
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Surya Kasyara baru saja menjual kalung milik adiknya. Hasil penjualan itu lumayan untuk mencukupi hidup beberapa pekan. Namun, jika uang sebanyak itu larinya ke meja judi, maka sehari pun akan bisa langsung habis.
Surya Kasyara melangkah dengan senang hati sambil tersenyum-senyum. Niat pertamanya adalah pergi membeli tuak dan minum sepuasnya. Ia sudah haus sejak tiga hari lalu. Air putih tidak bisa memuaskan dahaganya.
Tiba-tiba Surya Kasyara berhenti melangkah. Ia melihat ada asap hitam membumbung tinggi di daerah tempat rumahnya berada. Posisi sumber asap tebal itu sangat mungkin di lokasi rumahnya, sebab rumahnya cukup terpisah dari rumah-rumah warga lain.
“Jangan-jangan…” duga Surya Kasyara. “Rawaiti…!”
Sambil berteriak, Surya Kasyara berlari kencang ke arah lokasi rumahnya berada. Kuat kemungkinan rumahnya kebakaran karena keteledoran adiknya yang buta.
Surya Kasyara semakin terkejut saat melihat atap rumahnya yang memang terlalap api besar.
“Rawaiti…! Rawaiti…!” teriak Surya Kasyara seperti orang kesetanan dan berlari terbirit-birit seperti orang kehewanan.
Dari arah yang berlawanan, muncul pula seorang lelaki bertubuh gendut dan gemuk yang berlari kencang tapi lucu dilihat.
“Sontoloyooo!” teriak lelaki gemuk itu kencang. Karena begitu kencangnya dia berlari, Surya Kasyara yang berpapasan dengannya sampai-sampai tidak terlihat. Surya Kasyara pun ia lewati.
Dilewati begitu saja, Surya Kasyara segera berhenti mengerem, kaki kanannya sampai menggesek tanah berdebu dengan tajam, menunjukkan kepakeman remnya.
“Gembulayu! Aku di sini!” teriak Surya Kasyara yang sudah berbalik meneriaki salah satu sahabatnya itu. Ia terengah-engah karena baru saja berlari mendaki bukit kepanikan.
Panggilan keras itu membuat si pemuda gendut cepat mengerem, hampir-hampir saja ia jatuh tersungkur. Ia cepat menengok ke belakang dengan napas yang seolah-olah mau terkuras habis.
“Sontoloyo, Rawaiti!” teriak Gembulayu sambil berlari kecil mendatangi Surya Kasyara dengan wajah panik.
“Rawaiti mana, Gembulayu? Adikku kenapa?” Surya Kasyara yang sudah panik kini semakin matang paniknya.
“Rumahmu dibakar oleh Tulanggoyo dan adikmu….!”
“Adikku kenapa, Gembul!” teriak Surya Kasyara sambil menjambak rambut gondrong sahabatnya.
“Adikmu dibawa Tulanggoyo!” jawab Gembulayu sambil menahan sakit karena rambutnya dijambak.
“Bandot ceking cacing kurapaaan!” teriak Surya Kasyara kencang, membuat orang-orang sekitar memandang kepadanya. Namun, ia justru turun berlutut. Ia menangis dalam kemarahannya. Ia sudah bisa memastikan apa yang akan terjadi pada adiknya.
Surya Kasyara menangis sambil menghantamkan tinjunya berulang kali ke tanah keras. Gembulayu jadi bingung sendiri harus berbuat apa melihat sahabatnya kondisinya seperti itu.
“Aku akan membunuhmu, Tulang Caciiing!” teriak Surya Kasyara lalu bangkit dan cepat berlari kesetanan.
Surya Kasyara berlari masuk ke dalam sebuah kedai kecil. Pemilik kedai dan dua pelanggan yang sedang makan jadi gelagapan atas tingkah Surya Kasyara yang berteriak-teriak.
“Mana tuak?! Mana tuak?! Aku akan membunuh Tulang Cacing itu sampai berkali-kali!” teriak Surya Kasyara dengan wajah yang tegang dan memerah. Sepasang matanya pun memerah menyeramkan.
Dengan kasar, Surya Kasyara merampas kendi tuak seorang pelanggan yang ketakutan. Tuak itu ia minum sampai habis. Selanjutnya dia mengambil kendi tuak yang ada di rak kedai. Itupun ia minum sampai habis tanpa jeda napas. Wajah merahnya kian mendidih. Selanjutnya ia mengambil satu kendi lagi dan menyiram tuak itu ke atas kepalanya.
