Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 25: Orang Pertama Pengawal Bunga


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*


“Orang itu adalah pendekar anggota Gerombolan Kuda Biru yang kami kalahkan di Gerbang Hati Putih,” kata Joko Tenang kepada Resi Tambak Boyo, merujuk kepada kedatangan Reksa Dipa.


“Seharusnya dia sudah pergi, tetapi kenapa justru datang ke sini,” kata Tirana heran.


Resi Tambak Boyo, Joko Tenang dan ketiga istrinya hanya memandangi kedatangan Reksa Dipa hingga ke tempat mereka duduk. Pemuda yang mengantar Reksa Dipa pergi setelah menjura hormat kepada gurunya.


Reksa Dipa lalu turun berlutut menjura hormat kepada semua.


“Hormatku kepada Resi Tambak Boyo. Hormatku kepada Kisanak Pendekar dan para Nisanak Pendekar!” ucapnya.


“Siapa kau, Kisanak? Dan apa maksudmu datang mencari Pangeran Dira? Karena Pangeran dan istri-istrinya ini merasa tidak mengenalmu,” tanya Resi Tambak Boyo mewakili Joko Tenang.


Agak terkejut reaksi Reksa Dipa mendengar status Joko Tenang sebagai seorang pangeran.


“Sembah hamba, Yang Mulia Pangeran!” ucap Reksa Dipa lagi sambil memperbaharui penghormatannya menjadi lebih dalam dan lebih sakral.


Tindakan itu mengejutkan Joko Tenang dan para istrinya.


“Apa yang kau perbuat, Kisanak? Kenapa kau lakukan itu?” tanya Joko Tenang cepat.


“Hamba Reksa Dipa, ingin mengabdi kepada Pangeran!” jawab Reksa Dipa. Kini ia sudah menatap Joko Tenang dengan wajah dinginnya yang tanpa senyum dan ekspresi warna-warni.


“Aku hanya seorang pendekar biasa yang mendapat gelar pangeran, tidak pantas menghambai orang lain. Dan tindakanmu ini sangat mencurigakan, Reksa Dipa. Kita baru saja bertarung untuk saling bunuh, tapi tiba-tiba kau datang menghamba dan ingin mengabdi. Jangan lakukan itu. Pergilah jalani hidupmu dengan baik. Terlebih aku tidak punya kekayaan untuk membayar pengabdianmu,” ujar Joko Tenang.


“Hamba adalah seorang pengabdi. Hamba adalah seorang pendekar yang haus akan pertarungan. Hamba selalu mengabdi kepada orang yang selalu mengalahkan hamba. Karena hamba melihat Pangeran sangat sakti dan memiliki istri-istri yang juga sakti, maka hamba sangat ingin mengabdi dan setia kepada Pangeran,” jelas Reksa Dipa agak panjang, perkara yang sangat malas ia lakukan, tetapi harus ia jelaskan.


“Mengabdi kepada setiap menemukan orang yang lebih kuat bukanlah cara hidup seorang pendekar, Reksa. Kau harus hidup dengan penuh kehormatan. Itu artinya kau berkhianat kepada tuanmu setiap kau menemukan orang yang lebih kuat. Kau pun akan berkhianat kepada kami jika kau menemukan orang yang bisa mengalahkan kami. Lalu di mana setiamu?” kata Joko Tenang menasihati.


“Tidak, aku bersumpah, kali ini aku akan setia sampai mati. Kalian adalah orang baik, hal itu yang menjadi alasanku untuk tidak berkhianat. Aku pun tidak membutuhkan bayaran, aku hanya perlu diberi kesempatan untuk bertarung membela Pangeran dan para Putri!” tandas Reksa Dipa.


“Setarikan napas yang lalu kau adalah orang Gerombolan Kuda Biru, kini kau tiba-tiba beralih haluan. Menerimamu ibarat kami memeluk seekor ular berbisa. Kau bisa menusuk kami dari belakang!” kata Kerling Sukma pula.


“Aku berani bersumpah sebagai seorang pendekar, aku akan setia mengabdi sampai mati. Cukuplah kalian pemimpin terakhir yang aku ikuti. Bahkan aku bersumpah akan mengabdi kepada keturunan-keturunan kalian!” tegas Reksa Dipa.


“Bagaimana kalau kami menolakmu?” tanya Joko Tenang lembut.

__ADS_1


“Aku akan terus mengikuti kalian ke mana pun kalian pergi, sampai aku diterima dengan sempurna!” jawab Reksa Dipa mantap.


“Bagaimana, istri-istriku?” tanya Joko Tenang tanpa memandang ke para istrinya.


“Kita perlu pembuktian,” jawab Tirana. Lalu katanya kepada Reksa Dipa, “Reksa Dipa, kami sedang memerangi Gerombolan Kuda Biru. Jika benar kau sangat ingin mengabdi dan setia kepada kami, tentunya kau akan bertemu tarung dengan teman-temanmu. Mereka akan menjulukimu sebagai pengkhianat dan nyawamu sangat penting bagi mereka untuk dimusnahkan. Apakah kau siap menerima hal seperti itu?”


“Hamba siap, Putri!” jawab Reksa Dipa mantap.


“Bagaimana, Ratu?” tanya Joko Tenang kepada Getara Cinta.


“Jumlah kita dengan Gerombolan Kuda Biru sangat tidak seimbang. Kita membutuhkan bantuan tenaga sakti untuk menghadapi mereka. Jika Reksa Dipa memang ingin menjadi baik dengan cara bergabung bersama kita, kesempatan layak kita berikan, Kakang,” kata Getara Cinta.


