Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
76. Penyergapan Besar


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Meski perjalanan berjalan normal dan kondisi sekitar bergerak secara wajar, Bo Fei dan ke-12 Pengawal Angsa Merah diam-diam memperhatikan semua sudut kanan-kiri dan atas bangunan yang mereka lewati.


“Ada orang di atas!” teriak Bo Fei tiba-tiba.


Dari balik atap dua bangunan yang ada di sisi kanan jalan, muncul tiga orang berpakaian hitam yang menutup semua wajahnya. Mereka naik ke punggung atap dengan membawa sebuah drum kayu berukuran satu pelukan.


Satu orang berpakaian hitam melepaskan drum bawaannya menggelinding di atap dan melompat jatuh ke tengah jalan.


Brokk!


Drum kayu itu jatuh pecah di tanah tengah jalan, tidak jauh di depan kuda kereta. Minyak yang ada di dalam drum tumpah luber bersama nyala api yang seketika berkobar memblokir jalan.


Brokk! Brokk!


Setelah itu menyusul gelindingan sejumlah drum dari atap bagunan. Tiga drum jatuh hancur di tanah depan rombongan kereta yang sudah berhenti. Kuda-kuda kereta dan kuda Bo Fei jadi panik dengan meringkik, tetapi masih bisa dikendalikan agar tidak berlari ketakutan. Alhasil, jalan maju bagi kuda diblokir oleh kobaran api yang besar.


Ternyata, dari balik atap dua bangunan di sisi kiri jalan juga muncul sejumlah orang yang berbekal drum yang sama, berisi cairan minyak dan sumbu api yang sudah menyala.


Enam drum kayu meluncur serentak dari atas kiri. Kali ini langsung mengincar posisi kereta kuda dan para pengawal Putri Kai.


Pada saat yang sama, Bo Fei segera melompat naik ke atas atap kereta untuk berjaga. Sementara enam wanita Pengawal Angsa Merah melompat dan berkelebat di udara menyambut datangnya enam drum dengan kaki-kaki mereka.


Keenam drum ditendang keras sehingga terdorong dan jatuh ke tempat yang kosong. Hancur dan membakar.


Set set set...!


Ting ting trinting!


Serangan bom drum berakhir, tetapi langsung disusul munculnya belasan lesatan anak panah dari sisi kanan yang menargetkan bilik kereta.

__ADS_1


Bo Fei bertindak. Gerakan tangannya sangat cepat dan lihai memainkan pedang, menangkis semua anak panah sehingga tidak satu pun yang berhasil menusuk bilik kereta, terlebih sampai masuk.


Set set set...!


Tanpa jedah waktu, hujan panah kembali datang dari sisi kiri. Kali ini enam Pengawal Angsa Merah lainnya yang bergerak serentak berdiri di sisi kiri kereta. Dengan satu gerakan tangan bersama dan seragam, mereka berenam menciptakan perisai tenaga dalam, membuat belasan anak panah itu tertahan di udara lalu jatuh tanpa bisa menyentuh kereta atau seorang pun pengawal.


“Hiaaat!”


Entah sebelumnya bersembunyi di mana? Lebih tiga puluh orang berpakaian hitam dan bertopeng kain hitam bermunculan keluar dari balik-balik jendela bangunan bisnis yang ada. Mereka yang di atas atap berlompatan turun.


Sebagian dari kelompok penyerang itu berbekal pedang, merekalah yang maju menyerbu. Sementara sebagian lagi yang berbekal senjata panah mencari posisi bagus untuk mencuri kesempatan membidik.


Pengawal Angsa Merah pun mengatur formasi perlindungan. Enam orang menyambut serbuan penyerang yang berpedang. Tiga orang berdiri di sisi kanan kereta dan tiga orang berdiri di sisi kiri kereta. Sementara Bo Fei tetap berdiri di atap bilik kereta. Kusir tetap tenang, tugasnya menjaga kuda tetap tenang.


Putri Yuo Kai duduk dengan tenang di dalam bilik kereta, tetap ditemani oleh dua pelayan setianya. Mereka bertiga hanya menyimak suara penyergapan itu melalui mendengaran.


