
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Akhirnya Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi tiba di Kuthanegara sebelum tengah hari. Mereka tiba lebih cepat dari perkiraan. Laksana angin berhenbus kencang, ketiganya melesat di tengah-tengah keramaian Kuthanegara.
Wuss!
Keok! Keok keok kokokok!
Arena sabung ayam jago yang sedang ramai di tengah ibu kota kerajaan itu tiba-tiba ambyar berantakan, saat ada angin sesuatu yang lewat begitu kencang. Ayam-ayam jago yang sedang diadu atau sedang dipegangi oleh majikannya, berlompatan ke udara terkena serangan panik. Mereka berkeok dan berkokok lalu berlari kocar-kacir meninggalkan arena pertarungan.
Sementara orang-orang yang mengerumuni arena sabung ayam dengan berjongkok atau berdiri, semuanya terjengkang oleh angin lesatan ketiga tubuh yang melintas.
“Apa tadi?” tanya seorang warga jago adu.
“Tidak tahu, sepertinya setan lewat,” sahut temannya.
“Ayam kita semuanya kabur. Ini pertanda bahwa angin kencang tadi adalah setan wilayah ini,” kata seorang warga lagi, sok tahu.
“Ciluk mbak kokok!” teriak seseorang yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka seperti setan, sambil berteriak bertujuan menakuti.
“Huaaa!” teriak para lelaki yang doyan adu ayam jago itu, saat melihat makhluk pendek berwajah tua muncul begitu saja di hadapan mereka.
“Setaaaan!” teriak mereka bersamaan, lalu balik kanan terus lari tunggang langgang pulang ke rumah masing-masing.
“Kok mereka tahu namaku, ya?” gumam orang cebol yang tidak lain adalah Siluman Mata Setan. Ia kini sendiri berada di tanah lapang itu.
Warga sekitar justru memandanginya dari jauh dan sembunyi-sembunyi. Tahu-tahu Siluman Mata Setan menghilang begitu saja, masuk ke alam gaib. Warga yang melihat itu semakin sawan merasa ketemu hantu di siang bolong.
“Ya tidak bisa begitu, Ki. Pokoknya aku minta semua buah salak yang aku beli diganti, aku rugi, hampir semuanya busuk!” protes seorang ibu gemuk yang berpinjung merah, memperlihatkan sebagian tubuh atasnya yang berlemak. Ia mengembalikan buah salak yang belum lama dibelinya karena menurutnya kebanyakan busuk.
Si penjual yang adalah seorang laki-laki kurus culas, merasa wanita itu membodohinya.
__ADS_1
“Salak yang aku jual bagus-bagus sebagus salak punyaku. Kenapa sekarang yang dipulangkan busuk-busuk? Kau ini mau menipuku ya?” tukas si penjual buah.
Keributan yang terjadi di pinggir pasar Kuthanegara itu menarik perhatian sejumlah warga ibu kota.
Wuss! Bruk!
“Hahaha...!”
Tiba-tiba ada angin kencang dan padat yang lewat begitu saja, menyenggol bokong si wanita yang agak membungkuk memegangi salak bawaannya. Senggolan dari sesuatu yang tidak jelas itu membuat si wanita terdorong jatuh ke depan, menimpa tubuh dan dagangan si aki-aki, bahkan wajah mereka sampai bertabrakan.
Warga sekitar yang menyaksikan pertengkaran mereka, akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Setelah melesat membelah Kuthanegara dengan kecepatan seperti setan, akhirnya Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi telah melihat gerbang benteng istana yang dijaga oleh sejumlah prajurit.
“Aku dan Kembang Buangi akan mendobrak masuk dari depan. Tirana, kau langsung masuk ke dalam dan temukan Ratu Getara!” seru Joko Tenang mengatur serangan mereka.
“Baik, Kakang!” sahut Tirana.
Bress!
Karena arahnya lurus dari depan, para prajurit bisa melihat dua sosok yang tidak jelas datang dari jauh, mendekat cepat ke arah mereka sedang berdiri.
“Apa itu?!” teriak seorang prajurit bertombak terkejut.
Seketika mereka berenam panik, karena tidak bisa memastikan dua makhluk apa yang datang mendekat. Namun, semakin dekat semakin bisa terbaca. Mereka bisa melihat seorang lelaki dan perempuan melesat cepat kepada mereka.
“Berhen...!” teriak seorang prajurit di antara mereka. Namun....
Sess! Bluarr!
Sebuah sinar hijau berbentuk bulan sabit telah melesat menghancurledakkan pintu gerbang tebal dari benteng istana itu.
Beberapa saat sebelumnya, di dalam istana.
__ADS_1
Pangeran Zulkar Nain dan Putri Alifa Homar sedang berjalan berdampingan menuju ke area kandang kuda. Sebanyak enam prajurit dan empat dayang mengikuti mereka di belakang.