“Bagaimana menurutmu, Dewi Mata Hijau?” tanya Joko Tenang pula kepada Kerling Sukma.


“Aku sependapat dengan Ratu. Namun jika dia berkhianat, izinkan aku yang langsung memancungnya,” kata Kerling Sukma bernada lebih galak.


“Ada berapa banyak jumlah Gerombolan Kuda Biru?” tanya Joko Tenang kepada Reksa Dipa.


“Sekitar enam puluh orang,” jawab Reksa Dipa.


“Siapa pemimpin kalian?” tanya Resi Tambak Boyo.


“Gadis Kuda Biru, Nenek Haus Jantung dan utusan dari Kerajaan Siluman, Siluman Panah Setan,” jawab Reksa Dipa.


Terkejutlah Resi Tambak Boyo, Joko Tenang dan ketiga istrinya. Resi Tambak Boyo terkejut karena mendengar nama Nenek Haus Jantung, salah satu dedengkot aliran hitam yang ditakuti, tetapi mau bergabung bersama kelompok yang awalnya adalah gerombolan perampok.


Sementara Joko Tenang dan ketiga istrinya terkejut karena mendengar nama Kerajaan Siluman, kerajaan tempat Putri Sri Rahayu berasal.


“Aku rasa Gerombolan Kuda Biru tidak berdiri sendiri. Adanya utusan dari Kerajaan Siluman menunjukkan ini bagian dari satu perkara besar dan luas,” kata Joko Tenang dengan kening mengerut berpikir.


“Karena itulah kami ditakdirkan sebagai istri-istri Kakang,” timpal Tirana seraya tersenyum.


Joko Tenang terdiam merenung sambil menatap kepada Resi Tambak Boyo. Lelaki serba putih itu hanya mengangguk tersenyum kepada Joko Tenang, seolah membenarkan perkataan Tirana.


“Baik!” seru Joko Tenang sambil menepuk paha kanannya sendiri. Lalu katanya dengan lantang laksana seorang superhero, “Aku akan memimpin para istriku untuk menegakkan kebenaran dan memberantas kejahatan di muka bumi ini!”


“Bagus!” puji Resi Tambak Boyo seraya tersenyum lebar melihat semangat Joko Tenang.

__ADS_1


“Dan kau, Reksa Dipa, pembuktian kesetiaanmu harus kau tunjukan sampai akhir hayatmu. Jikapun kau harus mati sebagai seorang pendekar, maka matilah sebagai pejuang kebenaran!” kata Joko Tenang laksana seorang jenderal “bintang tujuh”.


“Baik, hamba bersumpah, hamba akan penuhi harapan Pangeran dan tidak akan mengecewakan!” jawab Reksa Dipa seraya menjura hormat sebagai wujud kesetiaannya.


“Kau aku angkat sebagai orang pertama dalam Pasukan Pengawal Bunga!” kata Joko Tenang menetapkan.


Terkejut ketiga istri Joko Tenang mendengar ketetapan suami mereka. Ini pertama kalinya mereka mendengar nama “Pasukan Pengawal Bunga”. Mereka pun belum tahu jenis pasukan apa yang dimaksud, sebab Joko Tenang memang belum pernah menyebutkan nama itu.


“Siap, hamba patuh pada perintah, Pangeran!” jawab Reksa Dipa.


“Kakang, bisa jelaskan kepada kami apa itu Pasukan Pengawal Bunga?” tanya Getara Cinta.


“Hahaha!”


Joko Tenang malah tertawa rendah. Ia lalu sedikit membelokkan arah duduknya agar menghadap kepada ketiga istrinya yang selalu enak dipandang.


“Tiba-tiba aku dapat wangsit untuk membentuk pasukan pengawal bagi para istriku. Aku akan punya kerajaan dan aku akan punya delapan istri, bahkan lebih. Jadi, aku berpikir bahwa istri-istriku yang laksana bunga mekar indah dan harum berhias embun pagi, perlu para pengawal,” kata Joko Tenang kepada ketiga istrinya.


“Kerajaan Delapan Dewi Bunga tengah dibangun di atas cinta, bersama membasmi segala bentuk jenis serangga, delapan bunga adalah mutiara sakti yang mengabdi kepada paduka, maka sepatutnya sang rajalah yang dijaga bala tentara,” syair Kerling Sukma.


Tersenyumlah Joko Tenang dan yang lainnya mendengar syair wanita bermata hijau itu.


“Terima kasih atas perhatianmu, Dewi Mata Hijau. Akulah yang paling berkewajiban menjaga kalian semua. Namun, karena aku satu dan kalian ada delapan, maka aku adakan para pengawal sebagai wujud penjagaanku kepada kalian,” tandas Joko Tenang.


“Baiklah, apa yang Kakang pandang baik, maka kami pun akan setuju,” kata Tirana.


“Aku akan mencontoh model Pasukan Seratus Siluman seperti yang dimiliki oleh Kerajaan Sanggana milik ayahku,” tambah Joko Tenang.


Joko Tenang lalu kembali membenarkan duduknya menghadap kepada Resi Tambak Boyo dan Reksa Dipa.


“Persiapkan dirimu, karena besok pagi kita akan ke Kadipaten untuk menunggu Gerombolan Kuda Biru menyerang,” kata Joko Tenang kepada Reksa Dipa.


“Gerombolan Kuda Biru sudah menyerang Kadipaten sejak sore tadi,” kata Reksa Dipa.


“Apa?!” kejut Joko Tenang dan ketiga istrinya bersamaan.


“Kita harus ke sana sekarang juga!” kata Joko Tenang cepat. (RH)

__ADS_1


__ADS_2