Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
86. Komandan Bu Ruong


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Tiga orang lelaki berpakaian serba hitam dan bertopeng kain hitam berlari cepat di atas atap bangunan. Dari satu atap bangunan lalu melompat ke atap bangunan yang lain. Sementara di bawah sana, berlari mengejar sepasukan prajurit Kerajaan Jang.


Ketiga lelaki berpakaian hitam itu membawa sebilah pedang. Mereka bertiga adalah sisa dari kelompok yang menyergap rombongan Putri Tutsi Yuo Kai di Jalan Liong Sue.


“Berpencar!” teriak orang yang merupakan pemimpin mereka.


Sudah tidak ada atap rumah atau bangunan lainnya yang bisa dilompati. Sementara di belakang mereka, muncul seorang perwira prajurit yang juga berlari di atas atap genting mengejar.


Mau tidak mau, ketiganya harus melompat turun ke tiga tempat yang berbeda.


Namun, lelaki ketua kelompok bernama Ha Fei itu bernasib kurang beruntung. Semendaratnya di jalan gang sempit, sekelompok prajurit berseragam biru-biru muncul dari salah satu ujung gang. Ha Fei cepat berbalik. Namun, jalan baginya untuk melarikan diri tertutup oleh komandan pasukan yang tadi mengejar di atas atap. Jika memilih menyerang para prajurit, sama saja bunuh diri. Prajurit itu berjumlah banyak seperti pasukan mau perang.


“Hiiaat!” teriak Ha Fei sambil berlari menyerang ke arah komandan prajurit yang bernama Bu Ruong, Komandan Naga Merah Tengah.


Bu Ruong langsung pula menghunus pedangnya menyambut kedatangan serangan Ha Fei.


Tang tang tang!


Bret! Buk!


Sejumlah benturan pedang terjadi. Ternyata Ha Fei seorang yang tangguh. Ia bisa membuat Bu Ruong bekerja keras untuk membuatnya tersudut dengan satu sabetan yang merobek kain pakaiannya pada bagian perut. Ha Fei terkejut karena nyaris perutnya turut robek. Namun, situasi itu juga yang membuat satu tendangan keras Bu Ruong berhasil masuk mengjejak dada Ha Fei.


Ha Fei terjengkang. Para prajurit bertombak yang sudah menunggu, serentak maju menusukkan tombaknya dan berhenti mengepung leher dan kepala Ha Fei.


Meski sudah tersandera oleh mata-mata tombak prajurit, Ha Fei tetap berusaha melawan dengan menggerakkan tangannya yang masih memegang pedang.


Set! Tseb!


“Aaakh!”


Bu Ruong terkejut ketika melihat gerakan ingin bunuh diri Ha Fei. Ia langsung melesatkan pedangnya yang tepat menancap di batang tangan Ha Fei. Lelaki bertopeng kain itu menjerit keras.


Sebelum Ha Fei melakukan tindakan yang bisa mengakhiri nyawanya sendiri, Bu Ruong langsung maju cepat dan menginjak keras leher Ha Fei. Dua prajurit berpedang cepat membekuk tubuh Ha Fei hingga tidak berkutik. Sementara darah mengalir deras dari tangan kanan Ha Fei, terlebih ketika Bu Ruong mencabut pedangnya.


“Cepat kejar dua lainnya!” perintah Bu Ruong, komandan muda yang gagah dengan alis tipis panjang.


Sebagian besar prajurit yang ada di gang itu segera berlari secara tertib untuk mengejar ke lokasi tempat lelaki bertopeng lainnya pergi.


Ketika para prajurit berbelok ke sebuah jalan sempit, mereka mendapati seorang lelaki berpakaian serba hitam dan bertopeng kain hitam sedang bertarung dikeroyok enam orang prajurit berpedang.


Dikeroyok enam prajurit, lelaki bertopeng itu tidak butuh waktu lama untuk ditaklukkan. Satu tusukan di perut disusul satu sabetan yang merobek leher. Ia pun mati.


Bersamaan dengan kematian orang berpakaian hitam, Bu Ruong muncul.

__ADS_1


“Seharusnya jangan kalian bunuh!” bentak Bu Ruong.


