Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
80. Bertemu Ratu Getara Cinta


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


 


Puspa berjalan sambil memandangi Tirana dan Ginari saat ia melewati keduanya. Tatapan Puspa dingin kepada keduanya, meski keduanya tersenyum kepada Puspa.


Ketika melewati gapura, para prajurit yang berjaga menjura hormat kepada Puspa. Puspa yang awalnya waspada karena khawatir para prajurit itu menyerangnya, jadi terkekeh kecil.


“Ya ya ya, Puspa tidak ditangkap, tetapi Pupa dihormati, hihihi,” ucap Puspa kepada dirinya sendiri.


Joko Tenang berjalan empat langkah di belakang Puspa, sementara kedua calon istrinya berjalan empat langkah di belakangnya.


Setiap prajurit yang berjaga mereka lalui, menjura hormat. Hal itu membuat Puspa tertawa-tawa senang. Namun, tiba-tiba Puspa berhenti. Ia menengok ke belakang. Joko Tenang, Tirana dan Ginari juga berhenti dalam jarak yang juga terjaga.


“Hei, Kucing Hutan!” sebut Puspa. “Kenapa kau jauh-jauh dari Puspa? Apakah Puspa                                  bau?”


“Tidak,” jawab Joko seraya tersenyum. “Aku tidak bisa dekat-dekat dengan wanita.”


Puspa terdiam sejenak. Namun kemudian, ia bisa menerima alasan Joko karena ia membandingkan jarak Joko dengan kedua wanita yang Jalang tidak kenal itu. Puspa kembali berjalan. Meski ia berada di depan, tetapi ia tahu jalan.


Di dalam Istana Tabir Angin yang luas itu, terdapat banyak bangunan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda.


Ketika memasuki halaman bangunan terbesar dan termegah yang terbuat dari batu dan kayu, mereka mendapati penjagaan prajurit dalam jumlah yang banyak. Ke mana mata memandang, pasti ada prajurit yang berjaga. Itulah Istana Keratuan di dalam Kerajaan Tabir Angin.


Dari arah lain berjalan seorang pria gagah yang usianya sudah lebih dari separuh abad. Pakaian serba hijau gelapnya berhias sejumlah perhiasan emas yang menunjukkan ketinggian statusnya di kerajaan itu. Pria berkumis hitam sedikit keputihan itu adalah Panglima Besar Jagaraya, orang nomor dua di Kerajaan Tabir Angin.


Panglima Jagaraya datang dari sisi samping ke arah Puspa. Melihat kedatangan Jagaraya, Puspa berhenti.


“Huh! Ada Kakek Bau!” dengus Puspa saat Jagaraya mendekat.


Jagaraya menjura hormat kepada Puspa, membuat wanita kotor itu berubah terkejut ekspresi wajahnya.


“Hihihik! Kakek Bau menghormat kepada Puspa,” kata Puspa disertai tawanya.

__ADS_1


“Apakah Tuan Putri Ranti Bayapuspa ingin menemui Yang Mulia Ratu?” tanya Jagaraya dengan nada santun, tanpa tersinggung dengan sebutan “Kakek Bau”.


“Kakek Bau, kau menyebutku putri? Hihihi! Tapi, nama siapa yang tadi kau sebut?” tanya Puspa, senang disebut sebagai putri.


“Itulah nama Tuan Putri yang sesungguhnya,” jawab Jagaraya.


“Yaaa, sepertinya itu memang nama Puspa. Ranti Bayapuspa,” ucap Puspa sambil manggut-manggut, seakan ia baru teringat dengan nama aslinya.


“Silakan, Tuan Putri. Ikuti aku!” kata Jagaraya lalu melangkah lebih dulu menuju pintu utama Istana Keratuan.


Puspa segera mengikuti. Secara rilih ia berulang kali menyebut nama Putri Ranti Bayapuspa, ia takut jika ia lupa lagi dengan nama yang memang adalah nama aslinya.


Mereka masuk ke dalam Istana Keratuan dan terus masuk. Setelah menempuh koridor yang cukup dalam dan berliku, tibalah mereka di depan sebuah pintu yang tertutup dan dijaga oleh enam prajurit.


“Sampaikan, Panglima Besar Jagaraya, Putri Ranti Bayapuspa, Pendekar Joko dan kedua calon istrinya, ingin menghadap!” kata Panglima Besar Jagaraya di depan pintu yang dipagari oleh barisan prajurit.


Keenam prajurit di depan pintu hanya diam. Panglima Jagaraya dan lainnya diam menunggu, sebab mereka tahu bahwa pelayan Ratu Getara Cinta yang ada di balik pintu sedang pergi melaporkan kedatangan mereka.


Tidak berapa lama, pintu itu dibuka lebar dari dalam oleh seorang pelayan wanita. Keenam prajurit penjaga pintu bergerak bergeser memberi jalan lebar-lebar.


Panglima Jagaraya menuju ke salah satu sudut kamar. Tampak seorang wanita cantik yang begitu cantik nan anggun duduk bersila dengan mata terpejam di atas sebuah batu pualam merah datar tanpa sandaran. Batu itu tingginya sepinggang orang dewasa. Rambut wanita cantik itu terurai lepas, hanya mengenakan tiara tipis dari emas di kepalanya. Pakaian putih bersih menutupi tubuhnya. Wajah cantiknya sudah cukup dewasa. Ia adalah Ratu Getara Cinta, penguasa Kerajaan Tabir Angin di Rimba Berbatu.


