
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
Kaisar Long Tsaw bersama seluruh Keluarga Istana, kecuali Pangeran Han Tsun, kini telah berkumpul di teras Istana Naga Langit. Demikian pula seluruh pejabat pemerintahan dan pejabat militer. Mereka akan melepas kepergian Joko Tenang dan Putri Yuo Kai.
Prabu Dira Pratakarsa Diwana sudah berdiri di atas punggung Gimba setelah ia berpamitan kepada kedua mertua dan kedua selir Kaisar.
Sementara Bo Fei, Chi Men, Mai Cui, dan Yi Liun sudah masuk ke dalam bilik kereta kuda yang dimodifikasi sudah tanpa roda dan kuda. Bilik kereta kuda itu berada tidak jauh dari sisi Gimba.
“Hormat Ananda kepada Ayahanda Kaisar dan Ibunda Permaisuri!” ucap Putri Yuo Kai sambil turun bersujud kepada ayah dan ibunya. Ini adalah penghormatan paling dalam yang dilakukan oleh Putri Yuo Kai.
“Bangunlah, Kai’er!” ucap Permaisuri Fouwai buru-buru memegang kedua lengan putrinya dan menuntunnya berdiri. Ia menangis menatap wajah jelita putrinya. “Kau harus sering-sering mengirim kabarmu kepada Ibu, Kai’er.”
“Aku akan rutin mengabari kalian,” ucap Putri Yuo Kai dengan mata berkaca-kaca. Ia turut terbawa oleh kesedihan ibunya. “Aku nanti bisa mengirim kabar lewat Gimba, burung suamiku.”
Putri Yuo Kai menyeka air mata ibunya di saat sebulir air mata juga jatuh di pipinya.
“Ayahanda dan Ibunda harus selalu menjaga kesehatan karena aku masih ingin bertemu dengan kalian!” pesan Putri Yuo Kai.
Kaisar Long Tsaw dan Permaisuri Fouwai tersenyum mengangguk.
“Pergilah! Burungmu sudah lama menunggu!” kata Kaisar Long Tsaw dengan suara agak bergetar.
Putri Yuo Kai lalu menghormat kepada Selir Ni dan Selir Yim.
“Semoga kesejahteraan selalu padamu, Kai’er,” ucap Selir Ni.
“Semoga Dewa mengaruniaimu banyak keturunan,” doa Selir Yim pula.
“Kakaaak!” ucap Putri Ling Mei sambil menangis mendatangi Putri Yuo Kai. Ia menangis sambil memegang kedua tangan kakaknya.
“Kau sudah besar. Kau kelak harus menggantikan posisi kakak, Ling Mei. Kau harus menjadi kuat, jangan sampai ada penjahat yang bisa menculikmu lagi,” kata Putri Yuo Kai seraya tersenyum kepada adik cantiknya.
“Iya, aku akan menuruti pesan Kakak,” ucap Putri Ling Mei dengan nada manja.
“Aku pergi, Ayahanda Kaisar!” seru Putri Yuo Kai.
__ADS_1
Wanita cantik berpakaian serba putih itu lalu berkelebat melayang tanpa menuruni tangga istana lagi. Ia mendarat di depan kesepuluh wanita berpakaian serba merah yang adalah Pengawal Angsa Merah.
“Pengawal Angsa Merah memberi hormat kepada, Yang Mulia Putri!” teriak kesepuluh wanita itu lantang menggema keras, lalu mereka serentak turun berlutut. “Semoga Yang Mulia Putri selalu sejahtera, dijunjung bumi dan dinaungi langit!”
Meski kesepuluh pengawal sakti itu tampak tegar dengan keperkasaannya sebagai prajurit khusus, tetap saja mereka mengalirkan air mata kesedihan di wajah-wajahnya. Namun, tidak ada suara isak yang terdengar. Rasa pengabdian mereka kepada Putri Yuo Kai sudah begitu tinggi dan dalam. Selama ini mereka tidak pernah terpisahkan dari sang putri.
“Aku titipkan keamanan Permaisuri kepada kalian!” seru Putri Yuo Kai kepada Pangawal Angsa Merah.
“Baik!” sahut mereka lantang serentak.
Putri Yuo Kai lalu berkelebat naik ke atas punggung Gimba. Ia berdiri di sisi Prabu Dira yang kemudian menggandeng tangannya.
“Kejayaan untuk Kaisar Joko Tenang!” teriak Perdana Menteri La Gonho sambil turun berlutut.
“Kejayaan untuk Kaisar Joko Tenang!” teriak seluruh pejabat dan prajurit sambil turun berlutut pula.
Demikian ramainya suara itu hingga ingin terdengar ke luar benteng Istana.
“Kejayaan untuk Putri Yuo Kai!” teriak Perdana Menteri La Gonho lagi, yang kemudian diikuti oleh ucapan seluruh pejabat dan prajurit.
