Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
115. Keriangan Puspa


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


“Hihihi!”


Puspa tertawa ketika melihat keramaian sebuah lingkungan. Ia berlari kecil masuk ke dalam lingkungan pasar yang ada di sisi barat kota Muchiyang.


Meski tidak sampai berdesak-desakan, pasar itu ramai oleh berbagai kegiatan muamalah antara pedagang dan pembeli, bahkan transaksi sesama pedagang, dari partai besar kepada partai kecil.


Berbagai macam barang, kuliner, hingga jasa berjejer dalam bentuk toko dan lapak. Penyaji hiburan pun ada dan menjadi salah satu tujuan favorit warga kota Muchiyang. Menariknya pasar di negeri ini, dari segi warna saja sudah begitu menarik mata, penuh warna-warni terang nan indah yang memikat perhatian. Ditambah barang-barang bagus dan berbagai perhiasan cantik banyak bertebaran.


Pasar di ibu kota provinsi itu termasuk wilayah yang luas dan menjadi pusat perputaran uang dan ekonomi yang sangat deras. Terlihat pula satu dua orang prajurit berseragam hitam melakukan patroli mengontrol keamanan pasar.


Puspa berhenti di depan toko kain lalu melihat-lihat sejenak sambil tertawa-tawa kecil. Sementara Tirana mengikuti sekaligus mengawasi.


“Silakan dilihat, Nona. Banyak warna cantik untuk pakaian Nona,” kata pemilik toko seraya tersenyum ramah.


Namun, Puspa tidak mengindahkan pemilik toko. Dia pergi begitu saja dan mampir ke toko perhiasan. Toko itu tampak indah dengan pajangan berbagai macam jenis perhiasan asesoris untuk wanita dan laki-laki.


Melihat ramainya kecantikan benda-benda yang asing baginya itu, Puspa tertawa-tawa. Seorang lelaki pegawai toko segera menghampiri Puspa dengan senyuman ramah.


“Selamat datang, Nona. Kemari, aku tunjukkan perhiasan rambut yang sangat pas bagi Nona dan sangat indah untuk wanita cantik seperti Nona,” kata pelayan itu agak panjang sambil menuntun Puspa ke bagian perhiasan untuk rambut, karena ia melihat rambut Puspa terurai begitu saja tanpa hiasan.


“Hihihi! Kau bicara seperti tikus kawin, hihihi!” kata Puspa yang tidak nyaman dengan perkataan si pelayan toko yang tidak dimengertinya.


“Yaaa, seperti itulah di toko kami,” kata si pelayan agak berteriak, bersikap pura-pura mengerti ketika tahu bahwa pelanggannya tersebut orang asing. Ia segera mengambil satu tusuk konde yang memiliki gandulan cantik berkilap dan disodorkan kepada Puspa, “Lihat ini, betapa cantiknya. Apalagi jika disematkan di kepala Nona.”


“Hihihi! Untukku?” tanya Puspa sambil menerima tusuk konde bagus itu.


“Iya,” jawab pelayan itu seraya mengangguk. Lalu katanya lagi, “Harganya memang sedikit mahal, tapi ini barang bagus dan tidak ada di toko lain.”


“Itu juga boleh diambil?” tanya Puspa.


“Ya, semuanya bisa ditawar. Jika Nona membeli banyak, kami akan beri potongan harga,” kata pelayan itu, tetap dengan senyum keramahan.


“Hihihi!” Sambil tertawa-tawa Puspa mulai mengambili perhiasan satu demi satu, berbagai jenis, sampai kedua genggamannya penuh.

__ADS_1


“Nona pasti putri kesayangan seorang bangsawan,” kata pelayan itu. Dia senang bahwa dalam pelayanannya ada seorang pelanggang yang membeli jumlah banyak.


Namun, pelayan itu mendadak terkejut ketika Puspa pergi ke pintu keluar dengan membawa semua perhiasan yang ada di tangannya.


“Hei, Nona! Tunggu!” teriak si pelayan sambil berlari mengejar yang juga membuat pemilik toko terkejut.


Tirana yang berdiri di depan toko segera menghadang langkah Puspa yang tertawa-tawa.


“Puspa, apa yang kau lakukan?” tanya Tirana yang tahu bahwa temannya itu telah berbuat salah.


“Nona! Apa kau mau mencuri? Membawa perhiasan-perhiasan itu tanpa membayarnya?!” hardik si pelayan toko yang datang marah-marah.


