Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 15: Joko Turun Tarung


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)* 


Ada empat orang yang berdiri di tengah jalan menghadang laju kereta kuda Joko Tenang dan ketiga istrinya.


Orang pertama yang berdiri paling kanan adalah seorang lelaki berperut gendut dengan tinggi badan cukup jangkung. Ia mengenakan baju biru lengan pendek dan pendek bawahnya, sehingga bagian perut bawahnya terlihat tersembul. Apalagi jika dia angkat tangan, maka banyaklah perutnya yang akan tampak. Panjang celana biru gelapnya hanya sebatas lutut seperti celana seragam anak SMP. Rambut gondrongnya dikepang dua seperti gadis suku Indian. Ia membawa sebuah tombak yang pada leher senjatanya itu ada hiasan kain merah. Meski usianya sudah empat puluh tahun, tetapi ia dikenal dengan nama Bocah Kepang.


Orang kedua di sisi kiri Bocah Kepang adalah seorang lelaki muda berambut gondrong keriting. Pemuda berusia di bawah dua puluh lima tahun itu berhidung mancung bengkok, seolah batang hidungnya bekas patah. Ia mengenakan pakaian pendekar merah tanpa lengan, memperlihatkan lengannya yang berotot secukupnya. Kedua batang tangannya dibalut kain hitam. Ia adalah orang termuda dari para penghadang. Namanya Sembada, berjuluk Jagoan Tinju Utara.


Orang ketiga adalah seorang lelaki gagah berbadan bagus dengan otot-otot bertonjolan. Sepertinya dia selalu menjaga pola makan empat sehat lima sempurna, plus fitness rutin di akhir pekan. Keindahan otot lengan dan badannya menuntutnya memakai baju ketat berwarna putih. Namun, ia mengenakan celana gombrong warna hitam. Namun pula, ketampanannya agak rusak oleh gigi atas yang juga menonjol. Ia berbekal dua golok kembar yang tersandang menyilang di punggungnya. Lelaki berusia tiga puluh lima itu bernama Gigi Gagah.


Orang keempat adalah lelaki berusia separuh abad. Ia berkulit hitam dengan rambut berwarna biru, alis berwarna biru, hingga jenggot model kambing miliknya juga berwarna biru. Warna biru itu membuatnya terlihat dua tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Lelaki berjubah putih itu memegang dua buah bola besi hitam sebesar telur penyu. Ia bernama Kuraban, tanpa julukan atau gelar akademis.


Sementara agak jauh di belakang sana, tersebar memantau lima lelaki dan seorang wanita. Mereka juga berpenampilan pendekar dengan gaya dan senjata masing-masing.


“Hahaha!”


Tertawa bersama-sama adalah hal pertama yang keempat orang itu lakukan ketika kereta kuda Joko Tenang berhenti tiga tombak di depan mereka. Sebenarnya tidak ada yang lucu, tetapi keberadaan tiga “emak-emak” cantik yang bersama Joko Tenang tiba-tiba berubah lucu di otak mesum mereka. Bahkan anggota termuda terlihat yang paling mesum, sampai-sampai membasahi kedua bibirnya dengan sapuan lidahnya.


“Cantik cantik cantik,” ucap Sembada sambil memandang tajam kepada Tirana dan Kerling Sukma.


“Kau itu masih di bawah umur, Sembada! Hahaha!” hardik Gigi Gagah lalu tertawa kencang, diikuti tawa semuanya.


“Kau itu cocoknya dengan yang berbibir merah itu!” timpal Kuraban, merujuk kepada Joko Tenang.


“Hahaha…!” Mereka kembali tertawa kencang.


“Ingin rasanya aku langsung mencolok mata mereka semua!” geram Kerling Sukma.


“Tenang, berikan kesempatan bagi mereka untuk menikmati nyawanya sebentar lagi,” kata Tirana yang duduk di sisi Kerling Sukma. Mereka berdua duduk bersila di atap bilik kereta.


Joko Tenang sebenarnya panas hati mendengar tawa-tawa kurang diajar dari keempat lelaki itu, terlebih jika melihat Sembada yang menunjukkan gelagat paling minta untuk ditatar cara bersikap. Sudahlah paling muda, tetapi paling bertingkah.


“Apakah Kakang ingin memberi pelajaran kepada semua mulut mereka?” tanya Tirana menawarkan kepada suaminya.


“Ingin sekali. Mulut mereka perlu ditampar!” desis Joko Tenang.


“Bertemu di dalam mimpi saja pasti aku bocor, apalagi benar-benar nyata, baru pegang tangan saja sudah bisa bocor! Hahaha!” kata Sembada.


“Hahahak…!” Ketiga lelaki lainnya tertawa ngakak mendengar perkataan Sembada. Mereka mengerti maksud kata “bocor”.


Tap! Wess!


Di saat keempatnya tertawa, tiba-tiba sosok si jelita Tirana telah bersalto di udara dan mendarat satu tombak di depan mereka berempat. Seiring itu, satu gelombang angin halus menerpa mereka berempat.


Seketika keempatnya berhenti tertawa saat mereka tidak bisa bergerak sedikit pun. Mereka berempat telah terkena ilmu Pemutus Waktu milik Tirana. Keempat lelaki itu jadi mendelik panik, terlihat dari gerakan bola mata mereka yang menjadi liar.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” tanya Sembada.


“Kau sudah membuat marah perempuan cantik itu, Bodoh!” jawab Bocah Kepang.


“Habislah kita!” kata Gigi Gagah cemas.


“Kalian terlalu meremehkan para wanita itu!” rutuk Kuraban.