Ada sepuluh pelayan wanita yang duduk di sekitar batu.


“Panglima Jagaraya menjura hormat, Yang Mulia Ratu,” ucap Panglima Jagaraya seraya turun berlutut dan menjura hormat dengan mempertemukan kedua telapak tangannya di depan dahi yang menunduk.


“Hamba Joko Tenang bersama kedua calon istriku turut menghadap, Yang Mulia,” ucap Joko pula. Ia bersama Tirana dan Ginari juga turun menjura hormat.


Ratu Getara Cinta membuka sepasang kelopak matanya. Wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah kotor Puspa yang berdiri seenaknya di depan sang ratu.


“Hihihik!” terkekeh Puspa ketika Ratu Getara memandangnya. Ia sedikit pun tidak menunjukkan sikap hormat seperti yang lainnya. Lalu katanya agak membentak, “Hei, Getara! Puspa sangat ingin bertarung denganmu, tapi sayangnya, kau sedang sakit.”


“Akhirnya kau mau datang ke istana ini, Ranti,” ucap Getara Cinta datar seraya tersenyum.

__ADS_1


“Jika bukan karena Kucing Hutan itu.” Puspa menunjuk kepada Joko Tenang. “Puspa tidak sudi datang, karena kau pasti akan menangkap Puspa. Tapi, hihihik, Getara yang paling cantik di Rimba Berbatu sedang sakit, bagaimana bisa menang kalau melawan Puspa.”


“Kita bisa bertarung jika aku sembuh kembali,” kata Getara, tetap tenang meladeni perkataan Puspa.


“Iya iya iya,” kata Puspa sambil manggut-manggut sangat setuju. Ia lalu turun duduk bersila begitu saja di depan batu pualam, sehingga ia harus mendongak ketika berbicara kepada Getara Cinta. “Kata Kucing Hutan, Puspa bisa menyembuhkan Getara dari sakit. Benar?”


“Benar, karena hanya Putri Ranti yang bisa menemukan obatnya,” jawab Getara.


“Puspa tidak mau dibodohi!” teriak Puspa tiba-tiba sambil melompat berdiri. “Getara punya Arak Kahyangan, obat segala sakit.”


“Permata Darah Suci di dalam tubuhku sudah tidak ada, Arak Kahyangan pun tidak bisa menolongku. Maka umurku tidak akan sampai satu purnama lagi. Hanya Permata Darah Suci yang lain yang bisa menyembuhkanku,” ujar Getara.


“Kau kemanakan permata milikmu?” tanya Puspa dengan tatapan tajam menyelidik.


“Yang Mulia Ratu menyerahkan permatanya untuk menyelamatkan nyawaku, Puspa.” Joko yang menjawab pertanyaan itu.


“Hah! Kau berkorban nyawa demi Kucing Hutan ini, Getara?!” pekik Puspa terkejut sambil menunjuk Joko. “Kau lihat Kucing Hutan itu, mata keranjang, selalu mendekati wanita cantik.”


Rasa panas melanda hati Tirana dan Ginari mendengar cacian Puspa terhadap calon suami mereka. Bagi Tirana, bukan hanya sekedar calon suami, tapi juga Joko Tenang sebagai seorang pangeran. Namun, baik semua punggawa Kerajaan Tabir Angin, maupun kedua calon istri Joko, mereka semua sudah diberi arahan agar tidak tersinggung dengan segala ucapan dan tindakan Jalang ketika wanita liar itu masuk ke istana.


“Jadi aku punya kewajiban untuk mencarikan Permata Darah Suci yang lain demi menyembuhkan dewi penolongku. Sebagai sahabat, aku mengajakmu turut menyembuhkan Ratu, bersama-sama pergi mencari permata dengan ilmu Gerbang Tanpa Batas yang kau miliki,” ujar Joko.


“Hihihi!” tertawa Puspa mendengar kejujuran Joko. “Masih untung Kucing Hutan yang mengajak Puspa mencari permata. Jika Getara yang minta, Puspa tidak akan pernah mau. Salah Getara sendiri mau memberi permata itu kepada Kucing Hutan. Eh, tapi, tapi....”


Puspa merangsek lebih mendekati Ratu Getara Cinta.


“Kata si Kucing Hutan, Getara akan memberi Puspa sesuatu yang akan buat Puspa senang kalau berhasil menyembuhkan Getara. Benar?” tanya Puspa sambil senyum-senyum.


“Benar,” jawab Getara seraya tersenyum.


“Hihihik! Baru kali ini Getara baik kepadaku,” kata Puspa sambil tertawa senang. “Aku sudah tidak sabar pergi jalan-jalan. Kucing Hutan jadi pengawalku.”


“Aku ikut juga, Puspa,” sahut Tirana.

__ADS_1


Puspa jadi memandang tajam kepada Tirana.


“Tidak, tidak bisa!” tolak Puspa. (RH)


__ADS_2