
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Indah.
Pemandangan di langit barat begitu indah dengan nuansa jingga bercampur semburat warna emas yang luas. Mentari senja telah menenggelamkan separuh tubuhnya, seolah terasa berat meninggalkan terangnya alam yang menuju kepada gelap.
Angin senja bertiup agak kencang, mengibar-ngibarkan rambut panjang kedua insan yang sedang diliputi rasa asmara pada seluruh persendian dan urat syarafnya. Sejuknya angin memperdalam cita rasa cinta yang telah matang oleh kerinduan, setelah bertahun-tahun ditanak oleh waktu.
Rindu yang dulu bercampur bumbu kegetiran, kini telah berbuah cinta dalam wujud nyata berselimut kebahagiaan yang seolah selalu ingin memeluk untuk selamanya.
Wajah yang sebelumnya hanyalah bayangan wujud dari kenangan belaka, kini telah nyata di depan mata, bukan sebuah mimpi atau sekedar halusinasi.
Rasa bahagia yang begitu tinggi bahkan mengundang air mata keharuan untuk hadir. Air mata yang mengalir di kala bibir tersenyum mekar.
Itulah yang Kerling Sukma rasakan. Air mata keharuan dan kebahagiaan tulus mengalir di saat Joko Tenang, pemuda berbibir merah yang selama ini hanya bisa ia rindukan, kini duduk tersenyum kepadanya.
Ingin rasanya Kerling Sukma memeluk kembali tubuh Joko Tenang dan mengulang kenangan memalukan yang pernah mereka alami. Namun, ia sadar bahwa Joko Tenang memiliki penyakit. Ia sudah cukup puas dengan kondisi indah saat ini.
Ia melihat remaja yang dulu lugu dan lucu itu kini telah dewasa dan sudah mengerti arti hubungan dengan lawan jenis. Bahkan kini pemuda lugu itu muncul dengan banyak wanita cantik dalam pelukan kedua lengannya.
Mungkin berbeda dengan Joko Tenang. Dulu ia memang lugu dan selalu lugu untuk urusan cinta terhadap perempuan. Karenanya ia tidak seperti Kerling Sukma yang selalu membayangkan dan merindukannya. Ia tidak begitu sering mengingat-ingat wanita yang pernah singgah dihatinya. Sebutlah nama Kusuma Dewi yang menjadi cinta pertamanya, Tembangi Mendayu adik Gadis Cadar Maut yang pertama kali memeluknya dengan erat dan menyatakan cintanya, dan Kerling Sukma sebagai wanita pertama yang mengajaknya menikah.
Hingga kemudian hadirlah Tirana yang secara perlahan mengajarkan rasa cinta dan keseriusan hubungan asmara langsung kepada tahap “suami-istri”. Puncak kedewasaan Joko Tenang sebagai seorang lelaki terjadi pada hari pernikahannya dengan Putri You Kai dan melalui “ranjang pertama” bersamanya. Meski tidak sampai kepada tahapan puncak letusan gunung birahi, tetapi Joko Tenang telah melalui hubungan pertamanya sebagai seorang suami, bukan sebagai lelaki mesum yang berhubungan di luar ikatan pernikahan.
Belajar dari pengalaman dan pengamalan bersama Tirana, Ginari, Putri You Kai, dan Getara Cinta, terbentuklah karakter cinta Joko Tenang. Karenanya ia bisa melihat segaris harapan dari tindak tanduk Putri Sri Rahayu ketika ia jujur menceritakan obsesinya tentang burung.
Kini, ia merasa sangat bersyukur ketika Kerling Sukma mengisahkan perjuangannya dalam menahan derita kerinduan demi menjaga kemurnian cintanya.
__ADS_1
Joko Tenang merasa, sudah sepatutnya ia menyambut bahagia cinta Kerling Sukma dan berharap gadis bermata hijau itu mau bersatu dalam lingkaran cinta Delapan Dewi Bunga.
Cukup lama mereka duduk berseberangan di atas dua dahan pohon randu yang menjulang tinggi di bukit itu. Mereka bebas menyaksikan keindahan langit senja di barat, memberi nuansa romantis yang kental di antara hati mereka berdua.
“Kenapa kau menangis, Sukma?” tanya Joko Tenang lembut berhias senyum mesranya.
“Aku terharu dan bahagia, Joko. Akhirnya aku bisa dengan nyata memandangmu, bisa berbicara denganmu, dan bisa menyentuhmu, bukan lagi hayalan atau harapan,” jawab Kerling Sukma.
“Kau mau menerimaku dengan segala kekuranganku? Aku lelaki yang terlemah di dunia,” tanya Joko.
“Seburuk apa pun dirimu, aku akan selalu menerimamu dan mencintaimu. Jika kau lemah, aku akan menjagamu. Dewi Mata Hati sudah menurunkan banyak ilmu saktinya kepadaku.”