“Kau tidak berniat bertemu dengan ratu dari Rimba Berbatu itu, Diajeng?” tanya Pangeran Zulkar Nain kepada adiknya.
“Untuk apa, Kangmas? Seharusnya dia dibunuh untuk membayar kematian Kangmas Serak Bayat, tetapi Ayahanda justru mau mempersuntingnya,” kata Putri Alifa Homar. “Aku curiga, masalah membawa ratu itu ke sini tidak selesai begitu saja. Aku yakin itu akan ada buntut panjangnya. Aku ingatkan kepada dirimu, Kangmas. Sekarang kau adalah calon pengganti Ayahanda, jadi jangan sembarangan terlibat masalah. Bisa-bisa justru Kangmas yang terbunuh.”
“Aku punya pendirian, meskipun aku adalah pangeran Tarumasaga, tapi aku tidak akan sembarangan terlibat dalam perselisihan tanpa jelas mengetahui duduk perkaranya,” kata Pangeran Zulkar Nain. “Sekarang Adipati Rumak Gulai sedang menghadap Ayahanda, melaporkan tentang perpindahan pemerintahan Kadipaten Rebaklaga. Aku tidak habis pikir dengan keputusan Ayahanda.”
“Aku sepaham denganmu, Kangmas. Ayahanda begitu tergila-gila dengan cinta masa lalunya sampai mengorbankan sebuah kadipaten. Aku tidak percaya jika orang jahat seperti Arjuna Tandang mau mengabdi di bawah Tarumasaga. Sekarang saja dia memiliki pasukan pedang yang hebat. Yang aku khawatirkan, suatu saat nanti dia akan memberontak dan justru menjadi ancaman bagi kekuasaan Tarumasaga,” tutur Putri Alifa Homar.
“Yang aku khawatirkan justru Mahapatih Yudi Mandala. Ayahanda begitu mempercayainya. Sekarang sebagian besar pejabat istana berpihak kepadanya, terlebih dia adalah orang yang paling sakti di Tarumasaga.”
“Aku sarankan kau mendekati putrinya. Dengan begitu, Mahapatih akan malu jika harus merebut kekuasaan milik menantunya sendiri,” kata Alifa Homar.
“Cinta itu tidak bisa direkayasa seperti itu, Diajeng. Aku memang bersahabat dengan Dewa Yuda, tetapi aku tidak tertarik kepada adiknya. Aku masih yakin bisa memikat hati Dewi Bayang Kematian,” kata Pangeran Zulkar Nain.
Mereka berdua akhirnya tiba di tempat kandang kuda yang luas. Di tempat itu, banyak sekali kuda dikandangkan. Tampak para pekerja sibuk dalam tugasnya masing-masing, mengurus kuda hingga membersihkan kandangnya.
Bluarr!
Namun, belum lagi keduanya tiba di kandang kuda mereka berdua, tiba-tiba satu suara ledakan besar terdengar mengejutkan. Bukan hanya setiap manusia yang ada di tempat itu, para kuda pun sempat terkejut, sehingga menimbulkan kepanikan sejenak di antara warga kuda.
Keterkejutan yang lebih besar menghinggapi Prabu Cokro Ningrat yang ada di balairung istana bersama sejumlah perwira dan pejabatnya. Namun, di antara mereka tidak ada Mahapatih Yudi Mandala, sebab ia mendapat izin dari Prabu Cokro Ningrat untuk beristirahat beberapa hari setelah kesuksesan misinya.
“Apa itu?” tanya Prabu Cokro Ningrat sambil berdiri memandang nun jauh ke luar balairung istana.
Para perwira dan pejabat yang duduk jadi ikut berdiri. Mereka juga memandang keluar lalu saling pandang sesamanya. Tidak ada yang bisa menjawab, karena memang tidak terlihat.
“Sepertinya ledakan itu berasal dari benteng istana, Yang Mulia Prabu,” kata seorang perwira berperawakan sedang tetapi gagah dengan otot tubuh yang ideal. Sejumlah perhiasan tanda kepangkatannya tersemat di pakaian dan tubuhnya. Perwira betelanjang dada dan bermata tajam itu adalah Patih Segoro Mukti. “Biar aku melihat apa yang terjadi, Yang Mulia Prabu.”
“Pergilah, cepat laporkan apa yang terjadi di sana!” perintah Prabu Cokro Ningrat.
Jarak antara gerbang benteng istana dengan balairung memang cukup jauh. Namun, kedahsyatan semua ilmu Joko Tenang yang telah meningkat karena pengaruh Permata Darah Suci, juga terdengar sampai ke telinga Ratu Getara Cinta di kamarnya.
__ADS_1
Sepasang mata sang ratu yang terpejam, membuka perlahan. Mendengar suara ledakan yang jauh itu, hal yang pertama terbayang dalam dugaannya adalah kedatangan Joko Tenang.
“Joko, apakah kau yang datang? Jika itu memang kau, berarti kita memang ditakdirkan bersama,” membatin Ratu Getara Cinta. (RH)