
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Sweerrss!
Puluhan sinar-sinar hijau berpola daun berlesatan mendahului jatuh tubuh Puspa. Dia langsung melepaskan ilmu ganasnya, Gerimis Hijau.
Semua yang melihat hal itu terkejut, baik yang tahu ataupun yang belum tahu seganas apa serangan pembunuh massal itu.
Joko Tenang refleks melesat menyambar pinggang Kembang Buangi dan membawanya dalam pelukannya, membuat gadis berkulit bayi itu tambah terkejut. Wajahnya sempat begitu dekat dengan wajah pemuda tampan yang selalu menolong nyawanya itu. Namun, kebersamaan mereka hanya sesaat tarikan napas, karena Joko Tenang telah melemparnya dari pelukan, sebelum pemuda itu berubah lemas tanpa tenaga.
Pangeran Zulkar Nain juga buru-buru berkelebat mundur menjauhi jangkauan hujan sinar hijau itu.
Blar blar blar...!
Puluhan ledakan dahsyat pun terjadi meriah tapi sangat mengerikan. Tubuh-tubuh para prajurit berhancuran seperti manusia kue yang dihancurkan oleh petasan. Para prajurit yang tidak terkena langsung, pun berpentalan terkena efek ledaknya.
Atap balairung dibuat hancur, membuat panik Prabu Cokro Ningrat, para pejabatnya dan prajurit yang berada di bawah atap. Mereka harus tertimpa reruntuhan atap.
Puspa, gadis cantik berpenampilan liar acak-acakan, mendarat ringan di antara para mayat prajurit. Gadis berkuku panjang itu tidak mempedulikan hasil dari perbuatannya. Dengan wajah mengerenyit marah dia berjalan cepat ke arah Joko.
“Ayam pingit kejebur lobang kuburan!” maki Puspa kepada Joko Tenang. “Kenapa Joko jelek meninggalkan Puspa, hah?! Puspa mencari keliling hutan sampai ke lobang ular, eh tidak tahunya di sini bersama ayam betina ini. Mana Getara, hah? Katanya mau beri Puspa hadiah. Eh, malah hilang sembunyi!”
Joko Tenang hanya tersenyum mendengar caci maki wanita sakti itu. Sementara Kembang Buangi yang belum akrab dengan Puspa, hanya mendelik disebut “ ayam betina”.
“Getara diculik oleh raja itu,” kata Joko seraya menunjuk ke dalam balairung yang atapnya rusak parah.
Puspa dengan wajah sangar tapi cantik, menengok ke belakang dan menatap serius ke dalam balairung. Tajam matanya menatap orang yang berpenampilan paling mewah di antara orang-orang yang dikurung oleh benteng para prajurit.
Sementara itu, Prabu Cokro Ningrat dilanda kemarahan memuncak menyaksikan para prajuritnya dibuat hancur dalam sekali gebrak. Pikiran dan batinnya sedang bergejolak dan bimbang untuk mengambil keputusan.
“Minggir kalian semua! Biar aku selesaikan urusan ini sendiri!” seru Prabu Cokro Ningrat akhirnya mengambil sikap.
“Tapi, Yang Mulia Prabu, mereka sangat berbahaya,” kata penasihat raja yang usianya sudah sepuh.
“Kalian tidak lihat, berlapis-lapis prajurit tidak ada apa-apanya bagi mereka? Aku tidak ingin maju setelah semua prajuritku habis!” teriak Prabu Cokro Ningrat.
Sementara itu, Pangeran Zulkar Nain semakin berpikir tujuh kali untuk ikut terlibat dalam urusan ayahandanya. Kemunculan Puspa dengan cara yang tidak biasa memberi alamat buruk bagi Tarumasaga.
__ADS_1
“Orang-orang sakti semacam apa mereka?” gumam Pangeran Zulkar Nain.
“Joko Ayam jangan kabur sembunyi dari Puspa, biar Puspa pukul bokong raja bau pasir itu!” ancam Puspa kepada Joko.
Ia lalu berjalan cepat menuju balairung. Beberapa prajurit yang selamat dari Gerimis Hijau tadi berusaha maju menusukkan tombak mereka secara bersamaan kepada Puspa.
Sret sret sret!
Dengan mudahnya Puspa mengelak sambil membabat potong tombak-tombak itu dengan kuku-kuku panjangnya yang membara kuning dan panasnya tidak terkira. Setelah itu, Puspa mencakari leher-leher dan dada para prajurit tersebut.
Para prajurit itu bertewasan dengan luka cakar yang dalam dan hangus. Mayat para prajurit itu sama kondisinya dengan mayat orang-orang Kelompok Pedang Angin di Hambur Angin, kondisi yang ditemui oleh Joko Tenang kemarin sore.
Tiba-tiba dari dalam balairung berkelebat sesosok tubuh, langsung memberikan terjangan bertenaga dalam tinggi kepada Puspa. Orang itu adalah Adipati Rumak Gulai. Darahnya mendidih melihat kebrutalan serangan orang-orang asing itu.
Crass!
