
*Arak Kahyangan*
Joko memutuskan untuk berbalik. Kali ini ia memilih mengerahkan ilmu peringan tubuhnya untuk lebih cepat sampai ke pertigaan jalan sebelumnya lalu pergi ke utara.
Perjalanan bolak dan balik itu cukup menyita waktu Joko. Dalam waktu yang lebih singkat, Joko kembali tiba di pertigaan. Ia tidak berhenti. Ia terus melesat menyusuri jalan yang sepanjang sisi kanannya adalah dinding tinggi. Sementara matahari sore seakan semakin cepat terjun ke barat.
Tiba-tiba Joko berhenti. Perhatiannya tersita oleh satu benda yang bergerak di sela-sela bongkahan batu besar di daerah sebelah kiri. Jaraknya yang jauh dari pandangan membuat Joko menduga benda bergerak itu adalah hewan. Warnanya abu-abu.
Untuk memastikan apakah itu hewan atau manusia atau dedemit, Joko Tenang berkelebat dengan tenang mendekati benda itu. Joko berhenti di atas bongkahan batu sebesar gajah dewasa. Barulah Joko memastikan bahwa benda bergerak itu adalah punggung seorang manusia yang mengenakan pakaian abu-abu. Pakaiannya kotor dan robek-robek, tetapi tidak memperlihatkan kulit tubuhnya karena pakaiannya berlapis-lapis.
Sosok itu berjongkok di pojokan bawah batu. Rambutnya panjang semrawutan dan kotor oleh debu. Terdengar suara seperti dia sedang mengorek-ngorek tanah. Merperhatikan bentuk pinggulnya, Joko memastikan bahwa sosok yang belum terlihat wajahnya itu adalah perempuan.
“Nisanak!” panggil Joko agak ragu dari atas batu di belakang orang itu.
Namun, wanita itu bergeming, ia tetap khusyuk dengan pekerjaannya di bawah batu.
“Nisanak!” panggil Joko lagi. Kali ini intonasi suara ia tinggikan sedikit.
Setelah menunggu sejenak, jawaban atau reaksi tidak juga diberikan oleh wanita kumal itu.
“Nisanak!” panggil Joko keras.
“Arrr!”
Tiba-tiba wanita itu langsung menengok ke belakang sambil menggertak dengan wajah marah seperti seekor harimau yang mengancam mangsanya.
Joko agak terkejut dengan reaksi tiba-tiba itu. Wanita itu menunjukkan wajah marah dengan bibir dan gigi berlumur darah. Wajahnya tidak jelas oleh lumpur kering yang banyak mencoreng wajahnya. Satu tangannya memegang potongan badan ular yang sebagian sudah dimakannya. Terlihat kuku-kuku jarinya panjang runcing lagi hitam pekat. Sosok wanita itu begitu kotor dan kumal, juga menyeramkan. Ia menatap tajam kepada Joko seraya menyeringai. Ia lalu menggigit lagi potongan ular kecil di tangannya dan mengunyahnya.
Sosok wanita itu lalu berdiri dengan tetap menatap tajam Joko. Demikian pula ketika dia berjalan meninggalkan tempat berjongkoknya. Di bawah batu tempat ia berjongkok terlihat sebuah lubang tanah kering yang dikorek-korek. Tidak terlihat ada alat kayu atau besi yang digunakan untuk mengorek, itu menunjukkan bahwa wanita kotor itu menggali lubang dengan kukunya.
“Nisanak, tunggu!” panggil Joko lalu melompat turun dan menghadang wanita itu sejauh lima langkah.
“Gerrr!” Wanita itu menggeram seperti binatang sambil maju tiga langkah seolah hendak menyerang Joko.
Joko segera mundur pula tiga tindak. Tindakan Joko itu membuat ia terlihat seperti takut. Wanita itu berhenti menggeram dan menyeringai.
__ADS_1
“Iiih!” Tiba-tiba wanita itu berlari kepada Joko sambil menjulurkan tangannya yang memegang potongan ular, seperti mencoba menakuti Joko dengan bangkai ular itu.
Joko kembali melompat mundur naik ke atas bongkahan batu.
“Hihihik!”
Penghindaran Joko itu membuat wanita itu tertawa terkikik. Setelah tertawa sendiri, wanita itu melompat pula ke atas yang tinggi untuk mengejar Joko dan menakutinya dengan potongan ular.
Joko terpaksa melompat dari satu bongkahan batu ke bongkahan batu yang lain menghindari kejaran. Wanita tersebut terus tertawa sambil mengejar Joko.