“Ampun, Komandan! Orang ini membahayakan kami!” kata seorang prajurit sambil berlutut menghormat, tanda mengaku salah.


“Cepat cari yang satunya lagi, tangkap hidup-hidup!” perintah Bu Ruong.


“Siap!” jawab puluhan prajurit itu serentak.


Para prajurit itu lalu menyebar menjadi beberapa kelompok. Sementara Komandan Bu Ruong melompat naik untuk pergi ke atap. Ia mau memantau dari sisi atas.


Namun, setelah mencari dan menggeledah sejumlah tempat yang dicurigai dijadikan tempat bersembunyi, baik Komandan Bu Ruong maupun para prajurit di bawah komandonya, tidak menemukan satu orang berpakaian hitam itu.


“Kepung blok ini, periksa setiap dalam rumah dan tempat usaha!” perintah Komandan Bu Ruong ketika para bawahannya melaporkan kegagalan. “Dia tidak akan pergi jauh, dia pasti bersembunyi di sini!”


Maka, khusus blok tempat orang yang diburu menghilang, dikepung. Pasukan Keamanan Ibu Kota ditambah jumlahnya. Setiap jalan masuk dan keluar dari lingkungan itu ditutup ketat.


Sementara gelap mulai turun ke Ibu Kota, tetapi kondisi pusat ekonomi di Jalan Liong Sue tetap berjalan ramai, hanya bedanya para pelaku bisnis harus terganggu oleh pemeriksaan ketat yang dilakukan oleh para prajurit Ibu Kota.


“Lapor, Komandan!” lapor seorang prajurit kepada Komandan Bu Ruong. “Kami menemukan lelaki bertopeng itu gantung diri di sebuah kamar!”


Komandan Bu Ruong segera melangkah pergi ke rumah yang sudah diperiksa oleh prajuritnya. Di sebuah rumah yang berlokasi di belakang deretan sejumlah toko, sudah banyak prajurit yang mengamankan lokasi.


Bu Ruong segera masuk yang diarahkan oleh prajurit yang melapor. Di sebuah kamar mereka berhenti. Tampak sesosok lelaki berpakaian serba hitam dan bertopeng kain hitam tergantung oleh seutas tali yang ujung lainnya mengikat kuat di palang kayu di atas kamar itu. Di bawahnya ada sebuah meja kayu yang terbalik posisinya, terkesan meja itulah yang dijadikan pijakan sebelum menggantungkan lehernya.


Bu Ruong memperhatikan kondisi kamar itu. Ada ranjang kayu lengkap dengan kasur dan bantalnya. Ada lemari kayu berisi pakaian.


Dua orang prajurit segera bekerja menurunkan mayat yang tergantung. Sementara prajurit yang lain pergi menjemput pemilik rumah yang sedang diamankan di ruangan lain.


Seorang lelaki dan perempuan yang sudah cukup lanjut usia dibawa masuk menghadap.


“Kami tidak tahu apa-apa, Tuan Prajurit,” ucap lelaki pemilik rumah dengan wajah menunjukkan kecemasan.


Bu Ruong lalu membungkuk dan menyingkap kain hitam penutup wajah mayat itu. Saat wajah mayat tersingkap, sepasang suami istri pemilik rumah itu terkejut.


“Kalian kenal lelaki ini?” tanya Bu Ruong.


“Dia putra rumah sebelah, Tuan!” jawab lelaki pemilik rumah cepat.


“Lalu ini kamar siapa?” tanya Bu Ruong lagi.


“Ini kamar putra kami, tapi dia sedang menjaga toko.”


“Buka pakaiannya!” perintah Bu Ruong kepada anak buahnya.


Satu prajurit lalu membuka pakaian hitam si mayat, sehingga terbuka jelas tubuh atasnya.

__ADS_1


“Ada luka pukulan benda keras di leher mayat,” kata prajurit itu.


“Berarti jelas, orang itu mencoba mengecoh kita. Biarkan pemilik rumah ini, urus mayatnya!” kata Bu Ruong. Lalu perintahnya lebih tegas lagi, “Periksa semua identitas orang yang ada di blok ini!”


Bu Ruong pergi meninggalkan kamar tersebut.