Namun, naas bagi Adipati Rumak Gulai, pengabdiannya berumur pendek. Gesit Puspa mengelak tipis dari terjangan, sambil dua cakarannya menyambar leher dan perut sang adipati. Tak ayal lagi, pejabat itu jatuh dalam kondisi meregang nyawa.
“Minggir kalian semua!” teriak Prabu Cokro Ningrat keras. Sebagai orang yang berkesaktian, ia akan mempertaruhkan kehormatannya sebagai seorang raja jika harus berlindung di balik benteng raga para abdinya.
Perintah keras itu, seketika dipatuhi oleh para prajurit yang membentengi balairung dan raja bersama stafnya.
“Hihihi! Raja bau pasir, kau harus mati di tangan Puspa. Kau membunuh ayam-ayamku!” teriak Puspa kepada sang raja. “Puspalah ratu di Rimba Berbatu! Arrggk!”
Sweerrss!
Setelah meraung marah seperti hewan buas, Puspa menghentakkan sepasang lengannya, kembali melepas ilmu Gerimis Hijau. Puluhan sinar hijau berlesatan.
Jika Prabu Cokro Ningrat melindungi dirinya dengan ilmu perisai tidak kasat mata, maka para prajurit elit dan para pejabat dilanda kepanikan. Terlihat mereka berusaha berhamburan tergesa-gesa hingga saling tabrak dan berujung hancur terkena sinar-sinar hijau. Namun, tidak sedikit pula yang selamat dan memilih menjauh dari lokasi pertempuran.
“Puspa!” panggil satu suara wanita, tidak terlalu keras, tetapi membuat semua mata memandang ke sumber suara.
Di udara telah berkelebat lembut sosok Tirana yang membawa tubuh Ratu Getara Cinta pada kedua tangannya. Ia mendarat halus tidak jauh di depan Joko Tenang, seperti mendaratnya seorang Superman yang baru menyelamatkan kekasihnya.
“Hihihi! Tirana cantik datang!” sapa Puspa sambil tertawa senang.
“Biarkan Yang Mulia Ratu yang membunuhnya,” ujar Tirana kepada Puspa.
__ADS_1
“Tidak mau! Puspa yang harus mencabik-cabik raja bau pasir itu!” bantah Puspa.
“Jika Puspa yang melakukannya, Ratu akan membatalkan hadiah untuk Puspa,” ancam Tirana.
“Baik baik baik!” teriak Puspa dengan kesal. Wajahnya begitu masam dengan bibir mengerucut. “Tapi raja bau pasir itu harus mati!”
“Iya,” ucap Ratu Getara Cinta lemah.
Untuk sementara Puspa hanya berdiri menatap tajam kepada Prabu Cokro Ningrat. Ia menahan adrenalin semangat membunuhnya. Jika raja itu melakukan sesuatu, dia tidak akan segan-segan langsung membunuhnya.
Sementara itu, Joko Tenang melangkah menghampiri Ratu Getara Cinta dengan senyuman hangan nan lembutnya. Tatapannya pengirimkan pesan rasa sayang dan cinta kepada wanita yang tidak berdaya itu. Joko berhenti pada jarak empat langkah.
Joko Tenang kemudian mengeluarkan sebuah cincin bermata permata hijau bening.
Press!
Sejenak tangan Joko mengelurkan percikan sinar hijau menyilaukan, sedikit tenaga dari ilmu Surya Langit Jagad. Sinar itu membuat cincin emas lumer sehingga yang tersisa tinggal batu permatanya saja.
“Biar aku langsung yang menyuapi calon istriku,” kata Joko Tenang.
Ketika Joko menyebutnya “calon istriku”, muncul kebahagian yang tinggi menjulang di dalam hati Ratu Getara Cinta.
Demi menunjukkan rasa cintanya, Joko Tenang rela menjadi lemas untuk menyuapi langsung calon istri ketiganya.
Joko Tenang melangkah maju dengan membawa senyuman mesra dan nyawa kehidupan di tangan kanannya. Ratu Getara Cinta tersenyum bahagia lalu membuka sedikit kedua bibirnya yang pucat kering.
Dalam pembawaan yang tetap tenang, Joko langsung memasukkan Permata Darah Suci ke mulut Ratu Getara Cinta, sementara tangan kirinya membelai rambut wanita jelita itu.
Cara Joko Tenang itu memberi rasa kebahagiaan yang membuat Ratu Getar Cinta kembali merasakan rasa melayang-layang oleh cinta seorang lelaki.
Tirana yang masih menggendong sang ratu, hanya tersenyum lebar melihat cara Joko menunjukkan cinta dan sayangnnya.
Namun pada saat yang sama, Joko Tenang tiba-tiba jatuh berlutut satu kaki. Tenaganya dengan drastis melemah.
Melihat hal itu, Tirana segera mundur diri memberi jarak kepada Joko.
“Turunkan aku, Tirana!” pinta Ratu Getara Cinta.
__ADS_1
Tirana segera menurunkan tubuh Ratu Getara Cinta ke tanah.
Melihat proses penuh cinta itu, Prabu Cokro Ningrat benar-benar dibakar kemarahan dan rasa cemburu tingkat dewa. (RH)