
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
“Suamikuuu!” teriak Permaisuri Yuo Kai kencang saat mengetahui Prabu Dira dan perempuan yang ditangkapnya di jurang sama-sama jatuh.
Permaisuri Yuo Kai tidak bisa bergerak bebas, sebab ia berada di bibir jurang dan kondisinya sangat gelap. Salah langkah sedikit, bisa-bisa ia juga terpeleset jatuh.
Permaisuri Yuo Kai terbelalak melihat jauh ke bawah. Dilihatnya ada cahaya kuning keemasan yang muncul.
Cahaya keemasan itu muncul dari Rompi Api Emas Prabu Dira yang kemudian menyelimuti tubuh lelaki dan wanita dewasa itu.
Ketika keduanya jatuh, Prabu Dira berinisiatif untuk memeluk tubuh Barbara agar tidak lepas. Sebab Prabu Dira menduga kuat, setiap ia jatuh dari ketinggian, ia selalu selamat. Dalam kondisi jatuh seperti itu, Barbara memilih tidak melawan orang yang tidak dikenalnya tersebut. Ternyata, jurang itu tidak seperti jurang pertama, kali ini jatuh mereka begitu dalam.
Bress!
Maka, dalam luncuran itu, Rompi Api Emas bereaksi.
Bugg!
Begitu keras punggung Prabu Dira menghantam dasar jurang yang adalah batu. Sedangkan Barbara jatuh di atas tubuh Prabu Dira.
“Uhh!” keluh Barbara seraya bergerak kesakitan di atas tubuh Prabu Dira.
Sementara sinar kuning emas sudah lenyap setelah mereka mendarat.
Sadar tubuhnya berada di atas tubuh seorang lelaki, Barbara buru-buru bangkit dan menjaga jarak. Ia cepat pasang kuda-kuda. Prabu Dira pun segera bangkit. Mereka saling memandang dalam kegelapan alam. Prabu Dira melihat Barbara sebagai sosok yang hitam, demikian sebaliknya.
“Kau lelaki mesum, tidak akan aku biarkan kau hidup!” teriak Barbara lalu berkelebat menyerang Prabu Dira dengan serangan yang keras dan terkesan membabi buta. Bahasanya asing di pendengaran Prabu Dira.
Dak dak…!
Dengan tangkas Prabu Dira menangkis sejumlah tendangan yang datang bertubi-tubi.
“Hei! Jangan menyerangku, Nisanak!” seru Prabu Dira pula dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Barbara. Prabu Dira merasakan penghuni Cincin Macan Penakluk ada gelagat ingin keluar.
Mungkin jika Barbara mengerti pun, ia tetap akan menyerang Prabu Dira yang dianggapnya telah melecehkannya.
__ADS_1
Bak!
Satu tendangan berhasil mendarat di dada Prabu Dira, membuatnya terdorong ke belakang dan punggungnya tersudut di dinding tebing batu.
“Rasakan ini!” teriak Barbara sambil melompat dengan tinju kanan membara biru.
Bugr! Zersss!
Grrraur!
Ketika tinju maut Barbara dihindari oleh kepala Prabu Dira ke samping, membuat tinju itu memecahkan lapisan batu pada dinding, tiba-tiba dari dalam Cincin Macan Penakluk melesat keluar sinar merah berwujud macan besar. Makhluk sinar itu langsung menerkam Barbara.
Sinar merah itu membuat wajah Barbara yang sangat terkejut, jadi terlihat. Barbara terjengkang dengan makhluk sinar besar di atasnya, siap menggigit dan mencakar. Namun, sebelum Macan Penakluk melukai Barbara, makhluk sinar itu lebih dulu tersedot masuk ke dalam cincin atas perintah pikiran Prabu Dira.
“Hentikan! Jangan menyerang lagi!” seru Prabu Dira sambil mengulurkan tangan kanannya dengan telapak tegak terbuka.
Barbara yang mengalami syok karena serangan makhluk sinar tadi, berusaha memahami maksud Prabu Dira.
Pelan-pelan dia bangkit, tetapi kembali memasang kuda-kuda siaga dan siap tarung. Prabu Dira memberi isyarat “tahan” lalu menunjuk cincinnya yang bersinar menyala berpendar, seolah ingin keluar isinya.
Ternyata, mereka berada di sebuah lahan sempit berbatu. Di satu sisi ada tebing tinggi, di sisi lain adalah jurang yang dalam dasarnya adalah lautan berombak ganas. Tidak ada cara untuk pergi dari tempat sempit itu, mungkin masih bisa untuk mendaki menggunakan ilmu peringan tubuh, tetapi dalam kondisi gelap seperti itu akan sangat berbahaya.