“Tapi, Komandan. Ada satu biro baru dalam blok ini, biro itu milik putri Menteri Kehakiman Tu Hua,” kata prajurit yang mendampingi Bu Ruong.


“Tidak peduli, meskipun itu milik Pangeran Tsun, periksa semua penghuninya,” tandas Bu Ruong.


“Baik, Komandan.”


“Ayo kita periksa ke sana!”


Salah satu bangunan yang berada di dalam kuncian pasukan pimpinan Komandan Bu Ruong adalah Biro Naga Besi, usaha jasa keamanan dan pengawalan pengiriman barang. Biro itu adalah milik Xie Yua, sahabat Putri Yuo Kai.


Ketika Komandan Bu Ruong tiba di depan bangunan yang memiliki papan nama besar dengan tulisan merah terang berbunyi “Biro Naga Besi”, satu ketegangan sedang terjadi di pintu besar biro.


Sejumlah prajurit terlihat sedang dihadang oleh dua baris lelaki berseragam hitam bergaris hijau. Para lelaki berseragam hitam itu adalah para anggota Biro Naga Besi. Di dada kanan baju mereka ada gambar kepala naga berwarna perak yang merupakan simbol dari biro keamanan itu. Kedua puluh lelaki pengawal biro itu sudah menghunuskan pedang masing-masing. Demikian pula para prajurit yang jumlahnya seimbang.


Bangunan biro itu penuh hiasan dekorasi kain merah dan perak, di luar bangunan dan di dalam. Sejumlah kain panjang berwarna kuning menggantung lurus ke bawah. Dalam lembaran kain itu bertera tulisan-tulisan yang berisi kalimat-kalimat doa dan ucapan selamat. Di bawah tulisan tertera nama-nama besar anggota keluarga kerajaan dan pejabat tingkat tinggi.


Melihat ketegangan terjadi di pintu masuk biro yang berada tepat di pinggir Jalan Liong Sue, memarah ekspresi wajah Bu Ruong.


“Minggir!” teriak Bu Ruong.


Para prajurit segera menurunkan senjatanya dan memberi ruang bagi Komandan Bu Ruong.


“Kalian!” tunjuk Bu Ruong kepada barisan pengawal biro yang tidak menurunkan senjatanya. Matanya mendelik marah. “Siapa yang berani menghalangi petugas kerajaan?!”


“Aku!” jawab satu suara perempuan dari barisan para pengawal biro.


Jawaban itu membuat para pengawal biro bergerak membuka formasi barisan rapatnya. Terbukalah jalan. Dari belakang muncul berjalan seorang wanita muda cantik berpakaian putih. Ia melangkah santai hingga berhenti di hadapan Panglima Bu Ruong. Ia tidak lain adalah Xie Yua.


“Nona Tu, jangan persulit kami,” kata Bu Ruong dengan nada santun dan hormat. Ia mengenal dan tahu posisi wanita yang bernama lengkap Tu Xie Yua itu.


Xie Yua tersenyum santai. Lalu katanya dengan tenang, “Bagaimana mungkin aku berani menghalangi petugas kerajaan? Orang-orangku hanya mencegah para prajurit itu menggeledah sembarangan tanpa pemimpinnya. Tentunya aku bisa lebih tenang jika Komandan yang memimpin penggeledahan.”


“Apakah aku boleh masuk, Nona?” tanya Bu Ruong.


“Tentu aku tidak akan menghalangi. Silakan!” kata Xie Yua lalu bergeser dari tempat berdirinya yang membuka jalan bagi Bu Ruong.


Bu Ruong lalu melangkah masuk sambil tangannya memberi tanda kepada para prajuritnya untuk ikut masuk.


Xie Yua berjalan mendampingi Bu Ruong. Terdengar ada suara permainan musik.

__ADS_1


“Orang yang kami kejar menghilang dan dia berpakaian seperti warga sipil,” kata Bu Ruong.


“Tuan prajurit bisa memeriksa semua orang yang ada di dalam biro ini, aku tidak akan menghalangi. Silakan,” kata Xie Yua ketika mereka memasuki sebuah ruang besar. (RH)


__ADS_2