
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Di gazebo di malam itu, sambil terus memegang kedua tangan kasar Kusuma Dewi, Joko Tenang menceritakan tentang penyakitnya yang bernama Sifat Luluh Jantan, yang membuat mereka berdua tidak bisa saling mendekat pada masa tujuh tahun yang lalu.
Joko Tenang juga menceritakan tentang siapa sebenarnya dirinya, meski ia belum tahu siapa sebenarnya ibunya. Ia juga menceritakan tentang cara sembuh dari penyakit Sifat Luluh Jantan, sehingga ayahnya mengutus Tirana.
Puncaknya, Joko Tenang menceritakan tentang misi besar yang sedang diembannya untuk mewujudkan ilmu Delapan Dewi Bunga, yang artinya ia harus memiliki delapan istri berkesaktian tinggi. Namun, itu tidak menutup kemungkinan bagi dirinya untuk menikah dengan gadis lain di luar dari Delapan Dewi Bunga.
“Aku mulai merasakan bahwa memiliki ilmu itu sangat penting dan mendesak, saat aku mengetahui bahwa Gerombolan Kuda Biru memiliki kekuatan pasukan yang besar,” kata Joko Tenang.
Setelah mendengar penjelasan panjang tentang derita Joko Tenang oleh penyakitnya dan keberuntungannya karena penyakitnya pula, Kusuma Dewi akhirnya tersenyum kepada pemuda yang dicintainya itu.
Lalu katanya lembut dan agak serak karena pengaruh tangis sebelumnya, “Kau memiliki tugas dan beban yang sangat mulia, Joko. Maafkan aku karena telah menilai salah terhadapmu.”
“Jadi kau mau menikah denganku, Kusuma?” tanya Joko Tenang dengan tatapan penuh harap ke mata Kusuma Dewi, sementara tangan gadis itu ia angkat dan menempelkannya pada bibirnya.
Betapa bahagianya Kusuma Dewi melihat Joko Tenang memperlakukannya begitu lembut, mesra dan penuh kasih sayang. Perlakuan seperti ini tidak pernah ia alami sebelumnya.
“Aku sangat ingin, Joko,” jawab Kusuma Dewi, membuat Joko Tenang tersenyum lebar. “Aku sangat ingin mewujudkan cinta kita yang terpisah dulu. Aku sangat ingin cinta kita bahkan mencapai ke titik puncak, sebagai seorang suami dan istri. Namun….”
Memudarlah senyum sumringah Joko Tenang mendengar kata “namun”.
“Aku terlanjur merasa begitu sakit, Joko. Aku merasa…. Hiks…!”
__ADS_1
Kusuma Dewi mendadak menangis kembali.
“Aku merasa, apa pun alasanmu, kau telah membuatku sakit sekali, Joko. Terlebih, lihatlah aku. Aku seorang anggota Gerombolan Kuda Biru, aku seorang gadis jahat yang suka membunuh orang, bukan menolong orang.”
Kusuma Dewi menarik kedua tangannya dari pegangan tangan Joko Tenang. Pemuda itu membiarkan tangan itu lepas dari jari-jemarinya.
“Lalu apa yang membuatmu menjadi seperti ini?” tanya Joko Tenang lembut.
“Kami berempat jatuh ke jurang dan diselamatkan oleh Nenek Rambut Merah, kemudian menjadikan kami berempat murid. Namun, Nenek Rambut Merah membebaskan kami memilih jalan hidup sendiri. Ia tidak peduli kami mau menjadi pendekar aliran putih atau golongan hitam. Pada masa-masa kami masih lemah, kami sering berurusan dengan orang-orang Kadipaten Surosoh. Dari situlah aku memiliki permusuhan dengan Kayuni Larasati. Bahkan dia memotong tangan Parsuto. Parsuto kini menjadi pendekar bertangan tunggal. Aku sangat benci dengan penguasa Kadipaten Surosoh dan orang-orangnya. Hingga suatu hari aku bertemu dengan Gadis Kuda Biru, Ketua Gerombolan Kuda Biru. Maka jadilah aku seperti sekarang ini. Tidak mungkin aku menjadi kekasih seorang mulia sepertimu, Pangeran,” tutur Kusuma Dewi.
“Jangan berkata seperti itu, Kusuma. Adalah kebodohan mempertahankan jalan yang salah. Kau hanya salah bertemu orang. Seandainya saat itu kau bertemu denganku, bukan bertemu dengan Gadis Kuda Biru, kau pasti bisa menjadi istriku dan menjadi baik. Lihatlah Reksa Dipa, dia rela dicap sebagai pengkhianat dan bersedia bertarung melawan teman-temannya di Gerombolan Kuda Biru demi memegang kebenaran. Ia kini adalah pengawal para istriku dan telah berjanji setia kepadaku. Aku akan menjadi seorang raja, hidup bahagialah bersamaku dan istri-itriku yang lain,” kata Joko Tenang.
