Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 11: Lima Pendekar Tingkat Lima


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


Namanya Sebilah Rengkuh. Ia adalah orang tertua di antara rekan-rekannya. Usianya empat puluh lima tahun. Ia sosok yang berperawakan sedang, tetapi terasa kekekarannya. Rambutnya gondrong sepunggung, tetapi diikat sederhana seperti ekor kuda. Wajahnya tegas dengan ciri bekas luka sayatan pada sisi kanan dagu. Lelaki berpakaian putih berlapis hitam itu bersenjatakan dua tongkat pendek berwarna hitam.


Lelaki kedua bernama Lengking. Ia lelaki bertubuh kurus, tetapi tidak begitu kurus. Dagunya memelihara jenggot model domba. Rambutnya gondrong sebahu dan mekar mengembang seperti rambut palsu. Ujung baju merahnya ia ikatkan, sehingga bagian bawahnya jadi naik, memperlihatkan bagian perut kempesnya yang kekar. Lengking membawa tongkat sedepa yang satu ujungnya memiliki besi berbentuk sabit tajam.


Lelaki ketiga bernama Delik Rangka. Penggambaran fisiknya mudah, yaitu gendut, bulat dan pendek. Ia berpakaian serba biru gelap. Ia tidak berbekal senjata apa pun. Usianya muda, di bawah tiga puluh tahun.


Adapun wanita pertama tidak cantik, karena ia memiliki model gigi yang tonggos, sehingga sulit baginya untuk merapatkan bibir merahnya secara penuh. Usianya masih muda, hanya dua puluh tiga tahun. Meski wajahnya kurang menjual, tetapi ia memiliki ukuran dada yang membusung menggairahkan. Wanita berpakaian hijau muda itu bersenjatakan keris yang terselip di sabuk kuningnya. Ia bernama Sugigi Asmara.


Wanita kedua adalah seorang yang jangkung, tetapi cantik dengan ketebalan bedak yang cukup berlebih, sehingga nyaris seperti wajah boneka. Wanita itu berusia sekitar tiga puluhan. Mengenakan pakaian serba merah. Ia bersenjatakan pedang kembar yang menggantung di pinggang kanan dan kiri. Ia bernama Nyi Mut.


“Ada yang datang!” kata Sebilah Rengkuh yang lebih dulu melihat kemunculan Kurna Sagepa bersama dua puluh prajurit berseragam hitam-hitam.


Mereka berlima segera satukan arah pandangannya.


“Melihat gelagatnya, sepertinya mereka sudah tahu jika kita berada di sini,” kata Nyi Mut.


“Pasti terjadi sesuatu dengan Tangpa Sanding,” duga Lengking.


“Kita lihat, apa maunya para prajurit itu,” kata Sugigi Asmara pula.


Kelima pendekar itu berdiri menunggu hingga Kurna Sagepa tiba beberapa tombak di depan mereka.


Kurna Sagepa memberi tanda yang diikuti oleh pasukan yang bergerak membentuk formasi setengah mengepung dengan pedang yang semua terhunus.


“Siapa kalian?” tanya Kurna Sagepa dingin.


“Siapa kami? Hahaha!” ucap Sebilah Rengkuh lalu tertawa kecil meremehkan. “Justru kami yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan dengan membawa pasukan seperti itu?”


“Sikap kalian sangat mencurigakan terhadap wilayah Kerajaan Sanggana Kecil!” tukas Kurna Sagepa.


“Oh, kerajaan?” ucap ulang Sugigi Asmara. “Jadi itu kerajaan?”


“Ya. Aku tidak akan membiarkan kalian mengancam kerajaan ini. Apakah kalian yang disebut lima pendekar tingkat lima?” tanya Kurna Sagepa.


Cukup terkejut kelimanya karena Kurna Sagepa bisa menebak jati diri mereka.


Melihat reaksi kelima pendekar itu, Kurna Sagepa menduga kuat bahwa terkaannya benar.


“Kalian akan bernasib serupa dengan Tangpa Tanding jika tetap berniat menerobos memasuki wilayah Kerajaan Sanggana Kecil. Atau bahkan lebih buruk lagi!” ancam Kurna Sagepa.

__ADS_1


“Wah wah wah! Besar sekali bicaramu. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!” ucap Lengking datar lalu pada ujung kalimatnya berteriak marah.


