Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
117. Saudara Satu Negeri


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Su Ntai memiliki rumah yang sederhana tanpa halaman depan, tetapi memiliki dapur dan halaman belakang yang cukup luas. Rumah itu perpaduan batu, pasir dan kayu.


Setibanya di rumah, Su Ntai tidak masuk lewat pintu depan, tetapi memutar langsung ke halaman belakang. Sebab, setiap hari istrinya selalu menghabiskan sebagian besar waktunya di halaman belakang.


Di halaman belakang itu ada kandang kuda untuk dua ekor kudanya, ada tempat jemuran pakaian dan makanan yang layak dijemur, termasuk ada tempat latihan beladiri.


Tampak seorang wanita berpakaian putih usang sedang sibuk di dapur yang menyatu dengan halaman belakang. Ada pula seorang anak lelaki, berusia sekitar delapan tahunan, sedang berlatih bersama sebuah manusia kayu.


“Istriku! Istriku!” seru Su Ntai memanggil seperti ada hal yang sangat darurat, padahal ia belum membuka pintu halaman belakang.


Panggilan itu mengejutkan si wanita yang ada di dapur. Juga mengejutkan anak lelaki yang sedang latihan. Wanita berparas putih dan masih muda itu segera bangkit dan berjalan beberapa langkah ke halaman. Ia memandang serius kepada suaminya yang sudah membuka pintu pagar belakang.


“Ayah!” sebut anak lelaki. Dia hendak berlari kepada ayahnya, tetapi ia mengurungkan niat saat melihat di belakang ayahnya ada dua orang wanita cantik laksana dua bidadari dari negeri antabarantah. Bukan hanya kekaguman yang melanda si anak, tetapi juga perasaan ngeri karena satu dari kedua perempuan cantik itu memiliki kuku jemari yang panjang-panjang dan sepasang matanya tajam seperti binatang buas.


Akhirnya si anak berlari kepada ibunya.


“Istriku, coba tebak, aku membawa dua tamu dari mana?” tanya Su Ntai dengan bahasa ibunya.


Wanita cantik tapi berpenampilan sederhana itu memandang serius kepada dua wanita yang tidak lain adalah Tirana dan Puspa.


“Jelas wajahnya bukan wajah-wajah negeri ini,” kata istri Su Ntai pelan kepada suaminya, menggunakan bahasa negeri itu.


Tirana dan Puspa tidak mengerti akan percakapan suami istri itu. Namun, mereka curiga melihat model wajah yang dimiliki oleh istri Su Ntai.


“Wajah istrinya asli punya Tanah Jawi,” kata Tirana kepada Puspa.


“Apakah mereka dari negeriku?” tanya si istri, masih berbahasa yang tidak dimengerti oleh kedua tamu mereka.


“Benar,” jawab Su Ntai.


“Aku bertemu mereka di pasar. Mereka terkendala masalah bahasa. Aku mengundang mereka datang sebagai hadiah untukmu,” ujar Su Ntai.


Mendengar kata-kata suaminya, tiba-tiba memerah wajah putih si istri. Ia membekap mulut dan hidungnya sendiri karena rasa sedih bergemuruh di dalam dadanya.


“Hiks!” Keluarlah tangis si istri.


Su Ntai hanya tersenyum melihat reaksi istrinya. Ia kemudian bergerak memeluk istrinya yang kemudian tersenyum dalam tangis harunya. Sang istri kemudian melepaskan diri dari suaminya dan berjalan ke depan Tirana dan Puspa.


“Apakah kalian dari Tanah Jawi?” tanya istri Su Ntai dengan bahasa yang semua dapat dimengerti oleh Tirana dan Puspa.

__ADS_1


“Benar,” jawab Tirana seraya tersenyum manis.


Sementara Puspa hanya tersenyum menyeringai, memperlihatkan giginya yang masih menyisakan sedikit warna darah ular.


“Setelah sepuluh tahun, akhirnya aku bertemu dengan orang sesama negeriku,” kata istri Su Ntai, tersenyum lebar, seakan ia sangat bahagia dan haru. Sepasang matanya masih berkaca-kaca berhias air mata.


“Namaku Sinda Nirgana,” kata istri Su Ntai memperkenalkan diri.


“Dia anak seorang adipati yang aku bawa lari ke negeriku,” kata Su Ntai dalam bahasa negeri Tanah Jawi.


“Dia tidak melarikanku, tetapi kami lari bersama,” kata Sinda Nirgana. Ia tersenyum mengenang cinta gila mereka sepuluh tahun yang lalu.


Tirana tersenyum mendengar pembelaan Sinda Nirgana terhadap suaminya.


“Ini Nona Tirana, dan ini Nona Puspa,” kata Su Ntai memperkenalkan kedua tamunya. Ia lalu memanggil putranya yang berdiam diri dekat dapur, “Su Nirgana, kemarilah! Jangan takut!”


Anak lelaki itu dengan perasaan agak takut, ia mendekat kepada ayah dan ibunya.


“Lihatlah putraku, wajahnya lebih mengikuti ibunya,” kata Su Ntai.


Su Nirgana memandangi Puspa terus, tanpa senyum. Sementara Puspa hanya tersenyum menyeringai.


Su Nirgana memilih mundur dan berlindung di balik punggung ayahnya. Ia tidak mengerti perkataan Puspa.


