Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 8: Syarat Pernikahan


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*


Akhirnya mereka tiba di depan sebuah gubuk yang sederhana tapi terlihat masih baru. Hal itu bisa dilihat dari warna bambu dan atapnya yang masih segar. Itu adalah tempat yang pernah didatangi oleh Joko Tenang ketika ia ditugaskan mengembalikan sebuah keris pusaka milik Ki Ranggasewa alias Setan Genggam Jiwa.


Meski gubuknya berubah, tetapi yang lainnya tidak. Terlihat pintu gubuk terbuka yang menandakan bahwa penghuninya pasti ada.


“Ki Ranggasewa, apakah kau di dalam?!” teriak Joko memanggil.


“Apakah itu kau, Joko?” tanya seorang lelaki tua berusia delapan puluh tahun ke atas sambil berjalan tenang keluar dari dalam gubuknya. Meski usianya sudah sepuh, tetapi raganya masih seperti orang berusia empat puluh tahunan. Masih segar. Kulit wajahnya putih bersih dengan hiasan jenggot putih sedada yang terawat rapi. Rambut putihnya digelung di atas kepala dan diikat dengan pita kuning. Saat itu ia mengenakan pakaian putih-putih.


“Ya, aku datang Kembali, Ki,” jawab Joko.


Ki Ranggasewa dengan tatapan teduh memandangi ketiga wanita yang datang bersama Joko Tenang. Ia tidak melihat keberadaan Ginari, muridnya. Ki Ranggasewa hanya bisa menghempaskan napas dengan pelan.


“Di mana kau mengubur Ginari, Joko?” tanya Ki Ranggasewa datar, berusaha menerima kenyataan.


Beberapa waktu sebelumnya, Ki Ranggasewa bertandang ke kediaman Nyi Lampingiwa alias Nyi Pandang Ireng. Ia mendapat cerita tentang kondisi luka Ginari yang keracunan Pil Gerogot Jantung dan Kembang Buangi yang teracuni oleh Ajian Sayat Nyawa. Nyi Lampingiwa menyampaikan kepada Ki Ranggasewa bahwa kedua gadis itu mustahil bisa selamat dari kematian. Karenanya, Ki Ranggasewa sudah mempersiapkan diri menerima berita duka dari Joko.


“Sebaiknya kita bicara di dalam, Ki,” kata Joko Tenang.


“Mari masuk, Joko!” kata Ki Ranggasewa.


“Kalian bertiga tunggulah sejenak di balai-balai!” perintah Joko Tenang, karena ia tidak mungkin satu ruangan sempit dengan para gadisnya.


“Baik, Kakang,” kata Getara Cinta patuh.


Ketiganya lalu pergi duduk di balai-balai bambu baru yang ada di samping gubuk.


“Aku sudah mendengar berita duka kondisi Ginari dan aku sudah siap menerima kabar buruknya,” kata Ki Ranggasewa.


“Karena Ki Ranggasewa sudah bersiap, izinkan aku menceritakan duka ini sejenak,” kata Joko Tenang.


“Silakan,” kata Ki Ranggasewa datar.


Maka berceritalah Joko Tenang tentang Ginari dalam perjalanannya hingga bisa diselamatkan dari racun Pil Gerogot Jantung milik Nenek Kerdil Raga. Namun, pada akhirnya Ginari tetap menemui ajal oleh racun yang lain.

__ADS_1


Mendengar itu, Ki Ranggasewa hanya menggut-manggut pelan. Ia menyeka air mata tuanya yang hendak lolos ke pipinya.


“Ginari kami kubur di Bukit Gluguk, Ki.” Joko Tenang menarik napas dalam guna menekan gejolak sedih perasaannya. Lalu katanya lagi, “Kami sudah sepakat untuk menikah.”


“Kau harus sabar, Joko. Aku melihat kau membawa banyak wanita cantik.”


“Getara Cinta dan Tirana adalah calon istriku bersama Ginari. Aku berencana menikahi mereka secepatnya, tapi ternyata Ginari memiliki jalan hidup yang berbeda. Awalnya, aku berencana menikah di Bukit Gluguk, tetapi Guru ternyata harus pergi ke Kerajaan Sanggana untuk mengabdi,” tutur Joko Tenang. “Guru menyuruhku untuk menikah di kediaman  Ki Ranggasewa. Apa yang aku lakukan saat ini dalam rangka sebuah tugas besar demi dunia persilatan. Aku memiliki satu penyakit yang bernama Sifat Luluh Jantan….”


Maka mulailah Joko Tenang bercerita tentang penyakitnya yang berhubungan dengan wanita.


“Jadi kau adalah cicit Dewa Kematian?” tanya Ki Ranggasewa terkejut.


“Benar. Jadi, untuk menyembuhkan penyakitku dan meraih ilmu Delapan Dewi Bunga, aku harus secepatnya memiliki delapan istri. Aku harap, Ki Ranggasewa bermurah hari untuk mengizinkan aku menikahi Tirana dan Getara Cinta di sini.”


“Hehehe!” Ki Ranggasewa terkekeh kecil. “Kau beruntung besar, Joko. Delapan istri sakti akan kau miliki dan ilmu Delapan Dewi Bunga yang hanya dimiliki oleh Dewa Kematian akan kau kuasai. Namun, harganya pun tidak murah. Kau harus kehilangan seluruh kesaktianmu untuk sementara dan itu adalah kondisi yang sangat berbahaya. Baiklah, Joko. Aku dengan senang menjadikan tempat ini sebagai tempat menikahmu. Namun, aku minta syarat, Joko.”