“Katanya Puspa boleh mengambil sesuka Puspa,” kata Puspa, tersenyum-senyum, tanpa mengindahkan kehadiran si pelayan toko.


“Itu bukan pemberian cuma-cuma. Kau harus membayarnya,” kata Tirana.


“Ini boleh diambil. Tirana juga boleh ambil seperti Puspa,” tandas Puspa.


“Apakah ini tidak bayar?” tanya Tirana kepada si pelayan.


Plak!


“Aw!” pekik si pelayan saat kepalanya ditepuk dengan keras oleh bosnya.


“Mereka orang asing. Kenapa kau berbicara seolah-olah mengerti bahasa mereka?!” hardik pemilik toko yang adalah seorang lelaki bertubuh gemuk berpakaian bagus.


Tirana terpaksa mengambil sedikit paksa semua perhiasan yang ada di tangan Puspa.


“Ini harus bayar. Puspa tidak boleh membawanya, kecuali jika Puspa punya uang,” kata Tirana lembut kepada Puspa.


Puspa hanya terdiam merengut, menatap tajam kepada Tirana.


“Maafkan temanku. Dia agak kekanak-kanakan,” kata Tirana sambil tersenyum manis kepada pemilik toko dan pelayannya. Ia menyerahkan semua perhiasan asesoris itu kepada si pelayan toko.


Puspa sudah berjalan pergi, melanjutkan kesenangannya menikmati pasar itu. Tirana segera menyusulnya.

__ADS_1


Seperginya Puspa dan Tirana, datang Zhao Lii ke toko perhiasan itu.


“Hihihi! Makanan enak!” desis Puspa cekikikan. Ia berlari kecil ke lapak penjual ular.


Di lapak itu, tergantung beberapa ekor ular yang sudah mati. Ada pula sejumlah kotak-kotak kayu dan  keranjang bambu tertutup. Di sebuah rak kayu terpajang toples-toples kaca yang berisi ular mati dalam rendaman air yang berwarna keruh.


“Mari-mari! Ular segala obat! Obat kuat, obat awet muda, obat tulang, sampai obat patah hati!” teriak lelaki penjual ular kepada khalayak ramai yang berlalu lalang.


Lapak ular termasuk lapak yang ditakuti, tidak heran jika ia sepi pengunjung. Hanya orang-orang berkebutuhan khusus yang akan mampir ke tempat itu.


“Ini makanan enak,” kata Puspa setelah berhenti di depan lelaki penjual ular.


“Nona mau beli ular untuk obat kemesraan?” tanya penjual ular. Ia menunjukkan agar Puspa melihat deretan ular mati yang digantung.


“Bukan itu,” sangkal Puspa dengan mimik mengerut tanda tidak suka. “Ular yang masih hidup.”


Puspa menunjukkan jari tangannya yang membuka seperti kepala ular yang menganga.


“Oh, ular hidup? Banyak!” kata si penjual, memahami maksud perkataan asing Puspa.


Pedagang ular lalu berbalik. Ia membuka tutup sebuah keranjang bambu. Ia masukkan kedua tangannya, lalu ditarik kembali keluar dengan masing-masing mencekik leher seekor ular sebesar dua jari. Satu berwarna kuning dan lainnya berwarna hijau belang hitam.


“Empedu yang kuning ini untuk menambah nafsu dalam berhubungan. Sedangkan yang belang ini berkhasiat memperkuat daya tahan dalam berhubungan,” kata penjual ular bernada berbisik sambil senyum-senyum nakal kepada Puspa.


Namun, penjual ular itu terkejut saat ular kuning di tangannya sudah dirampas oleh Puspa. Dengan seenaknya Puspa memasukkan kepala ular ke dalam mulutnya, yang membuat penjual ular mengerenyit ngeri. Leher ular itu ia gigit putus kemudian dilepehkan ke tangannya yang lain.


Siuuut! Plung!


“Aaak!”


Puspa melempar kepala ular yang sudah mati jauh ke belakang. Kepala ular melambung jauh ke udara lalu jatuh tepat di dalam mangkuk sup seorang pelanggan wanita di sebuah warung sup. Menjeritlah wanita itu, mengejutkan semua orang yang ada di sekitar.


“Ada apa? Ada apa?!” tanya orang-orang di dalam warung makan, mendadak heboh.


“Kepala ular!” jerit pelanggan wanita ketakutan yang sudah menjauh dari mejanya.

__ADS_1


“Bong Gook!” teriak sejumlah lelaki kompak menyebut satu nama, yaitu nama si penjual ular. (RH)


__ADS_2