
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
“Bunuh mereka yang terlibat dan usir selainnya dari negeri ini!” teriak Kodawgyi Arkar Denpo begitu murka, setelah mendengar laporan dan cerita tentang mayat puluhan wanita yang ditemukan di dalam gua.
Sepengetahuan dia, gua itu hanya tempat untuk menambang batu yang digunakan untuk membangun rumah-rumah antibadai.
Maka ditangkaplah Barbara dan rekan-rekannya yang terlibat. Orang-orang Rambut Emas yang tidak terlibat dalam rahasia di gua diusir semua. Anak-anak, wanita, orang tua, dan lelaki dewasa, semuanya diusir. Jika mereka tidak mau pergi dari desa itu, mereka akan ditangkap dan dibunuh juga.
Kodawgyi Arkar Denpo juga memutuskan untuk mengabarkan penemuan itu kepada beberapa desa tetangga. Justru desa-desa tetangga yang memiliki korban kehilangan para wanita mudanya, yang sebelumnya tidak diketahui ke mana hilangnya.
Dua hari setelah hari penangkapan dan pengusiran, para pelaku kejahatan pun dieksekusi mati di depan para Ketua Desa.
Setelah pembersihan orang Rambut Emas dari negeri itu, maka Kodawgyi Arkar Denpo memutuskan untuk merubah nama desa itu kembali ke asalnya, yaitu Desa Mong Paw Paw. Nama gunung pun diganti menjadi Gunung Paw Paw.
Sebelumnya, karena jasa Ducken Pert dan kaumnya dalam membantu membangunkan rumah-rumah dari batu, nama desa itu diubah dari Desa Mong Paw Paw menjadi Desa Stormeggland, sebagai bentuk penghargaan warga kepada orang-orang Rambut Emas.
Sementara itu, Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai akhirnya diterima di Desa Stormeggland sebagai tamu, setelah mereka menceritakan sebab-musabab bisa muncul di daerah itu, terlebih mereka membantu mengungkap kasus pembunuhan para wanita muda untuk persembahan. Kodawgyi Arkar Denpo dan warga desa semakin hormat setelah mengetahui status kerajaan dan kepermaisurian pasangan tersebut.
Urusan Pedang Singa Suci tidak ada yang berani menggugat lagi, setelah mereka melihat Ducken Pert tewas oleh kesaktian pedang itu. Setelah Pedang Singa Suci membunuh pemimpin kaum Rambut Emas, Prabu Dira kembali mengambil pedang tersebut tanpa mengalami sengatan seperti pertama kali. Ia pun tahu cara mengembalikan pedang itu ke dalam tubuhnya.
“Emm!” gumam Prabu Dira saat merasakan sesuatu menjilati wajahnya, rasa yang sama saat ia tidur bersama istrinya di pojokan gua.
Ia cepat membuka matanya. Dan benar saja, yang didapatinya adalah wajah kucing besar alias singa betina. Prabu Dira cepat menggeser tubuhnya agar menjauh dari wajah singa yang sedikit pun tidak bersikap mengancam.
“Hihihi…!”
Lagi-lagi terdengar suara tawa seorang perempuan, suara tawa yang sama dengan mimpi sebelumnya. Prabu Dira segera mengalihkan pandangannya ke sumber tawa.
Kali ini, wanita cantik berpakaian serba putih tidak berayun di ayunan bawah pohon, tetapi ia duduk di punggung seekor singa betina berkepala botak. Ujung rambutnya ia lilitkan pada pinggangnya.
Yang mengejutkan, di belakang singa yang ditungganginya berbaris puluhan singa yang sejenis. Terkesan bahwa rombongan besar singa betina itu hendak pergi meninggalkan pada rumput tersebut.
__ADS_1
Singa yang tadi membangunkan Prabu Dira kini menurunkan tubuhnya di depan pemuda sakti itu.
Wanita berambut pirang memberi kode gerakan wajah agar Prabu Dira ikut. Meski dalam kondisi diliputi kebingungan, Prabu Dira akhirnya memutuskan naik ke punggung singa.
Singa itu bangkit berdiri setelah punggungnya dinaiki. Ia lalu berjalan membawa Prabu Dira mendekati posisi wanita pirang yang memandang dengan senyuman lebar. Ketika semakin dekat, barulah Prabu Dira bisa melihat bahwa wanita itu memiliki mata yang biru terang dan indah.
Namun, sebelum singa itu benar-benar sampai kepada singa si wanita, tiba-tiba sebuah apel merah dilambungkan kepada Prabu Dira. Mudah bagi Prabu Dira menangkap apel itu dengan tangan kanannya.
“Suamiku, kenapa kau melamun seperti itu?” tanya Permaisuri Yuo Kai yang telah memasang wajah jelitanya di depan wajah suaminya.
