Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
116. Pengembara Su Ntai


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Terkejut penjual ular mendengar namanya disebut banyak orang di seberang jalan pasar. Ia agak panik dan ketakutan saat sejumlah lelaki dari warung makan sup datang ke arah lapaknya.


“Bong Gook! Kenapa kepala ularmu bisa ada di mangkuk sup pelangganku, hah?!” teriak pemilik warung makan marah. Ia membawa sebilah golok cincang.


“Apa kau bermaksud memfitnah usaha kami?!” tanya lelaki lain yang berbekal centong sup.


Mereka tidak menghiraukan keberadaan wanita berambut terurai yang berdiri di depan mereka menghadap lapak jualan ular.


“Aa... ii... anu...!” ucap penjual ular bernama Bang Gook gelagapan. Untuk urusan ular dia paling berani, tetapi untuk urusan ribut sesama manusia, dia paling ciut.


Sementara Tirana yang baru datang hanya geleng-geleng kepala melihat keributan yang timbul. Dia datang bersama Zhao Lii yang sudah berhasil mengejarnya.


“Aaarrggk! Berisik!”


Tiba-tiba Puspa berbalik kepada para lelaki itu sambil menggeram seperti harimau marah. Ia memaki dengan mata melotot seram.


Tindakan Puspa itu mengejutkan semua lelaki di belakangnya. Mereka sontak bermunduran takut sambil siagakan senjata mereka menghadapi Puspa, wanita cantik yang mulutnya penuh darah ular. Tangan kanannya memegang bangkai ular kuning yang dibunuhnya dengan gigitan.


Di tengah kericuhan itu, seorang lelaki bertubuh kekar tetapi berpakaian seperti warga biasa, tertarik untuk mendekat. Awalnya ia hanya melihat dari posisi yang agak jauh, tetapi ketika mendengar ucapan Puspa, ia jadi tertarik mendekat.


“Setaaan!” teriak seorang warga pasar tiba-tiba, membuat suasana semakin panik dan kacau.


“Silumaaan!” teriak yang lain sambil berlari menjauh.


Hampir semua warga pasar jadi latah dan ikut menjauh, tetapi mereka juga ingin melihat apa sebenarnya yang terjadi, sehingga mereka membentuk kerumunan dalam jarak yang cukup terjaga dari Puspa dan lapak ular.


“Puspa, ayo kita lanjutkan perjalanan. Jangan membuat takut orang-orang di pasar!” kata Tirana agak tegas.


“Cuih! Siapa yang membuat takut orang-orang?” sentak Puspa sambil mendelik kepada Tirana. “Mereka kurang ajar. Puspa cantik seperti ini disebut kotor dan bau!”


Puspa yang marah lalu melempar bangkai ular di tangannya kepada kerumunan warga. Membuat mereka berjeritan dan menjauhi bangkai ular.


Puspa tiba-tiba merampas lagi ular belang di tangan Bong Gook. Langsung saja kepala ular dia masukkan ke dalam mulutnya, memotong lehernya, lalu melepehnya ke tangan yang lain.


Orang-orang yang melihat, termasuk Zhao Lii, jadi tergidik menyaksikan aksi tidak wajar itu.


Puspa melempar kepala ular itu dengan kencang dan tepat mengenai hidung lelaki pemilik warung sup.


“Hihihik!” Puspa tertawa kencang lagi panjang, terlebih menyaksikan lelaki pemilik warung sup tumbang seperti patung tertiup angin.


“Biar aku yang membayar semuanya,” kata Zhao Lii kepada Bong Gook.


“Ayo kita pergi!” ajak Tirana kepada Puspa.


“Kau mau? Ini enak sekali,” tanya Puspa, menawarkan ular kepada Tirana sambil berjalan pergi.


“Kita harus segera ke barat, jangan membuang-buang waktu di sini,” kata Tirana.


“Nisanak!” panggil satu suara lelaki tiba-tiba.


Tirana dan Puspa agak terkejut mendengar panggilan kata yang akrab di telinga mereka, tetapi tidak mungkin ada disebut di negeri asing itu.

__ADS_1


Keduanya segera menengok. Mereka mendapati seorang lelaki bertubuh kekar tetapi tidak begitu tinggi berjalan mendekati mereka.


“Apakah kalian dalam masalah?” tanya lelaki berusia sekitar 50 tahun itu.


Meski lelaki itu berwajah seperti orang negeri ini pada umumnya, tetapi Tirana dan Puspa mengerti dengan kata-katanya. Bahasa lelaki itu sama dengan bahasa mereka berdua.


“Kisanak, kau berbahasa seperti kami,” tegur Tirana.


“Ya, aku lama di Tanah Jawi. Aku seorang pengembara. Namaku Su Ntai. Apakah kalian berasal dari sana?” kata lelaki itu.


“Benar,” jawab Tirana.


“Melihat masalah yang kalian timbulkan, kalian pasti membutuhkan bantuan,” terka lelaki bernama Su Ntai seraya tersenyum kecil, seolah yakin dengan terkaannya. “Katakan, kalian perlu bantuan apa? Jika aku bisa membantu, aku akan membantu dengan suka rela.”


“Dia pasti tahu di mana Kucing Hutan jatuh!” kata Puspa kepada Tirana.


“Kucing Hutan?” tanya Su Ntai tidak mengerti maksud Puspa.


“Kami tiba di negeri ini tidak lewat laut, tetapi lewat langit....”


“Langit?” potong Su Ntai. Sepasang netranya terbelalak.


“Benar. Itu kesaktian Puspa,” jelas Tirana lalu menunjuk Puspa yang berdiri di sisinya. “Calon suamiku yang Puspa sebut Kucing Hutan jatuh di wilayah barat. Kami harus ke barat untuk mencari calon suamiku.”