“Berhenti, Nisanak!” seru Joko agak keras pada akhirnya, membuat wanita itu berhenti di atas batu yang lain.
“Kenapa? Takut ya sama ularnya Puspa?” tanya wanita itu dengan menyebut namanya, yaitu Puspa. Ia tertawa lagi, menilai Joko orang yang lucu.
“Tidak,” jawab Joko. “Aku takut kepadamu.”
“Heh! Sembarangan!” umpat Puspa. “Puspa cantik seperti ini kau takuti? Mata buta!”
Ingin Joko tertawa mendengar perkataan Puspa, tetapi ia tahan.
“Kenapa kau makan ular?” tanya Joko.
“Aku suka yang matang,” kata Joko dengan maksud menolak.
Blep!
Tiba-tiba dari tangan kanan Puspa yang memegang potongan ular keluar api menyala. Hebatnya, api itu tidak berwarna kuning, tetapi biru. Dalam waktu singkat, aroma daging bakar yang terasa nikmat sampai ke penciuman Joko. Api di tangan Puspa padam, tinggallah sepotong daging ular yang sudah matang.
“Puspa sudah buat matang,” kata Puspa sambil ulur tangannya dari jauh kepada Joko.
“Aku suka matang yang direbus,” kilah Joko.
“Eee,” dengung Puspa berpikir sambil garuk pipi kirinya, membuat kulit asli yang putih terlihat hanya tiga garis garukan. Lalu katanya, “Ya sudah kalau tidak mau, enaknya Puspa telan sendiri saja.”
“Aku mau pergi ke Kerajaan Tabir Angin, tapi aku tidak tahu arahnya,” ujar Joko.
__ADS_1
“Jahat, orang-orangnya jahat,” kata Puspa.
Joko sejenak terdiam. Sementara Puspa terus mengunyah makanannya.
“Kalau Kerajaan Hutan Kabut?” tanya Joko.
“Sangat jahat. Getara Cinta mau menangkap Puspa, Aswa Tara mau membunuh Puspa!” kata Puspa sedikit terdengar emosi.
“Kenapa kau mau ditangkap dan dibunuh?”
“Mereka takut kalau Puspa yang jadi ratu, hihihik!” jawab Puspa lalu tertawa.
“Kenapa kau bisa jadi ratu?” tanya Joko yang menangkap keanehan dalam perkataan Puspa. Puspa terdengar begitu akrab dalam menyebut dua penguasa di Rimba Berbatu itu.
“Hihihi! Rahasia, kau tidak boleh tahu!” kata Puspa.
“Meski ia terlihat gila, tetapi ia bisa mengerti perkataanku,” kata Joko dalam hati. Ia lalu bertanya kepada Puspa, “Bisakah kau membantuku? Sebab, hari sebentar lagi gelap.”
“Bantu apa? Tapi kau prajurit siapa?” tanya Puspa dengan tatapan tajam, curiga.
“Aku bukan prajurit Ratu Getara Cinta atau Ratu Aswa Tara. Aku mau menolong temanku yang ada di Kerajaan Tabir Angin,” jawab Joko.
“Temanmu ditangkap Getara Cinta? Dia memang jahat, suka menangkap orang. Kau harus cepat ke sana agar temanmu selamat,” kata Puspa. “Ikuti Puspa! Puspa akan mengantarmu sampai Lorong Hitam!”
Puspa langsung berkelebat ke arah utara. Lesatan tubuhnya cepat. Menunjukkan bahwa Puspa memiliki kesaktian yang tidak rendah. Ia menyusuri jalan di sepanjang tebing. Sementara Joko Tenang mengikuti di belakang.
“Puspa! Apakah jauh?” tanya Joko dari belakang.
“Heh! Kenapa kau tahu nama Puspa?” tanya Puspa sambil tetap melesat.
“Kau sendiri yang sebut namamu Puspa,” jawab Joko.
“Hihihi!” Puspa tertawa sendiri, seolah baru tersadar.
“Wanita itu waras tapi bodoh atau gilanya setengah-setengah?” membatin Joko.
__ADS_1
Setelah cukup lama melesat ke utara, Puspa berbelok. Ada celah tebing yang cukup lebar yang berbelok ke timur. Celah tebing itu seperti titik temu dua ujung tebing besar yang saling menghimpit. Masih ada cahaya matahari yang bisa menusuk masuk ke dalam ruang tebing sebagai penerangan.
Sementara itu, matahari telah mendekati punggung gunung di sisi barat. Sebentar lagi alam akan menggelap. (RH)