Meski tanpa senjata, keenam Pengawal Angsa Merah bisa menjatuhkan sepuluh penyerang berpedang. Kekuatan tarung mereka ada di jari. Ketika mereka menusuk anggota tubuh lawan dengan dua jari yang dirapatkan, maka langsung merusak tulang di dalam daging. Sepuluh orang berpedang tumbang dalam waktu yang tidak lama. Semuanya mati dengan tulang yang pecah di titik-titik yang terkena tusukan.


“Akk! Akk! Akh!” pekik para lelaki bertopeng kain ketika panah-panah mereka membunuh tuan-tuannya sendiri.


Peristiwa yang serupa pun terjadi di sisi kiri. Para pemanah bertumbangan di pinggiran jalan dibunuh oleh anak-anak panah mereka sendiri yang dikirim balik oleh Pengawal Angsa Merah.


Dari arah belakang rombongan kereta datang sepasukan prajurit Kerajaan Jang yang berseragam biru-biru. Mereka dipimpin langsung oleh seorang komandan pasukan yang menunggang kuda.


Di saat yang sama, dari ujung jalan seberang kobaran api berlarian serombongan lelaki berseragam hitam bergaris hijau, tetapi seragam mereka bukan jenis seragam militer. Mereka semua berbekal senjata pedang. Rombongan itu dipimpin oleh seorang wanita muda berpakaian bagus berwarna putih. Ia menyandang sebuah pedang bagus.


Dari kelompok penyerang masih ada yang tersisa sebanyak tiga orang. Posisi mereka cukup jauh karena masih berada di atas atap.


Melihat hampir semua teman mereka mati, ditambah datangnya pasukan keamanan kota dan datang pula sekelompok orang berpedang, ketiga lelaki bertopeng memilih melarikan diri dengan langsung menghilang ke balik tembok dan atap.


“Kejar penjahat itu!” teriak komandan prajurit kepada pasukannya saat melihat ketiga penyerang yang tersisa melarikan diri. Ia langsung menggebah kudanya melompati kobaran api di tengah jalan.

__ADS_1


Wanita muda berpakaian putih yang memimpin kelompok pria berseragam hitam berkelebat melompati atas api dan mendarat di dekat kereta kuda Putri Kai.


Mengenali siapa yang datang, Bo Fei yang sudah turun dari atap kereta dan para Pengawal Angsa Merah, tidak melakukan tindakan pengamanan.


“Xie Yua datang, Yang Mulia,” kata Bo Fei setengah berbisik di jendela kereta.


“Xie Yua menghatur hormat kepada Yang Mulia Putri!” seru wanita cantik berpakaian putih, sambil membungkuk menjura hormat.


Mendengar suara orang yang sangat dikenalnya, Putri Yuo Kai segera membuka jendela keretanya yang hanya tertutup tirai merah.


“Xie Yua,” sebut Putri Kai seraya tersenyum.


Wanita bernama Xie Yua segera mendekat ke sisi kereta, dekat ke jendela. Ia adalah sahabat Putri Kai.


“Maafkan aku. Serangan tiba-tiba ini memaksaku mambatalkan hadir di acaramu,” ucap Putri Kai.


“Sepertinya bukan nasib baikku, Yang Mulia. Tapi, apa yang terjadi? Bagaimana mungkin ada serangan sebesar ini di Ibu Kota?” kata Xie Yua, lebih mengedepankan rasa keingintahuannya.


“Aku tidak bisa menjawabmu. Aku pun terkejut, ada serangan besar bisa dilakukan tidak jauh dari tembok istana. Sepertinya mereka menargetkanku. Namun sayang, mereka berurusan dengan orang yang salah,” jawab Putri Kai.


“Aku dapat mengerti jika Yang Mulia memilih harus kembali ke istana. Jika Yang Mulia memerlukan bantuan dariku, tentunya sahabatmu ini akan dengan senang hati membantu,” kata Xie Yuan.


“Tentu,” kata Putri Kai seraya tertawa kecil.


“Terpaksa aku memakai rencana cadangan untuk meresmikan Biro Naga Besi milikku,” kata Xie Yua.


“Kita pulang ke istana!” perintah Putri Yuo Kai.


Xie Yua segera mundur lalu menghormat hingga kereta bergerak berputar arah untuk kembali ke istana.


Tampak serombongan pasukan keamanan Ibu Kota telah datang untuk segera membersihkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Api di tengah jalan pun segera dipadamkan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2