“Di barat ada Ibu Kota We. Lebih ke barat lagi ada Negeri Jang. Jika kalian memerlukan penunjuk jalan, aku siap membantu kalian, cukup kalian bayar dengan....”


“Dengan apa? Sebab kami tidak berbekal uang datang ke negeri ini,” tanya Tirana menyela Su Ntai yang sengaja menggantung kalimatnya.


“Tidak masalah, Ki Suntai,” kata Tirana cepat seraya tersenyum lebar. Ia menyebut Su Ntai dengan nama Ki Suntai. “Tapi, apakah Ki Suntai melihat seseorang jatuh dari langit di sebelah barat?”


“Tidak. Namun, aku memiliki kenalan tempat untuk mendapat berbagai macam berita rahasia dan langka. Orangnya ada di Ibu Kota We. Masalahnya, harganya agak mahal. Aku tidak memiliki uang untuk membantu kalian membayar informasi semacam yang Nona cari.”


“Kami pun tidak memiliki uang,” kata Tirana agak lesu.


“Puspa bisa dapat banyak uang!” kata Puspa lalu melangkah hendak pergi.


“Eit! Puspa tidak boleh mengganggu harta milik orang lain!” kata Tirana sambil cepat mencekal tangan kiri Puspa. Ia bisa menebak hal apa yang akan dilakukan Puspa.


Puspa terpaksa menahan langkahnya.


“Apa yang kalian percakapkan?” tanya Zhao Lii yang tiba di antara mereka. Ia kemudian bertanya kepada Su Ntai, “Sepertinya Tuan mengerti bahasa kedua temanku ini?”


“Benar, Nona,” jawab Su Ntai dengan bahasa ibunya.


“Aku Nona Zhao, putri Jenderal Zhao Jiliang, penjaga perbatasan Taele,” kata Zhao Lii memperkenalkan diri. “Apa yang mereka ributkan?”


“Mereka berdua ingin mencari calon suami Nona....” Kalimat Su Ntai terputus dan menatap kepada Tirana.


“Nona Tirana,” jawab Zhao Lii.


“Mereka mencari calon suami Nona Tirana yang jatuh dari langit ke wilayah barat, tetapi terkendala biaya untuk membayar informasi,” jelas Su Ntai dalam bahasa bangsa itu.


“Aku yang akan membayar semua yang kalian butuhkan, Tirana!” kata Zhao Lii kepada Tirana dan Puspa.

__ADS_1


Tirana dan Puspa memandang kepada Zhao Lii. Mereka berdua tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Zhao Lii.


“Apa yang dikatakan temanku ini, Ki Suntai?” tanya Tirana, segera memanfaatkan jasa kelebihan yang dimiliki Su Ntai.


“Nona Zhao mengatakan, akan membayar semua yang kalian butuhkan,” kata Su Ntai.


“Baiklah.” Tirana mengangguk kepada Zhao Lii.


“Tapi dengan syarat,” kata Zhao Lii.


“Tapi dengan syarat.” Su Ntai segera menerjemahkan perkataan Zhao Lii untuk Tirana dan Puspa.


“Apa?” tanya Tirana langsung kepada Zhao Lii.


“Putra Mahkota Pangeran Young Tua ingin bertemu dengan kalian berdua di Ibu Kota We,” kata Zhao Lii.


Su Ntai segera menerjemahkannya untuk Tirana dan Puspa.


Mengerutlah kening Tirana mendengar hal itu.


“Pangeran Tua siapa?” tanya Puspa sambil mengunyak daging ular mentah di mulutnya.


“Orang yang ada dalam kereta kuda yang dikawal banyak prajurit itu,” jawab Tirana. Ia lalu bertanya kepada Zhao Lii, “Punya maksud apa pangeran itu ingin bertemu kami?”


Su Ntai segera menerjemahkan pertanyaan Tirana untuk Zhao Lii.


“Entahlah. Aku rasa Yang Mulia Pangeran tertarik dengan kalian yang berasal dari negeri asing yang jauh. Aku rasa Yang Mulia Pangeran ingin menjamu kalian sebagai tamu,” ujar Zhao Lii. Lalu katanya lagi, “Aku akan membantu kalian dengan uang untuk mendapat berita tentang calon suamimu, Tirana.”


Su Ntai menerjemahkan agak panjang.


“Bukankah Ibu Kota We juga kota tempat kita mencari kabar tentang calon suamiku?” tanya Tirana kepada Su Ntai.


“Benar.”


Lalu Tirana berkata kepada Zhao Lii, “Baiklah. Namun, jika Pangeran Tua itu punya niat buruk terselubung, aku dan Puspa tidak akan sungkan.”


“Sepakat,” kata Zhao Lii seraya tersenyum lebar setelah Su Ntai menerjemahkan perkataan Tirana.


“Kita akan bertemu di Ibu Kota We, sebab Ki Suntai mengundang kami untuk mampir ke rumahnya,” kata Tirana.


Su Ntai menerjemahkan.


“Oh,” desah Zhao Lii. Lalu katanya, “Baiklah.”


Zhao Lii mendadak ingat sesuatu. Ia mengambil suatu benda dari balik pakaiannya.


“Ini untuk Puspa,” kata Zhao Lii sambil mengulurkan tangannya kepada Puspa.


Puspa mendelik sebentar lalu menatap tajam Zhao Lii. Tatapan itu membuat ciut nyali Zhao Lii sebagai wanita biasa. Namun, ia coba bertahan.


“Itu untuk Nona Puspa,” kata Su Ntai menerjemahkan.


“Hihihi!” Tertawalah Puspa setelah mendengar kata-kata Su Ntai. Ia kemudian mengambil dua tusuk konde yang ada di tangan Zhao Lii. (RH)

__ADS_1


__ADS_2