“Apa, Ki?” tanya Joko cepat.


“Aku dan tokoh-tokoh aliran putih sedang dilanda masalah serius. Kini aku tidak lebih dari seorang tua biasa yang tidak memiliki kesaktian apa-apa….”


“Maksudmu, Ki?” tanya Joko cepat memotong.


“Bagaimana bisa, Ki?” tanya Joko serius.


“Kau ingat keris yang kau kembalikan kepadaku dulu?”


Joko Tenang mengangguk.


“Keris itu bernama Pusaka Serap Sakti. Ketika aku pulang dari Bukit Gluguk usai menemui gurumu, aku telah ditinggal mati oleh Pengemis Maling dan kehilangan Ginari. Selain itu, aku pun kehilangan keris itu. Pusaka Serap Sakti hilang dari tempat penyimpanannya di gubuk ini. Seseorang telah mencurinya. Hingga suatu hari, seseorang membokongku menggunakan keris itu. Maka lenyaplah seluruh kesaktianku.”


“Jadi, Pusaka Serap Sakti bisa melenyapkan seluruh kesaktian seseorang tanpa tersisa?” tanya Joko untuk memperjelas.


“Benar,” jawab Ki Ranggasewa.


“Sama dengan ilmu Putih Raga yang aku miliki,” ucap Joko.

__ADS_1


“Apa? Kau memiliki ilmu Putih Raga?” tanya Ki Ranggasewa terkejut.


“Benar, Ki.”


“Berarti kau juga memiliki ilmu Hijau Raga dan Merah Raga?” terka Ki Ranggasewa.


“Benar, Ki.”


“Apakah kau telah diangkat murid oleh Tiga Malaikat Kipas?” tanya Ki Ranggasewa lagi.


“Benar, Ki.”


“Hormatku kepadamu, Joko,” ucap Ki Ranggasewa sambil agak membungkuk dalam duduknya, sementara kedua telapak tangannya bertemu di depan dahi.


“Apa yang kau lakukan, Ki. Seharusnya aku yang menghormat kepadamu, bukan sebaliknya,” kata Joko Tenang terkejut.


Ki Ranggasewa hanya tersenyum setelah menghormat seperti itu.


“Tiga Malaikat Kipas adalah tokoh sakti legenda dunia persilatan yang menjadi gudang ilmu kesaktian. Dulu, di masa ketika aku, gurumu, Pangeran Tapak Tua dan tokoh-tokoh tua masih berusia muda, kami berebut berusaha mendapatkan ilmu dari Tiga Malaikat Kipas. Meski kami hanya mendapat satu ilmu dari mereka bertiga, mereka kami anggap sebagai guru besar kami. Kami sebagai sesama murid Malaikat Kipas, sangat saling menghormati. Terlebih kau mewarisi tiga ilmu sekaligus. Itu sungguh kepercayaan tinggi yang diberikan oleh Tiga Malaikat Kipas,” tutur Ki Ranggasewa.


“Lalu bagaimana dengan pusaka tadi, Ki?” tanya Joko Kembali ke pembahasan semula.


“Karena Pusaka Serap Sakti itu adalah milikku, jadi, jika pusaka itu disalahgunakan dan membahayakan banyak orang-orang sakti, khususnya tokoh aliran putih, tentunya aku menjadi sangat bersalah. Sebenarnya aku sudah menunggu-nunggu kedatanganmu untuk urusan ini, Joko. Kau adalah orang yang tepat untuk melumpuhkan pencuri pusaka itu. Aku yakin kepadamu karena kau memiliki ilmu Bayang-Bayang Malaikat dan Langkah Dewa Gaib. Kau pasti bisa melawan kesaktian pusaka itu tanpa tersentuh olehnya.”


“Baiklah, Ki. Aku akan menerima tugas ini,” kata Joko Tenang.


Ki Ranggasewa menghembuskan napas kelegaan.


“Akhirnya aku bisa tenang. Jika mati pun aku bisa pergi tanpa beban. Lagipula kita perlu mengundang beberapa orang untuk pelaksanaan pernikahan ini. Apakah kau ingin menikah hanya sekedar mengucap janji tanpa ada pesta?”


Joko Tenang tersenyum kecut mendengar perkataan terakhir Ki Ranggasewa.


“Calon istrimu akan menjadi istrimu untuk sepanjang hidupmu, Joko. Dia akan menjadi abdimu dan orang yang sangat mencintaimu dan akan menjadi ibu dari anak-anakmu kelak. Terlebih Getara Cinta adalah seorang ratu dan kau seorang pangeran. Alangkah baiknya jika kau melangsungkan pernikahanmu dengan sedikit meriah.”


“Tapi, kondisiku….”

__ADS_1


“Tidak perlu kau pikirkan itu, hehehe!” Ki Ranggasewa cepat memotong perkataan Joko. Lalu katanya lagi, “Kau urus pencuri Pusaka Serap Sakti, aku yang akan mengurus persiapan pernikahanmu.”


Joko Tenang tersenyum lebar tapi malu. Ia hanya mengangguk-angguk tanda sepakat. (RH)


__ADS_2