“Aarrkkr!” teriak Surya Kasyara benar-benar marah.
Prak!
“Owalah kendiku!” pekik wanita pemilik kedai saat Surya Kasyara membanting pecah kendi tuak.
__ADS_1
Brakr!
Bukannya segera pergi mencari Tulanggoyo, Surya Kasyara justru melampiaskan kemarahannya dengan membalikkan meja kayu tempat berbagai panganan warung.
“Owalah tempeku, kueku, pisangku! Eh eh anuku, barangku, ludes aku!” ratap si embok pemilik kedai.
“Hari ini kau mati, Tulang Cacing!” teriak Surya Kasyara lalu menuang uangnya yang ada di kantung uangnya dengan maksud sebagai ganti rugi.
“Itu Loyo!” seru Gowo Tungga yang sudah bersama Gembulayu. “Ayo, cegah dia pergi, jangan sampai dia mati muda di tangan centeng Ki Lugas!”
Gowo Tungga dan Gembulayu segera berlari ke arah kedai.
Surya Kasyara menemukan sebilah parang dan mengambilnya. Ia lalu berlari ke luar kedai sambil terus berteriak-teriak marah.
“Tunggu aku, Tulang Cacing! Aku akan mencincangmu jadi makanan cacing!” teriak Surya Kasyara.
Gowo Tungga datang berlari dan menyergap tubuh Surya Kasyara dari samping, membuat sahabatnya itu berhenti berlari. Gembulayu juga turut menyergap dan memeluk, semakin kuat kuncian pada tubuh Surya Kasyara.
“Lepaskan aku! Aku harus membalas perbuatan Tulang Cacing itu!” teriak Surya Kasyara berusaha memberontak. Sementara parangnya masih tergenggam di tangan kanan.
“Tulanggoyo bukan orang biasa sepertimu, Loyo! Kau jangan nekat mau mati konyol!” teriak Gowo Tungga berusaha menyadarkan sahabatnya itu.
“Lebih baik aku mati! Heaa!” teriak Surya Kasyara sambil mendorong keras tubuh dengan tenaga yang berlipat akibat pengaruh tuak.
Mereka bertiga jatuh ke belakang. Kondisi itu membuat kuncian Gowo Tungga dan Gembulayu terlepas. Surya Kasyara cepat bangun dan berlari kencang menuju kediaman Ki Lugas, atasannya Tulanggoyo. Surya Kasyara sadar bahwa Ki Lugas sedang tidak ada di tempat judi, dia hapal waktu-waktunya kapan Ki Lugas berada di kedai tempat judi dan kapan dia akan berada di rumahnya.
Penduduk yang berada dalam jalur pelarian Surya Kasyara buru-buru menyingkir, terlebih Surya Kasyara berlari sambil mengacungkan parangnya.
“Mati dah Sontoloyo!” ucap Gowo Tungga pasrah.
“Minggir!” teriak Surya Kasyara kepada warga yang posisinya tanpa sengaja menghalangi larinya.
Akhirnya Surya Kasyara sudah tiba di kediaman Ki Lugas. Kediaman itu terbuat dari bahan kayu yang sederhana. Rumah itu memiliki halaman kecil dan pagar papan yang pintunya dijaga oleh empat orang centeng berseragam hitam-hitam. Mereka semua bersenjatakan golok bersarung. Namun, di rumah itu tidak terlihat keberadaan Tulanggoyo.
“Mau apa Sontoloyo ke mari?” tanya salah satu dari centeng itu. Mereka tahu bahwa Surya Kasyara adalah orang yang tidak memiliki kepandaian bersilat.
“Dia pasti mau mencari mati!” kata centeng yang lain.
Dua centeng lalu maju untuk menghadang Surya Kasyara.
“Minggir!” teriak Surya Kasyara kepada dua centeng yang juga sudah cabut golok.
Bugk!
“Hukr!” keluh Surya Kasyara dengan tubuh terlempar ke samping saat tiba-tiba sekelebat tubuh hitam menerjangnya.
Orang yang menerjang Surya Kasyara tidak lain adalah Tulanggoyo.
“Tulang Cacing keparuuut!” teriak Surya Kasyara panjang. Ia lalu bangkit dengan tangan kanan tetap memegang parang.
Tak! Dak!
Mudah bagi Tulanggoyo menendang tangan kanan Surya Kasyara yang mementalkan parangnya, lalu satu hantaman kaki begitu keras pada pelipis kiri.
__ADS_1
Surya Kasyara terbanting keras ke tanah.