“Setiap ancaman terhadap Kerajaan Sanggana Kecil harus dibasmi!” teriak Kurna Sagepa pula sambil cabut dua senjatanya yang berupa besi pengait. Ia menunjukkan sikap seperti itu karena ia melihat ada pergerakan di arah timur.


“Lengking! Sugigi! Hajaaar!” teriak Sebilah Rengkuh gusar.


“Hiaat!” teriak Lengking dan Sugigi Asmara bersamaan sambil melompat tinggi ke depan menyerang Kurna Sagepa yang posisinya sedikit lebih rendah dari mereka.


Lengking mengayunkan senjata sabitnya hendak mengarit leher Kurna Sagepa. Sementara Sugigi Asmara siap menghujamkan kerisnya ke dada Kurna Sagepa. Perkiraan Sugigi Asmara adalah, Kurna Sagepa akan menangkis sabit Lengking dan dirinya akan masuk menghujam.


Seeet! Seeet!


Namun, tiba-tiba dari sisi timur ada yang melesat cepat. Sebuah besi kecil bersenar melesat melilit leher tongkat sabit Lengking, sementara satu besi bersenar lagi melesat melilit pinggang Lengking.


Pada saat yang sama, satu benda kecil yang tidak terlihat oleh mata melilit betis kanan Sugigi Asmara dan menancap dalam di kulit betis.


Jadi, sebelum senjata Lengking dan Sugigi Asmara menemui sasaran, tubuh mereka sudah tertarik kencang ke samping timur, terbanting keras di tanah gunung.


Setelah terbanting, keduanya kemudian tertarik oleh senar kuat yang menjerat mereka. Sugigi Asmara yang kakinya tertarik kuat oleh pancingan, menolakkan tangan kirinya pada tanah yang membuat tubuhnya mencelat ke arah Garis Merak si pemilik pancingan. Tangan kanannya yang masih memegang keris ia ayunkan untuk menikam.


Namun, tiba-tiba dari belakang Garis Merak menusuk maju mata-mata tombak untuk menyambut tubuh Sugigi Asmara sekaligus melindungi Garis Merak.


“Jurig Kutu!” maki Sugigi Asmara mendelik, karena ia justru mendatangi maut.


Buru-buru Sugigi Asmara menarik kerisnya dan menghentakkan tangan kirinya hendak melepaskan angin pukulan. Namun, Garis Merak lebih dulu melepaskan pukulan jarak jauh. Melempar paksa tubuh Sugigi Asmara. Para prajurit yang ada di belakang Garis Merak segera mengejar tubuh Sugigi Asmara.


Ketika tubuh Sugigi Asmara jatuh kembali menghantam bumi, sejumlah ujung tombak langsung menempel di kulit leher dan tubuhnya, tetapi tidak menusuk. Todongan dari beberapa prajurit bertombak itu membuat Sugigi Asmara tidak berkutik.


Ketika Lengking terseret oleh tarikan dua senar kuat dari kedua pergelangan tangan Swara Sesat, lelaki gemuk itu melakukan lompatan salto seperti putaran gentong air.


Bagitu cepat sehingga Lengking yang dalam posisi pinggang dan senjata terjerat, tidak siap untuk menyambut serangan Swara Sesat.


Bukk!


“Hukr!” keluh Lengking dengan air ludah tersembur keluar dari dalam mulutnya, saat tubuh gemuk Swara Sesat menimpa keras tubuh kurusnya.


Saat itu juga, sejumlah prajurit Kerajaan Sanggana Kecil bergerak cepat menodongkan ujung-ujung mata tombaknya ke sekitar leher Lengking.


Bruss! Bruss!


Tiba-tiba sekelebat tubuh melesat terbang di udara. Pada saat itu juga, dua sinar merah berwujud jaring laba-laba mungil melesat masuk ke dalam tubuh Lengking dan Sugigi Asmara.

__ADS_1


“Hekh!” keluh lengking menahan sakit saat sinar jaring itu masuk ke dalam tubuhnya.


“Hekk!” keluh Sugigi Asmara pula.


Senopati Batik Mida yang baru melintas di udara melesatkan ilmu Pengunci Paha itu, kembali melesat terbang menyerang Sebilah Rengkuh.