“Bukankah termasuk kau, Kuraban!” balas Gigi Gagah.


Tirana memandang tajam kepada keempat lelaki itu satu per satu.


“Mulut kalian sangat perlu untuk diberi palajaran!” desis Tirana.


Tampak Joko Tenang turun dari kereta kuda. Ia berjalan gagah dengan tatapan penuh wibawa. Sementara keenam orang lainnya yang ada di belakang sana hanya memantau tanpa turun bertindak.


Joko Tenang mendatangi Kuraban. Ia berhenti dan menatap sepasang mata Kuraban.


“Sudah tua tapi masih jelalatan!” rutuk Joko Tenang. Ia lalu menyentil kencang bibir Kuraban.


“Akk!” pekik Kuraban kesakitan. Bibirnya sampai bergetar.


Joko Tenang lalu bergeser ke depan Gigi Gagah.


“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Gigi Gagah panik.


Plak!


Joko Tenang menampar bibir Gigi Gagah yang tidak bisa rapat.


“Aww!” pekik Gigi Gagah, tanpa bisa menghindar atau berbuat sesuatu.


Joko Tenang kembali bergeser ke hadapan Sembada alias Jagoan Tinju Utara.


“Yang ini, masih ingusan sudah bicara dewasa. Masih muda harus ingat umur, jangan terlalu kurang ajar!” kata Joko Tenang.


Tis! Plak! Buk!


Joko Tenang lalu menyentil bibir Sembada lalu menyusul dengan satu tamparan keras, sampai membuatnya terdorong jatuh ke belakang, seperti jatuhnya patung orang-orangan. Ketara sekali bahwa Joko Tenang sangat kesal terhadap Sembada. Meski sudah jatuh, Sembada tetap tidak bisa bergerak.


Terakhir, Joko Tenang bergeser ke hadapan Bocah Kepang.


Pak!


“Aww!” pekik Bocah Kepang.

__ADS_1


“Lain kali beli baju yang lebih besar!” bentak Joko Tenang.


“I… iya!” sahut Bocah Kepang, seolah ingin menangis.


Setelah itu, Joko Tenang berbalik dan kembali pergi ke singgasananya sebagai seorang kusir. Terlihat Getara Cinta tertawa rendah. Adegan barusan dinilainya adalah pertunjukan lucu.


Tirana telah berkelebat di udara dan kembali duduk di sisi Kerling Sukma.


Akhirnya keempat lelaki itu bebas dari pengaruh ilmu Pemutus Waktu.


“Kurap!” maki Sembada setelah berdiri, tetapi mulutnya buru-buru dibekap oleh Bocah Kepang, sehingga makiannya yang seharusnya “kurang” menjadi “kurap”.


“Diamlah! Kau mau kali ini yang disentil adalah nyawamu?” kata Bocah Kepang.


“Biarkan orang tua yang bicara,” kata Gigi Gagah.


Akhirnya Sembada diam dengan wajah dilipat merengut.


Kini mereka berempat tidak tertawa lagi. Mereka trauma dengan hukuman yang diberikan oleh Joko Tenang tadi.


“Kisanak sekalian, izinkan kami berlalu dengan damai!” seru Joko Tenang, memulai negosiasi.


“Tidak bisa!” tandas Kuraban. “Jalan ini telah dikuasai oleh Gerombolan Kuda Biru!”


“Kembali pun tidak mungkin kami lakukan. Kami memiliki urusan penting dengan Resi Tambak Boyo!” kata Joko Tenang.


“Itu urusanmu!” sentak Kuraban.


“Jika kalian berhasil sampai di sini, apa yang kalian lakukan terhadap teman-teman kami di jalan hutan?” tanya Gigi Gagah.


“Aku sudah meminta mereka untuk memberi jalan, tapi mereka tidak memberikan, terpaksa kami menciptakan jalan sendiri,” ujar Joko Tenang. “Kita tidak memiliki permusuhan, alangkah baiknya jika kalian membiarkan kami berlalu dengan nyaman!”


“Kalian telah membuat urusan dengan Gerombolan Kuda Biru! Maka kalian harus mati, kecuali kau mau menyerahkan ketiga wanita itu untuk kami!” seru Sembada yang tidak tahan terus mengunci mulutnya.


Perkataan Sembada justru menyulut kemarahan Joko Tenang.


“Kau masih muda, tetapi kau tidak sayang nyawamu, Kisanak!” seru Joko Tenang, khusus kepada Sembada. Lalu katanya lagi kepada mereka, “Aku juga ingin katakan, Gerombolan Kuda Biru telah salah berani berurusan dengan penguasa Kerajaan Sanggana Kecil!”


Setelah berkata seperti itu, Joko Tenang tiba-tiba berdiri dan berlari melompat menginjak punggung kuda penarik kereta, lalu melangkah lagi menginjak kepala kuda sebagai tolakan untuk melompat jauh ke depan.


Joko Tenang sudah kehilangan kesaktian, termasuk ilmu peringan tubuhnya. Ketika dia melompat dari atas kepala kuda, sudah dapat dipastikan dia akan jatuh berdebam ke tanah.


Namun seiring itu, Tirana melesat menyambar tubuh suaminya sehingga bisa melompat jauh ke depan dan mendarat di hadapan keempat lawannya yang langsung memasang kuda-kuda siap tarung.


“Macan Penakluk!” seru Joko Tenang sambil menonjokkan tangan kanannya yang memiliki Cincin Macan Penakluk ke arah Sembada.

__ADS_1


Aaurrgk! (RH)


__ADS_2