“Aku tidak ingin menjadi bodoh dengan tetap bertahan di Gerombolan Kuda Biru. Namun, aku masih terlalu berat untuk mencoba tersenyum dan bersenda gurau di saat luka di hatiku belum kering. Aku sudah sangat bahagia bisa bertemu denganmu di saat kau dalam kondisi normal. Aku sangat bahagia merasakan ketulusan cintamu malam ini, Joko. Baru kali ini aku merasakan betapa indahnya cinta itu, meski di saat yang sama aku pun baru kali ini merasakan begitu sakitnya tikaman dalam cinta,” tutur Kusuma Dewi. Ia lalu berdiri dari duduknya dan berkata, “Izinkan aku untuk pergi, Joko.”
Deg!
“Aku sudah berusaha membuat indah pertemuan ini. Aku sudah berusaha mempertahankan tali kasih dan cinta kita. Namun, jika itu memang keputusanmu, aku pun tidak bisa memaksa memetik buah yang masih mentah.”
“Aku sangat ingin bersamamu, meski aku hanya bisa memandangmu. Namun, aku butuh waktu untuk merendam bara api di hatiku,” ucap Kusuma Dewi dengan linangan air mata.
Joko Tenang mengangguk seraya memberikan senyuman tanda memahami keputusan yang diambil oleh Kusuma Dewi.
“Aku pergi, Joko!” ucapnya seraya terisak. Ia maju dan memeluk erat tubuh Joko Tenang.
Joko Tenang balas memeluk tubuh Kusuma Dewi. Sepasang mata Joko Tenang tampak berkaca-kaca di dalam ketemaraman cahaya suluh.
__ADS_1
“Aku sangat mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu, Joko!” kata Kusuma Dewi, seolah menjadi bisikan maut bagi cinta Joko Tenang di malam itu.
Cup!
Kusuma Dewi mencium pipi kanan Joko Tenang, lalu melepaskan dirinya dari pelukan itu dengan wajah menunduk berderai air mata. Ia langsung berbalik kemudian berkelebat pergi dengan membawa pedang, tangis dan hati yang pecah.
Joko Tenang terdiam. Air mata cintanya jatuh bergulir niat tidak niat, tapi membasahi pipi pemuda itu.
Ketiga istri Joko Tenang yang sejak tadi memantau bersama seperti orang nobar dari pendapa, terkejut melihat adegan yang sangat mereka tidak duga. Mereka bertiga sebelumnya sudah yakin bahwa Kusuma Dewi akan memilih ikut Joko Tenang.
“Kusuma!” teriak Lanang Jagad sambil bangkit berdiri. Ia yang sedang membujuk-bujuk hatinya agar sabar, jadi terkejut. Perginya Kusuma Dewi dari Joko Tenang memberi kesimpulan baginya bahwa ia kembali dibukakan pintu masuk.
Clap!
Tiba-tiba Tirana menghilang dari tempat duduknya.
Kusuma Dewi terpaksa menghentikan lesatan tubuhnya saat tiba di Gerbang Tiga Kain. Tirana telah berdiri menghadangnya. Ia hanya terkejut dalam hati, ia tidak menyangka istri Joko Tenang memiliki kecepatan yang tinggi.
“Kusuma, kelima istri Kakang Joko semuanya adalah wanita yang sama-sama memiliki hati seperti dirimu…” ucap Tirana lembut seraya melangkah maju lebih mendekati Kusuma Dewi. “Kami semua masing-masing sangat berharap bahwa kami adalah wanita dan istri satu-satunya yang Kakang Joko cintai dan miliki. Namun, kami semua membuang keakuan kami masing-masing, demi memenuhi tugas yang lebih mulia dari pada sekedar tugas seorang istri. Namun kemudian, kami tahu dan merasakan, dengan berbagi suami pun kami bisa menciptakan kebahagian kami lebih indah. Aku berharap kau memikirkan dengan sebaik-baiknya dan sejernih-jernihnya lagi. Kami, istri-istri Kakang Joko, membuka tangan selebar-lebarnya dan hati selapang-lapangnya untuk menyambut kedatanganmu suatu hari nanti.”
“Terima kasih atas kebaikanmu,” ucap Kusuma Dewi dingin tanpa ekspresi, kecuali wajah yang basah.
Kusuma Dewi lalu berkelebat pergi meninggalkan gerbang itu menerobos kegelapan jalan yang diapit oleh dua jurang di kanan dan kiri.
Tirana hanya terdiam di tempatnya berdiri. Ia gagal.
__ADS_1
Sementara itu di gazebo, Getara Cinta dan Kerling Sukma sudah berada bersama suami mereka.
“Aku yakin, suatu saat ia akan datang,” ucap Joko Tenang optimis kepada kedua istrinya. (RH)