan cepat. Ketika sampai di batang yang tinggi, Jalang berlari di salah satu dahan besarnya dan melompat jauh melampaui ketinggian tembok lalu turun di tanah di balik tembok.


“Hihihi!” Puspa terkikik sendiri setelah berhasil mendarat dengan damai di balik tembok. Namun, ia cepat melompat laksana seekor kucing ke balik semak belukar saat ada empat prajurit berseragam hitam bertombak panjang muncul di sisi lain. Kepala mereka diikat dengan pita merah.


Keempat prajurit yang berpatroli itu berlalu begitu saja tanpa ada kecurigaan sedikit pun.


“Hihihi!” Puspa kembali terkekeh sambil keluar dari semak belukar. Ia lalu berlari seperti maling menuju tembok bangunan batu lalu melompat naik ke atas atap dengan mudahnya.


Dia berlari santai seperti kucing berjalan di atas genting lalu melompat ke atap bangunan lainnya. Ketika ada patroli prajurit, Puspa berhenti dan merunduk agar tidak terlihat dari bawah. Setelah aman, ia kembali berlari-lari di atas atap lalu tiba-tiba melesat laksana anak panah dan mendarat di sebuah pohon yang tidak jauh dari gapura yang menuju ke bangunan utama Istana Tabir Angin.


Di gapura itu ada enam prajurit yang berjaga. Mereka tidak melihat terbangnya Puspa ke atas pohon.


“Eh, si Kucing Hutan,” ucap Puspa seraya tersenyum, saat melihat kemunculan seorang pemuda berambut lurus panjang.


Pemuda bertubuh gagah itu memiliki rupa seperti wanita. Selain rambutnya yang lurus gondrong, bibirnya berwarna merah seperti memakai gincu. Kepalanya diikat dengan pita putih yang kedua ujungnya menjuntai di belakang punggung. Baju putihnya dilapisi oleh rompi berwarna merah. Ia adalah Joko Tenang, pemuda yang Jalang sebut sebagai Kucing Hutan.


Joko Tenang bersama dua orang wanita cantik yang berjalan lima langkah di belakangnya.


Gadis pertama adalah seorang wanita muda. Wajah putih cantiknya dari jauh sudah terlihat indah dan sejuk dipandang. Pakaian berwarna kuning dan putih. Ada kalung perak menghias leher putihnya. Rambut hitam panjangnya ditata rapi dan cantik dengan balutan pita kuning kecil-kecil. Ia adalah Tirana yang berjuluk Gadis Penjaga. Ia adalah calon istri Joko Tenang.


Gadis kedua juga seorang muda nan jelita, kecantikannya bisa diadu dengan kecantikan Tirana. Jika seorang lelaki pertama kali melihat parasnya, mungkin akan mengumpamakannya sebagai bidadari. Rambutnya terurai hitam agak ikal. Ia mengenakan pakaian merah terang yang cantik dengan sabuk berwarna hitam berhias sulaman perak, membuatnya seperti bunga yang segar nan mekar. Ia adalah Ginari, julukannya Pendekar Tikus Langit. Ia telah resmi sebagai calon istri kedua Joko Tenang.


“Kucing Hutan!” teriak Puspa memanggil dari atas pohon.


Panggilan itu membuat Joko dan kedua calon istrinya berhenti. Mereka langsung mencari sumber suara. Setelah mencari sejenak, Puspa akhirnya ditemukan.


“Di atas pohon,” kata Ginari yang pertama melihat keberadaan Jalang.


Melihat keberadaan Puspa, Joko Tenang tersenyum.


“Kalian tunggu di sini,” kata Joko kepada kedua wanitanya.

__ADS_1


Joko pergi mendekati pohon besar tempat Puspa masih bertengger.


“Turunlah, Puspa! Sedang apa kau di sana?” seru Joko seraya tersenyum.


“Nanti Puspa ditangkap oleh Getara Cinta,” kata Puspa sambil memandang jauh ke dalam kawasan Istana Tabir Angin.


“Tidak akan, Ratu Getara Cinta sedang sakit,” kata Joko.


“Hah! Sakit?” kejut Puspa. Matanya mendelik.


Ia lalu turun jatuh lurus seperti setumpuk kapas ringannya. Ketika kakinya mendarat, hanya sedikit debu yang berterbangan. Halus.


“Apakah benar Getara Cinta itu sedang sakit?” tanya Puspa sambil melangkah mendekati Joko.


Joko spontan mundur menjaga jarak dari Puspa hingga empat langkah.


“Benar. Ia pun terancam akan mati,” jawab Joko.


“Hah! Mati?” ucap Puspa terkejut lagi.