“Awas! Jika kita berhasil keluar dari tempat ini, aku akan membunuhmu, lelaki berhidung lubang satu!” ancam Barbara yang tidak diindahkan oleh Prabu Dira.
Prabu Dira lebih sibuk melihat ke sana dan ke sini, seolah sedang mencari jalan.
Sementara itu, jauh di atas tebing.
Permaisuri Yuo Kai yang melihat di dasar jurang ada kemunculan sinar merah, berkeyakinan kuat bahwa Prabu Dira tidak mati. Ia pun yakin karena sebelumnya suaminya itu pernah jatuh dari langit dan tidak mati.
“Suamiku! Apakah kau mendengarku?!” teriak Permaisuri Yuo Kai dari atas. Ia berteriak menggunakan tenaga dalam.
Prabu Dira dan Barbara terkejut mendengar teriakan itu. Keduanya mendongak melihat ke atas. Prabu Dira tersenyum. Tiba-tiba tinju tangan kanannya menyala hijau. Tinju itu lalu ia goyang-goyangkan di atas kepala.
“Aku mendengarmu, Sayangku! Aku tidak bisa naik dan tidak bisa turun, juga tidak bisa terbang!” teriak Prabu Dira keras, juga menggunakan tenaga dalam.
Mendengar kata terbang, Permaisuri Yuo Kai jadi teringat sesuatu.
__ADS_1
Sementara Barbara hanya memandang dengan tatapan benci. Prabu Dira lalu memadamkan sinar hijau pada tangannya.
Permaisuri Yuo Kai lalu melompat dari bibir jurang, ia terbang bebas.
Zersss!
Di saat tubuh Permaisuri Yuo Kai meluncur jatuh, tiba-tiba dari dalam tubuhnya melesat keluar sinar jingga berbentuk belalang raksasa. Makhluk sinar itu lalu terbang bermanuver dan langsung menyambar tubuh sang permaisuri.
Alangkah terkejutnya Barbara melihat peristiwa di atas itu. Sementara Prabu Dira hanya tersenyum.
Belalang sinar jingga terbang menukik menuju ke tempat Prabu Dira berada. Belalang itu lalu berhenti melayang di udara di dekat mereka berdua. Keberadaan makhluk itu membuat sosok Barbara terlihat jelas wajah dan fisiknya.
Barbara ternyata seorang wanita muda yang cantik dengan hidung yang mancung indah, berambut kuning dan berpupil mata warna biru. Fisiknya tinggi dan besar dengan ukuran dada yang juga besar, membuat Prabu Dira langsung ingat Dewi Bayang Kematian.
Barbara menatap tajam kepada Permaisuri Yuo Kai. Meski tatapannya tajam, tetapi di dalam hati ia mengakui kejelitaan Permaisuri Yuo Kai. Ia pun baru sadar dengan ketampanan Prabu Dira dan bibir merahnya.
Meski Prabu Dira teringat dengan Dewi Bayang Kematian, tetapi kini ia sudah terkendali. Mungkin karena faktor bahwa ia sudah terbiasa mendaki gunung.
Prabu Dira lalu melompat naik dan duduk di belakang istrinya.
Permaisuri Yuo Kai langsung mengarahkan belalang jingganya terbang pergi. Hal itu membuat Barbara mendelik karena ia ditinggal sendiri begitu saja.
Namun, setelah belalang jingga itu terbang tinggi, ia kemudian berputar arah dan kembali turun lalu berhenti melayang di depan Barbara. Belalang itu mengepak-ngepakkan sayapnya.
“Naiklah, Nisanak!” seru Prabu Dira sambil tangannya bergerak mengajak. Ia berhasil membujuk istrinya untuk bermurah hati kepada wanita berambut pirang itu.
Permaisuri Yuo Kai juga memberi isyarat dengan gerakan wajahnya. Ia menunjuk posisi depannya dengan pandangan mata.
Barbara terdiam sambil tetap memandang tajam pada suami istri itu. Namun akhirnya, ia memutuskan melompat dan duduk tepat di depan Permaisuri Yuo Kai.
Setelah itu, belalang sinar itu langsung melesat terbang ke atas. Ia diarahkan oleh Permaisuri Yuo Kai terbang ke lokasi tempat Bo Fei dan Chi Men berada.
“Yang Mulia Putri! Mai Cui diculik seseorang!” lapor Bo Fei saat melihat kedatangan junjungannya.
Prabu Dira dan kedua wanita yang bersamanya segera turun dari punggung belalang yang kemudian buyar dan melesat masuk ke tubuh tuannya.
Saat itu di tempat itu, hanya ada Bo Fei dan Yi Liun. Tidak terlihat keberadaan Chi Men dan Mai Cui. (RH)
__ADS_1