Sebilah Rengkuh yang awalnya hendak mengeroyok Kurna Sagepa, menyambut serangan Senopati Batik Mida dengan pukulan kedua tongkat pendeknya.


Dak!


Kedua batang tangan Senopati Batik Mida beradu dengan kedua tongkat pendek Sebilah Rengkuh. Adu dua tenaga dalam terjadi. Sebilah Rengkuh yang terjajar tiga tindak, terkejut. Ia merasakan tenaga dalam lawannya lebih tinggi.


Karna itulah, Senopati Batik Mida langsung menyerang lagi dengan kecepatan yang lagi-lagi membuat Sebilah Rengkuh terkejut. Ia langsung bisa mengukur bahwa Senopati Batik Mida bukanlah lawan yang bisa ia taklukkan.


Buk buk! Plak!


Dugaan Sebilah Rengkuh ternyata cepat terbukti. Sedemikian cepatnya gerak serang Senopati Batik Mida seolah membuat Sebilah Rengkuh tidak berkutik. Dua tinju cepat bertenaga dalam tinggi menghajar perutnya. Menyusul satu tamparan karas pada pelipis kiri yang membanting Sebilah Rengkuh.


Ngiiing…!


Telinga Sebilah Rengkuh mendengar suara berdenging, tanpa suara yang lain. Wajahnya terasa begitu panas seiring terasa ada sesuatu yang penuh pada kulit wajahnya.


Di sisi lain, Kurna Sagepa berjuang untuk menaklukkan si gendut bulat Delik Rangka. Sementara si wanita jangkung dikeroyok oleh para prajurit berpedang.


Sebilah Rengkuh cepat bangkit lalu melompat mundur untuk menjaga jarak dari Senopati Batik Mida. Ia menatap perwira tidak berbaju di depannya dengan tajam. Saat itu, ia merasakan kulit wajahnya terasa tebal. Sebilah Rengkuh lalu meraba wajahnya. Ia agak terkejut, karena merasakan kulit wajahnya membengkak. Pendengarannya telah kembali normal.


“Kau terkena Tamparan Ratu Ulat, jadi wajahmu keracunan dan membengkak seperti bokong monyet yang merah,” ujar Senopati Batik Mida tenang. “Sebentar lagi wajahmu akan gatal dan terus gatal.”


Semakin terkejut Sebilah Rengkuh. Ia memang mulai merasakan gatal pada wajahnya yang telah membengkak parah.


Senopati Batik Mida menengok sebentar melihat pertarungan yang tersisa. Kini, Nyi Mut yang dikeroyok oleh para prajurit berpedang, harus melawan Garis Merak juga yang masuk dalam pertarungan. Kondisi itu membuat Nyi Mut kewalahan meski ia bersenjatakan dua pedang.


Sementara Kurna Sagepa yang bertarung seimbang melawan Delik Rangka, kini dibantu oleh Swara Sesat. Kondisi itupun membuat Delik Rangka kewalahan.


“Kisanak! Katakan kepada pemimpinmu si Pangeran Kubur, jika dia masih mau mengusik Kerajaan Sanggana Kecil, jangan salahkan jika orang-orang sakti kami memburunya!” ujar Senopati Batik Mida kepada Sebilah Rengkuh. “Pergilah! Keempat rekanmu kami tahan!”


Setelah berkata seperti itu, Senopati Batik Mida lalu melesat cepat laksana menghilang. Tahu-tahu ia telah melesatkan dua sinar merah berwujud jaring laba-laba mungil. Sinar jaring laba-laba dari ilmu Pengunci Paha itu mencuri serang. Masing-masing melesat masuk ke dalam tubuh Delik Rangka dan Nyi Mut.


“Akk!” jerit Delik Rangka dan Nyi Mut bersamaan, menahan sakit.


Pada saat itu, Delik Rangka dan Nyi Mut jatuh ambruk ke tanah. Keduanya tidak sanggup berdiri karena tiba-tiba kedua kaki mereka lumpuh. Dengan demikian, berakhirlah perlawanan mereka berdua.

__ADS_1


Melihat kondisi itu, Sebilah Rengkuh memutuskan berlari pergi lalu berkelebat kabur. Ia sungguh tidak menyangka bahwa orang-orang yang menjadi tetangga baru itu ternyata kuat dan merupakan sebuah kerajaan. (RH)


__ADS_2