
*Desa Wongawet (Dewo)*
Gulung Lidah mendelik melihat ujung golok Bejo yang berada di depan lehernya.
“Hahaha!” tawa Bejo yang memegang golok hanya dengan tangan kanan.
Tiba-tiba mata Gulung Lidah yang mendelik berubah jadi menatap tajam kepada Bejo. Pemimpin rampok hutan yang melihat tatapan tajam Gulung Lidah jadi terkejut, tiba-tiba ada hantaman rasa yang memukul jantungnya.
Sepasang mata Gulung Lidah tiba-tiba berubah terkesan jahat. Seiring senyuman menyeringai kepada Bejo yang seketika itu seperti dihembus angin mengerikan.
Ting! Tak!
Dengan satu gerakan kecil, Gulung Lidah menyentil ujung golok Bejo di depan lehernya. Golok besar itu seketika bergetar hebat di tangan Bejo lalu jatuh sendiri ke tanah. Sementara tangan kanan Bejo jadi gemetaran hebat.
Baks!
Gulung Lidah dengan mudahnya maju menapak keras dada kekar Bejo, membuat lelaki besar itu terjengkang keras ke tanah.
Terkejutlah kesembilan anak buah Bejo melihat perlawanan Gulung Lidah.
“Serang!” seru lelaki brewok.
“Bebebe... berani ya!” seru Gulung Lidah.
Buk!
Sebelum serangan bergolok ramai-ramai itu tiba, Gulung Lidah lebih dulu menjejakkan kaki kanannya ke bumi.
“Aaa!” jerit terkejut orang-orang itu berjemaah saat tubuh mereka tahu-tahu terlempar ke udara, seperti dilontarkan oleh bumi, termasuk Bejo yang dalam posisi terbaring kesakitan.
Buk! Bluk!
Kesepuluh lelaki itu lalu berjatuhan dengan berbagai gaya, tetapi tidak ada yang mendarat dengan kaki.
“Aak!”
Mereka mengerang kesakitan sambil pegangi anggota tubuh yang sakit atau tulang yang bergesar posisi.
“Aaah, kakaka... kalian ini papapa... payah. Kekeke... kemampuan hahaha... hanya segitu, mamama... mau jadi pepepe... perampok. Mamama... mau aku pepepe... penggal satu-satu, hah?!” oceh Gulung Lidah dengan susah payah sampai selesai.
“Jajaja... jangan, Pendekar!” teriak lelaki brewok cepat, tapi gagap karena ketakutan.
“Kukuku... kurang ajar! Sudah bebebe... begini, tapi mamama... masih meledek!” gusar Gulung Lidah.
Buk! Dak!
“Hukh!”
__ADS_1
Bdak!
Gulung Lidah menjejak pelan kaki kanannya ke tanah. Tidak seperti tadi yang melontarkan kesepuluh lelaki itu, kali ini hanya melontarkan tubuh si brewok, itupun terlontar hanya setinggi pinggang. Saat tubuh si brewok naik, Gulung Lidah melakukan gerakan menendang ruang kosong. Namun, itu tendangan jarak jauh yang tenaganya menendang si brewok.
Tubuh si brewok melesat deras menghantam batang pohon, lalu jatuh tidak bergerak. Ia pingsan.
Melihat kesaktian Gulung Lidah, para perampok itu jadi terbelalak ketakutan. Enak sekali orang gendut itu menendang orang tanpa mendekatinya.
“Ayo! Sisisi... siapa lagi yang mamama... mau meledekku?!” bentak Gulung Lidah.
Bejo dan kedelapan temannya ketakutan sambil mengatup bibirnya masing-masing dengan kuat. Mereka takut keceplosan gagap juga.
“Bebebe... beruntung kalian bebebe... bertemu orang bababa... baik sepertiku!” kata Gulung Lidah lagi.
Tidak ada yang berani menyahut.
“Gagaga... gara-gara kalian aku jajaja... jadi ditinggal bibibi... bidadariku!” gerutuhnya.
Selanjutnya, Gulung Lidah berkelebat pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak mau tertinggal oleh Joko Tenang dan Tirana.
Setelah melalui kawasan berjurang, Joko Tenang dan Tirana akhirnya tiba di gerbang sebuah desa yang cukup berbeda dengan desas-desa pada umumnya.
Desa itu dibentengi oleh pagar kayu sederhana yang memanjang jauh berputar. Memiliki satu pintu gerbang besar tetapi sederhana. Dilihat dari luar, tatanan desa itu jauh lebih rapi dan teratur, meski bangunannya tidak berbeda dengan bangunan rumah-rumah di desa kebanyakan. Sebuah jalan besar dan lurus membelah desa itu menjadi dua bagian.
Satu hal yang unik, desa itu terletak di bawah tebing batu yang begitu tinggi. Bagian atas tebing batu itu condong ke depan, seolah menjadi payung alam bagi desa tersebut.
Joko Tenang dan Tirana berdiri memandangi desa itu sebentar, seolah sedang mempelajarinya sejenak.
“Siapa kalian berdua dan bermaksud apa datang ke desa ini?” tanya salah seorang penjaga.
“Kami mengejar Kelompok Pedang Angin yang pergi ke arah sini,” jawab Tirana.
“Kelompok Pedang Angin sudah meninggalkan desa ini dua hari yang lalu,” jawab penjaga itu.