“Tapi aku datang sebagai suami dan calon suami dari wanita lain,” kata Joko.
“Aku akan berusaha ikhlas, Joko. Aku justru cemburu dengan Tirana yang mau berbagi cinta dan kebahagiaan dengan wanita lain. Tidak akan aku putuskan benang-benang kenangan yang bertahun-tahun aku rajut hanya karena sekeping rasa cemburu dan mementingkan diri sendiri. Ke mana pun cintamu berlabuh, maka akan aku pastikan raga dan hatiku ada di sana juga,” ujar Kerling Sukma lembut dan dalam penuh makna.
“Ya, aku harus menikah denganmu, Joko. Kau tidak boleh menolaknya kali ini,” tandas Kerling Sukma dengan tatapan tajam tapi wajah sedikit merengut. Ia tidak mau seperti waktu di dasar jurang. Joko Tenang begitu menolaknya.
“Hahaha!” tertawa Joko mendengar kalimat akhir Kerling Sukma, mengingatkannya pada kenangan mereka berdua saat memanen buah cumir.
Akhrinya Kerling Sukma pun turut tertawa. Gembira sekali keduanya duduk santai di dahan panjang pohon randu dengan kesejukan dibelai angin senja.
“Kapan kau akan menikahiku, Joko?” tanya Kerling Sukma.
“Maafkan aku, Sukma. Aku terpaksa mengecewakanmu,” ucap Joko Tenang.
Tiba-tiba berubahlah warna wajah Kerling Sukma mendengar perkataan Joko. Ia tidak siap patah hati saat ini.
__ADS_1
“Kau jangan menyakitiku di saat aku sedang bahagia, Joko,” tukas Kerling Sukma agak sedih.
“Ini terpaksa aku lakukan. Berdasarkan upaya penyembuhan penyakitku dan untuk memenuhi syarat ilmu Delapan Dewi Bunga, aku harus menikah lebih dulu dengan Tirana. Aku tidak bisa menikah lebih dulu denganmu, Sukma,” ujar Joko lembut terkesan sedih.
Mendengar hal itu, Kerling Sukma yang awalnya siap sedih, jadi tersenyum lega. Ternyata bukan masalah yang begitu serius menurutnya.
“Aku rela mengalah, Joko. Meski aku yang lebih lama jadi burung pungguk yang merindukanmu, tetapi Tirana dan Ratu Getara yang lebih dulu menguasai hati dan cintamu. Namun, aku berharap kau bisa menikahiku secepat mungkin. Aku tidak mau kehilanganmu lagi, Joko,” kata Kerling Sukma.
“Rencananya kami akan menikah di kediaman Ki Ranggasewa, Setan Genggam Jiwa. Setelah menikahi Tirana, keesokannya aku akan menikahi Getara Cinta. Keesokannya lagi aku akan menikahimu,” kata Joko.
“Tapi aku mau menikah di Perguruan Tiga Tapak, di depan ibuku,” kata Kerling Sukma.
“Tidak masalah. Nanti kita bicarakan kembali dengan Tirana dan Getara,” kata Joko Tenang seraya tersenyum bahagia. Lalu katanya, “Terima kasih, Sukma.”
“Aku yang seharusnya berterima kasih Joko, kau masih mau memenuhi kemauanku yang memaksamu. Aku terlalu cinta kepadamu,” ujar Kerling Sukma.
“Jika kau terlalu cinta kepadaku, maka aku terlalu kejam jika aku juga tidak terlalu cinta kepadamu,” balas Joko, membuat gadis bermata hijau itu tertawa kecil.
Namun, tiba-tiba pandangan Kerling Sukma kepada Joko beruba warna, membuat Joko Tenang mendadak berhenti tersenyum karena curiga.
Clap!
Terkejut Joko Tenang. Kerling Sukma tahu-tahu menghilang bersamaan dengan tubuh Joko yang tiba-tiba jatuh ke belakang. Ternyata Kerling Sukma telah melompat cepat dan menerkam peluk tubuh calon suaminya.
Dalam kondisi Kerling Sukma memeluk erat Joko Tenang, tubuh keduanya jatuh melayang seperti kapas yang begitu ringan. Kerling Sukma menggunakan ilmu peringan tubuhnya untuk memperlambat jatuhnya.
Kerling Sukma tidak hanya memeluk Joko, tetapi ia benar-benar menerkamnya. Bibir Kerling Sukma “mengunyah” habis bibir merah Joko Tenang. Pemuda itu sempat gelagapan, tetapi kemudian pasrah seiring melemahnya seluruh tenaganya.
__ADS_1
“Aku ingin merasakan kembali kenangan kita saat di jaring perangkap itu,” bisik Kerling Sukma lembut di telinga Joko. Lalu ia kembali “menghabisi” bibir Joko Tenang yang masih tersisa utuh. (RH)