“Bukankah kau senang jika Ratu Getara mati?” tanya Joko, maksudnya untuk memancing reaksi wanita liar itu.


“Heh, Puspa tidak pernah menginginkan Getara Cinta mati!” kelit Puspa cepat. “Dia saja yang mau menangkap Puspa.”


“Hah!” Puspa kembali terkejut. “Puspa, Puspa tidak pernah mau membunuh Getara Cinta, dia anak paman Puspa. Bagaimana bisa Puspa yang akan membuatnya mati?”


Puspa tampak agak panik dituding sebagai penyebab Ratu Getara Cinta akan mati. Ia lalu lebih mendekat kepada Joko. Pemuda itu seketika refleks menjauh untuk menjaga jarak dengan Puspa.


“Hihihik!” tertawalah Puspa melihat tindakan Joko. “Kucing Hutan masih takut kepada Puspa. Hihihik!”


Setelah tertawa seperti itu, Puspa dengan begitu saja menggigit ular di tangannya lalu membuang sisanya begitu saja.


“Heh, bagaimana bisa Puspa yang membuat mati Getara Cinta?!” bentak Puspa mendelik kepada Joko.


“Karena Puspa tidak mau menyembuhkan Ratu Getara,” jawab Joko.


“Dasar Kucing Hutan!” maki Puspa. “Siapa yang mengatakan Puspa tidak mau menyembuhkan Getara Cinta? Biar Puspa cabik-cabik tubuhnya!”


“Berarti kau mau menyembuhkan Ratu Getara?” tanya Joko.


“Puspa mau,” jawab Puspa cepat. Namun kemudian ragu. “Tapi....”

__ADS_1


“Tapi kenapa?” tanya Joko yang merasa sudah mulai bisa menggiring Puspa.


“Nanti kalau Getara Cinta sembuh, Puspa pasti ditangkap,” jawab Puspa merengut.


“Hahaha.” Joko tertawa pelan yang enak didengar.


“Apa yang lucu? Jalang tidak lucu,” kata Puspa merengut seram dengan wajah penuh lumpur kering.


“Kau tertipu.”


Puspa mendelik dengan mulut terbuka. Ia menatap tajam Joko, membuat Joko tertawa agak keras.


“Siapa yang berani menipu Puspa?!” tanya Puspa gusar.


“Tidak ada yang berani menipu Puspa, tetapi Puspa sendiri yang menipu diri sendiri,” kata Joko.


Terdiam Puspa. Ia berpikir sambil melihat ke langit.


“Bagaimana Kucing Hutan tahu?” tanya Puspa setengah berbisik sambil mendekati Joko lebih dekat.


Joko seketika mundur menjaga jarak, tetapi Puspa mendekat lagi. Joko mundur lagi. Puspa mendekat lagi. Joko pun mundur lagi.


“Hihihik!” Puspa tertawa sangat melihat tindakan pemuda tampan di depannya itu.


Tirana dan Ginari yang menyaksikan dari tempat berdiri mereka, hanya tersenyum-senyum melihat kejadian tersebut.


“Kucing Hutan, bagaimana kau tahu kalau Puspa menipu diri sendiri?” tanya Puspa lagi, tapi tidak mendekati Joko lagi kurang dari empat langkah.


“Selama ini kau menyangka Ratu Getara Cinta mau menangkapmu, tetapi sebenarnya Ratu Getara Cinta tidak pernah berniat menangkapmu. Jadi kau dihantui oleh hayalanmu sendiri, Puspa.”


“Kau tidak membohongi Puspa, Kucing Hutan?” tanya Puspa, masih curiga.


“Aku tidak akan berani membohongimu, kau pernah mengalahkanku di Sumur Juara,” kata Joko yang membuat Puspa tertawa kencang dan nyaring. Lalu katanya lagi kepada wanita kotor itu, “Ayo, sekarang kau ikut aku menemui Ratu Getara Cinta, dia sudah lama menunggumu. Dia menjanjikan sesuatu yang akan sangat menyenangkanmu jika kau bisa membuatnya sembuh,” ujar Joko.


“Benarkah?” tanya Puspa dengan wajah sumringah, ia terlihat senang. “Getara mau memberi Puspa apa?”


“Aku akan memberi tahu Puspa setelah kita mendapatkan permata obat sakit Ratu Getara,” jawab Joko.


“Kucing Hutan tidak tipu Puspa?” tanya Puspa.


“Tidak. Kucing Hutan berjanji!” tandas Joko sambil telunjuk kanannya menunjuk ke langit.

__ADS_1


“Ayo, Puspa mau bertemu Getara Cinta cepat-cepat!” ajak Puspa sambil berjalan lebih dulu menuju gapura. (RH)


__ADS_2