Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
104. Murka Putri Yuo Kai


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Putri Tutsi Yuo Kai nan cantik dengan pakaian kuning putih, berjalan cepat memasuki aula utama Istana Naga Langit, bertepatan dengan keluarnya para pejabat dari sidang yang dibubarkan lebih awal.


Putri Yuo Kai datang bersama dengan ke-12 prajurit berpakaian merahnya yang dikenal dengan Pengawal Angsa Merah.


Kehadirannya hanya bisa menjadi perhatian para pejabat sambil lalu. Para pejabat yakin, akan ada kejadian besar setelah ini. Ekspresi wajah sang putri jelas menunjukkan kemarahan. Mereka mengetahui, meski Putri Yuo Kai terkenal dingin dan tidak akrab dengan kedua adiknya, tetapi ia sangat menyayangi adik-adiknya, khususnya Putri Ling Mei.


Saat itu, Kaisar Tutsi Long Tsaw baru saja hendak masuk ke ruang dalam bersama Kepala Kasim Yo Gou dikawal oleh Jenderal Bo Yung dan empat prajurit berzirah warna emas.


“Yang Mulia Kaisar!” seru Putri Yuo Kai memanggil.


Kaisar Tsaw yang baru menyibak tirai manik-manik untuk masuk ke dalam, seketika berhenti. Wajahnya yang masih menyiratkan kemarahan, segera berpaling memandang jauh ke pintu aula. Ketika melihat kedatangan putri tertuanya bersama pasukan khususnya, berubahlah warna muka sang ayah.


Wajah Kaisar Tsaw yang tegang berubah menjadi lebih sedikit rileks dengan seulas senyum yang terbatas.


Sang kaisar segera berbalik, bahkan pergi menuruni tangga singgasanya demi manyambut kedatangan sang putri. Kepala Kasim Yo Gou dan Kepala Pengawal Kaisar Jenderal Bo Yung mengikuti di belakang.


“Hormat sembah hamba, Yang Mulia Kaisar!” ucap Putri Yuo Kai sambil turun berlutut menghormat. Sementara ke-12 prajuritnya menghormat sampai bersujud di lantai.


“Bangunlah kalian semua!” perintah Kaisar Tsaw.


Putri Yuo Kai dan Pengawal Angsa Merah kembali bangun berdiri.


“Bagaimana ini, Kai’er? Adikmu Ling Mei...” ucap Kaisar Tsaw dengan wajah cemas.


“Ayahanda jangan cemas, mereka yang berani berbuat jahat kepada keluarga istana aku pastikan tidak perlu dieksekusi mati di tiang gantungan, tetapi akan aku eksekusi di tempat,” ujar Putri Yuo Kai menenangkan ayahnya.


“Para prajurit sedang mengejarnya,” kata Kaisar Tsaw.


“Jika orang itu berani menculik dan membunuh di dalam istana, para prajurit biasa tidak akan sanggup menangkapnya. Setelah aku kembali, aku pastikan semuanya akan baik-baik saja. Sampaikan kepada Ibunda Permaisuri untuk tidak cemas,” kata Putri Yuo Kai.


“Berhati-hatilah, Kai’er!” pesan sang kaisar.


“Hamba pamit diri, Yang Mulia,” ucap Putri Yuo Kai lalu menghormat hanya dengan merendahkan sedikit tubuhnya.


“Ingat, bawa adikmu dengan selamat!” kata Kaisar Tsaw.


Putri Yuo Kai pun berbalik pergi. Pengawal Angsa Merah mengikuti.


Sambil berjalan, Putri Yuo Kai memberi perintah, “Pengawal Angsa Merah, selamatkan Putri Ling Mei dan eksekusi di tempat para penjahatnya!”


“Baik, Yang Mulia!” jawab ke-12 wanita Pengawal Angsa Merah serentak.


Setelah itu, ke-12 Pengawal Angsa Merah berlari cepat dan rapi dalam barisan menuju ke luar, mendahului sang putri. Setibanya di tangga, mereka langsung berterbangan seperti 12 burung merah. Bahkan mereka melesat terbang lewat di atas para kepala pejabat yang sedang menuruni tangga. Pengawal Angsa Merah memang memiliki ilmu peringan tubuh yang tinggi.