“Ambil kuda! Seret dia ke jurang, biar dia mati menyusul adiknya!” perintah Tulanggoyo kepada anak buahnya.
“Apa? Rawaiti kau bunuh?” ucap Surya Kasyara terkejut bukan main.
“Menangislah sebelum kematianmu, Sontoloyo!” kata Tulanggoyo.
“Heaaat!” pekik Surya Kasyara sambil berlari lalu melompat jauh hendak menyeruduk perut Tulanggoyo.
Dak!
Sebelum serudukan Surya Kasyara menyentuh perut lawannya, lutut keras Tulanggoyo sudah lebih dulu menghantam keras wajah Surya Kasyara dari arah bawah. Laju tubuh Surya Kasyara terhenti dan wajahnya mendongak dengan loncatan darah dari mulut dan hidungnya.
Surya Kasyara terkapar di tanah keras yang berdebu.
“Uhhukr!” Surya Kasyara yang terlentang tidak berdaya, terbatuk darah, sehingga darah keluar dan jatuh ke wajahnya sendiri.
Selanjutnya Surya Kasyara masih berusaha bangkit. Dengan susah payah ia bangun dan berdiri dengan kuda-kuda yang goyah.
Sementara di depan rumah, Ki Lugas hanya berdiri menonton.
“Nyawa bayar nyawa, Tulang Cacing!” desis Surya Kasyara sambil menatap buas kepada Tulanggoyo.
Namun, Surya Kasyara hanya bisa berdiri tanpa bisa melangkah.
“Aku tidak akan membuangmu ke jurang jika kali ini kau masih bisa bangkit!” kata Tulanggoyo.
Dug! Bug!
Tulanggoyo melesat ke depan dengan gaya petarung Thai. Tulang lututnya begitu keras menghantam dada Surya Kasyara. Pada saat yang bersamaan, tinju Tulanggoyo menghantam kencang dahi Surya Kasyara.
Surya Kasyara jatuh berdebam ke belakang. Dan benar kata Tulanggoyo, Surya Kasyara sudah tidak bisa bangun lagi. Ia tinggal terkapar seperti orang berada di ujung kematiaan.
“Rawaiti… maafkan Kakang…” ucap Surya Kasyara lirih. Air matanya bergulir jatuh dari sudut luar matanya. Air matanya jatuh bergulir ke telinga.
Dua kuda sudah datang. Surya Kasyara yang tinggal menunggu nasib kematian, diikat kakinya dengan tali. Ujung tali yang lain kemudian diikat melingkar pada perut kuda.
“Buang ke jurang!” perintah Tulanggoyo kepada dua anak buahnya.
Satu kuda berfungsi menyeret Surya Kasyara dan satu kuda lagi untuk menemani belaka.
Tidak ayal lagi, tubuh Surya Kasyara benar-benar diseret oleh kuda yang berlari kencang. Surya Kasyara hanya pasrah merasakan rasa sakit dan perih yang tiada terkira. Warga kadipaten hanya bisa menyaksikan kejadian itu.
“Sontoloyooo!” teriak Gowo Tungga dan Gembulayu saat melihat sahabat mereka diseret di tanah dengan kuda.
Keduanya buru-buru mengejar, tetapi tidak terkejar. Meski tertinggal, keduanya terus mengejar.
Setibanya di pinggir sebuah jurang berumput, kedua anak buah Tulanggoyo itu berhenti. Mereka melepaskan Surya Kasyara dari ikatan. Surya Kasyara sudah dalam kondisi yang mengenaskan. Ia sudah tidak sadarkan diri dan tubuhnya sudah bersimbah darah, penuh luka goresan kerikil dan batu, termasuk ada ranting kecil yang menusuk di perutnya.
Tubuh Surya Kasyara lalu dibuang ke jurang yang cukup dalam. Tubuh itu berguling-guling.
Di sisi lain di bibir jurang itu juga, tampak seorang lelaki tua berpakaian hitam bagus sedang kencing berdiri di balik sebatang pohon. Kakek berambut putih gondrong itu terlihat rapi dengan rambut yang juga tersisir rapi ke belakang. Di pinggang kanannya menggantung sebuah kendi berbahan perunggu.
__ADS_1
Kakek itu menyaksikan semua kegiatan pembuangan tubuh Surya Kasyara ke dalam jurang, tanpa diketahui oleh kedua anak buah Tulanggoyo.
Setelah kedua anak buah Tulanggoyo pergi dengan kudanya, si kakek yang baru selesai merapikan celananya, segera melompat turun ke dasar jurang. (RH)