Joko Tenang dan Tirana saling pandang heran.
“Menurut kabar yang aku dengar, bukankah tamu seharusnya tinggal di desa ini selama tiga hari atau lebih?” tanya Tirana.
“Benar. Tetapi Kelompok Pedang Angin diizinkan lewat hari itu juga oleh kepala desa ini,” jawab penjaga gerbang.
“Permisi, Nisanak!” ucap seorang wanita dari sisi belakang.
Tirana berpaling sejenak melihat siapa yang hendak lewat. Dilihatnya tiga orang wanita muda dan cantik-cantik, berpakaian desa biasa, telah berdiri dengan membawa bakul berisi dedaunan di punggungnya.
Ketika Tirana bergeser sedikit, mereka pun melangkah memasuki gerbang desa tanpa dihalangi oleh kedua pemuda penjaga gerbang. Ketiganya dengan ramah berpaling memandang kepada Joko dan Tirana. Mereka tersenyum seraya menganggukkan wajahnya lalu berlalu. Setelah melangkah melewati gerbang, ketiganya dengan akrab berbisik-bisik. Gadis cantik berbaju merah kembali menengok ke belakang, melemparkan pandangannya langsung kepada Joko Tenang.
Joko Tenang menangkap tatapan sekilas gadis berbaju merah, tetapi ia tidak memberikan reaksi apa pun.
__ADS_1
“Jika mereka bisa pergi, berarti kami pun bisa pergi melewati desa ini hari ini juga?” tanya Tirana setelah komunikasi mereka terhenti sejenak.
“Kami tidak tahu tentang hal itu. Pendekar berdua bisa menanyakannya kepada Kepala Desa,” kata penjaga gerbang.
“Hah! Akhirnya kakaka... kalian aku susul!” seru seseorang yang datang dengan cara berkelebat. Ia mendarat tepat di tengah-tengah antara Joko Tenang dan Tirana. Ia tidak lain adalah Gulung Lidah.
Tirana hanya tersenyum melihat kemunculan lelaki gendut itu. Kemunculannya itu menunjukkan dia berhasil mengatasi para perampok hutan.
“Ayo kikiki... kita mamama... masuk!” ajak Gulung Lidah. Namun, saat melihat kedua penjaga gerbang berdiri di tengah-tengah jalan, Gulung Lidah berhenti melangkah. “Mimimi... minggir kakaka... kalian! Kami mau bebebe... bertemu pemimpin kalian!”
“Tunggulah di sini, para pendekar. Kalian tidak boleh masuk sebelum mendapat izin dari Kepala Desa,” kata penjaga gerbang.
“Baik,” jawab Tirana.
Maka, satu dari penjaga gerbang segera pergi meninggalkan temannya yang kini menyingkir dari tengah jalan. Joko Tenang, Tirana dan Gulung Lidah harus patuh untuk tidak membuat masalah di desa itu.
“Hah, bebebe... berliku sekali aturannya,” keluh Gulung Lidah.
“Gulung Lidah, untuk apa kau datang ke desa ini?” tanya Tirana.
“Hahaha! Tititi... tidak ku sasasa... sangka bibibi... bidadariku bukan wawawa... wanita yang sombong,” kata Gulung Lidah. Ia merasa senang karena Tirana tidak sungkan bertanya kepadanya. Lalu ia menjawab pertanyaan Tirana, “Aku hahaha... hanya mengikuti bibidari yang aku jujuju... jumpai.”
“Kau tidak takut dihajar oleh suamiku?” tanya Tirana.
“Hahaha! Aku tititi... tidak yakin pepepe... pemuda berbibir cantik itu adalah sususu... suamimu. Kakaka... kalian tidak pepepe... pernah berdekatan,” tukas Gulung Lidah, membuat Joko Tenang meliriknya.
Tirana hanya tersenyum.
“Jika kau tidak takut dengan suamiku, maka seharusnya kau takut denganku,” ujar Tirana.
Mendelik Gulung Lidah, tetapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
“Hahahak...! Bababa... bagaimana caranya aku bibibi... bisa takut kepada bibibi... bidadari secantik dididi... dirimu?”
“Jika kau menganggapku sebagai bidadarimu, berarti jika aku minta sesuatu, kau akan memenuhinya?” tanya Tirana.
“Papapa... pasti!” jawab Gulung Lidah cepat menuh semangat, sekaligus harapan.
“Aku tidak percaya,” kata Tirana dengan bibir mencibir.
“Kau pepepe... perlu bububu... bukti? Katakan, apa yang kau mimimi... minta, papapa... pasti akan langsung aku pepepe... penuhi!” tandas Gulung Lidah bernada tinggi. Ia begitu bersemangat.
“Benarkah?” tanya Tirana lagi.
Sementara Joko hanya membiarkan Tirana. Ia ingin melihat, apa yang ingin dilakukan gadisnya itu kepada Gulung Lidah yang menurutnya cukup mencurigakan, karena tidak jelas niat dan tujuannya.
“Benar!” seru Gulung Lidah.
__ADS_1
“Aku ingin kau membuktikan dengan menerobos masuk ke dalam desa ini!” kata Tirana.
“Hahaha... hanya itu? Itu mumumu... mudah!” jawab Gulung Lidah meremehkan. (RH)