Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 17: Pedang Singa Suci


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)* 


 


Barbara benar-benar tidak habis pikir. Selama puluhan tahun mereka mengorbankan darah wanita muda untuk melumuri batu kristal putih itu, sehingga bisa terkikis sedikit demi sedikit, tetapi kenapa batu kristal bening itu bisa dihancurkan oleh seseorang hanya dengan sekali tinju.


Hanya dengan sekali tinju menggunakan ilmu Tinju Dewa Hijau, Prabu Dira bisa menghancurkan batu kristal putih bening itu.


Kini, pedang pendek berwarna putih susu itu tergeletak begitu saja di antara pecahan batu kristal. Prabu Dira lalu memungut pedang itu dengan memegang gagangnya.


Zerzzz! Zeng!


“Aaak!” jerit Prabu Dira tinggi, saat tiba-tiba aliran sinar putih muncul di pedang lalu menjalar ke tangan dan menyengat seluruh tubuh Prabu Dira.


Pada saat itu pula, muncul kurungan sinar putih susu transparan yang mengurung tubuh Prabu Dira.


Semuanya jadi terkejut.


“Suamiku!” pekik Permaisuri Yuo Kai sambil berkelebat cepat.


“Kaisar Joko!” pekik Bo Fei dan Chi Men bersamaan.


Bang!


Tubuh Permaisuri Yuo Kai terpental saat menabrak sinar putih yang mengurung tubuh Prabu Dira.


“Yang Mulia Putri!” sebut Bo Fei, Chi Men, dan Yi Liun bersamaan sambil berlari mendapati tubuh majikannya.


Dengan tubuh yang bergetar hebat karena menahan kekuatan Pedang Singa Suci yang melesat masuk ke dalam tubuhnya, Prabu Dira kini diselimuti sinar putih.


Zersss!


Graurgk!


Tiba-tiba Macan Penakluk melesat keluar dari dalam cincin. Ia keluar karena nyawa tuannya terancam. Namun, ternyata macan sinar merah itu tidak bisa keluar dari kurungan dan tidak ada yang bisa dimangsa.


Cess!


Tiba-tiba ada lidah sinar putih yang melesat menyerang Macan Penakluk hingga hancur dan masuk kembali ke dalam cincin.


Prabu Dira sendiri tidak sanggup melepas kembali pedang yang dengan sendirinya pula melekat di tangan.


“Suamiku!” teriak Permaisuri Yuo Kai cemas.


Zesss! Bemm!

__ADS_1


Permaisuri Yuo Kai cepat melepaskan salah satu ilmu tertingginya, yakni Bidikan Mata Langit. Dua telapak tangan yang bersatu ia tusukkan ke arah suaminya. Satu sinar putih yang samar melesat cepat menghantam kurungan sinar putih susu.


Namun, kekuatan ilmu Bidikan Mata Langit tidak berdaya terhadap kurungan sinar itu.


“Siapa itu?” sebut Permaisuri Yuo Kai terkejut.


Bo Fei, Chi Men dan yang lainnya juga terkejut melihat apa yang muncul pada diri Prabu Dira. Ada sosok wanita cantik jelita berambut kuning yang panjangnya hingga betis, tiba-tiba muncul dan menyatu pada tubuh Prabu Dira. Wanita yang berbibir merah dan bermata terpejam itu muncul dan hilang seperti bayangan hologram yang kelap-kelip, antara nyata dan tidak. Disebut nyata, tetapi seperti bayangan. Dibilang bayangan, tetapi begitu nyata.


Kemunculan sosok wanita berpakaian serba putih itu membuat Bo Fei dan Chi Men sampai merinding.


Namun, kemunculan bayangan wanita berambut panjang sebetis itu hanya sebentar. Kemudian ia menghilang. Setelah itu, kurungan sinar putih juga hilang. Sinar putih pada tubuh Prabu Dira juga hilang, demikian pula pedang yang ada di tangannya.


Prabu Dira berdiri terdiam.


“Suamiku!” sebut Permaisuri Yuo Kai sambil datang mendapati Prabu Dira dengan membawa kecemasannya.


“Sudah, aku tidak apa-apa,” ucap Prabu Dira dengan suara yang bergetar.


Namun kemudian, Prabu Dira bergerak untuk duduk di lantai gua. Ia terlihat lelah. Keringat muncul di dahinya.


“Suamiku, kau kenapa?” tanya Permaisuri Yuo Kai.


“Tidak apa-apa, Kai’er. Aku merasa hanya hampir mati,” ucap Prabu Dira lemah. Tatapannya agak kosong ke depan.


“Di dalam tubuhku,” jawab Prabu Dira.


“Bagaimana bisa?”