__ADS_1


Dalam waktu singkat, wanita-wanita berpakaian merah sudah sampai di kejauhan, melompat dari satu atap bangunan ke atap bangunan yang lain.


Setelah Pengawal Angsa Merah hampir hilang di kejauhan, barulah giliran Putri Yuo Kai yang melesat terbang seperti burung. Para pejabat hanya bisa dibuat mendongak terpukau melihat keanggunan dan kesaktian sang putri.


Berbekal petunjuk dari suar yang lepaskan oleh prajurit yang menghadapi para penculik dan sandi dari menara pemantau, Pengawal Angsa Merah dengan cepat tiba di bagian selatan Ibu Kota.


Bao-yu dan Jia Li, penculik Putri Ling Mei, baru saja dengan mudahnya selesai membantai para prajurit Pasukan Naga Merah Selatan ketika Pengawal Angsa Merah tiba di lokasi.


Kini, ke-12 Pengawal Angsa Merah berdiri mengepung Bao-yu dan Jia Li. Dua lawan 12 orang.


Sementara itu, Putri Yuo Kai telah tiba di atas atap sebuah rumah warga yang ada di dekat parit. Bertepatan dengan ketibaannya, ia menyaksikan Komandan Naga Hitam Selatan So Song sudah tumbang oleh Qionglin yang berdiri di atas pagar jembatan parit.


Set! Set! Prak!


Melihat perwira Negeri Jang dibantai, kemarahan Putri Yuo Kai semakin memuncak. Ia sepak satu lembar genteng atap di bawah pijakannya. Selembar genteng itu melesat deras menyasar posisi Qionglin yang sedang menatap puas atas kematian Komandan So Song.


Merasa ada serangan dari samping atas, Qionglin refleks melesatkan satu tusuk konde ke arah sumber serangan. Tusuk konde itu menghancurkan genteng di udara.


Qionglin memandang jauh ke atas. Wanita tinggi besar itu menatap tajam kepada sosok cantik Putri Yuo Kai.


“Akhirnya Gurita Besar sudah keluar,” desis Qionglin, menyebut Putri Yuo Kai dengan nama “Gurita Besar”, dua kata yang pernah disebut oleh Ketua Kelompok Hutan Timur Ushang La.


“Beraninya kalian membuat ulah di Negeri Jang!” seru Putri Yuo Kai.


“Kau tahu? Tujuan dari menculik Putri Kecil adalah memancingmu keluar! Akhirnya Gurita Besar keluar! Hahaha!” balas Qionglin dengan suara yang juga kencang. Tawanya terkesan merendahkan sang putri.


“Simpan tawamu itu di neraka!” teriak Putri Yuo Kai sambil tubuhnya melesat turun ke arah jembatan, sementara sepasang tangannya yang menyatu ia tusuk ke depan.


Zesss! Beemm!


Broakr!


Mendelik terkejut Qionglin. Satu sinar putih yang nyaris tidak terlihat, melesat begitu cepat dari tangan Putri Yuo Kai. Sinar dari ilmu bernama Bidikan Mata Langit itu terlalu cepat, membuat Qionglin tidak sempat untuk menghindar, kecuali mempertahankan diri.


Qionglin menyilangkan kedua batang lengannya di depan tubuhnya. Tenaga dalam langsung melindungi tubuhnya.


Namun, kekuatan ilmu Bidikan Mata Langit terlalu besar. Ketika sinar putih samar itu menghantam Qionglin, tubuh besar wanita itu langsung terpental dahsyat menghantam tembok sebuah warung makan. Tembok itu jebol dan tubuh Qionglin sampai masuk menghancurkan dapur.


Pemilik warung makan dan karyawannya langsung berhamburan ketakutan. Memang sejak awal mereka memendam rasa ketar-ketir di saat pelanggan pun tidak ada yang berani datang.


Kini Putri Yuo Kai berdiri anggun di tengah-tengah jembatan. Sejenak ia memandangi Komandan Ram Pok yang sudah terkulai tanpa nyawa di jembatan.


Di dalam dapur warung makan, Qionglin masih bergerak. Darah dari dalam mulutnya mengotori dagu dan baju atasnya.


Tung!