Terkesiap Prabu Dira. Pemandangan padang rumput dengan puluhan singanya seketika berubah dengan suasana ruangan kamar papan. Sangat dekat di depan wajahnya ada wajah permaisurinya.
“Apa yang terjadi, Suamiku?” tanya Permaisuri Yuo Kai lagi. Kali ini ia sudah menarik wajahnya.
“Entahlah. Sepertinya aku bermimpi,” jawab Prabu Dira.
“Bermimpi dengan mata terbuka?” tanya Permaisuri Yuo Kai menyudutkan suaminya.
“Ah, dengan mata terbuka? Bukankah aku baru terbangun?” kata Prabu Dira.
Prabu Dira tidak langsung menjawab, menunjukkan bahwa ia tidak tahu. Ia pun bertanya-tanya dalam hati yang tidak bisa ia jawab.
“Sepertinya ada yang terjadi dengan dirimu, Suamiku,” tukas Permaisuri Yuo Kai.
“Sepertinya begitu, tapi aku belum mengerti apa yang terjadi,” kata Prabu Dira.
“Baiklah, kita tunggu sampai kau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita harus bersiap, perahu untuk kita sudah siap,” ujar Permaisuri Yuo Kai.
Kodawgyi Arkar Denpo berbaik hati kepada Prabu Dira dengan memberikan mereka sebuah kapal perahu untuk melanjutkan perjalanan lewat laut.
Setelah dua malam lamanya mereka bermalam di negeri asing itu, akhirnya Prabu Dira dan Permaisuri Yuo Kai bersama keempat abdinya meninggalkan Desa Mong Paw Paw.
Kapal yang diberikan oleh Ketua Desa adalah sebuah perahu besar yang diperkirakan mampu mengarungi lautan samudera. Tidak hanya kapal, sejumlah pelaut dari Kaum Garam juga diberikan untuk mengabdi kepada Prabu Dira dan permaisurinya. Sebanyak sepuluh lelaki dari etnis yang bernama Bengal itu bertugas mengoperasikan kapal.
__ADS_1
“Berapa lama perjalanan yang akan kita tempuh untuk sampai ke Kerajaan Sanggana Kecil?” tanya Permaisuri Yuo Kai sambil berdiri di anjungan kapal menatap lautan luas yang mereka arungi.
“Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku berharap Gimba akan datang menjemput kita,” jawab Prabu Dira. “Jika Gimba tidak datang, maka aku akan terlambat hadir di pertemuan Jurang Lolongan dan Putri Sri Rahayu akan lama menungguku.”
“Mungkin Langit sudah berkehendak. Terdamparnya kita di Tanah Burma bertujuan memberimu Pedang Singa Suci. Jikapun Putri Sri Rahayu ditakdirkan bagian dari Delapan Dewi Bunga, jodoh pasti sabar menunggu. Aku tidak bisa membayangkan jika kesaktianmu telah kembali,” kata Permaisuri Yuo Kai.
“Tidak bisa membayangkan keperkasaanku sehebat apa jika bertarung?” tanya Prabu Dira.
“Hihihi…!” Permaisuri Yuo Kai tidak menjawab, ia hanya tertawa lepas sambil melirik lelaki tampan di sisinya itu.
Ketika malam tiba, satu hal yang mengganggu pikiran Prabu Dira adalah mimpi bertemu dengan wanita singa. Namun, pada malam itu, tidur Prabu Dira berlalu dengan normal, tidak ada mimpi dijilati singa atau pun dilempari buah apel merah.
Demikian pula pada malam berikutnya ketika mereka masih di atas lautan, tidak ada gangguan mimpi.
Pada hari ketiga perjalanan laut, di saat Prabu Dira dan kru kapalnya sedang memancing ikan, tiba-tiba ada kejutan dari langit.
Kaaak!
Tiba-tiba terdengar suara koakan Gimba di langit.
“Hahaha!” tawa Prabu Dira tiba-tiba karena begitu gembiranya. Padahal ia belum melihat wujud Gimba di langit.
Ketika mereka semua melihat ke langit cerah, maka tampaklah Gimba yang terbang berputar-putar di atas mereka. Terlihat Gimba terbang dengan bentangan sayap yang normal.
Namun, tidak mungkin Gimba mendarat di perahu atau di air laut.
“Badango! Arahkan perahu ke pulau kecil di sana!” perintah Permaisuri Yuo Kai kepada kapten kapal, satu-satunya orang Bengal yang paham bahasa Mandarin. (RH)
***************
POLLING
Dira Pratakarsa Diwana adalah nama resmi kebangsawananan Joko Tenang.
__ADS_1
Namun, Author minta masukan dari para Readers. Untuk narasi (bukan dalam dialog), lebih suka Author pakai nama "Prabu Dira" atau "Joko Tenang"?