Prabu Dira dan Putri Yuo Kai lalu duduk berdua di pangkal leher Gimba. Sang putri berada di posisi depan, Prabu Dira di belakangnya dengan maksud nanti lebih mudah memeluknya.
“Gimba, berangkat!” perintah Prabu Dira.
Kaaak!
Gimba berkoak pelan, tapi terdengar kencang di telinga manusia. Ia lalu bertolak naik ke udara, lalu mengepakkan sepasang sayapnya. Angin kencang langsung berembus ke segala arah seolah ingin menerbangkan semuanya.
Ketika Gimba mengudara, tali-tali yang mengikat kuat pada kakinya ikut tertarik dan menarik terbang bilik kereta kuda.
Mai Cui dan Yi Liun terkejut ketika bilik kereta kuda tertarik mengudara. Keduanya cepat memandang ke luar lewat jendela.
Sebentar Gimba terbang berputar di atas Istana, setelah itu ia terbang meninggalkan Istana dan ibu kota negeri Jang ke arah selatan.
Akhirnya, pergi sudah Putri Yuo Kai dari Istana dan Negeri Jang. Kini ia memulai perjalanan dan akan menempuh kehidupan dan budaya baru.
Prabu Dira mengalungkan kedua tangan kekarnya pada perut Putri Yuo Kai. Ia rapatkan serapat mungkin duduknya pada tubuh belakang istrinya. Ia bahkan meletakkan dagunya pada bahu Putri Yuo Kai dan menempelkan pipinya pada pipi sang istri.
__ADS_1
Suasana itu begitu mesra bagi Putri Yuo Kai. Ia tersenyum lebar sambil menatap bentangan alam luas dengan terpaan angin kencang yang menyejukkan.
“Aku tidak melihat adikmu, pangeran yang jatuh hati kepada Su Mai?” tanya Prabu Dira.
“Setelah penyerangan terhadap Ibu Kota dan Istana, Ayahanda mengirimnya untuk berguru di kediaman guruku, Penebar Mimpi Buruk. Ayahanda memutuskan itu karena aku akan pergi meninggalkan Jang,” jawab Putri Yuo Kai dengan bahasa yang sudah bermasalah dengan suaminya.
“Bagaimana Chi Men bisa kau biarkan ikut?” tanya Prabu Dira lagi bernada berbisik, memberi suasana romantis pada diri Putri Yuo Kai.
“Dia wanita yang sakti. Beberapa hari yang lalu dia menganggap dirinya seharusnya telah mati. Namun, karena aku telah menolongnya, dia ingin mengabdi, padahal aku sudah membiarkannya untuk pergi bebas, tetapi dia terus memohon untuk ikut pula denganku pergi ke Negeri Jawi. Dia beralasan bahwa di luar Ibu Kota, ia selalu diburu beberapa kelompok. Ia ingin bebas dari perburuan,” jelas Putri Yuo Kai.
“Kau ingin merasakan memiliki tunggangan sendiri?” tanya Prabu Dira menawarkan.
“Maksudmu, Suamiku?” tanya Putri Yuo Kai tidak mengerti.
Prabu Dira lalu menarik kepalanya dari bahu istrinya.
“Alirkan tenaga dalammu ke Cincin Mata Langit, lalu kendalikan dengan pikiranmu!” perintah Prabu Dira.
“Baik,” ucap Putri Yuo Kai patuh.
Permaisuri Pertama lalu mengerahkan tenaga dalamnya dan disalurkan ke tangan kanan, tempat Cincin Mata Langit tersemat.
Zersss!
Kembali terkejut Putri Yuo Kai pada saat sinar jingga besar keluar dari dalam tubuhnya. Sosok belalang berekor tiga itu melesat naik ke langit.
“Kendalikan dengan perintah pikiranmu!” kata Prabu Dira.
Mulailah Putri Yuo Kai mengendalikan belalang sinar jingga itu sehingga ia berbalik menukik turun.
“Lompatlah! Dia akan menjadi tunggangan tuannya!” perintah Prabu Dira.
Dengan keyakinan yang kuat karena mempercayai suaminya, Putri Yuo Kai lalu naik berdiri dan melompat bebas meninggalkan Gimba.
Awalnya Putri Yuo Kai cukup tegang ketika ia melompat di atas ketinggian awan. Namun, ketika belalang jingga raksasa datang menyambar tubuhnya, sehingga ia kini duduk di punggung belalang, ia jadi tertawa senang.
Putri Yuo Kai segera mengarahkan belalang sinarnya terbang naik lebih tinggi menyusul Gimba. Ketika belalang itu terbang berdampingan dengan Gimba, pasangan suami istri hanya tertawa bersama menikmati keseruan di atas langit tersebut.
__ADS_1
Keduanya masing-masing berdiri gagah di atas punggung tunggangannya, diam merasakan nikmatnya terbang di alam bebas. (RH)