__ADS_1


Ada-ada saja. Sebuah kuali yang tergantung di atas dinding yang sudah goyah, jatuh dengan sendirinya dan menimpa kepala Qionglin.


“Aaarrr!” teriak Qionglin tinggi, memperlihatkan rongga mulutnya yang penuh darah. Dia murka. Ia sedikit pun tidak menyangka Putri Yuo Kai yang ia remehkan ternyata sesakti ini.


Dengan manahan rasa sakit yang hebat pada seluruh tubuhnya, Qionglin bergerak bangun dan berjalan gontai keluar dari rumah makan itu. Tatapannya tajam kepada sosok Putri Yuo Kai yang berdiri menunggunya.


Meski dalam kondisi terluka parah, Qionglin merasa masih bisa memberikan perlawanan sengit kepada putri itu.


“Hiaaat!” teriak Qionglin tinggi sambil tiba-tiba berlari dan melompat ke arah jembatan.


Sesez!


Sepuluh Setan Penjemput Qionglin lesatkan. Sepuluh tusuk konde bersinar hijau melesat deras menyerang sang putri.


Bress!


“Hekr!” keluh Qionglin saat masih berada di udara. Ia hanya bisa mendelik lebar, sementara pikirannya tidak habis pikir apa yang dialaminya.


Seolah-olah tubuh Putri Yuo Kai terbentengi oleh ilmu perisai yang sangat hebat, tubuhnya melesat cepat menabrak sepuluh tusuk konde yang melesat tanpa terluka dan tahu-tahu Putri Yuo Kai sudah mencekik leher Qionglin di udara.


Broak!


Begitu kuat cekikan tangan halus Putri Yuo Kai, membuat Qionglin yang bertubuh besar itu tidak berdaya.


Dan hebatnya, Putri Yuo Kai bisa langsung membanting tubuh Qionglin di udara ke bawah, sehingga pembunuh dua komandan itu sangat keras menghantam lantai jembatan. Begitu kuatnya bantingan itu sampai membuat lantai jembatan hancur berlubang besar.


Dan setelah itu, Qionglin tidak bergerak lagi sedikit pun. Nyawanya sudah pamit meninggalkan raganya yang terkapar dalam kondisi tulang berpatahan.


Pada saat yang sama di tempat lain, Bao-yu dan Jia Li mengalami nasib yang sama. Melawan 12 orang berkesaktian lebih tinggi dari mereka membuat mereka harus mati dalam waktu yang singkat.


Putri Ling Mei yang dijadikan sandera ternyata tidak bisa dijadikan benteng pertahanan dalam menerima serangan Pengawal Angsa Merah yang bertarung secara kelompok.


Kembali ke jembatan parit yang sudah rusak parah.


Putri Yuo Kai agak terkejut dalam diamnya karena setelah kematian Qionglin, ada tujuh orang yang tiba-tiba muncul di sekelilingnya.


Ada dua orang wanita berpakaian merah berdiri di atas atap sebuah bangunan di sisi kanan parit, seorang lelaki berdiri di atas atap sebuah rumah di sisi kiri parit, seorang lelaki gemuk berdiri di tanggul sisi kanan, dua orang lelaki berdiri di atas perahu, dan seorang lelaki berdiri di atas pagar jembatan.


Kedatangan mereka sedikit pun tidak terlihat, tahu-tahu sudah berdiri di posisinya masing-masing.


Orang yang membuat Putri Yuo Kai terkejut adalah keberadaan lelaki yang berdiri di atas pagar jembatan, lima langkah dari posisinya. Namun, ketika Putri Yuo Kai melihat sosok orang itu, ia lebih terkejut. Wajah tampannya yang berbibir merah sangat akrab.


“Tuan Joko Tenang?” ucap Putri Yuo Kai terperangah.


Sosok lelaki berompi merah yang kini berdiri di atas pagar jembatan tidak lain adalah Joko Tenang, pendekar dari negeri nun jauh di selatan.

__ADS_1


Joko Tenang hanya tersenyum kepada Putri Yuo Kai. Senyuman yang manis dan menusuk indah ke dalam hati Putri Yuo Kai. Namun itu hanya terjadi di dalam hati Putri Yuo Kai, bukan di wajahnya. (RH)


__ADS_2