“Hahaha!” Su Ntai tertawa melihat ketakutan putranya.


“Jangan takut, Adik Kecil. Puspa memang menyeramkan, tetapi dia sangat baik hati,” kata Tirana kepada Su Nirgana seraya tersenyum.


“Hihihik!” tawa Puspa mendengar perkataan Tirana.


Sinda Nirgana lalu menerjemahkan perkataan Tirana untuk putranya, membuat Su Nirgana hanya tersenyu kecut.


“Istriku, tentunya kau memiliki banyak hal yang ingin kau sampaikan kepada mereka, jadi aku memutuskan untuk membantu mereka agar mereka mudah menyelesaikan urusannya di negeri ini, lalu bisa kembali dengan selamat ke negerimu,” ujar Su Ntai.


“Terima kasih suamiku. Mereka adalah saudaraku. Aku sangat berterima kasih jika kau bersedia membantu mereka,” kata Sinda Nirgana.


“Nona Tirana sedang mencari calon suaminya yang ada di barat. Jadi, aku akan mengantar mereka ke barat. Untuk sementara kau dan Su Nirgana aku tinggalkan. Kau layani mereka dulu, aku pergi sebentar untuk meminjam seekor kuda untuk perjalanan ke barat,” kata Su Ntai.


“Iya,” jawab Sinda Nirgana seraya tersenyum kepada suaminya.


“Nirgana, ayo ikut Ayah,” ajak Su Ntai dengan bahasa aslinya.

__ADS_1


Su Ntai lalu melangkah pergi meninggalkan ketiga wanita itu. Su Nirgana mengikuti ayahnya.


“Ayah, apakah mereka orang baik?” tanya Su Nirgana dalam bahasa ayahnya.


“Mereka orang baik yang berasal dari negeri ibumu. Mereka tidak akan berbuat jahat pada ibumu, sebab mereka membutuhkan bantuan ayahmu untuk pergi ke barat,” kata Su Ntai.


“Kalian duduklah dulu, aku akan memasakkan mie buat kalian,” kata Sinda Nirgana.


Tirana dan Puspa duduk di atas dipan kayu sederhana. Sinda segera menyibukkan diri di dapur untuk memasak mie.


Tidak berapa lama. Sinda Nirgana sudah datang membawa sebuah nampan yang di atasnya ada tiga mangkuk yang sudah berisi mie rebus dan tiga pasang sumpit. Sinda meletakkan mangkuk mie di depan kedua tamunya.


Puspa memandangi mie yang masih mengepulkan asap panas tersebut. Namun, tanpa menunggu lama, Puspa mengambil mangkuk dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masuk mengobok ke dalam mie. Kuku-kuku panjangnya ia gunakan untuk menjepit helaian-helaian mie lalu dituangkan ke mulutnya yang menganga mendongak. Puspa bahkan menghirup kuah mie yang masih panas.


“Hahaha!” tawa Tirana melihat cara makan Puspa.


Sinda hanya bisa terbelalak, terlebih karena kuah mie itu masih panas.


“Kenapa menertawai Puspa?!” Puspa menghardik Tirana.


“Cara makan makanan ini adalah dengan memakai alat ini,” kata Tirana, menunjukkan sepasang sumpit yang sudah dipegangnya.


Tirana lalu meraih mangkuk mienya dan menggunakan sumpit untuk mengangkat untaian mie ke dalam mulutnya. Namun, mie itu kembali meluncur jatuh ke dalam mangkuk.


“Hihihik!” Giliran Puspa yang menertawai Tirana.


Sinda tertawa kecil melihat cara salah Tirana dalam memegang sumpit. Tirana tetap berusaha mengangkat mie dengan sumpit yang terjepit rapat. Meski caranya pegangnya salah, tetapi akhirnya Tirana berhasil juga memasukkan mie ke dalam mulutnya, meski dengan gerakan hati-hati.


“Aku ingin menitip pesan untuk ayahku, Adipati Karang Sutra. Sampaikan kondisiku saat ini. Aku hidup bahagia di Negeri Lor We. Aku tidak ingin mereka memencemaskanku. Apakah kalian akan kembali?” ujar Sinda Nirgana beberapa waktu kemudian.


“Ya, kami akan kembali secepatnya karena harus menyelesaikan satu perkara penting,” jawab Tirana. Lalu tanyanya berbalik, “Bagaimana kau bisa jatuh cinta kepada Ki Suntai?”


“Suamiku adalah seorang pengembara yang baik. Suatu hari, ia menyelamatkan nyawaku dari orang jahat. Aku pun jatuh cinta kepadanya. Namun, ayah dan ibuku menentang hubungan kami. Maka kami memutuskan melarikan diri. Cinta memang buta. Bahkan aku berpikir, aku siap jika memang harus mati di tengah samudera.”


“Aku pun sedang dalam perjalanan demi cintaku,” kata Tirana.


“Cinta kepada si Kucing Hutan. Hihihik!” celetuk Puspa lalu tertawa.


“Ayo, waktunya kita berangkat ke barat!” seru Su Ntai tiba-tiba. Ia sudah kembali dengan membawa seekor kuda lengkap dengan pelanannya.


Su Nirgana duduk di atas pelana di punggung kuda. (RH)

__ADS_1


__ADS_2