“Aku juga tidak mengerti,” jawab Prabu Dira lalu beralih memandang wajah jelita istrinya. Ia pegang wajah putih itu dengan lembut. Ia memberikan senyuman kepada istrinya. Tampaknya kondisi dan perasaannya sudah membaik.


“Lalu siapa wanita berambut panjang itu?” tanya Permaisuri Yuo Kai.


Pertanyaan itu membuat Prabu Dira kerutkan kening. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan Permaisuri Pertama.


“Wanita yang mana, Kai’er?” tanyanya.


“Wanita berpakaian putih yang muncul di saat kau memegang pedang itu,” jelas Permaisuri Yuo Kai.


“Aku tidak melihat ada wanita. Aku hanya merasa seperti akan mati,” sangkal Prabu Dira.


Maka terdiamlah Permaisuri Yuo Kai sambil menatap mata suaminya.


Tiba-tiba Permaisuri Yuo Kai bangkit meninggalkan suaminya, dia melangkah cepat mendatangi Barbara yang sedang syok.


Pertunjukan yang baru saja ia saksikan sungguh di luar dugaannya. Ia tidak tahu, apakah ayahnya pernah mencoba menghancurkan batu kristal itu dengan tenaga saktinya selain menggunakan darah atau tidak. Sekian lamanya mereka menunggu batu itu terkikis habis oleh olesan darah, tetapi hanya sekali pukul oleh Prabu Dira, batu kristal itu malah hancur. Dan kini, ke mana pedang itu? Ia tidak tahu.

__ADS_1


“Akk!” jerit tertahan Barbara saat ada seutas benang halus tahu-tahu telah melilit lehernya. Bahkan ada kulit yang tersayat dari lilitan itu dan merembeskan darah.


“Pedang apa sebenarnya Pedang Singa Suci itu?” tanya Permaisuri Yuo Kai dengan tatapan yang mengandung kemarahan.


“Kai’er! Jangan lakukan!” seru Prabu Dira berusaha membujuk istrinya. Ia datang menyusul lalu menyentuh lembut kedua lengan istrinya dari belakang.


“Pedang itu hampir saja membunuhmu, Suamiku,” kilah Permaisuri Yuo Kai dengan bahasa suaminya.


“Aku sudah tidak apa-apa, Kai’er. Dengan masuknya pedang itu ke dalam tubuhku, menunjukkan bahwa pedang itu kini menjadi milikku,” kata Prabu Dira.


Permaisuri Yuo Kai lalu melonggarkan benang Serat Sutra-nya dari leher Barbara yang sudah terluka. Benang itu kemudian bergerak kembali ke jari tangan pemiliknya.


“Pedang itu berasal dari negeri asal kami di Tanah Darah Biru,” kata Barbara.


“Di mana negeri itu?” tanya Permaisuri Yuo Kai.


“Di negeri tempat berasalnya orang-orang bermata biru. Kami di sini adalah kaum pendatang,” kata Barbara. “Ayahku yang tahu cerita tentang pedang itu.”


“Di mana ayahmu berada?”


“Di Desa Stormeggland. Desa di kaki gunung.”


“Besok pagi kau harus membawa kami bertemu dengan ayahmu,” kata Permaisuri Yuo Kai.


“Baik. Tapi, di mana pedang itu sekarang?” tanya Barbara.


“Di dalam tubuh suamiku,” jawab Permaisuri Yuo Kai.


“Apa?” kejut Barbara. “Bagaimana bisa?”


“Kai’er, waktu sudah terlalu malam. Lebih baik kita beristirahat,” bujuk Prabu Dira yang tidak mengerti isi dialog antara Permaisuri Yuo Kai dengan Barbara yang sudah tidak segalak sebelumnya.


Permaisuri Yuo Kai mengangguk.


“Bo Fei, jaga mereka!” perintah Permaisuri Yuo Kai.


“Baik, Yang Mulia Putri,” ucap Bo Fei patuh.


Prabu Dira lalu pergi “mojok” ke sisi gua yang agak terlindungi dari pandangan mata yang lainnya. Prabu Dira memberikan tubuhnya sebagai sandaran bagi istrinya. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang. Permaisuri Yuo Kai pun bermanja ria dalam kasih sayang Prabu Dira.


Sementara itu, Mai Cui masih belum sadarkan diri dan sedang dijaga oleh Yi Liun. Bo Fei duduk berjaga di sekitar para tawanan. Chi Men duduk tidak jauh dari Yi Liun.


“Mai Cui hanya pingsan, dia nanti akan sadar sendiri,” kata Chi Men kepada Yi Liun, agar pelayan setia Permaisuri Yuo Kai itu bisa merasa lebih tenang.


Adapun tubuh Albert dan mayat satu rekannya dibiarkan tergeletak begitu saja berlumur darah. (RH)

__ADS_1


__ADS_2